CHAPTER 15 Buku 2

9 01 2010

15

KONSELING PERKAWINAN DAN KELUARGA

Pada umur tiga puluh lima tahun, dengan istri dan anak

Seorang doktor.

Berharap seterang cahaya bulan

Pada malam bulan Agustus yang hangat

Dia berperan sebagai orang yang menyembuhkan

Berpadu dengan imajinasinya,

Perubahan seperlunya dan akal sehat

Untuk membuat lebih dari sekedar kesan pada lensa mata

Dari seorang figur kecil yang berlari cepat langkahnya

Dengan tenang ia berjalan

Laksana orang yang memegang lilin dalam kegelapan

Dan menyangsikan kekuatannya

sehingga dengan tahun-tahun yang berat, perjalanan yang panjang,

cinta bersama, dan tambahnya kelahiran

dia menjadi aktor musiman,

yang, melupakan jalannya dalam keheningan,

melangkah sombong dan tanpa  berbisik

Hubungan perkawinan dan kehidupan keluarga  berakar sejak jaman dulu kala: Apakah ditetapkan oleh keluarga atau pasangan sendiri, wanita dan perempuan telah berpasangan bersama-sama dalam kesatuan yang disetujui oleh agama dan masyarakat untuk alasan-alasan ekonomis, sosial,dan prokreasi selama bermilenium yang lalu. Istilah perkawinan dan keluarga memiliki konotasi yang jelas di dalam masyarakat  yang berbeda. Perkawinan umumnya dilihat sebagai penyatuan yang disetujui baik secara sosial maupun agama  diantara dua orang dewasa karena alasan-alasan ekonomi dan / atau pro-kreasi. Bagaimanapun juga,  sebuah keluarga terdiri dari dari “ orang-orang yang secara biologis dan / atau psikologis terkait………….[melalui] ikatan sejarah, emosi, atau ekonomi….dan yang memahami mereka sendiri sebagai bagian dari rumah tangga” (Gladding, 2002, hal 6). Definisi perkawinan dan keluarga ini memungkinkan fleksibilitas yang maksimal dan dapat mencakup bentuk-bentuk yang luas.

Minat yang kuat di dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga saat ini  sebagian disebabkan karena  perubahan yang amat cepat di dalam kehidupan keluarga di Amerika sejak Perang Dunia II. Sebelum perang, dua jenis keluarga yang masih ada , mendominasi  kehidupan budaya Amerika:

  1. Keluarga inti, unit inti yang terdiri dari suami, istri dan anak mereka; dan
  2. Keluarga multigenerasi, rumah tangga  yang mencakup paling tidak tiga generasi, misalnya  anak, orang tua, dan kakek nenek. Jenis keluarga seperti ini kadang-kadang mencakup kerabat yang belum menikah, misalnya paman dan bibi.

Setelah perang, tingkat perceraian yang tinggi menyebabkan  dua jenis keluarga lagi muncul yang menjadi lazim

  1. Keluarga orang tua tunggal (single parent), yang termasuk dengan satu orang tua, baik yang bersifat biologis atau adopsi, yang semata-mata bertanggung jawab terhadap diri dan anak (anak)-nya; dan
  2. Keluarga yang menikah lagi (misalnya, campuran, tiri), rumah tangga yang terbentuk ketika dua orang menikah  dan paling tidak saah satu dari mereka  sebelumnya telah menikah dan memiliki anak.

Disamping itu, perubahan di dalam norma sosial dan demografi telah mendorong perkembangan dan pengakuan terhadap beberapa bentuk keluarga lain sekarang ini disamping  bentuk keluarga yang  telah disebutkan , secara khusus:

  • Keluarga karir ganda, dimana kedua pasangan pernikahan bekerja yang berada dalam rangkaian perkembangan dan mereka memiliki komitmen yang tinggi.
  • Keluarga tanpa anak, yang terdiri dari  pasangan yang secara sadar memutuskan untuk tidak punya anak atau mempertahankan tetap tidak punya anak sebagai akibat dari faktor-faktor kesempatan atau biologis;
  • Keluarga lanjut usia, dimana kepala rumah tangga berumur 65 tahun atau lebih;
  • Keluarga gay / lesbian, yang terbentuk dari pasangan berjenis kelamin sama  dengan atau tanpa anak baik dari perkawinan sebelumnya atau karena inseminasi buatan  atau adopsi;
  • Keluarga multikultur; dimana individu dari dua budaya yang berbeda bersatu dan membentuk rumah tangga yang mungkin / mungkin tidak memiliki anak.

Dengan demikian, pasangan dan keluarga  di dalam abad ke-21 sangat bervariasi. Mereka yang memilih untuk memasuki hubungan semacam itu menghadapi  sekumpulan tantangan ekonomi, sosial, dan perkembangan yang menuntut perhatiannya setiap hari. Mereka juga mendapatkan sejumlah keuntungan  dalam penyatuan (perkawinan) semacam itu termasuk dukungan fisik, finansial, dan psikologis. Dengan demikian kekurangan dan dampak perkawinan dan kehidupan keluarga  sangat besar dan kadang-kadang pelik (rumit). Konselor profesional yang menangani pasangan-pasangan  dan keluarga harus membiasakan (menyesuaikan) diri terhadap sejumlah kesulitan demikian juga halnya dengan kemungkinan di dalamnya dan siap menghadapi perubahan yang sangat sulit dan tidak terselesaikan yang secara perkembangan atau situasional mungkin menghadapi unit ini (Napier, 1988).

Walaupun rumit dan peliknya  menangani pasangan dan keluarga , konseling perkawinan dan keluarga adalah yang paling dicari diantara para konselor.  Paling tidak ada tiga alasan mengapa: Pertama adalah realisasi bahwa orang secara langsung terpengaruh  dengan bagaimana keluarga mereka berfungsi (Goldenberg & Goldenberg 2002). Misalnya, keluarga yang kacau sering menyebabkan keturunan yang memiliki kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain karena kurangnya ketertiban atau bahkan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan, sementara itu keluarga yang terkurung memiliki anak yang sering memiliki kesulitan  untuk meninggalkan rumah karena mereka terlalu terikat (overdependent) pada orang tua atau anggota keluarga yang lain.Alasan lainnya (mengapa) konseling keluarga bidang yang menarik adalah  pertimbangan  keuangan.  Masalah keluarga sering ditujukan lebih bersifat ekonomi ketika pasangan atau keluarga  terlihat bersama-sama.  Akhirnya, sifat yang melingkupi pekerjaan konseling perkawinan dan keluarga membuatnya memiliki daya tarik intrinsik. Ada beberapa faktor yang harus diwaspadai dalam menangani keluarga.  Konselor yang terlibat membantu pasangan dan keluarga harus terus-menerus aktif secara mental  dan bahkan kadang-kadang secara fisik.  Prosesnya itu sendiri bisa jadi menarik  sekaligus menguntungkan ketika perubahan terjadi. Dengan demikian, konseling perkawinan dan keluarga menarik banyak ahli klinis yang ingin menangani level yang kompleks, multi-aspek dengan cara yang paling efektif.

Bab ini menjelaskan  kejadian dan perkembangan  konseling perkawinan dan keluarga bersamaan dengan pandangan  tentang organisasi  konseling keluarga, penelitian, dan siklus hidup keluarga. Hal tersebut juga menyebutkan bagaimana konseling keluarga berbeda dengan konseling individu dan kelompok , sekaligus proses perkawinan dan konseling keluarga dari awal sampai sesi terakhir.

AWAL KONSELING PERKAWINAN DAN KELUARGA

Profesi konseling perkawinan dan keluarga relatif baru (Framo, 1996). Awal mulainya dapat dilihat pada tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an , tetapi perkembangan yang sebenarnya terjkadi pada akhir 1970-an dan 1980-an (Nichols, 1993). Penting dicatat bahwa meningkatnya popularitas konseling perkawinan dan keluarga mengikuti perubahan yang dramatis di dalam bentuk, komposisi, struktur, dan penekanannya dari keluarga Amerika yang telah disebutkan sebelumnya (Markowitz, 1994). Di dalam bagian ini, tren dan kepribadian yang mempengaruhi  perkembangan  bidang tersebut akan diperhatikan, termasuk beberapa pelopor kontemporer.

Tren (Kecenderungan)

Pada akhir Perang Dunia II, Amerika mengalami penyesuaian kembali yang tidak kunjung terselesaikan dari masa perang menuju damai yang memanifestasikan dirinya pada tiga tren yang memiliki dampak  pada keluarga, selain daripada  bertambahnya jenis yang berbeda dari bentuk keluarga (Walsh, 1993). Salah satunya adalah kenaikan yang tajam dalam tingkat perceraian, yang terjadi hampir bersamaan dengan ledakan bayi yang mulai pada tahun 1946.  Sementara itu perceraian agak luar biasa sampai pada titik itu, perceraian naik secara dramatis sesudah itu dan tidak meningkat sampai tahun 1990-an. Dampak dari fenomena ini tidak tentu (mengganggu). Sekarang ini, 50% sampai 60% dari semua pasangan yang menikah pada akhirnya akan membubarkan ikatannya (Martin & Bumpass, 1989; Whitehead, 1997).

Tren kedua yang mempengaruhi naiknya konseling perkawinan dan keluarga adalah perubahan peranan wanita. Setelah Perang Dunia II, semakin banyak wanita yang mencari pekerjaan  diluar rumah. Banyak wanita yang menjadi  pencari nafkah bagi keluarganya. Gerakan hak-hak wanita pada tahun  1960-an juga mendorong perkembangan kesempatan baru bagi para wanita.  Dengan demikian, tradisi dan ekspektasi turun dan / atau diperluas untuk wanita. Hasilnya tak menentu (tak pasti), karena adanya perubahan sosial yang penting, dan keduanya laki-laki dan perempuan di dalam keluarga dan pernikahan membutuhkan bantuan dalam membuat penyesuaian yang memadai.

Luasnya rentang kehidupan  merupakan kejadian ketiga yang memiliki dampak pada kehidupan keluarga dan membuat konseling perkawinan dan keluarga menjadi semakin relevan  pada masyarakat Amerika. Para pasangan mendapati diri mereka hidup dengan pasangan yang sama lebih lama daripada waktu sebelumnya dalam sejarah. Banyak yang tidak yakin persisnya bagaimana mengkaitkan terhadap pasangannya (suami / istri) atau anak-anaknya dari waktu ke waktu karena hanya ada beberapa model saja sebelumnya.

Dengan demikian, perlunnya menangani  keluarga dan individu  yang terpengaruh dengan perubahan ini membawa peneliti, praktisi , dan ahli teori bersama-sama. Mereka menetapkan tahapan untuk keseluruhan  cara yang baru dalam menyusun konsep dan menangani pasangan serta keluarga.

Perintis Terapi Keluarga dan Pelopor Kontemporer

Sejumlah spesialis memajukan bidang konseling perkawinan dan keluarga setelah Perang Dunia II dan sampai sekarang –lebih banyak yang bisa disebutkan disini. Sebagian, seperti Nathan Ackerman dan Virgiia Stir, melakukannya dengan menggunakan sifat persuasif atas kepribadiannya.  Yang lain, seperti Salvador Minuchin dan John Gottman  menjadi penting dan terkenal karena penelitian yang mereka lakukan.

Karya Nathan Ackerman (1958), seorang pakar psikoanalis dari kota New York, terutama sekali kritis dalam memfokuskan perhatian terhadap bentuk terapi yang telah mapan, psikoanalisis, pada keluarga. Sebelum Ackerman, pakar psikoanalis telah dengan sengaja  mengeluarkan anggota keluarga dari perlakuan (pengobatan) klien individu karena khawatir bahwa keterlibatan keluarga akan mengganggu. Ackerman menerapkan  praktek psikoanalisis  terhadap perlakuan (pengobatan) keluarga dan membuat terapi keluarga  dihargai di dalam profesi psikiatri.

Dua perintis lain yang muncul pada tingkat nasional  pada saat yang hampir bersamaan dengan Ackerman adalah yang bersifat eksperiensial—Virginia Satir dan Carl Whitaker. Kedua orang ini memiliki kepribadian yang menarik dan kehadirannya  menarik perhatian. Satir adalah seorang penulis dan presenter , sementara itu Whitaker adalah seorang organisatoris yang gaya dan kreatifitasnya yang  tak lazim,  seperti halnya tertidur selama sesi dan bermimpi , menimbulkan pemikiran dan pembahasan  yang sungguh-sungguh di dalam bidang perkawinan dan keluarga  dan di dalam keluarga dengan siapa dia bekerja.

Bagaimanapun juga, Jay Haley mungkin figur yang dominan dari pakar terapi keluarga  pada masa awal. Haley memisahkan idenya dari  Milton Erickson, mencampurnya dengan pemikirannya sendiri, dan melalui ketekunannya tetap saling berhubungan dengan konselor keluarga yang awal  dan dengan mengembangkan gagasan-gagasan dibidangnya. Haley juga memiliki peranan yang penting di dalam pengembangan terapi keluarga strategis dan mempengaruhi struktur terapi keluarga.

Perintis lain yang bekerja dalam tim sebagai peneliti  yang melakukan studi eksplorasi di bidang dinamika keluarga dan etiologi schizophrenia. Diantara tim tersebut adalah kelompok Gregory Bateson (Bateson, Jackson, Haley, & Weakland, 1956), di Palo Alto, California, dan kelompok Murray Bowen dan Lyman Wynne (Bowen, 1960; Wynne, Ryckoff, Day, & Hirsch, 1958) pada National Institute of Mental Health (NIMH—Institut Nasional Kesehatan Mental). Mereka mengamati  bagaimana pasangan dan keluarga berfungsi  ketika seorang anggota keluarga didiagnosa menderita schizophrenia. Kelompok Bateson muncul dengan sejumlah konsep yang menarik , misalnya ikatan ganda (double bind), dimana seseorang menerima dua pesan yang saling bertolak belakang pada saat yang sama, dan tidak dapat mengikuti keduanya, membuat gejala fisik dan psikologis  sebagai cara untuk mengurangi ketegangan dan pelarian diri. Bowen terus mengembangkan bentuk perlakuan (pengobatan) sistemiknya yang didasarkan pada pertimbangan multigenerasi  dan yang mula-mula mempunyai  alat klinis yang sangat populer, yang disebut genogram (representasi visual tiga generasi dari silsilah keluarga seseorang yang digambarkan dalam bentuk  geometris, garis, dan kata-kata—lihat Bab 9).

Gerakan kelompok, terutama pada tahun 1960-an, juga memiliki dampak pada munculnya  konseling keluarga. Beberapa praktisi, seperti John Bell (misalnya, 1975, 1976), bahkan mulai mengobati  keluarga sebagai sebuah kelompok dan mulai praktek konseling  terhadap pasangan / kelompok keluarga (Ohlsen, 1979, 1982). Pakar terapi keturunan asing  telah memiliki pengaruh yang besar  pada terapi perkawinan dan keluarga sejak tahun 1960-an. Hal ini termasuk Salvador Minuchin, sang pelopor Terapi Keluarga Struktural (Stuctural Family Teraphy); Mara Selvini Palazzoli, pembuat bentuk terapi keluarga strategis  yang dikenal sebagai Pendekatan Milan; demikian juga halnya yang terbaru Michael White dan David Epston, pendiri  Terapi Narasi (Narrative Teraphy).

Yang terbaru  ada gelombang Midwestern ke dalam bidang tersebut yang dipimpin oleh Steve  deShazer dan Bill O’Hanlon, yang telah mengembangkan terapi terapeutik singkat  yang menekankan solusi dan kemungkinan.  Disamping itu, Monica McGoldrick (McGoldrick, Giordano, & Pearce, 1996) telah menekankan pentingnya  faktor-faktor multikultur dan latar belakang budaya di dalam memperlakukan keluarga.Yang dimasukkan dalam ggasan budaya sekarang ini adalah kuktur warisan –inherited culture—( seperti halnya, etnisitas, kebangsaan, agama, pengelompokan seperti “baby boomer”) dan budaya perolehan –acquired culture –(kebiasaan yang dipelajari, seperti halnya budaya  menjadi konselor) (Markowitz, 1994). Betty Carter dan yang lainnya juga telah memfokuskan  pada kebangkitan di dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga  terhadap isu-isu gender yang sensitif dalam menangani keluarga, seperti halnya mengesampingkan pentingnya struktur kekuasaan. Akhirnya, peneliti yang patut dijadikan contoh, seperti halnya John Gottman dan Neil Jacobson, telah membantu para praktisi  memahami dengan lebih baik dinamika di dalam perkawinan dan keluarga, terutama faktor-faktor yang terkait  dengan kekerasan domestik dan fungsi hubungan perkawinan yang lebih tinggi (Peterson, 2002).

ASOSIASI, PENDIDIKAN DAN RISET

Assosiasi

Empat asosiasi profesi yang utama  menarik ahli klinik keluarga dan perkawinan.  Yang terbesar dan tertua , yang didirikan  pada tahun  1942, adalah American Association for Marriage and Family Teraphy (AAMFT—Asosiasi Amerika Terapi Keluarga dan Perkawinan). Kelompok yang kedua , International   Association of Marriage and Family  Conselor (IAMFC—Asosiasi Internasional  terhadap Konselor Perkawinan dan  Keluarga), sebuah divisi di dalam American Counselling Association (ACA) yang diizinkan pada tahun 1986. Asosiasi ketiga, Divisi 43 (Psikologi Keluarga), sebuah devisi di dalam  American Psychological Association (APA—Asosiasi Psikologi Amerika), dibentuk pada tahun 1984 dan terdiri dari  para psikolog yang menangani keluarga. Asosiasi keempat adalah American  Family Teraphy Association (AFTA—Asosiasi Terapi Keluarga Amerika , yang dibentuk tahun 1977. Hal tersebut diidentifikasi sebagai sebuah akademi  profesi yang maju yang tertarik dalam pertukaran gagasan-gagasan (Gladding, 2002)

Pendidikan

AAMFT dan IAMFC telah menerbitkan panduan untuk pelatihan para profesional dalam menangani  pasangan dan keluarga. Standar AAMFT  diambil dan di atur oleh Commission on Accreditation for Marriage and Family Teraphy Education (CAMFTE—Komisi Akreditasi untuk Pendidikan Terapi Perkawinan dan Keluarga): IAMFC ditangani melalui  Dewan Akreditasi Konseling dan Program Pendidikan Terkait (CACREP). Minimal gelar master dipersyaratkan  untuk menjadi  ahli terapi / konselor perkawinan dan keluarga, walaupun perdebatan tetap berlangsung  atas kandungan persisnya dan keberlangsungan pelajarannya (Lihat Tabel 15.1).

Penelitian (Riset)

Tanpa memperhatikan afiliasi profesional dan latar belakang kurikulum, profesional sebagian besar tertarik dengan konseling perkawinan dan keluarga  dikarenakan kebutuhan masyarakat atas bidang keahlian dan dasar penelitiannya yang sedang berkembang. Gurman dan Kniskern (1981) melaporkan bahwa kira-kira 50% dari semua masalah yang dibawa kepada konselor  terkait dengan masalah-masalah perkawinan dan keluarga.  Masalah-masalah pengangguran, prestasi sekolah yang jelek, kekerasan pasangan, depresi, pemberontakan, dan konsep diri adalah sedikit dari banyak situasi  yang dapat diuraikan dengan perspektif ini. Okun (1984) mencatat bahwa perkembangan individu terkait dengan masalah-masalah karir dan keluarga dan masing-masing memberikan dampak penyelesaian dari yang lain  dalam sebuah cara yang sistemik. Bratcher memberikan komentar terhadap saling keterkaitan (interrelatedness)  terhadap perkembangan keluarga dan karir, yang merekomendasikan penggunaan  teori sistem keluarga untuk konselor yang berpengalaman  yang menangani individu yang mencari  konseling karir.

Studi Riset yang diringkaskan oleh  Doherty dan Simmons (1996), Gurman dan Kniskern (1981), Haber (1983), Pinsof dan Wynne (1995), dan Wohlman dan Stricker (1983) melaporkan sejumlah temuan yang menarik. Pertama, campur tangan (intervensi) konseling keluarga paling  tidak sama efektifnya dengan intervensi individu untuk sebagian besar  komplain klien dan menyebabkan secara signifikan daya tahan perubahan yang lebih besar. Kedua, beberapa bentuk konseling keluarga  (misalnya, menggunakan terapi keluarga strategis struktural dengan substansi penyalah guna—abuser) lebih efektif di dalam mengatasi masalah daripada pendekatan konseling lainnya. Ketiga, hadirnya kedua orang tua, terutama ayah yang tidak mengalah (tunduk), di dalam situasi konseling keluarga sangat meningkatkan  peluang keberhasilan. Hal yang sama,  efektifitas konseling perkawinan  ketika kedua pasangan bertemu bersama-sama dengan konselor hampir dua kali daripada konselor yang menangani hanya  dengan satu pasangan  (suami /istri). Keempat,  ketika pelayanan konseling perkawinan dan keluarga tidak ditawarkan kepada pasangan secara bersama-sama atau kepada keluarga secara sstematis, hasil dari intervensi mungkin negatif dan masalah dapat menjadi semakin parah. Akhirnya, ada kepuasan klien yang tinggi dari mereka yang menerima  layanan konseling perkawinan dan keluarga, dengan lebih dari 97% penilaian layanan yang mereka terima dari baik sampai sangat baik (good –excellent). Secara keseluruhan argumen dasar untuk penerapan  konseling perkawinan dan keluarga adalah (karena) efisiensinya yang terbukti. Bentuk perlakuan (pengobatan) ini masuk akal (logis), cepat, memuaskan, dan hemat.

Tabel 15..1 Contoh  Materi Pelajaran yang disyaratkan untuk gelar master dalam program Akreditasi AAMFT dan CACREP

Kurikulum CACREP Kurikulum AAMFT
Pertumbuhuan dan Perkembangan Manusia

Dasar-Dasar Sosial dan Budaya

Hubungan Menolong

Kelompok

Pengembangan Gaya Hidup dan Karir

Penilaian / Appraisal

Riset dan Evaluasi

Orientasi Profesi

Dasar-Dasar Teori MFT

Teknik / Perlakuan MFT

Praktek Klinis / Keahlian

Pokok-Pokok Perlakuan Menyimpang

Seksualitas Manusia

Elektif

Pengantar Perkembangan Keluarga / Anak

Sistem Perkawinan dan Keluarga

Pengantar Perkembangan Keluarga / Anak

Disfungsi dalam Perkawinan / Keluarga

Perkembangan Anak Lanjut

Penilaian di dalam Perkawinan / Keluarga

Metode Riset Keluarga / Anak

Masalah Profesi Keluarga

Teori MFT

Pra-Praktikum Keluarga / Perkawinan

Praktikum Klinis

Perilaku Seksual Manusia

Thesis

Elektif

Sumber:  Dari “Pendidikan Konselor / Ahli Terapi Perkawinan dan Keluarga Kontroversi “Sistemik” diantara Berbagai Disiplin” oleh Michael Baltimore, 1993, Jurnal Asosiasi Konseling Alabama, 19, 40, Hak Cipta 1993.

KEHIDUPAN KELUARGA DAN SIKLUS HIDUP KELUARGA

Kehidupan keluarga dan pertumbuhan serta perkembangan  yang terjadi di dalamnya adalah pada inti konseling perkawinan dan keluarga. Siklus hidup keluarga adalah nama yang diberikan  terhadap tahapan  yang dilewati sebuah keluarga ketika berkembang dari tahun ke tahun.  Tahapan ini kadang-kadang paralel dan melengkapi  tahapan  di dalam siklus hidup individu (lihat Erikson, 1959 Levinson, 1978), tetapi sering tahapan itu khas  karena sejumlah orang terlibat  dan beragamnya tugas yang harus dicapai. Becvar dan Becvar (2000) membuat kerangka siklus 9 tahap yang mulai dengan masa dewasa sebelum kawin dan berlanjut sampai masa pensiun (Tabel 15.2).

Sebagian keluarga dan anggota keluarga lebih “tepat waktu” di dalam mencapai tugas-tugas tahapan kritis yang bersama dengan siklus hidup  keluarga dan siklus pertumbuhan pribadi mereka. Dalam kasus semacam itu, perasaan  yang lebih baik terhadap kesehatan (kesejahteraan) tercapai (Carter & McGoldrick, 1999). Tanpa memperhatikan waktunya, seluruh keluarga harus berhubungan dengan keutuhan keluarga / family cohesion (ikatan emosi) dan adaptabilitas keluarga  (kemampuan untuk menjadi fleksible dan berubah). Dua dimensi ini masing-masing memiliki empat tingkatan (Lihat gambar 15.1). “Dua dimensi berupa kurva linier dalam pengertian bahwa keluarga yang jelas-jelas sangat tinggi atau sangat rendah pada kedua dimensi  nampak disfungsional, sementara keluarga yang seimbang nampak berfungsi lebih memadai” (Maynard & Olson, 1987, hal.502).

Keluarga yang paling berhasil, fungsional bahagia, dan kuat tidak hanya seimbang tetapi memiliki komitmen, saling menghargai, menghabiskan waktu bersama, memiliki pola-pola komunikasi yang baik, memiliki orientasi religius / spiritual yang tinggi, dan mampu mengatasi  krisis dengan cara yang positif (Stinnett, 1998; Stinnett & DeFrain, 1985).

Menurut Wilcoxon (1985), konselor perkawinan dan keluarga perlu menyadari  tahapan yang berbeda di dalam keluarga sementara itu tetap menyesuaikan diri terhadap tugas-tugas perkembangan dari anggota-anggota keluarga individu. Ketika konselor sensitif terhadap anggota keluarga individu dan keluarga secara keseluruhan, mereka mampu  menyadari bahwa beberapa manifestasi individu, seperti halnya depresi (Lopez, 1986), keragu-raguan dalam karir Kinnier, Brigman, & Noble,1990), dan pokok-pokok penyimpangan (West,Hosie, dan Zarski, 1987) terkait dengan struktur dan fungsi keluarga. Akibatnya, mereka mampu untuk menjadi lebih inklusif di dalam rencana perlakuan (pengobatan)-nya.

Tabel 15.2 Tahapan Siklus Hidup Keluarga

Tahapan Emosi Tugas Tahapan-Kritis
  1. Dewasa belum menikah
  1. Pengantin Baru
  1. Melahirkan
  1. Anak Masa Pra-Sekolah
  1. Anak Usia Sekolah
  1. Anak Remaja
  1. Pusat Pelepasan
  1. Dewasa paruh usia

9. Pensiun

Menerima pemisahan orang tua – keturunan

Komitmen kepada perkawinan

Menerima anggota baru dalam sistem

Menerima kepribadian baru

Membiarkan anak membangun hubungan di luar keluarga

Meningkatkan fleksibilitas batas-batas keluarga yang memberikan kebebasan

Menerima keluarnya dari dan masuknya ke dalam keluarga

Membiarkan anak untuk bertemu satu sama lain

Menerima pensiun dan usia tua

  1. Perbedaan dari asal-usul keluarga
  2. Pengembangan relasi kawan sebaya
    1. Pembentukan sistem perkawinan
    2. Membuat ruangan untuk pasangan dengan keluarga  dan teman
    3. Menyesuakan tuntutan karir

a. Menyesuaikan perkawinan untuk membuat ruang bagi anak

b.Mengambil peran sebagai orang tua

c. Membuat ruang untuk kakek-nenek

  1. Menyesuaikan keluarga terhadap kebutuhan anak yang spsifik.
  2. Mengatasi penyaluran energi dan kurangnya privasi
  1. Memperluas interaksi masyarakat / keluarga
  2. Mendorong kemajuan pendidikan anak
  3. Berhubungan dengan meningkatnya aktifitas  dan tuntutan waktu.
    1. Membangun kembali perkawinan
    2. Menyambut  pasangan anak, cucu ke dalam keluarga
    3. Berhubungan dengan penuaan orang tua sendiri
  1. Pergeseran keseimbangan di dalam hubungan orang tua – anak
  2. Memfokuskan kembali pada karir dan masalah-masalah perkawinan
  3. Berhubungan dengan meningkatnya perhatian  untuk generasi tua
  1. Melepaskan anak dewasa ke dalam dunia kerja, perguruan tinggi , perkawinan
  2. Menjaga rumah yang tetap mendukung
  3. Menerima kembalinya anakdewasa sekali-sekali
  1. Menjaga fungsi pasangan dan individu
  2. Mendukung generasi pertengahan
  3. Mengatasi kematian orang tua, pasangan
  4. Menutup atau menyesuaikan rumah keluarga

Ketika mengevaluasi pola-pola keluarga dan kesehatan mental dari setiap orang yang terlibat, adalah sangat krusial bahwa penilaian seharusnya didasarkan atas bentuk dan tahapan perkembangan  dari konstelasi keluarga. Untuk mempermudah proses ini, Carter dan McGoldrick (1999) mengajukan serangkaian tugas-tugas perkembangan untuk keluarga tradisional dan non tradisional, seperti halnya yang dikepalai  oleh orang tua tunggal (single parent) atau keluarga campuran. Penting untuk dicatat bahwa keluarga non-tradisional tidak bersifat patologis karena perbedaan mereka: mereka semata-mata  berada pada jadwal (waktu) pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda.

Bowen (1978) menyarankan istilah seperti “enmeshment dan triangulation”—untuk  menjelaskan disfungsionalitas keluarga tanpa memandang bentuk keluarga. (Enmeshment mengacu pada lingkungan keluarga dimana anggota terlalu tergantung satu sama lain atau tidak terdiferensiasikan. Triangulation menjelaskan situasi peleburan keluarga dimana anggota segi tiga lainnya menarik seseorang dalam dua arah yang berbeda.) Konselor yang secara efektif  menangani pasangan dan keluarga memiliki panduan untuk menentukan bagaimana, dimana, kapan, atau apakah akan campur tangan (intervensi) di dalam proses keluarga. Mereka tidak gagal bertindak  (misalnya, mengabaikan untuk mengikutsertakan setiap orang  di dalam proses terapeutik) dan mereka juga tidak bereaksi secara berlebihan (mungkin banyak menekankan  pada ungkapan verbal) (Gladding, 2002).

KONSELING PERKAWINAN / KELUARGA VERSUS KONSELING INDIVIDU / KELOMPOK

Ada persamaan dan perbedaan di dalam pendekatan terhadap konseling perkawinan atau keluarga dan konseling individu atau kelompok (Gladding, 2003 Hines, 1988; Trotzer, 1988).  Perbedaan utamanya terletak pada teori-teori. Beberapa teori yang digunakan di dalam konseling individu atau kelompok (misalnya,  teori yang berpusat pada orang –person-centered–, Adlerian, terapi realitas, perilaku) digunakan juga dalam konseling pasangan dan keluarga (Horne, 2000). Pendekatan lain (misalnya, terapi keluarga struktural, strategis, yang terfokus pada solusi)  adalah (pendekatan) yang khas terhadap konseling perkawinan dan keluarga  dan yang bersifat sistemik. Konselor harus belajar  tentang teori-teori tambahan ini sekaligus penerapan barunya terhadap teori sebelumnya agar menjadi trampil menangani pasangan atau keluarga.

Konseling perkawinan atau keluarga dan konseling individu  menggunakan sejumlah asumsi . Misalnya, keduanya mengakui pentingnya  peranan keluarga di dalam kehidupan individu, keduanya  memfokuskan pada perilaku bermasalah dan konflik  antara individu dan lingkungannya, dan keduanya dalam masa perkembangan.  Perbedaanya adalah bahwa konseling individu  biasanya memperlakukan (mengobati) orang diluar keluarganya, sementara itu konseling perkawinan atau keluarga umumnya  memasukkan keterlibatan  anggota keluarga yang lain. Selanjutnya, konseling perkawinan dan keluarga  bekerja menyelesaikan masalah-masalah  di dalam keluarga sebagai cara membantu anggota individu  dapat mengatasi dengan lebih baik lingkungannya (Nichols & Scwartz, 2001).

Sessi konseling perkawinan dan keluarga sama terhadap sessi konseling kelompok di dalam organisasi, dinamika dasar, dan tahap perkembangan. Selanjutnjya,  kedua jenis konseling memiliki memiliki penekanan interpersonal. Bagaimanapun juga, keluarga tidak seperti kelompok khusus (tertentu), walaupun pengetahuan tentang proses  kelompok mungkin berguna.  Misalnya, anggota keluarga tidak sama dalam  hal status dan kekuasaannya. Disamping itu, keluarga mungkin mengabadikan mitos, sementara kelompok lebih obyektif dalam memahami kejadian. Beban emosi yang lebih banyak juga dibawa diantara anggota keluarga  daripada anggota  jenis kelompok lain karena susunan di dalam suatu keluarga tidak terbatas dalam waktu dan terkait dengan peranan jenis kelamin dan ikatan afektif yang memiliki sejarah yang panjang (Becvar, 1982). Sementara itu keluarga dapat jadi sebuah kelompok, hal tersebut tidak sesuai untuk menangani yang terjadi hanya  melalui teori kelompok.

Akhirnya, penekanan terhadap  konseling perkawinan dan keluarga umumnya pada dinamika  sebagaimana kebalikannya dengan kausalitas linear sebagaimana di dalam banyak konseling  individu dan beberapa konseling kelompok. Dengan kata lain, dinamika dibalik konseling perkawinan dan keluarga umumnya berbeda dengan dua jenis konseling lainnya.  Di dalam membuat transisi dari perspektif individu  menjadi orientasi keluarga , Resnikoff (1981) menekankan  pertanyaan yang spesifik  bahwa konselor seharusnya bertanya pada mereka sendiri  untuk memahami  fungsi dan dinamika keluarga. Dengan menanyakan  pertanyaan yang benar, konselor akan menjadi  lebih bisa menyesuaikan  terhadap keluarga  sebagai klien dan apa yang terbaik untuk menyelesaikannya.

  • Bagaimana penampilan keluarga di luar?
  • Urutan apa yang berulang-ulang , tidak produktif yang dapat diperhatikan?
  • Apa keadaan perasaan dasar di dalam keluarga, dan siapa yang membawanya?
  • Apakah peranan individu  memperkuat resistansi keluarga, dan apa pembelaan keluarga yang paling nyata?
  • Bagaimana anggota keluarga dibedakan satu dengan lainnya, dan apakah batasan-batasan sub-kelompok?
  • Apa bagian dari siklus hidup yang dialami keluarga, dan apa metode penyelesaian masalahnya ?

Konselor yang menangani pasangan juga banyak bertanya terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

TINJAUAN TERHADAP KONSELING PERKAWIAN / PASANGAN DAN KELUARGA

Konseling perkawinan  / Pasangan

Para pelopor awal dalam konseling perkawinan memfokuskan pada hubungan perkawinan, ketimbang hanya pada individu-individu yang terlibat. Penekanan baru tersebut  berarti bahwa  tiga entitas dipertimbangkan dalam hubungan perkawinan: dua individu dan satu pasangan. Dengan demikian, dari awalnya konselor perkawinan  menetapkan  preseden untuk melihat pasangan bersama-sama dalam sessi yang bersaman, suatu  praktek yang berlajurt sampai sekarang ini.

Pasangan mencari konseling perkawinan atau hubungan untuk berbagai alasan yang luas, termasuk  keuangan, anak-anak, kesetiaan, komuikasi , dan kompatibilitas (kesesuaian). Hampir situasi apapun dapat berfungi sebagai pendorong  untuk mencari bantuan. Tanpa memandang siapa yang mengawali permintaan, adalah hal yang penting bahwa konselor melihat  kedua anggota pasangan dari awal jika sangat memungkinkan. Whitaker (1977) mencatat bahwa jika seorang konselor tidak mampu menyusun (membangun) situasi dengan cara ini, dia mungkin tidak akan membantu pasangan (bahkan) dapat merusak. Dengan berusaha mengobati satu pasangan sendiri untuk satu atau dua sessi meningkatkan resistansi dan kecemasan pasangan lainnya terhadap konseling. Lagipula, jika satu anggota  dari pasangan  berusaha berubah tanpa dukungan atau sepengetahuan yang lainnya , bakal terjadi konflik lagi.

Wilcoxon dan Fennel  (1983) telah mengembangkan surat inisiasi ahli terapi yang menjelaskan  proses terapi perkawinan kepada pasangan yang tidak hadir, yang menjelaskan resiko mengobati hanya dengan satu pasangan. Surat tersebut dikirimkan oleh konselor melalui orang yang hadir di dalam konseling kepada orang yang tidak hadir untuk membantunya melihat kemungkinan yang dapat tumbuh ketika menangani dengan kedua anggota pasangan (lihat Gambar 15.2).

Jika kedua pasangan memutuskan untuk  memasuki   konseling perkawinan dan pasangan, konselor dapat mengambil berbagai pendekatan. Lima dari pendekatan utama adalah psikoanalisis, kognitif, behavioral, Sistem Bowen, Strategis-struktural dan terapi perilaku emotif rasional (Ellis Sichel, Yeager, DiMattia, & DiGuiseppe, 1989: Jacobson & Gurman, 1996). Semua perspektif teoritis ini  memiliki kekuatannya masing-masing tetapi dasar teoretis  keseluruhan dari kebanyakan konseling perkawinan dan pasangan tidak sekuat ketika pada konseling keluarga. Ada beberapa alasan mengapa. Alasan utamanya untuk fenomena ini adalah bahwa secara historis banyak konselor perkawinan dan pasangan sebagian besar  praktisi, bukan peneliti atau penulis. Sebagai praktisi mereka tidak memiliki waktu atau minat di dalam mendefinisikan  dan menerbitkan  pendekatan teoretis yang khusus untuk menangani  pasangan-pasangan. Bahkan, mereka meminjam dan memperbaharui  teori keluarga dan individu yang ada. Lagi pula, sampai sekarang ini, konseling perkawinan dan pasangan telah dipandang sebagai sub-spesialis di dalam konseling keluarga. Bagaimanapun juga , konseling perkawinan dan pasangan  sekarang menjadi disiplin yang lebih kuat  dan kerja spesifik sedang berlangsung untuk menggambarkan  cara-cara khusus bekerja di bidang ini (Jacobsopn & Gurman, 1996).

Mr. John Jones

Smith Street No. 111

Anytown, Amerika 00000

Yang terhormat Mr. Jones,

Seperti yang anda ketahui, istri anda, Jill, telah meminta layanan terapi atas kesulitannya terkait dengan perkawinan anda. Bagaimanapun juga, dia telah menyatakan bahwa anda tidak ingin ikut dalam sessi terapi perkawinan.

Sebagai ahli terapi perkawinan profesional, Saya memiliki kewajiban untuk menginformasikan kepada masing-masing anda terhadap kemungkinan hasil layanan terapi perkawinan kepada hanya satu pasangan.  Riset yang ada menunjukkan  bahwa terapi dengan hanya satu pasangan telah mengakibatkan  tingginya tingkat strees dan  ketidakpuasan  bagi kedua pasangan perkawinan. Sebaliknya, banyak pasangan telah melaporkan bahwa  terapi perkawinan yang melibatkan kedua pasangan sangat membantu di dalam mengurangi  tekanan perkawinan  dan meningkatkan  kepuasan perkawinan.

Temuan ini mencerminkan  tendensi umum di dalam riset perkawinan  dan sifatnya tidak mutlak. Bagaimanapun juga, penting bagi anda dan Jill untuk diberikan informasi  akibat-akibat yang mungkin terjadi melalui terapi perkawinan dimana hanya satu pasangan yang hadir.  Dengan mengetahui informasi ini, anda dapat memilih  tindakan yang terbaik untuk maksud anda.

Setelah mempertimbangkan dengan  hati-hati informasi ini , Saya meminta anda dan Jill membahas opsi anda berkaitan dengan layanan terapi dimasa yang akan datang. Dengan cara ini,  semua pihak akan mendapatkan pemahaman yang jelas terhadap keinginan pihak lain yang menyangkut hubungan anda.

Sebagai pekerjaan rumah untuk Jill. Saya telah meminta bahwa masing-masing anda  membaca surat ini dan menandatangani ditempat yang disediakan  dibawah ini  untuk membuktikan anda memahami  kemungkinan akibat terhadap hubungan anda dengan melanjutkan  terapi perkawinan satu-pasangan. Jika anda tertarik ikut Jill dalam terapi perkawinan, disamping tanda tangan anda dibawah ini, tolong hubungi kantor saya untuk menunjukkan keinginan anda. Jika tidak, tanda tangan saja di bawah dan minta Jill mengembalikan surat tersebut pada sessi terapi yang akan datang. Saya hargai kerja sama anda dalam hal ini.

Hormat kami,

Ahli Terapi X

Kami menyatakan dengan  tanda tangan kami dibawah ini    bahwa kami telah membahas dan memahami  kemungkinan akibat  dari terapi perkawinan  selanjutnya dengan  hanya satu pasangan yang hadir.

Pasangan yang hadir                                           Tanggal

Pasngan yang tidak hadir                                     Tabnggal

Gambar 15.2

Surat yang berkaitan dengan pasangan yang tidak hadir

Konseling Keluarga

Keluarga memasuki konseling untuk sejumlah alasan. Biasanya, ada pasien yang  dikenali (IP—identified patient) (individu yang dilihat sebagai penyebab masalah di dalam struktur keluarga) yang anggota keluarga menggunakannya sebagai tiket untuk masuk. Kebanyakan  praktisi konseling keluarga tidak melihat satu anggota keluarga sebagai masalah tetapi melainkan menangani keseluruhan sistem keluarga. Kadang-kadang, terapi keluarga dilakukan dari perspektif individu  tetapi dengan harapan bahwa perubahan di dalam orang itu akan memiliki effek reaksi  dan secara positif memberikan dampak  pada keluarga (Nichols, 1988).

Konseling keluarga telah berkembang dengan cepat sejak pertengahan tahun 1970-an dan mencakup banyak aspek konseling pasangan. Walaupun beberapa konselor keluarga, seperti pakar behavioris, narrative , atau ahli terapi yang berfokus pada solusi, secara linear mendasarkan  dan bekerja pada  perspektif  sebab-akibat atau konstruktivis, (yang) sebagian besar tidak.  Malahan, mayoritas konselor  di bidang  tersebut menjalankan dari kerangka sistem umum dan menyusun konsep  keluarga sebagai sistem terbuka yang berkembang atas siklus hidup keluarga di dalam konteks sosio-kultur. Keluarga fungsional  mengikuti aturan dan fleksible di dalam memenuhi tuntutan  anggota keluarga dan agensi luar. Konselor sistem keluarga menekankan gagasan tentang kausalitas sirkuler. Mereka juga menekankan  konsep-konsep berikut ini:

  • Nonsummativity. Keluarga lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.  Penting untuk menjelaskan pola-pola di dalam  sebuah keluarga daripada  tindakan-tindakan dari anggota tertentu sendirian.
  • Equifinality : Asal-usul yang sama dapat menyebabkan hasil yang berbeda, dan hasil yang sama mungkin berasal dari  asal-usul yang berbeda. Dengan demikian, keluarga yang mengalami  bencana alam mungkin  menjadi lebih kuat atau lebih lemah  sebagai akibatnya. Hal yang sama, keluarga yang sehat mungkin memiliki  latar belakang yang tidak sama. Oleh karena itu, pengobatan memfokuskan pada pola-pola  interaksi keluarga ketimbang  kondisi atau kejadian tertentu.
  • Communication. Semua perilaku terlihat komunikatif. Penting untuk sampai pada dua fungsi pesan interpersonal: Content / isi  (informasi faktual) dan hubungan (bagaimana pesan dimengerti). “Apa” dari pesan tersebut di disampaikan dengan  bagaimana  cara pesan itu disampaikan.
  • Family rules.  Sebuah fungsi keluarga didasarkan atas  aturan yang eksplisit dan implisit. Aturan keluarga memberikan harapan tentang peranan dan tindakan yang mengatur kehidupan keluarga. Kebanyakan keluarga berjalan pada sekumpulan kecil aturan yang dapat diramalkan, sebuah pola yang dikenal sebagai prinsip berlebihan (redundancy principle). Untuk membantu keluarga merubah cara disfungsi kerjanya, konselor keluarga harus membantu mereka mendefinisikan  atau mengembangkan aturan-aturan dibawah mana  aturan itu berjalan.
  • Morphogenesis. Kemampuan keluarga untuk merubah fungsinya untuk memenuhi  tuntutan yang senantiasa berubah dari faktor internal dan eksternalnya dikenal dengan morphogenesis. Morphogenesis  biasanya memerlukan perubahan urutan kedua (second-order change)—terus melakukan hal yang sama yang telah berjalan / berhasil sebelumnya) (Watzlawick, Wealand, & Fisch, 1974). Selain hanya berbicara, anggota keluarga mungkin perlu  mencoba cara-cara bertindak yang baru.
  • Homeostatis. Seperti organ biologi, keluarga  memiliki tendensi untuk tetap dalam keadaan ajeg, tetap dalam keseimbangannya kecuali jika  sebalikya dipaksa untuk berubah. Ketika  seorang anggota  keluarga mengganggu keseimbangan  keluarga melalui  tindakannya, anggota yang lain dengan cepat mencoba meluruskan situasi melalui umpan-balik negatif. Model fungsi tersebut dapat dibandingkan dengan sebuah tungku perapian, yang menyala ketika rumah tersebut berada di bawah suhu yang ditetapkan dan mati ketika suhuya telah tercapai. Kadang-kadang homeostatis bisa jadi menguntungkan  di dalam membantu keluarga  mencapai tujuan siklus hidupnya, tetapi sering  menghambat keluarga tersebut  dari begerak ke tahapan lain di dalam pengembangannya.

Konselor yang beroperasi dari pendekatan sistem keluarga bekerja menurut  konsep yang baru saja diberikan (daftarnya). Misalnya,  jika aturan keluarga samar-samar dan menyebabkan kebingungan, konselor membantu keluarga tersebut  untuk membuat aturan ini jelas dan jernih. Semua anggota keluarga ikut serta di dalam proses tersebut sehingga saluran komunikasi terbuka. Sering, sebuah genogram dibuat untuk membantu anggota keluarga dan konselor mendeteksi pola-pola intergenerasi  dari fungsi keluarga yang memiliki dampak pada  saat ini (McGoldrick, Gerson & Shellenberger, 1999).

Untuk sebuah genogram, tiga generasi keluarga  seharusnya digambar. Nama, tanggal lahir, perkawinan, perpisahan, dan perceraian seharusnya dicantumkan, bersamaan dengan informasi dasar  misalnya  usia saat ini dan pekerjaan. Sebuah genogram  dapat juga digunakan  di dalam konteks multikultur untuk menilai faktor-faktor pandangan dunia dan budaya yang sering mempengaruhi perilaku anggota keluarga  (Thomas, 1998). Secara keseluruhan, “genogram nampaknya memberikan  strategi yang efektif dan bermakna secara pribadi  untuk memfasilitasi pemikiran sistem,” terutama oleh keluarga klien yang baru dan konselor yang baru saja mulai bekerja dengan keluarga (Pistole, 1997, hal.339)  Untuk sebuah genogram lihat Bab 9.

PROSES KONSELING PERKAWINAN DAN KELUARGA

Proses konseling keluarga didasarkan pada beberapa premis. Salah satunya adalah bahwa  orang yang melakukan  konseling adalah  sehat secara kejiwaan dan memahami  asal-usul keluarga mereka dengan baik. Ketika itu yang menjadi masalahnya, konselor dapat  dengan jelas memfokuskan pada keluarga klien dan tidak mengotori sessi dengan bahan dari kehidupan keluarga mereka sendiri yang belum mereka selesaikan.

Premis kedua bekerja dengan keluarga  adalah bahwa konselor  tidak akan terlalu menekankan  atau kurang menekankan  aspek-aspek yang memungkinkan atau intervensi di dalam proses terapeutik (Gladding, 2002). Dengan kata lain, konselor akan menyeimbangkan  apa yang mereka kerjakan.  Proses semacam itu berarti tidak terlalu  kuatir (gelisah) membuat anggota keluarga bahagia tetapi pada saat yang sama mengikut sertakan anggota dengan cara yang menarik.

Komponen ketiga dalam melakukan konseling keluarga adalah untuk  konselor memenangkan pertempuran  terhadap struktur (misalya, membuat parameter yang menjadi dasar dilakukannya konseling) sementara itu membiarkan keluarga  memenangkan pertempuran  untuk inisiatif (misalnya, motivasi untuk membuat perubahan yang diperlukan)(Napier & Whitaker, 1978). Pertempuran terhadap struktur dimenangkan ketika konselor memberikan informasi kepada keluarga klien tentang cara-cara yang akan dilakukan ketika bekerja dengannya, termasuk fakta-fakta yang penting tetapi rutin (biasa saja) tentang seberapa sering mereka akan bertemu, untuk berapa lama, dan siapa yang terlibat. Bagian struktur yang baik dapat dimasukkan dalam pernyataan penyingkapan (disclosure statement) yang diperintahkan oleh konselor kepada keluarga untuk membaca dan menandatangani. Inisitatif di dalam proses terapeutik harus datang dari keluarga sendiri bagaimanapun juga, sekali konselor mendengar dan membuat kerangka apa yang mereka lihat sebagai kemungkinan, anggota keluarga sering menarik bersama-sama menuju tujuan bersama.

Keempat, konselor keluarga perlu mampu melihat kesulitan pasangan  atau keluarga di dalam konteks dimana  masalah tersebut terjadi. Dengan demikian , konselor keluarga perlu canggih (sangat trampil) secara perkembangan pada level keluarga dan kehidupan individu yang berbeda  dan memiliki pengalaman hidup termasuk menyelesaikan  kondisi yang meracuni dan sangat merugikan yang lebih kecil dari kondisi ideal. Ketrampilan dan pemahaman semacam itu  membawa konselor pada pemahaman tentang bagaimana pasangan dan  keluarga menjadi bersama-sama atau berpisah ketika dihadapkan  dengan tahapan kehidupan, norma budaya, atau keadaan sitasional yang berbeda.

Perencanaan Pra-sessi

Sebelum pasangan atau keluarga pergi untuk konseling, beberapa hal harus disebutkan. Salah satunya adalah ekspektasi yang dimiliki si penelepon terhadap keluarga  atas  sessi awal atau  untuk  penanganan secara umum. Orang yang menelepon memberikan dasar alasan  untuk mencari terapi yang mungkin / mungkin bukan menjadi alasan orang lain di dalam pasangan atau hubungan keluarga menginginkan / tidak menginginkan konseling. Namun demikian, konselor harus mendengarkan secara seksama dan mendapatkan  informasi klinis yang penting, seperti halnya penjelasan masalah secara singkat, dan informasi faktual seperti  nama penelepon, alamat, nomor telepon. Di dalam mengumpulkan informasi ini, konselor seharusnya mendengarkan apa yang disampaikan sekaligus apa yang tidak dikatakan. Dalam melakukan yang demikian, konselor dapat mulai untuk menyusun hipotesis tentang masalah yang jelas di dalam tahapan kehidupan keluarga tertentu  dan tradisi kultural ketika mereka mungkin menghubungkannya dengan keluarga penelepon. Misalnya, sebuah keluarga dengan anak remaja mungkin memperkirakan memiliki masalah-masaah batas; bagaimanapun juga, cara masalah-masalah itu ditangani  di dalam keluarga Itali tradisional  versus keluarga Inggris tradisional mungkin sangat berbeda. Bagaimanapun juga menjelang akhir  panggilan yang pertama , janji seharusnya telah dijadwalkan.

Sessi Awal (Mula-mula)

Riset menunjukkan bahwa beberapa sessi pertama adalah yang paling penting sehubungan dengan apakah konselor  memiliki keberhasilan secara terapeutik terhadap keluarga (Odell & Quinn, 1998). Oleh karenanya menuju kepada permulaan yang baik dengan klien keluarga sangatlah penting. Satu hal  awal baik yang dapat dibantu adalah bagi konselor untuk mengadakan hubungan  dengan masing-masing anggota keluarga dan keluarga secara keseluruhan. Jenis ikatan ini dimana kepercayaan, hubungan kerja, dan penyusunan agenda bersama dikenal dengan terapeutik alliance (aliansi terapeutik). Hal tersebut dapat diciptakan melalui sejumlah sarana seperti

  • Maintenance (Pemeliharaan)—dimana konselor mengkonfirmasi  atau mendukung  posisi anggota keluarga,
  • Tracking (Penjejakan) – dimana seorang konselor , melalui sejumlah pertanyaan klarifikasi, mengikuti jejak atau mengikuti urutan dari sebuah kejadian, dan
  • Mimesis –dimana seorang  konselor mengadopsi  gaya suatu keluarga atau tempo komunikasi , seperti halnya menjadi periang (baik hati) dengan keluarga yang periang atau serius dengan keluarga yang muram.

Di dalam membentuk aliansi terapeutik, penting bagi konselor untuk mengikutsertakan keluarga dan para anggotanya untuk mendapatkan perspektif yang cukup tentang bagaimana individu melihat  masalah yang sekarang ada, orang , atau situasi. Perspektif  ini disebut frame.   Konselor dapat menentang frame dari anggota keluarga untuk mendapatkan perspektif yang lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi di dalam keluarga atau memberikan keluarga opsi yang lain bagaimana mereka dapat memahami situasinya (misalnya, dengan re-frame).

Di dalam sessi awal, konselor keluarga  juga menjadi pengamat. Dia mencari fenomena  yang disebut dengan family dance (tarian keluarga), yang merupakan cara keluarga  secara khusus berinteraksi  baik pada level verbal maupun non verbal (Napier & Whitaker, 1978). Jika konselor  kehilangan (ketinggalan) interaksi ini pada awalnya, dia tidak perlu khawatir, karena pola-pola itu akan berulang dengan sendirinya. Penting di dalam mengamati family dance untuk melihat apakah beberapa anggota keluarga  dijadikan sebagai kambing hitam (scapegoat)—misalnya disalahkan untuk masalah yang terjadi di dalam keluarga. Misalnya, sebuah keluarga mungkin menuduh  anak remajanya menjadi biang masalah kemalasan karena anaknya selalu tidur larut malam dan terlibat pertengkaran ketika dia berada diluar rumah dengan teman-temannya. Sementara  itu mungkin benar bahwa anaknya memiliki beberapa masalah, mungkin bahwa dia tidak menjadi  penyebab utama masalah keluarga. Dengan demikian, sekali lagi, konselor perlu menggali dan bahkan menantang persepsi anggota keluarga  dimana sebenarnya masalahnya berada.

Salah satu cara mendefinisikan secara luas atau mengklarifikasi  apa yang sedang terjadi di dalam keluarga adalah dengan menanyakan pertanyaan sirkuler (yang tak berujung pangkal), yaitu pertanyaan yang memfokuskan perhatiannya  pada hubungan keluarga dan menyoroti perbedaan diantara para anggota. Misalnya, sang ayah mungkin ditanya  bagaimana anak perempuannya merespon ketika secara verbal diserang  oleh istrinya dan bagaimana anggota keluarga yang lain bereaksi, termasuk dirinya. Strategi semacam itu  membantu konselor dan keluarga yang mana mereka bekerja untuk melihat semakin banyak dinamika  yang terlibat didalam  kehidupan keluarga dan mungkin akan melepaskan orang yang telah terlihat sebagai masalah. Pemberian pertanyaan seperti ini mungkin juga membantu konselor  dan keluarga melihat jika triangulasi terjadi (misalnya, menarik masuk orang atau pihak ketiga ke dalam konflik, seperti halnya ibu yang mendapatkan dukungan sang ayah kapanpun dia berdebat dengan anak perempuannya).

Disamping terhadap aspek-aspek ini dalam mengikut sertakan keluarganya, sangat penting bahwa konselor mengembangkan kapasitas untuk menarik kesimpulan awal sehubungan dengan cara keluarga berperilaku (misalnya, siapa berbicara kepada siapa dan siapa duduk di dekat siapa). Dalam hal ini, konselor dapat mengukur dimensi batas-batas tersebut. (misalnya, mereka yang menghargai kedekatan dan kepedulian versus mereka yang bersifat intrusif , seperti halnya orang tua yang berbicara untuk  anaknya  yang mampu berbicara untuk dirinya )(Worden, 2003). Kedekatan dan kekuasaan  dapat juga ditentukan dengan cara ini. Pada dasarnya, melalui observasi dan keterlibatan pembicaraan dengan keluarga, konselor menjadi  nyambung (bisa menyesuaikan) terhadap dinamika dalam keluarga., yang biasanya penting dalam jangka panjang daripada isi (kandungan) percakapan yang terjadi di dalam proses konseling.

Secara keseluruhan, sessi pertama biasanya adalah sessi dimana konselor mengevaluasi bagaimana keluarga  berfungsi dan apa yang mungkin dibutuhkan  untuk dikerjakan untuk membantu keluarga berjalan dengan lebih lancar. Tujuan tentatif ditentukan dan janji berikutnya dibuat.

Fase Pertengahan Konseling Keluarga

Fase pertengahan konseling keluarga terdiri dari  sessi diantara  sessi awal (inisial)  dan terminasi (akhir).  Penanganan bagian ini adalah dimana  keluarga kemungkinan akan memerlukan perubahan di dalam diri mereka sendiri , jika mereka sama sekali berubah.

Selama masa ini, anggota keluarga dan konselor menggali perilaku-perilaku baru dan mengambil kesempatan. Keluarga yang tidak yakin jika mereka ingin berubah sering akan hanya  membuat  perubahan yang superfisial (dangkal) di dalam apa yang mereka kerjakan. Jenis perubahan ini dikenal dengan perubahan urutan pertama (first order change). Contohnya adalah peraturan orang tua tentang jam malam yang mundur satu jam tanpa membicarakannya atas pentingnya anak remaja perempuan  menerima tanggung jawab  untuk tindakan-tindakannya. Perubahan urutan kedua (second order change), dimana aturan-aturan yang terstruktur dirubah, sangat berbeda, dan jenis perubahan yang diharapkan dalam keluarga yang sedang menjalani terapi. Sebuah contoh perubahan urutan kedua (second order change) bersifat kaku,  keluarga otoriter berubah menjadi lebih demokratis dengan mengadopsi  aturan-aturan baru yang berkaitan dengan interaksi keluarga setelah setiap orang memiliki kesempatan untuk membuat saran  dan memberikan input  yang berkaitan dengannya (Watzlawick, dkk., 1974).

Di dalam membantu perubahan di dalam keluarga , konselor tetap aktif secara mental, verbal, perilaku (Friedlander, Wildman, Heatherington, Skowron, 1994). Konselor juga meyakinkan keluarga tidak semata-mata  memahami apa yang mereka perlu kerjakan karena pengetahuan kognitif sendiri jarang melahirkan perubahan. Disamping itu, selama fase pertengahan dari konseling keluarga, konselor mengkaitkan  keluarga dengan pihak luar yang tepat, jika memungkinkan. Misalnya,  dalam menangani sebuah keluarga yang memiliki anggota satu atau lebih  yang menjadi pecandu alkohol, konselor meyakinkan mereka akan mencari  informasi tentang Alcoholics Anonymous (AA) (sebuah organisasi individu yang membantu satu sama lain tetap tenang / berpikiran sehat), Al-Anon (sebuah organisasi mandiri untuk kerabat dewasa dan teman  yang memiliki masalah dengan minuman), dan / atau Al-ateen ( sebuah program yang mirip dengan Al-Anon tetapi untuk anak muda, biasanya berusia 12 sampai 19).

Disepanjang fase pertengahan penanganan , ada fokus yang terus menerus pada proses tentang apa yang terjadi di dalam keluarga. Dalam banyak  kasus, anggota keluarga  awalnya membuat perubahan yang termudah. Akibatnya, konselor keluarga  harus menekan  keluarga terhadap perubahan yang lebih besar jika penanganan ingin  memiliki signifikansi terhadapnya. Tekanan tersebut dimanifestasikan   di dalam mengkonsentrasikan  pada kognisi anggota keluarga, sekaligus respon afektif dan perilaku mereka (Worden, 2003). Kadang-kadang tindakan ini dilakukan dengan cara langsung sementara itu pada saat lain hal tersebut dicapai melalui pemasukan humor kedalam proses terapeutik, hak yang dimiliki konselor untuk mendapatkan  (bayaran) dengan menunjukkan perhatiannya yang pertama dan membangun kepercayaan. Sebuah contoh menggunakan humor di dalam penanganan untuk memperbaiki perubahan  dapat dilihat di dalam interaksi ibu dan anak perempuannya sebagai berikut: 

IBU KEPADA ANAK PEREMPUANNYA: “Saya mau mati saja jika dia mengulangi  tindakan itu lagi,”

ANAK PEREMPUAN KEPADA IBUNYA : “Tidak, ibu hanya berusaha membuat saya merasa bersalah.”

KONSELOR                                :     “Sepertinya rencananya telah berhasil sebelumnya.”

ANAK PEREMPUAN                :     “Memang, Tetapi dia tidak pernah mati  dan saya jadi gila dan frustasi.”

IBU                                               :     “Saya kasih tahu, jika kamu mengulangi sekali lagi saja , Saya akan mati!”

KONSELOR KEPADA IBUNYA   : “Jadi anak ibu sangat kuat. Ia dapat mengakhiri hidup anda dengan sebuah tindakan?”

IBU (dengan dramatis)                 :     “Ya.”

KONSELOR KEPADA ANAK PEREMPUANNYA : “Tapi ibumu bilang kamu kuat dan dapat membunuhnya. Karena kamu sayang dia, saya tahu kamu tidak akan melakukannya. Tetapi, karena kamu punya banyak kekuatan saya penasaran jika kamu berpikir untuk melumpuhkan salah satu tangannya dengan tindakan yang lebih kecil?”

IBU                                               : “Apa.”

ANAK PEREMPUANNYA (sambil tertawa): “Baiklah, mungkin biar dia berhenti ngomel terus dan mmberi kesempatan ngobrol.”

KONSELOR KEPADA IBU &ANAK : “Mungkin kesempatannya sekarang dan tidak ada lagi yang harus menderita secara fisik jika kita melakukannya dengan benar.”

Konselor dalam hal ini  menyebutkan masalah yang menekan atas kekuasaan  dan drama dengan cara yang serius tetapi agak humor yang mendapatkan perhatian dari dua orang yang paling terlibat di dalam perjuangan tersebut,  memutuskan fungsi-fungsi  disfungsional, dan membangun kesempatan untuk dialog yang sebenarnya dan memunculkan interaksi baru.

Disamping cara kerja sebelumnya, konselor harus mencari bukti stabilitas perubahan seperti halnya keluarga atau pasangan  semakin banyak mengakomodasi  satu sama lain melalui  sarana  yang halus dan jelas. Misalnya, pola duduk, saling memanggil nama  anggota keluarga , atau bahkan nada suara yang mereka gunakan ketika menegur satu sama lain adalah tanda-tanda bahwa perubahan yang agak permanen telah terjadi di dalam keluarga jika mereka sangat berbeda  dari mana dulu berada  ketika proses terapeutik  mulai.

Di dalam fase pertengahan konseling perkawinan dan keluarga, sangat krusial  bahwa konselor tidak mengedepankan pasangan  atau anggota keluarga. Yang seharusnya terjadi, kemajuan terapeutik  akan berakhir  karena keluarga tidak mau diberi (masukan). Oleh karena itu, tetap pada tugas dan  target  mensyaratkan konselor untuk tetap berimbang dan hanya mendorong sejauh ini. Suatu cara untuk membantu keluarga tetap ikut serta dan membuat kemajuan  adalah dengan memberinya tugas  rumah (misalnya, tugas untuk menyelesaikan  sessi konseling  misalnya menyelenggarakan pertemuan keluarga) dan tugas psiko-edukasi (misalnya , membaca buku atau melihat video) untuk menyelesaikan bersama sehingga mereka lebih banyak belajar secara literal dan berinteraksi bersama. Cara kerja semacam itu memberikan kepada anggota keluarga  bahkan yang lebih umum daripada yang sebaliknya menjadi masalah dan mungkin bahkan menarik mereka menjadi lebih dekat secara psikologis.

Terminasi (Akhir)

Terminasi dapat dianggap menjadi istilah yang tidak cocok  di dalam konseling keluarga karena  “dari sudut  pandang sistem keluarga, sistem terapeutik keluarga ahli terapi  telah mencapai  titik akhir tetapi sistem keluarga tetap berlanjut” (Worden , 2003 hal. 187). Namun demikian , terminasi (termasuk tindak lanjut) adalah fase terakhir  penanganan di dalam keluarga.

Keluarga, konselor , atau keduanya  mungkin mengajukan terminasi. Tidak ada seorangpun yang akan memulai proses  tersebut atau satu cara tunggal  bahwa terminasi harus dilakukan. Bagaimanapun juga, terminasi seharusnya tidak mendadak dan tidak dilihat sebagai pokok-pokok konseling (Gladding, 2002). Melainkkan, terminasi direncanakan untuk memberikan penutup kepada konselor  dan keluarga dan seharusnya menjadi sarana untuk menilai  apakah tujuan keluarga telah tercapai.

Dengan demikian, di dalam awal terminasi, konselor dan keluarga  harus bertanya kepada mereka sendiri  mengapa mereka memasuki fase ini. Satu alasannya mungkin bahwa  telah cukup kemajuan yang dibuat keluarga dan sekarang dapat berfungsi dengan lebih baik daripada sebelumnya. Demikian juga,  keluarga dan konselor  keduanya mungkin sepakat bahwa keluarga telah mencapai  apa yang telah ditetapkan untuk dikerjakan dan bahwa untuk melanjutkan bukan merupakan pengorbanan yang bijak dalam hal waktu dan usaha.

Apapun alasannya untuk terminasi, konselor seharusnya meyakinkan  bahwa pekerjaan yang telah di lakukan keluarga dibuat ringkasan (ikhtisar) dan dirayakan (jika perlu) sehingga keluarga meninggalkan konseling  lebih sadar dan kadang – kadang merasa lebih kuat  di dalam menyadari apa yang mereka capai.  Di samping membuat ikhtisar,  aspek lain terminasi  adalah memutuskan tujuan jangka panjang seperti halnya menciptakan  tumah tangga yang tenang dimana para anggota  terbuka satu sama lain. Proses proyektif ini  memberikan kepada anggota keluarga  sesuatu untuk dipikirkan  dan direncanakan (kadang-kadang dengan masukan dari konselor). Bagian dari sessi terminasi  meliputi prediksi kemunduran / kemerosotan dengan baik, sehingga keluarga tidak menjadi terlalu gusar ketika mereka gagal mencapai tujuan mereka  sebagaimana yang direncanakan.

Bagian akhir dari terminasi adalah tindak lanjut (yaitu, memeriksa keluarga setelah mengikuti penangaan pada periode waktu tertentu). Tindak lanjut (follow-up) menyampaikan perhatian dan memberi tahu  bahwa mereka kembali  ke konseling untuk menyelesaikan apapun yang mereka mulai  disana atau bekerja dengan masalah-masalah lain.  Keluarga klien sering lebih baik ketika menjalani follow up karena mereka menjadi sadar bahwa kemajuan dimonitor di dalam maupun diluar konteks keluarga.

RINGKASAN DAN KESIMPULAN

Keluarga Amerika telah berubah dari tahun ke tahun dari beberapa bentuk yang dominan sampai banyak sekali keanekaragaman.  Perubahan ini disebabkan oleh sejumlah kekuatan, termasuk Perang Dunia II, dan bersamaan dengan itu telah datang kebutuhan yang besar untuk menangani para keluarga.  Profesi konseling  perkawinan dan keluarga telah tumbuh dengan cepat sejak tahun 1940-an  karena sejumlah alasan, termasuk teori perkembangan , kebutuhan di dalam masyarakat, dan efektifitas riset yang terbukti. Hal tersebut juga telah berhasil karena telah memiliki pendukung yang kuat  dan telah menghasilkan sejumlah teori.

Profesional yang telah memasuki  bidang konseling perkawinan dan keluarga bersekutu dengan  paling tidak empat asosiasi, tergantung pada latar belakang mereka. Kebanyakan konselor bergabung  dengan International Association for Marriage and Family Counseling (IAMFC—Asosiasi Internasional untuk  Konseling Perkawinan dan Keluarga) karena afiliasinya dengan ACA, tetapi sebagian berafiliasi dengan  American Association for Marriage and Family Teraphy (AAMFT—Asosiasi Amerika untuk Terapi Perkawinan dan Keluarga),juga.  Tanpa memandang afiliasinya, mereka yang bekerja menyelesaikan masalah pasangan  dan keluarga perlu mengetahui siklus hidup keluarga untuk  menilai apakah masalah perkawinan atau keluarga merupakan perkembangan atau situasional. Konselor perkawinan dan keluarga juga perlu menyadari  teori-teori sistem (Lihat Bab 9) dan cara-cara bahwa keluarga berjalan secara sistematis.

Bidang konseling perkawinan kadang-kadang  digabungkan ke dalam model konseling keluarga, tetapi profesional di bidang ini perlu menyadari  teori-teori dan proses yang digunakan  di tiap-tiap bidang. Mereka juga harus menyadari  bagaimana  teori  individu  atau kelompok dapat saling melengkapi atau menggaggu kerja (mengatasi masalah) dengan keluarga . Akhirnya, konselor  perkawinan dan keluarga  perlu memiliki pendidikan yang baik di dalam tahapan yang diminta konseling keluarga—pra-perencanaan, sessi awal, fase pertengahan, dan penghabisan (akhir)—dan teknik-teknik umum dan penekanan di dalam masing-masing  hal tersebut.

Secara keseluruhan, bekerja dengan pasangan dan keluarga  merupakan cara membantu orang  yang dinamis dan menarik. Karena kerumitanya dan lika-liku  prosesnya, hal tersebut tidak untuk semua orang  tetapi hal tersebut merupakan entitas yang banyak konselor nampak menikmati dan banyak orang di dalam masyarakat mengambil manfaat darinya.

KEGIATAN  DALAM RUANG KELAS

  1. Apa bentuk keluarga—inti (nuclear), karir–ganda, campuran, atau multikultur—yang paling anda ketahui?
  2. Tentukan dimana kedudukan anda di dalam  siklus hidup keluarga anda sendiri. Diskusikan dengan teman sekelas tentang  perubahan apa yang anda hadapi dalam beberapa tahun yang akan datang karena tuntutan siklus hidup?
  3. Apa keuntungan dan kerugian bekerja dengan individu  dengan persoalan  keluarga atas dasar satu-satu ketimbang  atas dasar konseling keluarga? Apakah menurut anda hal tersebut memungkinkan untuk bekerja secara efektif dengan hanya satu anggota pasangan atau keluarga? Bagilah kelas  menjadi dua tim dan diskusikan masalah tersebut.
  4. Proses yang mana di dalam konseling perkawinan dan keluarga yang lebih anda sukai atau anda percayai yang mungkin baik bagi anda untuk menyelesaikannya?  Apa alasan dibalik keputusan anda? Bentuklah kelompok dengan teman sekelas  yang memiliki pandangan yang sama dan berikan dasar pemikiran anda kepada anggota kelas yang lain.
  5. Kontrbusi riset  dari pelopor  di dalam konseling keluarga. Warisan apa yang ditinggalkan oleh orang tersebut? Masih adakah proses  atau teknik  yang diberikan oleh orang ini yang dipakai dengan  pasangan atau keluarga sekarang ini?




CHAPTER 17 Buku 2

9 01 2010

BIMBINGAN UNIVERSITAS DAN LAYANAN KEHIDUPAN PARA MAHASISWA

Seperti dedaunan  yang jatuh

kita melihat apa yang sedang Anda bawa setiap tanggal 4 bulan September.

Perubahan yang Anda lakukan tidak sedramatis merahnya pohon maple

atau sehangat warna jingga dari pancaran senja;

Namun kehadiran Anda, baik secara individu dan kolektif,

seperti dedaunan yang menambahkan warna ke kampus

yang seharusnya menjadi hambar

dalam administrasi nuansa abu-abu.

Kami merayakan kedatangan Anda

seperti kami menantikan udara sejuk segar
pada akhir musim panas.

Kami menyambut semangat Anda

untuk menghidupkan kami ke metafora dan cita-cita

yang meninggalkan kehidupan yang tak berubah ….

Pendidikan tinggi adalah salah satu pengalaman yang paling berharga di Amerika Serikat, mendaftarkan antara 12 dan 13 juta orang per tahun. Pada awal abad ke-21, lebih dari 25% dari US dewasa usia 25-3 4 telah selesai 4 tahun atau lebih pendidikan tinggi. Angka yang sebanding dengan persentase yang sama di Jepang, 18% di Kanada, dan 12% di Britania Raya, Perancis, dan Jerman (Horton, 1994). Dalam pendidikan tinggi, pelayanan kehidupan Mahasiswa yang ditawarkan selain kursus. Layanan ini terutama dalam bentuk kegiatan cocurricular, program yang mendukung, dan konseling (Komives, Woodard, & Delworth, 1996).

Layanan Kehidupan mahasiswa dan konseling di perguruan tinggi dan universitas AS kampus pertama kali muncul pada awal abad ke-20. EG Williamson, dekan mahasiswa di University of Minnesota pada 1930-an dan 1940-an, diartikulasikan apa yang sebaiknya kemudian disebut sudut pandang personel mahasiswa (Williainson, 1939). Model layanan personil siswa menetapkan standar waktu. Itu adalah sebagian besar langsung dan pendekatan konselor. pusat penekanannya adalah “Tidaklah cukup untuk membantu konseling menjadi apa yang mereka inginkan, melainkan lebih penting untuk membantu mereka menjadi apa yang seharusnya mereka ingin jadikan” (Ewing, 1990, hal 104). sudut pandang Personel mahasiswa, kadang-kadang disebut Minnesota sudut pandang ini, tetap di tempatnya sampai setelah Perang Dunia II. Pada saat itu pemerintah mulai menuangkan uang ke pendidikan tinggi untuk layanan beragam,dan, persaingan sudut pandang muncul.

Ide tentang pentingnya layanan kehidupan mahasiswa, pengembangan mahasiswa, dan bimbingan telah semakin diterima sejak tahun 1940-an. Mereka telah menjadi bagian apa yang dikenal sebagai bidang kemahasiswaan sejak tahun 1970-an (Canon, 1988; Winston & Creamer 1997). Kadang-kadang layanan kehidupan mahasiswa dan konseling perguruan tinggi yang terhubung dalam cara yang spesifik (Evans, Carr, & Stone, 1982); kadang-kadang mereka tidak. Terlepas dari itu, mereka berbagi banyak alasan yang umum (misalnya, tekanan pada kesehatan dan pembangunan seluruh manusia, dan dimasukkan bersama-sama dalam bab ini karena cara mereka pas dan mempengaruhi total kehidupan kampus, mahasiswa, staf pengajar,staf, dan administrator.

Profesional yang bekerja dengan mahasiswa di luar kelas bervariasi dalam latar belakang dan pelatihan (Bloland, 1992; Komives et al, 996). Mereka yang termasuk karyawan, dalam bantuan keuangan, penerimaan, perencanaan karir dan penempatan, pendidikan kesehatan, kampus: serikat buruh, pendaftaran, tinggal hidup, menasihati, dan kegiatan internasional. Layanan: mereka tawarkan meliputi (Kub, 1996; Kub, Bean,

Bradly, & Coomes, 1986):

  • Layanan berhubungan dengan perilaku siswa (misalnya, prestasi, karena gesekan, kegiatan kampus)
  • Layanan yang terkait dengan gambaran karakteristik siswa (misalnya, bakat, Aspirasi.
  • Layanan yang berhubungan dengan perkembangan siswa (misalnya, kognitif, moral, sosial / emosional.
  • Layanan yang berhubungan dengan prestasi akademik (misalnya, kemampuan belajar)

Konselor dan layanan mahasiswa personil menekankan keprihatinan umum mengenai perkembangan total orang-orang yang mereka layani (Brown & Helms, 1986; Johnson, 1985) Komives et al., 1996). Banyak beberapa keanggotaan dalam organisasi profesional. Salah satu yang paling beragam kelompok profesional American College Personnel Association (ACPAJ, yang merupakan afiliasi dari ACA sampai 1992. Asosiasi ini, yang secara resmi diselenggarakan pada tahun 1924, telah mengalami tiga perubahan nama. Para anggotanya bekerja di sejumlah daerah yang berkaitan dengan pelayanan mahasiswa. penting lainnya adalah kelompok profesional College American Counseling Association (ACCA), sebuah divisi dari ACA sejak tahun 1992. Para anggota ACCA adalah profesional yang bekerja terutama di perguruan tinggi dan universitas dan mengidentifikasi diri mereka sebagai konselor (Davis, 1998; Dean, 1994). Organisasi-organisasi lain dalam kehidupan siswa-bidang jasa meliputi National Association of Student Personnel Administrator (NASPA), Divisi 17 (Konseling Psikologi) dari APA, dan pasca pembagian sekunder American School Counselor Association (ASCA).

Beberapa upaya, telah dibuat selama bertahun-tahun untuk membentuk organisasi bersatu profesional yang bekerja di berbagai pelayanan kehidupan mahasiswa, tetapi tidak ada yang benar-benar berhasil (Sheeley, 1983). Kegagalan ini sebagian diakibatkan latar belakang yang berbeda dan pelatihan dasar (Bloland, 1992). karena perguruan tinggi

profesional yang bekerja dengan siswa bekerja di bidang yang berbeda, mereka cenderung untuk berkonsentrasi layanan mereka pada isu-isu dan orang-orang yang spesifik. Fokus kelembagaan juga membuat perbedaan. Penelitian menekankan beberapa universitas dan beasiswa (yang dikenal sebagai tradisi universitas Jerman), beberapa pendidikan dari seluruh pribadi (perumahan Inggris tradisi seni liberal), dan beberapa kejuruan atau persiapan profesional (paradigma AS) (Rodgers, 1989; Rubin, 1990 ). Cukup sering, khususnya kehidupan-siswa memiliki persepsi, pendapat, dan nilai-nilai tentang program-program dibentuk atau diarahkan oleh lembaga-lembaga yang mempekerjakan mereka (Canon, 1985).

Selain itu, publikasi dalam layanan kehidupan-siswa cenderung beragam. berkala terkemuka adalah Journal of College Student Development, National Association of Student Personil Administrator jurnal, dan Journal of College Counseling. Tema kuartalan berorientasi seri. New Directions for Student Services (diterbitkan oleh Jossey-Bass), juga berpengaruh dan populer.

AWAL DARI LAYANAN KEHIDUPAN PELAJAR DAN BIMBINGAN SEKOLAH

Layanan Kehidupan mahasiswa di perguruan tinggi, termasuk konseling, mulai sebagian besar secara default. ” Secara historis, partisipasi fakultas dalam apa yang sekarang disebut fungsi layanan mahasiswa secara bertahap berubah dari keterlibatan total detasemen” (Fenske, 1989b, hal 16). Perubahan ini adalah hasil dari faktor-faktor perkembangan signifikan dalam pertumbuhan pendidikan tinggi Amerika selama masa hampir 300-tahun sejarah-, termasuk yang berikut:

  • Bagian dari Morrill Grant Tanah Undang-Undang pada 1862, yang mempengaruhi pembentukan dan akhirnya dominasi negara universitas di Amerika pendidikan tinggi
  • Pertumbuhan populasi pluralistik pendapat dan di antara mahasiswa AS
  • Perubahan dalam peran fakultas: dosen dan guru tidak lagi dipupuk siswa karakter moral, memimpin pengembangan karakter, atau patuh pada kebijakan di loco parentis (di tempat orang tua)
  • Peningkatan minat fakultas dalam penelitian dan pengembangan intelektual (misalnya, Hutchins, 1936)
  • Kurangnya minat dosen dalam pelaksanaan harian kelembagaan pemerintahan
  • Munculnya konseling dan membantu profesi lain
  • Dokumentasi oleh Sanford (1962, 1979) bahwa pengembangan siswa selama ilmu pengetahuan tahun dapat dipromosikan oleh tantangan. Dukungan dan bahwa kurikulum dan kegiatan cocurriculum dapat “memulai, mempercepat, atau menghalangi perubahan pembangunan” (Canon, 1988, p . 451)

Layanan Kehidupan mahasiswa sebagai profesi tumbuh pesat dalam pendidikan tinggi antara akhir Perang Dunia I dan depresi tahun 1930-an (Fenske, 1989a). Selama periode ini, banyak berharap bahwa kehidupan mahasiswa-profesional akan diintegrasikan ke dalam arus utama program akademik. Tapi mereka tidak, dan alasan teoritis yang kuat untuk menerapkan kehidupan program-siswa itu tidak dirumuskan. Selain itu, banyak kehidupan-siswa profesional yang dihentikan pada masa Great Depression karena kurangnya uang dan kegagalan dipekerjakan praktisi untuk mendefinisikan diri secara memadai. Dengan demikian, Layanan kehidupan mahasiswa, maka seperti sekarang, menduduki posisi paradoksal “dari yang baik sangat diperlukan dan peripheral” (Fenske, 19S9b, hal 6).

Konseling universitas sebagai profesi tidak dimulai sampai akhir 1940-an, sebelum itu Unit fakultas dan perguruan tinggi menjabat sebagai presiden mahasiswa konselor (Pace, Stamler, Yarris, & Juni 1996). Keterlambatan konseling perguruan tinggi adalah karena pandangan budaya yang berlaku bahwa kebanyakan siswa yang masuk perguruan tinggi disesuaikan dengan baik dan bahwa hanya profesional yang membantu mahasiswa tertekan secara mental adalah psikiater. Barulah setelah Perang Dunia II yang konseling psikolog dan konselor diizinkan untuk bekerja dengan siswa di kampus yang baru terbentuk pusat-pusat konseling, yang dibangun karena sejumlah besar veteran kembali ke perguruan tinggi dan membutuhkan lebih banyak bantuan daripada sebenarnya dapat disediakan Selain itu, selama dan segera setelah Perang Dunia II, konseling psikolog bekerja keras untuk bekerja secara klinis dengan klien seperti psikiater itu (Ewing, 1990).

DASAR YANG TEORITIS DAN PERSIAPAN PROFESIONAL UNTUK BEKERJA SAMA DENGAN PELAJAR SEKOLAH

Konseling universitas dan layanan kehidupan siswa memahami bagaimana melibatkan mahasiswa; dari segala usia belajar, tumbuh, dan berkembang. Namun Bloland (1986) menunjukkan, beberapa “entry-level dan tidak sedikit para profesional berpengalaman tahu sedikit tentang pengembangan mahasiswa teori atau praktik” (hal. 1). Kenyataan ini sangat disayangkan, karena bekerja dengan siswa secara efektif memerlukan pengetahuan khusus. Penting bahwa konselor perguruan tinggi khususnya masalah untuk membedakan antara siswa telah dikaitkan dengan perkembangan yang normal perjuangan, seperti otonomi identitas, dan keintiman, dan lebih serius atau kronis bentuk gangguan psikologis (Sharkin, 1997). Bahkan di antara profesional dengan niat baik, etis atau perilaku yang dipertanyakan secara hukum dapat mengakibatkan bahaya jika ada yang tidak selaras dengan erat baik mental dan teratur mengembangkan aspek dari populasi perguruan tinggi (Canon, 1989; Kitchener, 1985)

Dasar-dasar teori

Profesional konseling di perguruan tinggi dan layanan kehidupan mahasiswa dapat menggunakan sejumlah model teoritis sebagai panduan dalam bekerja dengan siswa yang mengalami perkembangan pada situasi yang diprediksi. Dari sudut pandang ideologis, tiga tradisi mendominasi: in loco parentis, layanan murid, dan pengembangan siswa (Rodgers, 1989). loco parentis memberikan staf fakultas dan peran orang tua, dari setiap nilai-nilai moral. Layanan siswa menekankan siswa sebagai konsumen dan layanan yang memfasilitasi pembangunan. Pendekatan ini menekankan program cara persembahan siswa yang dipilih sesuai dengan apa yang mereka pikir yang mereka butuhkan. Berfokus pada pengembangan siswa berbasis penelitian menciptakan lingkungan yang “membantu mahasiswa belajar dan berkembang” (Rodgers, 1989, hal 120). Perkembangan Siswa proaktif karena membuat peluang yang tersedia untuk kelompok khusus siswa.

Dalam perkembangan siswa, setidaknya empat jenis teori-teori perkembangan profesional panduan kegiatan: psikososial, kognitif-struktural, person-interaksi lingkungan, dan tipologis. Teori psikososial yang paling benar-benar diwujudkan dalam tulisan-tulisan Arthur Chickering (misalnya, Chickering (M-Reisser, 1994). Dia berpendapat bahwa ada tujuh tugas perkembangan khusus kompetensi – mahasiswa, otonomi, mengelola emosi, identitas, tujuan, integritas , dan hubungan (Garfield & David, 1986). Tugas-tugas ini sejalan dengan Erik Erikson (1968) ide-ide tentang proses perkembangan anak muda. Sebuah Chickening kekuatan utama adalah bahwa dia menguraikan dan menentukan konsep Erikson sedemikian rupa sehingga konselor universitas dan kehidupan mahasiswa-profesional dapat merencanakan dan mengevaluasi praktik dan program mereka di sekitar tiga isu utama: pengembangan karir, keintiman, dan perumusan sebuah filsafat hidup dewasa. Sebagai contoh, mahasiswa tahun pertama dan senior berbeda dalam tingkat perkembangan tertentu, dengan mahasiswa tahun pertama menjadi lebih sibuk dari senior dengan kompetensi mendirikan, mengelola emosi, dan mengembangkan otonomi. Seniors, namun lebih berkonsentrasi pada masalah-masalah seperti pembentukan identitas, membebaskan hubungan interpersonal, mengembangkan tujuan, dan membangun integritas (Rodgers, 1989).

Teori-teori kognitif-struktural berfokus pada bagaimana individu mengembangkan rasa makna di dunia. Mereka berurusan dengan persepsi dan evaluasi dan paling baik dijelaskan dalam moral dan intelektual model Perry (1970) dan Kohlberg (1984). Model ini berorientasi proses, hierarkis, dan berurutan. Sebagai contoh, model Perry mengasumsikan pertumbuhan dari “dualisme sederhana (posisi 1 dan 2) melalui keanekaragaman (posisi 3 dan 4) dan relativisme (posisi 5 dan 6) untuk komitmen dalam kerangka kerja relativistik (posisi 7 hingga 9).” Kohlberg model “menguraikan tiga tingkat perkembangan moral: yang preconventional, konvensional, dan postconventional” (menggali, Mintz, & Stewart, 1990b, hal 8). Menurut teori ini, masing-masing tahap baru berisi sebelumnya dan adalah sebuah bangunan untuk yang berikutnya. Kognitif ketidak nyamanan adalah dorongan untuk perubahan. Eksplisit dalam pendekatan ini adalah gagasan bahwa “orang-orang membutuhkan kesempatan untuk belajar bagaimana berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab dalam rangka untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri dalam masyarakat demokratis” (Herman, 1997, hal 147).

Model manusia – interaksi lingkungan “mengacu pada berbagai konseptualisasi dari mahasiswa dan lingkungan perguruan tinggi dan tingkat kesesuaian yang terjadi ketika mereka berinteraksi” (Rodgers, 1989, hal 121). Serupa yang diyakini mengarah pada “kepuasan, stabilitas, dan mungkin, pembangunan” (Rodgers, 1980, hal 77). Teori-teori dalam model stres sebuah pembangunan merupakan proses holistik yang melibatkan semua

bagian dari orang dengan lingkungan dalam sebuah cara berinteraksi. Hal ini mirip dalam pendekatan psikososial, dengan asumsi bahwa pembangunan di satu bidang kehidupan dapat memfasilitasi pertumbuhan di negara lain. Misalnya, ketika siswa berpartisipasi dan mengambil posisi kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa, mereka mengembangkan keterampilan pengelolaan hidup yang lebih positif dari pada siswa yang lebih pasif (Cooper, Healy, & Simpson, 1994). Demikian pula, siswa yang sukarela dalam inisiatif pelayanan masyarakat (juga dikenal sebagai “pelayanan informasi”) menjadi lebih banyak informasi tentang kebutuhan lingkungan, kurang egosentris, dan lebih empati (Delve, Mintz, & Stewart, 1990a). Tidak seperti teori psikososial, teori person- lingkungan “perkembangan tidak Perse” (Rodgers, 1980, hal 77). Dalam banyak hal, mereka berakar pada Kurt Lewin’s (1936) rumus: B = f (P, E), di mana perilaku (B) adalah fungsi (f) orang (P) dan lingkungan (E).

Teori tipologis fokus pada perbedaan individual, seperti temperamen, tipe kepribadian, dan pola sosialisasi. Perbedaan ini diasumsikan bertahan dari waktu ke waktu, dan paling sering individu adalah tipe kombinasi. Mempengaruhi pola kepribadian individu untuk bervariasi dalam pola pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan motivasi, upaya, dan prestasi. Pendekatan ini ditunjukkan dalam tulisan-tulisan John Holland (1997), yang mempelajari bagaimana kepribadian diterangi dengan lingkungan kerja.

Persiapan profesional

Persiapan yang memadai merupakan salah satu kesulitan dalam bidang konseling perguruan tinggi dan layanan kehidupan mahasiswa. Karena ada keragaman seperti dalam fungsi kehidupan mahasiswa-profesional, tidak ada satu program persiapan profesional yang dapat memenuhi kebutuhan semua mahasiswa pascasarjana. Mereka yang masuk khusus ini “tidak memerlukan jenis lulusan pekerjaan yang sama ” (Sandeen, 1988, hal 21). Oleh karena itu, Dewan Akreditasi Konseling dan pendidikan Related Program (CACREP) memberikan standar khusus yang berbeda untuk lapangan. CACREP akreditasi di bidang kemahasiswaan mencakup program-program di kemahasiswaan dengan konseling perguruan tinggi dan kemahasiswaan dengan praktek profesional (Hollis, 2000). Kursus bekerja spesifik dan pengalaman yang dibutuhkan untuk wisuda juga telah digariskan oleh Dewan untuk Kemajuan Standar untuk Student Services / Development Programs (1994). Sangat penting bahwa keputusan yang dibuat spesialisasi sesegera mungkin dalam karir lulusan seseorang karena hasil dari setiap kursus studi bervariasi.

KONSELING PERGURUAN TINGGI

Penekanan dan Peran

Penekanan dan peran konselor perguruan tinggi bervariasi dan dipengaruhi oleh model dimana mereka beroperasi. Secara tradisional, ada empat model utama layanan konseling yang akademi / universitas pusat konseling yang telah diikuti (Westboox et al., 1993)

  1. Konseling psikoterapi. Model ini menekankan konseling jangka panjang dengan persentase kecil siswa. Konselor berhubungan dengan perubahan kepribadian dan mengacu kejuruan dan pendidikan lain keprihatinan kepada siswa konselor akademis.
  2. Bimbingan konseling kejuruan. Model ini menekankan membantu siswa produktif berhubungan derngan akademik: dan kepentingan karier. Konselor berhubungan dengan akademis kejuruan siswa dan mengacu pada orang-orang dengan masalah emosional pribadi atau badan-badan lain.
  3. Konseling tradisional didefinisikan. Model ini menekankan berbagai layanan konseling, termasuk hubungan pendek atau jangka panjang dan orang-orang yang berhubungan dengan pribadi, akademik, dan keprihatinan karier. Peran konselor adalah beragam
  4. Konseling sebagai konsultasi. Model ini menekankan bekerja sama dengan berbagai organisasi dan personil yang memiliki dampak langsung pada kesehatan mental siswa. Konselor menawarkan layanan tidak langsung kepada siswa melalui intervensi strategis.

Model kelima, konseling menyeluruh (yakni, interaktif, saling terkait, sistem masyarakat), baru-baru ini dianjurkan (Pace et al., 1996). Model ini bersifat dinamis danberubah-ubah. Ini mengusulkan bahwa staf pusat konseling bekerja secara interaktif dengan anggota lain dari sebuah perguruan tinggi / universitas masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang sehat secara mental dan menggunakan personil dan sumber daya lain dalam kampus. Idenya adalah suatu evolusi dari “kubus” konsep (Morrill, Oetting, & Hurst, 1974, hal 355) dan seperti model kubus ini berfokus pada tiga bidang utama: target (individu, kelompok primer, kelompok asosiasi, dan lembaga atau masyarakat), tujuan (remedial, preventif, atau perkembangan), dan metode (langsung, konsultasi dan pelatihan, atau media) sebagai tempat konselor untuk campur tangan. Model global perubahan peran konselor dan fokus dari pusat konseling perguruan tinggi dengan meminta staf pusat menjadi lebih fleksibel dan interaktif (lihat Gambar 17.1).

Pada kenyataannya, sebagian besar pusat konseling perguruan tinggi menawarkan berbagai layanan untuk membantu klien mereka yang beragam populasi dan memenuhi kebutuhan kampus setempat.

Kegiatan
Kegiatan kuliah konselor serupa dengan kehidupan mahasiswa-profesional untuk menjadi komprehensif dan bervariasi. Beberapa layanan dari kedua kelompok bahkan tumpang tindih. Lewing dan Cowger (1982) mengidentifikasi sembilan fungsi konseling yang umumnya mendikte agenda konselor perguruan tinggi.

  1. Pendidikan akademik dan konseling
  2. Kejuruan konseling
  3. Personal konseling
  4. Pengujian
  5. Pengawasan dan pelatihan
  6. Penelitian
  7. Pengajaran
  8. Pengembangan profesional
  9. Administrasi

Sebenarnya, tiga kegiatan pribadi, kejuruan, dan pendidikan konseling untuk lebih dari 50% dari waktu kuliah konselor. Sebagian besar teori-teori konseling tercakup dalam buku ini dilaksanakan di kampus pusat konseling. Misalnya, Thurman (1983) menemukan bahwa perilaku rasional emotif terapi, termasuk penggunaan citra emotif rasional, dapat efektif dalam mengurangi perilaku Tipe A (waktu mendesak, kompetitif, dan bermusuhan) antara mahasiswa dan membantu mereka menjadi lebih sehat berprestasi. Demikian pula

Gambar 17.1

(a)    kubus (b) evolusi kubus

Sumber, (a) “Dimensi dari fungsi konselor,” oleh WH Morrill, EROetting, dan JC Hurst, 1974, Personil dan Penyuluhan Journal. 42, hal 355. © 1972 oleh Morrill, Oetting, dan Hurst. Dicetak ulang dengan izin, (b) Dari “Rounding Out Cube: Evolusi ke Global Model for Counseling Centers,” oleh D. Pace, V. L Stamler, E. Yarris, dan L. Juni 1996, Journal of Konseling dan Pembangunan, 74, hal 325. Dicetak ulang dengan izin. Tidak ada yang berwenang mereproduksi tanpa izin tertulis dari Asosiasi Konseling Amerika.

Watkins (1983) menemukan sebuah pendekatan yang berpusat pada pribadi yang paling efektif dalam membantu siswa mengevaluasi sekarang dan rencana masa depan dan memutuskan apakah akan tinggal di perguruan tinggi. Teori sistem Bahkan, yang paling sering digunakan dalam konseling perkawinan dan keluarga, telah terbukti efektif dalam membantu siswa memahami dinamika keluarga dan pola-pola interaksi dan bagaimana pola-pola keluarga terus mempengaruhi keputusan-keputusan penting tentang pendidikan (Openlander & Scaright, 1983). Demikian pula, terapi singkat, suatu bentuk teori sistem, telah bekerja di pusat konseling perguruan tinggi untuk membantu mengembangkan “terapi non kerangka untuk memasukkan anggota keluarga (saya dapat mempengaruhi kemajuan terapi” untuk lebih baik atau lebih buruk (Terry, 1989, hal 352 ).

Dalam perawatan ini, konflik non anggota keluarga dalam komunitas kampus dibawa bersama untuk membentuk hubungan yang bermakna dan membuat perubahan dalam situasi problematis. Gagasan di balik pengobatan ini adalah bahwa siswa dalam suatu kampus dapat saling membantu memecahkan masalah dan membuat lingkungan mereka lebih sehat melalui penyelesaian masalah perilaku. Dalam proses tersebut, berhenti menyalahkan dan mencari kambing hitam.

Satu tantangan konselor perguruan tinggi adalah mahasiswa terus berubah budaya (Bishop.. 1992). Perilaku di kalangan mahasiswa berubah setiap generasi (lihat Tabel 17.1). Budaya dari populasi siswa saat ini tidak sama dengan dahulu. Memang, praktisi pusat konseling perguruan tinggi dalam beberapa tahun terakhir “telah mengungkapkan rasa urgensi tentang semakin meningkatnya jumlah siswa yang menghadirkan dengan serius masalah-masalah psikologis serta menyajikan peningkatan secara keseluruhan beratnya masalah ” (Sharkin. 1997, hal 75).

Depresi dan gejala depresi umum terutama di kalangan mahasiswa Amerika Serikat (Dixon & Reid, 2000, hal 343). pusat-pusat konseling perguruan tinggi “melihat sebanyak 20 persen dari siswa dalam sesi konseling setiap tahun, dan mereka mengharapkan proporsi untuk terus naik” (Geraghty, 1997, A32). Oleh karena itu, baik pendidikan dan program-program pencegahan harus secara teratur dapat dimodifikasi untuk membantu siswa menangani masalah-masalah saat ini.

Ketika layanan bervariasi dan banyak di tingkat profesional, setiap orang diuntungkan. Penyesuaian perguruan tinggi adalah sarana mahasiswa untuk perkembangan umum dan masalah-masalah psikologis (Anton & Reed, 1991). Skala sembilan ini mengukur tekanan psikologis dalam bidang-bidang berikut: kecemasan, depresi, bunuh diri, penyalahgunaan obat, masalah harga diri, masalah interpersonal, masalah keluarga, masalah akademik, dan masalah karier. Ini adalah instrumen penilaian penting bagi pusat konseling perguruan tinggi dalam memutuskan untuk menggunakan layanan dan program apa yang mereka akan tekankan.

Pandangan konselor juga merupakan cara efektif untuk menjangkau siswa di luar pusat konseling universitas tradisional. Sebagai aturan, giliran siswa pertama teman-teman untuk membantu, kemudian ke keluarga dekat, sebelum akhirnya beralih ke fakultas dan layanan konseling. Ragle dan Krone (1985) menemukan bahwa mahasiswa tahun pertama yang sebelumnya telah menjalani program orientasi musim panas di University of Texas di

Austin itu, sebagai akibatnya, sangat nyaman dalam berbicara dengan rekan konselor lewat telepon, tentang berbagai keprihatinan. Lebih jauh lagi, mereka merasa bahwa kontak dengan rekan konselor adalah membantu dan menunjukkan bahwa itu membuat universitas tampaknya kurang impersonal.

Kadang-kadang rekan konselor mengambil peran asisten penduduk (RAS) (Nickerson & Harrington. 1986) Dalam pengaturan ini, RAS ditugaskan untuk hidup dalam ruang tempat tinggal yang dipilih. Layanan mereka, termasuk berurusan dengan remedial, preventif, dan perkembangan adalah menggugat (Srhuh. Shipton, & Edman, 1986). RAS memberikan intervensi krisis, konseling jangka pendek, mediasi konflik, dan pelayanan rujukan (Blimling & Miltenberger. 1981). Mereka membantu siswa tetap menguntungkan sikap terhadap konseling dan layanan konseling danhubungsn. pada saat yang sama, menjadi lebih sadar

Tabel 17.1 A Taxonomy of client problems seen in college and university counseling centers


Penyesuaian Pribadi dan Sosial

Kesulitan Hubungan

• Kemarahan / mudah marah / impuls kontrol

• Hubungan Disintegrasi

• Keprihatinan Kencan

• Kematian lain yang signifikan

• Masalah teman / kesepian

• Keluarga / orang tua / saudara kandung

• Romantic partner / pasangan

Self-Esteem

• Self-image

• Shyness

• Self-confidence/assertiveness

• Takut gagal

Kekhawatiran eksistensial

• Arti kehidupan

• Peran agama

• Konflik Nilai

Depresi

• Bunuh diri atau pikiran perasaan

• Perasaan putus asa

• Duka atas kehilangan

Kekhawatiran Karir

• Ketidakpastian Karir

• Karir tidak jelas

• Kurangnya pengetahuan tentang minat / kemampuan

Gejala stres dan Psychosomatic

Stres

• Sakit kepala / sakit perut

• Insomnia

• gangguan stres Posttraumatic

Kecemasan

• Masalah berkonsentrasi

• Kinerja kecemasan

• Kegugupan

• irrasional ketakutan / fobia

• serangan Panic


Gejala menyedihkan

• penyalahgunaan Substance

• Obat-obatan / alkohol

Disfungsi Seksual

• masalah Gairah

• impotensi

Gangguan Makan

• Anorexia

• Bulimia

• Masalah Tubuh im

Perilaku tidak biasa

• Bingung berpikir

• Halusinasi

• Isolasi Sosial

• Paranoid ideation

• kepribadian Borderline


Sumber; Lampiran A Irom Bishop. J. B.. Gallagher, R. R. & Cohen, D. (2000). College students1 masalah: status, tren, dan penelitian. Dalam C. D. Davis dan K. M. Humphrey (Eds). College Konseling: Isu untuk milenium baru (hal. 109-110). Alexandria, VA: American Counseling Association. Dicetak ulang dengan izin. Tidak ada berwenang reproduksi tanpa izin tertulis dari Asosiasi Konseling


Amerika

ditawarkan oleh pusat-pusat konseling perguruan tinggi (Johnson, Nelson, & Wooden, 1985). Di samping itu, RAS program sponsor untuk penduduk pada kesehatan mental dan topik fisik, membawa fakultas, dan staf dari seluruh kampus untuk memberikan presentasi. RAS biasanya menerima pelatihan profesional yang berkelanjutan dan pengawasan dari pusat kampus konseling. Manfaat pengaturan RAS ini. kediaman siswa di aula, dan kampus secara keseluruhan karena pencegahan integratif dan fokus.

Konselor perguruan tinggi juga dapat menawarkan layanan dan program bersama-sama dengan mahasiswa-kehidupan profesional. Empat dari layanan yang paling dibutuhkan berkaitan dengan alkohol, pelecehan seksual dan kekerasan, gangguan makan, dan depresi. Hampir 90% dari siswa minum alkohol beberapa waktu  selama tahun akademik, dan sekitar 20% memenuhi syarat sebagai peminum berat, rata-rata satu ons alkohol per hari per bulan (Steenbarger. 1998). Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa masalah-masalah yang berhubungan dengan alkohol, termasuk penyalahgunaan alkohol dan gangguan seiring, adalah lazim di kampus-kampus. Pesta minuman keras (memiliki lima atau lebih minuman pada satu waktu untuk laki-laki dan empat atau lebih minuman untuk wanita) tampaknya meningkat, dan satu di antara tiga mahasiswa minum terutama untuk mabuk (Komisi Terlarang di Kampus dan Universitas. 1994 ). Selain itu, tidak bertanggung jawaban minum dapat menyebabkan kekerasan dalam bentuk perkosaan, seks yang tidak aman, kesulitan akademis, dan bunuh diri. Kerusuhan di atau dekat kampus dapat terjadi ketika kuliah administrator larangan alkohol di acara kampus tertentu atau area (Lively, 1998).

Demikian, penyalahgunaan alkohol kemungkinan akan membawa siswa dalam kontak dengan konselor dan lain-kehidupan siswa profesional (Gill-Wigal. Heaton, Burke & Gleason, 1988). Langkah-langkah sistematis biasanya dilaksanakan untuk membantu siswa mendapatkan melalui penolakan mereka mungkin berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol karena sebelum pengobatan yang efektif dapat terjadi, para mahasiswa perlu menyadari kebutuhan mereka akan bantuan dalam memperbaiki out-of-kontrol perilaku. Kadang-kadang intervensi secara individu, tetapi sering kali melibatkan kelompok dan biasanya berbagai perlakuan, termasuk pemahaman dan perubahan perilaku.

Banyak siswa yang menyalahgunakan alkohol telah dibesarkan di keluarga yang disfungsional. Mereka sering mengalami masalah terkait dengan tumbuh di lingkungan seperti (misalnya, bekerja holisme, depresi, ketergantungan, kecenderungan antisosial, kecanduan makanan). Intervensi spesifik konselor digunakan dengan siswa-siswa ini

termasuk membantu mereka menentukan lebih jelas peran yang mereka mainkan dalam drama kehidupan keluarga mereka dan kemudian membantu mereka mematahkan pola-pola interaksi yang tidak produktif (Crawford & Phyfer. 1988). Salah satu cara konselor dapat mematahkan pola produktif adalah untuk menanggapi siswa tersebut dalam cara-cara yang sehat secara fungsional kontras dengan perilaku yang mereka alami sebelumnya. Konseling sebaya mungkin juga akan  membantu dalam proses ini.

Seksual dan kekerasan, termasuk berzinah dan pemerkosaan, adalah hal-hal kebanyakan siswa, terutama perempuan, harus berurusan dengan pengalaman ini selama mereka kuliah. Dinamika sekitarnya kejahatan seksual memiliki persamaan dan perbedaan. A Sebuah persamaan dari banyak kasus penyalahgunaan alkohol: 90% dari perkosaan di kampus terjadi ketika alkohol telah dikonsumsi oleh si penyerang, korban, atau keduanya (Komisi Terlarang di Sekolah Tinggi dan Universitas, 1994). Setidaknya ada dua tahap dalam proses pemulihan: (a) akut, yang ditandai dengan disorganisasi, dan (b) reorganisasi jangka panjang, yang mencakup berurusan dengan … trauma dan membangun kembali kehidupan seseorang melalui dukungan ( Burgess & Holstrom, 1974;

Gangguan makan, terutama bulimia dan anorexia nervosa, adalah ketiga …
konselor kuliah dapat bekerjasama dengan siswa lain kehidupan profesional,…. dalam menawarkan jasa. Ada kebutuhan besar untuk……. Gangguan ini terjadi berkelanjutan dan di dalamnya biasanya memiliki kognisi atau kesalahan informasi teknik maladaptive (Tylka & Subich, 2002). Terlepas dari itu, diperkirakan bahwa sampai 65% dari perempuan dalam tahun pertama mereka kuliah “beberapa perilaku dan karakteristik psikologis terganggu oleh makan” (Meyer & Russell, 199H, hal 166). Untuk mengatasi kebutuhan ini, gangguan makan harus “dipertimbangkan dalam kerangka perkembangan” (Sharkin, 1997, hal 275). Program yang menekankan karakteristik gangguan makan serta cara-cara untuk memerangi menyoroti kecenderungan semacam itu sebelum mereka menjadi penuh sesak nafas bisa berbuat banyak 10 mendidik mereka yang paling mungkin pengalaman mereka. Selanjutnya, pemrograman seperti dapat memberikan sumber peserta yang mereka dapat berpaling jika salah mereka atau seseorang yang mereka kenal menjadi terperangkap dalam siklus bulimia.

Wilayah keempat perhatian untuk konselor perguruan tinggi adalah depresi. “Diperkirakan bahwa mahasiswa adalah dua kali lipat cenderung memiliki depresi klinis dan dysthymia sebagai orang-orang di usia serupa dan latar belakang tenaga kerja” (Dixon & Reid, 2000, hal 343). Depresi dan gejala depresi yang menghancurkan di lingkungan

perguruan tinggi karena mereka sering terjadi gangguan belajar dan menyebabkan kurangnya keberhasilan. Konselor dapat mengobati depresi melalui pendekatan kognitif, seperti pemikiran Beck proses modifikasi, melalui pendekatan perilaku, seperti membantu klien terlibat dalam kegiatan-kegiatan di mana mereka telah sukses dan pendekatan kognitif-perilaku rasional emotif seperti terapi perilaku. Tampaknya bahwa depresi diubah melalui pengalaman hidup positif (Dixon & Reid, 2000), sehingga bekerja dengan orang lain di lingkungan perguruan tinggi untuk membantu mahasiswa tertekan dalam menemukan pengalaman sukses baik tidak hanya praktik terapeutik tetapi mungkin juga perguruan tinggi baik bagi siswa itu sendiri dalam mempertahankan dan menciptakan suasana yang lebih ramah sosial.

Dalam isu-isu yang berkaitan dengan mahasiswa, konselor bekerjasama dengan kehidupan mahasiswa-profesional dapat mengambil tindakan pencegahan tersier, sekunder, dan tingkat primer. “Tersier mencegah ion mirip dengan perbaikan dan mencakup pelayanan langsung kepada korban” (Roark, 1987, hal 369; penekanan saya). Termasuk mendorong pelaporan agresi dan membantu korban menggunakan sumber daya yang tersedia. Sekunder diarahkan untuk pencegahan masalah, seperti tanggal perkosaan, sudah ada di kampus dan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran di antara korban dan pelaku potensial dan menetapkan kebijakan untuk berhenti dikenal penyalahgunaan. Pencegahan primer berhenti berfokus pada masalah-masalah dari yang pernah berkembang. Melibatkan memodifikasi lingkungan fisik serta membahas penyebab dan memberikan pelatihan untuk menciptakan kesadaran dan perubahan nilai-nilai. Misalnya, untuk membantu siswa mengelola stres, sebuah program yang disebut dengan singkatan BRIMS (bernapas, santai, citra, pesan, dan tanda-tanda) mungkin akan ditawarkan (Carrese, 1998). Program ini adalah jenis self-hypnosis kognitif yang membantu siswa rileks baik secara fisik dan mental sambil memberikan pesan-pesan positif diri mereka sendiri dan tanda-tanda fisik yang membantu mereka mengingat cara-cara perasaan konstruktif dan melihat situasi. Dalam prosesnya, mahasiswa “mengubah pikiran negatif menjadi energi yang konstruktif, yang memungkinkan kendali atas situasi yang tidak perlu menghasilkan kecemasan” (hal. 140).

PROFESIONAL KEHIDUPAN SISWA

Penekanan dan Peran

Pada awalnya, perguruan tinggi / universitas layanan kehidupan mahasiswa berkonsentrasi pada upaya membantu siswa baru menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus

(Williamson, 1961). Fokus ini masih ada tapi sekarang mencakup penekanan pada siswa dan peningkatan kepedulian terhadap semua aspek dari akademi / universitas masyarakat, seperti budaya minoritas bekerja dengan siswa dan siswa dengan ketidakmampuan belajar (Boesch & Cimbolic, 1994: Lynch & Gussel, 1996; Tate & Schwartz, 1993). Ada kualitas humanistik antara individu-individu yang memilih kehidupan siswa-jasa sebagai profesi: mereka berusaha untuk memaksimalkan, personalisasi, dan pendidikan yang lebih tinggi individualize siswa, membantu mereka sepenuhnya menggunakan lingkungan untuk mempromosikan perkembangan mereka. Yang penting menurut produk dari proses ini adalah bahwa siswa sangat membantu dalam sukses membuat transisi dari masyarakat untuk kelembagaan mereka hidup dan kembali lagi (Berdie, 1966; Brown, 1986; Kuh, 1996). Dengan demikian, siswa-kehidupan profesional integrator kelembagaan yang memfasilitasi prestasi mahasiswa dan perguruan tinggi / tujuan universitas.

Pada kali selama tahun perguruan tinggi (orientasi, ujian tengah semester ujian, dan akhir masa) karya mahasiswa-kehidupan profesional meningkat tajam (Houston, 1971). Walaupun masalah-masalah tertentu busur universal tanpa memandang usia seseorang atau tahap perkembangan (termasuk kesehatan, kecemasan, dan depresi), kekhawatiran lain yang terkait langsung dengan populasi mahasiswa tertentu. Sebagai contoh, tahun pertama mahasiswa mungkin perlu bantuan selama berbulan-bulan pada awal mereka di perguruan tinggi. Lulus dari sekolah tinggi melibatkan hilangnya identitas dan kebutuhan untuk tujuan reevaluasi dan komitmen yang sering tidak tersedia untuk masuk siswa sebelum mereka diterima sebagai mahasiswa (hayes, 1981). Selain itu, tahun pertama mahasiswa menghadapi tantangan dalam mengelola waktu secara efektif, membuat pilihan untuk mengambil kursus, mengambil tes akademik, dan penanggulangan dengan sesama siswa, sementara secara bersamaan menangani keuangan, serta keluarga dan masalah pribadi (Carrese, 1998) . “Beberapa yang paling umum dilaporkan krisis di tahun pertama melibatkan kesulitan dalam penyesuaian sosial diwujudkan sebagai perasaan dari kerinduan dan kesepian” (Gercles & Mallinckrodt, 1994, hal 281). Sering ada pengalaman sakit psikologis karena gangguan dalam jaringan persahabatan (yaitu, “friendsickness”) dan kesedihan yang mengikuti (Paulus & Brier, 2001; Ponzetti & Cate, 1988).

Masalah unik lain adalah kehidupan Yunani dan terburu-buru. Sistem kesibukan persaudaraan dan sororities, meskipun menyenangkan dan memuaskan bagi banyak siswa, dapat juga menghasilkan perasaan depresi di kalangan siswa yang tidak ditawarkan. Dalam membantu siswa dalam waktu ini, siswa-kehidupan profesional harus peka terhadap kebutuhan individual, memberikan dukungan, dan mencoba untuk membantu siswa

menemukan kelompok sebaya yang memuaskan (Atlas & Morier, 1994)

Sejalan dengan masalah transisional. Grites (1979) menemukan bahwa 12 dari 43 item pada penyesuaian Skala Rating Sosial (61 Holmes Rahe, 1967) hampir secara eksklusif berlaku untuk tahun pertama mahasiswa dalam penyesuaian dengan lingkungan baru. Ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan-perubahan unit, faktor-faktor ini menghasilkan nilai gabungan 250, penulis menganggap instrumen ini berada dalam “krisis kehidupan moderat” kategori. Sebagai kelompok, individu dalam kategori ini memiliki 51% risiko lebih besar memburuknya perubahan kesehatan daripada skor 150 atau di bawah ini.

Grites lebih lanjut mengamati bahwa mahasiswa baru yang menghadapi perubahan lain di luar akademi / universitas lingkungan (misalnya kematian anggota keluarga atau teman) cenderung bergerak ke dalam “krisis kehidupan utama” kategori, menjadi lebih besar risiko kesehatan yang merugikan. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi dan universitas kini mempekerjakan siswa-kehidupan khusus staf untuk bekerja setiap masuk kelas untuk meningkatkan pengalaman tahun pertama dan pada awalnya mempromosikan perkembangan individu yang positif serta rasa kebersamaan (Loxley & Whiteley, 19H6; Whiteley. 1982). Bagian dari upaya ini dapat mencakup membantu siswa yang perfeksionis menilai dampak dari kecenderungan ini pada pengembangan diri dan kesejahteraan sosial (Ashby & Rice. 2O02: Beras & Dellwo. 2002). Seperti proses kompleks dan memerlukan penanganan rumit tapi akan membantu dalam membantu siswa mencapai harga diri lebih besar dan integrasi sosial selama kuliah karier mereka.

Terlepas dari usaha-usaha pencegahan itu, sekitar 10% dari semua siswa mengalami kesulitan emosional selama bertahun-tahun yang cukup serius untuk ganggu kinerja akademik (Mathiasen, 1984). Selain itu, stres pada mahasiswa lulus ujian atau masuk ke sekolah profesional meningkatkan insiden depresi besar pada populasi ini (Clay, Anderson, & Dixon, 1993). Jika intervensi yang sesuai tidak tersedia (misalnya, pelatihan yang sesuai ekspresi kemarahan atau manajemen stres), siswa pengalaman emosional, sosial, atau masalah-masalah akademis sedemikian rupa sehingga mereka putus sekolah. Sayangnya, antara 40% dan 60% dari siswa yang mulai tahun 4-lembaga tidak lulus (Brown. 1986; Gerdes & Mallinckrodt, 1994). Bahkan lebih tragis, siswa dapat mengambil kehidupan mereka sendiri. Setiap tahun, kira-kira 6 dari setiap 100.000 mahasiswa di Amerika Serikat melakukan bunuh diri (Chisolm,1998).

Beberapa prediktor terkuat tinggal di sekolah dan menjaga dengan baik kesehatan

mental setuju untuk pelayanan kehidupan mahasiswa (Polansky, Horan, & Hanish, 1993). Untuk membantu siswa mencapai kesuksesan dan pengalaman produktif perguruan tinggi, kehidupan profesional siswa kampus menawarkan program dan bantuan individu. Tujuan program komprehensif adalah membuat dampak positif pada siswa dan membantu mereka mengidentifikasi masalah atau keprihatinan di titik strategis di mana intervensi strategi dapat menjadi lebih menguntungkan. Titik berat dan peran dalam kehidupan mahasiswa profesional bertujuan membantu siswa sensitive terhadap isu-isu beberapa wajah mereka dan konstruktif membentang berhadapan dengan isu-isu dan diri mereka sendiri (Creamer & Associates, 1990; Deegan & O’Banion, 1989) Sebagai contoh, banyak mahasiswa menghadapi tantangan untuk mempertahankan beberapa bentuk. pemisahan dari orangtua dan keluarga mereka sambil membentuk identitas mereka sendiri melalui individuasi. Ada korelasi antara penyesuaian mahasiswa ke perguruan tinggi dan kepada orangtua (Rice & Whaley, 1994). “Penelitian menunjukkan bahwa manfaat mahasiswa dari (a) perlindungan yang terjamin ke orang tua di mana terdapat saling percaya, komunikasi, dan sedikit konflik atau keterasingan, dan (b) hubungan dengan orang tua di mana keterpisahan dan individualitas mereka tercermin, diakui, dan didukung “(Quintana & Kerr, 1993, h. 349) Dengan membantu siswa namun tetap terhubung dengan keluarga mereka, kehidupan profesional siswa membantu para pelajar dalam penyesuaian secara keseluruhan dan prestasi di kampus dan di luar.

Kegiatan
Kegiatan kehidupan profesional siswa terkait dengan daerah khusus di mana mereka
pekerjaan: administrasi, pembangunan, atau konseling. “Model administratif didasarkan … pada premis bahwa layanan mahasiswa profesi administratif, berorientasi pada unit pelayanan pendidikan tinggi yang menyediakan banyak fasilitas dan kegiatan pembangunan dan program untuk siswa” (Ambler, 1989, hal 247; penekanan saya). Contoh dari layanan ini meliputi penerimaan, catatan, makanan, kesehatan, dan bantuan keuangan. Model perkembangan yang menekankan pendidikan, seperti membantu siswa mempelajari keterampilan pengambilan keputusan dari kepemimpinan atau meningkatkan kemandirian dalam kehidupan kegiatan.rumah Akhirnya, model konseling merupakan salah satu yang menekankan pertumbuhan sosial dan emosional dalam interpersonal dan keputusan kejuruan dan sangat personal termasuk melakukan seminar di sebuah topik yang menarik, seperti berkencan, karier, atau stres (Forrest, 1989).

Tidak semua kehidupan mahasiswa spesialis mengikuti model dan tidak semua kegiatan kehidupan mahasiswa yang dilakukan oleh para profesional. Memang, survei nasional menemukan bahwa 72% dari akademi / divisi universitas kemahasiswaan menggunakan paraprofessionals mahasiswa untuk melengkapi dan melaksanakan persembahan mereka (Winston & Ender, 1988). Paraprofessionals ini adalah “mahasiswa sarjana” yang telah dipilih dan dilatih untuk menawarkan jasa atau program untuk rekan-rekan mereka. Layanan ini sengaja dirancang untuk membantu dalam penyesuaian, kepuasan, dan / atau kegigihan mahasiswa “(hal. 466). Siswa paraprofessionals sering bekerja di ruang tempat tinggal dan program orientasi, mereka juga bekerja dengantugas yang sulit, mahasiswa menurut hukum, konsultasi akademik, bantuan keuangan, mahasiswa program internasional, dan kegiatan mahasiswa.

Dengan melibatkan mahasiswa paraprofessionals dalam program terstruktur, siswa-hidup secara langsung dan tidak langsung khusus menawarkan peluang kepemimpinan, meningkatkan kualitas kehidupan di kampus, dan menyelesaikan tugas-tugas penting. Lebih dari 600 perguruan tinggi dan universitas AS menawarkan  pada siswa beberapa jenis pelatihan kepemimpinan formal, dan jumlah perkembangan (Freeman, Knott, & Schwartz, 1996; Gregory & Britt, 1987). Namun, inti tertentu keyakinan, prinsip-prinsip dasar, dan topik kurikulum harus ditangani sebelum kegiatan tersebut dapat efektif (Roberts & Ullom, 1989). Kehidupan profesional siswa menjadi semakin tertarik untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan mereka pada saat yang sama bahwa mereka telah mengabdikan waktu dan usaha tambahan untuk membantu siswa di daerah ini (McDade, 1989). Fokus ganda ini dapat membantu sekolah-sekolah mengambil inisiatif lebih secara keseluruhan dan mempromosikan rasa komunitas yang lebih besar.

KONSELING DAN LAYANAN SISWA DENGAN KEHIDUPAN MAHASISWA NON TRADISIONAL

Selain bekerja sama dengan kelompok-kelompok utama, perguruan tinggi dan sebutan kehidupan mahasiswa professional  memerlukan siswa non-tradisional. Ini mungkin lebih tua siswa, generasi pertama mahasiswa, budaya siswa minoritas, atau bahkan siswa atlet. Sebuah karakteristik yang berhubungan dengan adapt istiadat dari siswa non-tradisional adalah kemandirian finansial (51%), diikuti oleh bagian-waktu kehadiran (48%), dan menunda pendaftaran (46%) (Evelyn, 2002). Mahasiswa non-tradisional seperti kelompok-kelompok yang baru saja dijelaskan sebenarnya dalam mayoritas di kebanyakan perguruan

tinggi dan universitas sekarang, dengan banyak dari mereka yang terdaftar di depan umum dua tahun perguruan tinggi (Benshoff & Lewis, 1992; Evelyn, 2002).

Older Siswa

Banyak siswa non-tradisional adalah orang dewasa yang lebih tua daripada usia kuliah tradisional. Lebih dari separuh dari semua mahasiswa sarjana dan lebih dari 50% dari semua mahasiswa pascasarjana di atas usia 30 (Brazziel, 1989). Sebagai kelompok, mereka sangat termotivasi, lebih suka belajar interaktif, punya keluarga dan masalah keuangan, melihat pendidikan sebagai suatu investasi, dan memiliki beberapa komitmen dan tanggung jawab yang tidak berhubungan dengan sekolah (Richter-Antion, 1986). Dalam kelompok besar ini ada dua sub kelompok dasar: siswa usia 25-50 dan orang-orang usia 50-80.

Yang pertama. Subkelompok biasanya termotivasi untuk kembali ke perguruan tinggi karena perubahan persyaratan pekerjaan atau karir atau peluang yang meliputi kehidupan keluarga transisi (misalnya, perkawinan, perceraian) (A.slanian & Brickell, 1980). Membangun rasa percaya diri dan memberikan akademis dan dukungan sosial yang sangat penting untuk mahasiswa non-tradisional muda ini. Subkelompok yang terakhir, sering disebut siswa senior, datang ke kampus untuk berbagai tujuan, termasuk memperoleh derajat dan menemukan pengayaan pribadi. Ketika bekerja dengan siswa senior, perguruan tinggi dan mahasiswa pembimbing kehidupan profesional harus mempertimbangkan beberapa faktor, misalnya modifikasi lingkungan (mungkin lebih cerah pencahayaan atau hangat suhu ruangan), tahap perkembangan klien (misalnya, berurusan dengan isu-isu pembangkitan atau integrasi), kecepatan dari sesi konseling (lebih lambat mungkin lebih baik), potensi daerah sulit (seperti transferensi), dan penggunaan teknik-teknik konseling (misalnya, bibliotherapy, menulis jurnal) (Huskey, 1994). Dengan peningkatan jumlah orang-orang tua, jumlah siswa senior kemungkinan besar akan terus tumbuh.

Terlepas dari seberapa cepat jumlah siswa senior tumbuh, jumlah keseluruhan siswa non-tradisional akan meningkat karena perampingan bisnis, kemajuan pesat teknologi, dan meningkatkan kesempatan untuk pengembangan profesional. Masyarakat dan teknis perguruan tinggi dan universitas-universitas negeri yang paling mungkin untuk mendaftar mayoritas mahasiswa non-tradisional ini. Sebagaimana halnya dengan mahasiswa tradisional, lebih banyak perempuan daripada laki-laki akan mendaftar, dimana akan menanbah didalam jumlah dari bagian waktu murid, dan budaya lebih dan ras minoritas

akan mencari pendidikan tinggi (Hodgkinson. Outtz, & Obarakpor. 1992). Semua peristiwa ini akan menguji batas-batas konseling dan layanan kehidupan siswa lain.

Pertama-Generation Mahasiswa

Kelompok kedua mahasiswa non-tradisional adalah generasi pertama mahasiswa yaitu, siswa yang pertama dalam keluarga mereka untuk masuk perguruan tinggi. Individu dalam kategori ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk generasi kedua imigran dan mobile upwardly miskin (Hodgkinson et al, 1992). ” Dukungan keluarga untuk pendidikan adalah kunci perbedaan antara generasi pertama dan generasi kedua siswa. Dukungan keluarga juga merupakan variabel fundamental dalam keputusan untuk menghadiri kuliah dan keberhasilan menyelesaikan kuliah” (Fallon,1997,hal385).

Dengan demikian, generasi pertama mahasiswa memiliki banyak kebutuhan. Mereka harus menguasai pengetahuan tentang lingkungan perguruan tinggi, termasuk kosa kata yang spesifik-misalnya, jam kredit, IPK, dan dekan ( Fallon, 1997 ). Mereka harus juga berkomitmen untuk peran sebagai seorang mahasiswa, menguraikan sistem nilai dari generasi kedua mahasiswa, serta belajar memahami kehidupan pelayanan siswa dan kemampuan belajar. Hambatan bahasa dan kebiasaan sosial atau budaya jugaharusdiatasi.

Budaya minoritas Siswa

Budaya minoritas mahasiswa di Amerika Serikat sebagian besar adalah African American, Native American, Asian American, atau Hispanik/Latin. Mereka menghadapi sejumlah tantangan yang berbeda dari siswa lain karena dalam banyak kasus mereka jatuh ke dalam sejumlah kategori selain minoritas. Sebagai contoh, beberapa siswa ini generasi pertama, lebih tua, dan / atau siswa atlet. Mereka juga “sering mengalami kurangnya dukungan dan akademis yang tidak ramah iklim” (Ancis, Sedlacek. & Mohr, 2000, hal 180).

Budaya minoritas dalam membantu siswa menyesuaikan diri dengan perguruan tinggi dan / atau melakukannya dengan baik secara keseluruhan, perguruan tinggi dan mahasiswa pembimbing kehidupan mereka personil dapat memberikan dorongan dan dukungan sosial, serta menyediakan sarana yang nyata untuk memupuk kebanggaan etnis. Misalnya, dengan mahasiswa Afrika-Amerika, etnis bangga dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar melalui sponsor resmi di perguruan tinggi program-program seperti perayaan Kwanzaa dan Sejarah Hitam Bulan (Phelps, Tranakos-Howe, Dagley, & Lyn, 2001).

17

COLLEGE C OUNSELING AND STUDENT LIFE SERVICES

Just like full foliage

we watch what you bring forth each September.

Your changes are not as dramatic as the red of Maples,

or as warm as the orange of twilight fires;

But your presence, both individually and collectively,

like leaves adds color to a campus

that would otherwise be bland

in the shades of administration gray.

We celebrate your coming

much as ice look forward to the crisp cool air

at the end of summer.

We welcome your spirit

for it enlivens t/s to the metaphors and ideals

that live unchanging tires….


Higher education is one of the most valued experiences in the United States, enrolling between 12 and 13 million people annually. At the start of the 21st century, over 25% of U.S. adults ages 25-3 4 had completed 4 years or more of higher education. That rate was comparable to a similar percentage in Japan, 18% in Canada, and 12% in the United Kingdom, France, and Germany (Horton, 1994). In higher education, student-life services are offered in addition to courses. These services are primarily in the form of cocurricular activities, support programs, and counseling (Komives, Woodard, & Delworth, 1996).

Student-life services and counseling on U.S. college and university campuses first emerged at the beginning of the 20th century. E. G. Williamson, dean of students at the University of Minnesota in the 1930s and 1940s, articulated ivba-t tvould later be called the student personnel point of view (Williainson, 1939). His model of student personnel services set the standard for the time. It was largely a direct and counselor-centered ap-proacb.The emphasis was “It is not enough to help counselees become what they want tc become; rather it is more important to help them become what they ought to want to be­come” (Ewing, 1990, p. 104). The student personnel point of view, sometimes called thi Minnesota point of view, remained in place until after World War II. At that time the fed eral government began pouring money into higher education for diverse services, anc, competing points of view emerged.

Ideas about the importance of student-life services, student development, and coun­seling have Increasingly been accepted since the 1940s. They have been a part  of what known as the field of student affairs since the 1970s (Canon, 1988;Winston & Creamer 1997). Sometimes student-life services and college counseling are connected in specifii ways (Evans, Carr, & Stone, 1982); sometimes they are not. Regardless, they share much. Common ground (e.g., emphasis on the health and development of the whole person.,and are included together in this chapter because of the way they dovetail and influence the total campus life of students, faculty, staff, and administrators.

Professionals who work with college students outside the classroom vary in back ground and training (Bloland, 1992; Komives et al, 1996). They include those employed, in financial aid, admissions, career planning and placement, health education, campu: unions, registration, residence life, advising, and international activities. The service: they offer include the following (Kith, 1996; Kuh, Bean, Bradley, & Cooines, 1986):

  • Services connected with student behaviors (e.g., achievement, attrition, campu: activities)
  • Set-vices associated with describing student characteristics (e.g., aptitudes. aspirations.
  • Services concerned with student growth (e.g., cognitive, moral, social/emotional.
  • Services connected with academic performance (e.g., study skills)

Counselors and student services personnel emphasize a common concern about the total development of the persons they serve (Brown & Helms, 1986; Johnson, 1985 Komives et fil., 199C)). Many bold multiple memberships in professional organizations. One of the most diverse professional groups is the American College Personnel Association (ACPAJ, which was an affiliate of the ACA until 1992. Tljis association, which was officially organized in 1924, has undergone three name changes. Its members are em­ployed in a number of areas related to student sert’ices. Another important professional group is the American College Counseling Association (ACCA), a division of the ACA since 1992. The ACCA’s members are professionals who primarily work in colleges and nniivr-sittes and identify themselves as counselors (Davis, 1998; Dean, 1994). Other organi­zations in the student-life scnices field include the National Association of Student Personnel Administrators (NASPA), Division 17 (Counseling Psychology) of the APA, and the postsecondary division of the American School Counselor Association (ASCA).

Several attempts, have been made through the years to form a united organization of professionals who work in various college student-life services, but none has com­pletely succeeded (Sheeley, 1983). This failure is partly attributable to different back­grounds and training (lUoland, 1992). Because college professionals who work with students are employed in different areas, they tend to concentrate their services on spe­cific issues and people. Institutional focus also makes a difference. Some universities em­phasize research and scholarship (known as the German university tradition), some the education of the whole person (the English residential liberal arts tradition), and some vocational or professional preparation (the U.S. paradigm) (Rodgers, 1989; Rubin, 1990). Quite often, student-life specialists have their perceptions, opinions, and values about programs shaped or directed by the institutions that employ them (Canon, 1985).

Moreover, publications in student-life services tend to be diverse. The leading period­icals are the Journal of College Student Development, the National Association of Student Personnel Administrators journal, and the Journal of College Counseling. The them oriented quarterly series. New Directions for Student Services (published by Jossey-Bass), is also influential and popular.

THE BEGINNING OF STUDENT-LIFE SERVICES

AND COLLEGE COUNSELING

Student-life services in higher education, including counseling, began largely by default. “Historically, the participation of faculty in what are now called student services functions gradually changed from total involvement to detachment” (Fenske, 1989b, p. 16). This change was the result of significant developmental factors in the growth of American higher education over its nearly 300-year history-, including the following:

  • The passage of the Morrill Land Grant Act in 1862, which influenced the establishment and eventual dominance of state universities in American higher education
  • The growth of pluralistic opinions and populations among U.S. college students
  • A change in faculty role: professors and teachers no longer fostered students’ moral character, took charge of character development, or adhered to a policy of in loco par-entis (in place of parents)
  • An increase in faculty interest in research and intellectual development (e.g., Hutchins, 1936)
  • Lack of faculty interest in the daily implementation of institutional governance
  • The emergence of counseling and other helping professions
  • The documentation by Sanford (1962, 1979) that student development during the col­lege years can be promoted by challenge and .support and that curriculum and cocur-riculum activities can “initiate, accelerate, or inhibit developmental change” (Canon, 1988, p. 451)

Student-life services as a profession grew rapidly in higher education Ixrtween the end of World War I and the depression of the 1930s (Fenske, 1989a). During this period, many hoped that student-life professionals would be integrated into the mainstream of aca­demic programs. But they were not, and a strong theoretical rationale for implementing student-life programs was not formulated. In addition, many student-life professionals were terminated during the Great Depression Ixxause of a lack of money

and the failure of employed practitioners to define themselves adequately. Thus, student-life services, then as now, occupy the paradoxical position “of tx.-ing both indispensable and periph­eral” (Fenske, 19S9b, p. 6).

College counseling as a profession did not Ixrgin until the late 1940s, before that

Unit faculty and college presidents served as students’ counselors (Pace, Stamler, Yarris, June 1996). The delay of college counseling was due to the prevailing cultural view that inosi studentsjwho entered college were well adjusted and that the only professionals helpful to mentally distressed college students were psychiatrists. It was not until after World War II that counseling psychologists and counselors were allowed to work with students ir newly formed campus counseling centers, which were set up because large numbers ot veterans returned to colleges and needed more help than could otherwise be provided Furthermore, during and immediately after World War II, counseling psychologists wor the right to work clinically with clients just as psychiatrists did (Ewing, 1990).

THE THEORETICAL BASES AND PROFESSIONAL PREPARATION

FOR WORKING WITH COLLEGE STUDENTS

College counseling and student-life services involve understanding how college student; of all ages learn, grow, and develop. Yet as Bloland (1986) points out, some  “entry-leve and not a few seasoned professionals know little of student development theory or practice” (p. 1). This fact is unfortunate because working with students effectively requires this specialized knowledge. It is important that college counselors in particular distinguish between problems students have tied to normal developmental struggles, such as autonomy identity, and intimacy, and more serious or chronic forms of psychological disturbanci (Sharkin, 1997). Even among professionals with the bjst of intentions, ethically or legalh questionable behavior may cause harm if one is not closely attuned to both the develop mental and disordered aspect of the college population (Canon, 1989; Kitchener, 1985)

Theoretical Bases

Professionals in college counseling and student-life services can use a number of theoret­ical models as guides in working with students experiencing predictable developmental situations. From an ideological viewpoint, three traditions dominate: in loco parentis, student services, and student development (Rodgers, 1989). In loco parentis gives faculty and staff the parental role of teaching moral values. Student services emphasizes the student as consumer and mandates senvices that facilitate development. This approach stresses a cafeteria-style manner of program offerings that students select according to

what they think they need. Student development focuses on creating research-based environments that “help college students learn and develop” (Rodgers, 1989, p. 120). Student develop­ment is proactive because i’ makes opportunities available for special groups of students.

Within student development, at least four kinds of developmental theories guide pro­fessionals’ activities: psychosocial, cognitive-structural, person-environment interaction, and typological. Psychosocial theories are embodied most thoroughly in the writings of Arthur Chickering (e.g., Chickering & Reisser, 1994). He contends that there are seven spe­cific developmental tasks of college students. Competence, autonomy, managing emo­tions, identity, purpose, integrity, and relationships (Garfield & David, 1986). These tasks are in line with Erik Erikson’s (1968) ideas about the developmental processes of youth. A major strength of Chickening is that he elaborates and specifies Erikson’s concepts in such a way that college counselors and student-life professionals can plan and evaluate their practices and programs around three key issues: career development, intimacy, and formulation of an adult philosophy of life. For example, first-year students and seniors dif­fer in their specific levels of development, with first-year students being more preoccu­pied than seniors with establishing competence, managing emotions, and developing au­tonomy. Seniors, however, concentrate more on issues such as establishing identity, freeing interpersonal relationships, developing purpose, and establishing integrity (Rodgers, 1989).

Cognitive-structural theories focus on how individuals develop a sense of meaning in the world. They deal with perception and evaluation and are best described in the moral and intellectual models of Perry (1970) and Kohlberg (1984). These models are process oriented, hierarchical, and sequential. For example, Perry’s model assumes growth from “simple dualism (positions 1 and 2) through multiplicity (positions 3 and 4) and relativism (positions 5 and 6) to commitment within a relativistic framework (positions 7 through 9).” Kohlberg’s model “outlines three levels of moral development: the preconventional, the conventional, and the postconventional” (Delve, Mintz, &

Stewart, 1990b, p. 8). Accord­ing to these theories, each new stage contains the previous one and is a building block for the next one. Cognitive discomfort is the impetus for change. Explicit in this approach is the idea that “people need the opportunity to learn how to think and act responsibly in order to control their own behavior in a democratic society” (Herman, 1997, p. 147).

The person-environment interaction in octet “refers to various conceptualizations of the college student and the college environment and the degree of congruence that occurs when they interact” (Rodgers, 1989, p. 121). Congaience is believed to lead to “satisfac­tion, stability, and perhaps, development” (Rodgers, 1980, p. 77). The theories in this model stress (hat development is a holistic process that involves all parts of the person with the environment in an interacting way. It is similar to the psychosocial approach in assuming that development in one area of life can facilitate growth in another. For exam­ple, when students participate and take leadership positions in student organizations, their life management skills develop more positively than those of students who are more pas­sive (Cooper, Healy, & Simpson, 1994). Likewise, students who volunteer in community service initiatives (also known as “service learning”) become more informed about envi­ronmental needs, less egocentric, and more empathetic (Delve, Mintz, & Stewart, 1990a). Unlike psychosocial theories, person-environment theories “are not developmental perse” (Rodgers, 1980, p. 77). In many ways, they are rooted in Kurt Lewin’s (1936) formula: B = f (P, E), where behavior (B) is a function (f) of person (P) and environment (E).

Typological theories focus on individual differences, such as temperament, personal­ity type, and patterns of socialization. These differences are assumed to persist over time, and most often individuals are combinations of types. Patterns of personality influence in­dividuals to vary in their developmental growth patterns and are related to their motiva­tion, effort, and achievement. This approach is exemplified in the writings ol John Hol­land (1997), which study how personalities lit with wuik envimnmenis.

Professional Preparation

Proper preparation is one of the difficulties in the field of college counseling and student-life services. Because there is such diversity in the functions of student-life professionals, no single professional preparation program can meet die needs of all graduate students. Those who enter this specialty “do not need the same kind of graduate work” (Sandeen, 1988, p. 21). Therefore, the Council for Accreditation of Counseling and Related Kduca-tional Program (CACREP) provides different specialty standards lor the field. CACREP ac­creditation in the student affairs area includes programs in student affairs with college counseling and student affairs with professional practice (Hollis, 2000). Specific course

work and experiences needed for graduation have also been outlined by the Council for

the Advancement of Standards for Student Services/Development Programs (1994). It is vi­tal that specialization decisions be made as soon as possible in one’s graduate career be­cause the outcomes of each course of study vary considerably.

COLLEGE COUNSELING

Emphases and Roles

The emphases and roles of college counselors vary and are influenced by die models un­der which they operate. Traditionally, there have been four main models of counseling services that college/university counseling centers have followed (\Vestbroox et al., 1993)

  1. Counseling as psychotherapy. This model emphasizes long-term counseling with a small percentage of students. The counselor deals with personality change and refers other vocational and educational concerns to student academic advisers.
  2. Counseling as vocational guidance. This model emphasizes helping :• indents productively relate academic: and career matters. The counselor deals with academic 01 vocationally undecided students and refers those with personal or emotional prob­lems to other agencies.
  3. Counseling as traditionally defined. This model emphasizes a broad range of coun­seling services, including short- or long-term relationships and those that deal with personal, academic, and career concerns. The counselor’s role is diverse.
  4. Counseling as consultation. This model emphasizes working with the various orga-nizations and personnel who have a direct impact on student mental health. The counselor offers indirect services to students through strategic interventions.

A fifth model, counseling as global (i.e., an interactive, interdependent, community system), has recently beer, advocated (Pace et al., 1996). This model is dynamic and fluid. It proposes that the counseling center staff work interactively with other members of a college/university community to create a mentally healthy environment and use person­nel and other resources within a campus. The idea is an evolution of the “Cube” concept (Morrill, Getting, & Hurst, 1974, p. 355) and like the cube this model focuses on three main areas: target (individual, primary group, associational group, and institution or commu­nity), purposes (remedial, preventive, or developmental), and method (direct,consulta­tion and training, or media) as places for counselors to intervene. The global model changes the role of the counselor and the focus of the college counseling center by hav­ing center staff be more flexible and interactive (see Figure 17.1).

In reality, most college counseling centers offer a variety of services to help their di­verse client populations and meet local campus needs.

Activities

The activities of college counselors are similar to those of student-life professionals in be­ing comprehensive and varied. Some services of these two groups even overlap. Lewing and Cowger (1982) identify nine counseling functions that generally dictate the agendas of college counselors.

  1. Academic and educational counseling
  2. Vocational counseling
  3. Personal counseling
  4. Testing
  5. Supervision and training
  6. Research
  7. Teaching
  8. Professional development
  9. Administration

In truth, three of these activities—personal, vocational, and educational counseling— account for more than 50% of college counselors’ time. Most of the counseling theories covered in this book are implemented in college counseling centers. For instance, Thur-man (1983) found that rational emotive behavior therapy, including the use of rational emotive imagery, can be effective in reducing Type A behavior (time-urgent, competitive, and hostile) among college students and help them become healthier achievers. Likewise,

B. PURPOSE OF INTERVENTION (1)

Remediation

(2) Prevention

Figure 17.1

(a) The cube; (b) evolution of the cube

Sources, (a) “Dimensions of Counselor Functioning,” by W. H. Morrill, E. R. Getting, and J. C. Hurst, 1974, Personnel and Guidance Journal. 42, p. 355.© 1972 by Morrill, Getting, and Hurst. Reprinted with permis­sion, (b) From “Bounding Out the Cube: Evolution to a Global Model for Counseling Centers,” by D. Pace, V. L Stamler, E. Yarris, and L. June, 1996, Journal ol Counseling and Development, 74, p. 325. Reprinted with permission. No further reproduction authorized without written permission of the American Counseling Association.

Watkins (1983) found a person-centerec approach to be most effective in helping students evaluate present and future plans and decide whether to stay in college. Even systems the­ory, most often used in marriage and family counseling, has proven effective in helping students understand family dynamics and patterns of interaction and how family patterns continue to influence important decisions about education (Openlander& Scaright, 1983). Similarly, brief therapy, a form of systems theory, has been employed in college counsel­ing centers to help expand the “therapeutic framework to include nonfamilial members (whol can affect therapeutic progress” for better or worse (Terry, 1989, p. 352). In this treat­ment, conflictual nonfamily members within a campus community are brought together to form meaningful relationships and make changes in problematic situations. The idea be­hind the treatment is that students within a campus can help each other problem-solve and make their environments healthier through the resolution of problem behaviors. In the process, blaming and scapegoating cease.

One challenge that college counselors face is a constantly changing student culture (Bishop 1992). Behaviors among college students change with each generation (see Table 17.1). The culture of the current student population is not the same as its predecessors. Indeed, college counseling center practitioners in recent years “have been expressing a sense of urgency about increasing numbers of students who present with serious psy­chological problems as well as an overall increase in the severity of presenting problems” (Sharkin. 1997, p.75).

Depression and depressive symptoms are especially common among U.S. college stu-dentf (Dixon & Reid, 2000, p. 343). College counseling centers are “seeing as many as 20 percent of the students in counseling sessions each year, and they expect the proportion to continue to rise” (Geraghty, 1997, A32). Therefore, both educational and preventive programs must regularly be modified to help students handle current issues.

When services are varied and numerous at the professional level, everyone benefits. The College Adjustment Scales is a means of screening college students for common de­velopmental and psychological problems (Anton & Reecl, 1991). These nine scales mea­sure psychological distress in the following areas: anxiety, depression, suicidal ideation, substance abuse, self-esteem problems, interpersonal problems, family problems, aca­demic problems, and career problems. It is an important assessment instrument for college counseling centers to use in deciding what services and programs they will emphasize.

Peer counselors are also an effective way of reaching students beyond the traditional col­lege counseling center. As a aile, students turn first to friends for help, then to close relatives, before finally turning to faculty and counseling services. Ragle and Krone (1985) found that first-year students who had previously undergone a summer orientation program at the Uni­versity of Texas at Austin were, as a result, overwhelmingly at ease in talking with peer ad­visers over the telephone about various concerns. Furthermore, they felt that contact with peer counselors was helpful and indicated that it made the university seem less impersonal.

Sometimes peer counselors take the role of resident assistants (RAs) (Nickerson & Harrington. 1968) In this arrangement, RAs are assigned to live in selected residence halls. Their services, which include dealing with remedial, preventive, and developmental is­sues, are given high exposure (Schuh. Shipton, .S: F.dman, 1986). RAs provide crisis inter­vention, shon-tcrm counseling, conflict mediation, and referral services (Blimling & Mil-tenberger. 1981). They help students keep favorable attitudes toward counseling and counseling-rdated services and. at the same time, become more aware of opportunities

Personal and Social Adjustment

Relationship Difficulties

•  Anger/irritability/impulse control

•  Breakup of a relationship

•  Dating concerns

•  Death of a significant other

•  Problems making friends/loneliness

•  Family/parents/siblings

•  Romantic partner/spouse

Self-Esteem

Self-image

•   Shyness

•   Self-confidence/assertiveness

•   Fear of failure

Existential Concerns

Meaning of life

•   Role of religion

•   Value conflicts

Depression

Suicidal feelings or thoughts

•   Feelings of hopelessness

•   Grief over loss

Sexual Abuse and Harassment

Abuse

•   Harassment

Academic and Career Concerns

Academic Concerns

School performance «   Procrastination

•   Poor study skills

•   Grades

Career Concerns

Career uncertainty

•    Career path unclear

•    Lack of knowledge about interests/abilities

Stress and Psychosomatic Symptoms

Stress

Headaches/stomachaches

•    Insomnia

•    Posttraumatic stress disorder

Anxiety

•    Problems concentrating

•    Performance anxiety

•    Nervousness

•    Irrational fears/phobias

•   Panic attacks

Distressing Symptoms

•   Substance abuse

•    Drugs/alcohol

Sexual Dysfunction

Arousal problems

•   Impotency

Eating Disorders

Anorexia                     :

•    Bulimia

•    Body imago problems

Unusual Behavior

Confused thinking

•   Hallucinations

•   Social isolate

•   Paranoid ideation

•    Borderline personality

Source; Appendix A Irom Bishop. J. B.. Gallagher, R. R. & Cohen, D. (2000). College students1 problems: status, trends, and research. In D.C. Davis and K. M. Humphrey (Eds). College Counseling: Issues for a new millennium (pp. 109-110). Alexan­dria, VA: American Counseling Association. Reprinted with permission. No further reproduction authorized without written permission of the American Counseling Association.

offered by college counseling centers (Johnson, Nelson, & Wooden, 1985). In addition, RAs sponsor programs for residents on mental and physical health topics, bringing in fac­ulty and staff from across the campus to give presentations. RAs usually receive ongoing professional training and supervision from the campus counseling center. This arrange­ment benefits the RAs. Students in the residence halls, and the campus as a whole because of its integrative and preventive focus.

College counselors can also offer services and programs in conjunction with other student-life professionals. Four of the most needed services relate to alcohol, sexual abuse and violence, eating disorders, and depression. Nearly 90% of students drink alcohol some­time during an academic year, and approximately 20% qualify as heavy drinkers, averaging one ounce of alcohol per clay per month (Steenbarger. 1998). Thus, it is not suqorising that alcohol-related problems, including the abuse of alcohol and its concomitant disorders, are prevalent on college campuses. Hinge drinking (having live or more drinks at a time for men and four or more drinks for women) appears to be increasing, and one in three college stu­dents drinks primarily to get drunk (Commission on Substance Abuse ai Colleges and Uni­versities. 1991). In addition, irresponsible drinking may lead to violence in the form of date rape, unsafe sex, academic difficulties, and suicide. Riots on or near college campuses may oc­cur when college administrators ban alcohol at certain campus events or areas (Lively, 1998).

Thus, alcohol abuse is likely to bring students in contact with counselors and other student-life professionals (Gill-Wigal. Heaton, Burke. & Gleason, 1988). Systematic steps are usually implemented to help students get through denial they may have connected with alcohol abuse because Ijefore effective treatment can take place, students need to re­alize their need for help in correcting out-of-control behavior. Intervention is sometimes clone individually, but often it involves a group and usually a wide variety of treatments, including insight and behavioral change.

Many students who abuse alcohol have grown up in dysfunctional families. They fre­quently experience problems related to growing up in such environments (e.g., workaholism, depression, dependency, antisocial tendencies, food addictions). Specific interventions coun­selors use with these students include helping them define more clearly the roles they played in their family-life dramas and then helping them break nonprcxluctive patterns of interac­tion (Crawford & Phyfer. 1988). One way counselors can break nonproductive patterns is to respond to these students in functionally healthy ways that contrast with the behaviors they have experienced before. Peer counseling may also be helpful to an extent in this process.

Sexual assault and violence, including incest and rape, are matters that many students, primarily women, must deal with during their college experience. The dynamics surround-ing sexual crimes have si.Hilarities and differences. A common denominator in many cases is alcohol abuse: 90% of campus rapes occur when alcohol has been consumed by the assailant, the victim, or both (Commission on Substance Abuse at Colleges and Universities, 1994). There are at least two stages in the recovery process: (a) the acute, which is characterized… disorganization, and (b) long-term reorganization, which includes dealing with the… trauma and rebuilding one’s life through support (Burgess iS; I iolstrom, 1974…

Eating disorders, especially bulimia and anorexia nervosa, are a thirdcollege counselors can team up with other student-life professionals… cators. In offering services. There is a great need to address… ties. Thes disorders occur along a continuum of degree and… in them usually have maladaptive cognitions or faulty information…

techniques (Tylka & Subich, 2002). Regardless, it is estimated that up to 65% of women in their first year of college display “some behavioral and psychological characteristics of dis­turbed eating” (Meyer & Russell, 1998, p. 166). To address these needs, eating disorders must “be considered within a developmental framework” (Sharkin, 1997, p. 275). Pro­grams that emphasize the characteristics of eating disorders as well as highlight ways of combating such tendencies before they become full blown can do much 10 educate those most likely to experience them. Furthermore, such programming can give participants sources to which they can turn if either they or someone they know becoir.es caught up in a bulimic cycle.

A fourth area of concern for college counselors is depression. “It is estimated that col­lege students are twice as likely to have clinical depression and dysthymia as are people of similar ages and backgrounds in the workforce” (Dixon & Reid, 2000, p. 343). Depression and depressive symptoms are devastating in a college environment Ixxause they often in­terfere with learning and lead to a lack of success. Counselors can treat depression through cognitive approaches, such as lieck’s thought modification process; through behavioral ap­proaches, such as helping clients engage in activities where they have success; and cognitive-behavioral approaches such as rational emotive behavior therapy. It appears that depres­sion is modified through positive life experiences (Dixon & Reid, 2000), so working with others in the college environment to assist depressed college students in finding success­ful experiences may not only be good therapeutic practice but may also be food for the college itself in retaining students and creating a more socially hospitable atmosphere.

In addressing issues pertinent to college students, counselors in cooperation with student-life professionals can take preventive action on tertiary, secondary, and primary levels. “Tertiary prevent ion is akin to remediation and includes direct services to victims” (Roark, 1987, p. 369; my emphasis). It includes encouraging the reporting of aggression and helping the victim use available resources. Secondary prevention is geared toward problems, such as date rape, already in existence on campus and is aimed at raising con­sciousness among potential victims and pcrjxMnitors and setting policies to slop known abuses. Primary prevention focuses on stopping problems from ever developing. It in­volves modifying the physical environment as well as addressing causes and providing training to create awareness and change values. For example, to help students manage stress, a program referred to by the acronym BRIMS (breathing, relaxing, imagery, mes­sage, and signs) might be offered (Carrese, 1998). This program is a type of cognitive self-hypnosis that helps students relax both physically and mentally while giving themselves : positive messages and physical signs that help them recall constructive ways of feeling and viewing a situation. In the process, students “transform negative thoughts into constaictive energy, allowing control over situations that produce unnecessaiy anxiety” (p. 140).

STUDENT-LIFE PROFESSIONALS

Emphases and Roles

Initially, college/university student-life services concentrated on helping new students adjust to campus life (Williamson, 1961). This focus still exists but now includes an emphasis on older returning students and an increased concern for all aspects of the college/university community, such as working with minority culture students and students with learning disabilities (Boesch & Cimbolic, 1994: Lynch & Gussel, 1996; Tate & Schwartz, 1993). There is a humanistic quality among individuals who choose student-life services as a profession: they try to maximize, personalize, and individualize the higher education of students, help­ing them fully use the environment to promote their development. An important by-product of this process is that students are greatly assisted in making successful transitions from their communities to institutional life and back again (Berdie, 1966; Brown, 1986; Kuh, 1996). Thus, student-life professionals are institutional integrators who facilitate the accomplish­ment of student and college/university goals.

At times during the college year (orientation, midterm examinations, and the end of the term) the work of student-life professionals increases dramatically (Houston, 1971). Although certain problems arc universal regardless of one’s developmental age or stage (including health, anxiety, and depression), other concerns are related directly to specific college stu­dent populations. For example, first-year college students may especially need help during their initial months in college. Graduation from high school involves a loss of identity and a need lor reeva I nation and goal commitment that is often unavailable to entering students be­fore they matriculate (Hayes, 1981). In addition, first-year college students face the chal­lenges of managing time effectively, making choices about what courses to take, taking aca­demic tests, and coping with fellow students while simultaneously handling finances, as well as family and personal problems (Carrese, 1998). “Some of the most commonly reported crises in the first year involve difficulties in social adjustment manifested as feelings of home­sickness and loneliness” (Gercles & Mallinckrodt, 1994, p. 281). There is often the experience of psychological pain Ix’cause of the disruption in established friendship networks (i.e., “friendsickness”) and the silent grief that follows (Paul & Brier, 2001; Ponzetti & Cate, 1988).

Another unique problem is Greek life and rush. The rush system of fraternities and sororities, though exciting and fulfilling for many students, may also produce feelings of depression among students who are not offered bids. In helping students during these rimes, student-life professionals must be sensitive to individual needs, offer support, and try to help rejected students find a fulfilling peer group (Atlas & Morier, 1994)

In line with transitional problems. Grites (1979) found that 12 of the 43 items on the Social Readjustment Rating Scale (Holmes 61 Rahe, 1967) almost exclusively apply to first-year college students in their adjustment to a new environment. When translated into life-change units, these factors yield a combined score of 250, which the authors of this instrument con­sider to be in the “moderate life crisis” category. As a group, individuals in this category have a 51% greater risk of a deteriorating health change than those who score 150 or below.

Grites further observes that new students who face other changes outside the college/ university environment (e.g.. the death of a family member or friend) are likely to move into the “major life crisis” category, becoming an even greater risk for a detrimental health change. Therefore, many colleges and universities now employ special student-life staff to work with each incoming class to enhance the first-year experience and initially promote positive individual development as well as a sense of community (Loxley & Whiteley, 1986; Whiteley. 1982). Part of this effort may include helping students who are perfec­tionists assess the impact of these tendencies on their self-development and social well-being (Ashby & Rice. 2002:Rice & Dellwo. 2002). Such a process is complex and requires delicate handling but it ran be helpful in assisting students achieve greater self-esteem and social integration during (heir college careers.

Regardless of such attempts at prevention, approximately 10% of all students encounter an emotional difficulty during their years that is serious enough to impair academic performance (Mathiasen, 1984). In addition, stress on college students to pass examinations or get into a professional school increases the incidents of major depression in this popu­lation (Clay, Anderson, & Dixon, 1993). If appropriate intervention is not offered (e.g., train­ing in appropriate anger expression or stress management), students experience emotional, social, or academic problems to such a degree that they drop out of school. Unfortunately, between 40% and 60% of students who begin 4-year institutions do not graduate (Brown. 1986; Gerdes & Mallinckrodt, 1994). Even more tragically, students may take their own lives. Every year, approximately 6 of every 100,000 college students in the United States commit suicide (Chisolm, 1998).

Some of the strongest predictors of staying in school and maintaining good menial health are amenable to student-life services (Polansky, Horan, & Hanish, 1993). To help students have a successful and productive college experience, student-life professionals offer campus-wide programs and individual assistance-. The goal of comprehensive pro­grams is to make a positive impact on students and help them identify problems or con­cerns at strategic points where intervention strategies may be most beneficial The em­phases and roles of student-life professionals arc aimed at helping sensitix.e students to the multiple issues that face them and constructively deal with these unfolding issues and themselves (Creamer & Associates, 1990; Deegan & O’Banion, 1989. For example, many college students face the challenge of maintaining some form of .separation from their parenis and families while establishing their own identity through individuation. There is a correlation between student adjustment to college and attachment to parents (Rice & Whaley, 1994). “Research suggests that college students benefit from (a) secure attach­ment to parents in which there is mutual trust, communication, and little conflict or alien­ation, and (b) relationships with parents in which their separateness and individuality are mirrored, acknowledged, and supported” (Quintana & Kerr, 1993, p. 349) By helping stu­dents separate positively and yet stay connected with their families, student-life profes­sionals assist students in their overall adjustment and achievement at college and beyond.

Activities

The activities of student-life professionals are related to the specialty area in which they work: administration, development, or counseling. “The administrative model… is based on the premise that the student services profession is an administrative, service-oriented unit in higher education that provides many facilitating and development activities and programs for students” (Ambler, 1989, p. 247; my emphasis). Examples of these services include admissions, records, food, health, and financial aid. The developmental model is one that stresses education, such as helping students learn decision-making skills by of fering leadership seminars or facilitating increased autonomy in residence-life activities.Finally, the counseling model is one that emphasizes social and emotional growth in interpersonal and vocational decisions and includes conducting highly personalized seminars around a topic of interest, such as dating, careers, or stress (Forrest, 1989).

Not all student-life specialists follow these models and not all student-life activities are conducted by professionals. Indeed, a national survey found thai 72% of college/university student affairs divisions use student paraprofessionals to supplement and implement their offerings (Winston & Ender, 1988). These paraprofessionals are “undergraduate student who have been selected and trained to offer services or programs to their peers. These senvices are intentionally designed to assist in the adjustment, satisfaction, and/or persis­tence of students” (p. 466). Student paraprofessionals are frequently employed in resi­dence halls and orientation programs; they also work with crisis lines, student judiciaries, academic advising, financial aid, international student programs, and student activities.

By involving student paraprofessionals in structured programs, student-life special­ists directly and indirectly offer them leadership opportunities, improve the quality of life on campus, and accomplish critical tasks. More than 600 U.S. colleges and universities offer students some type of formal leadership training, and the number is growing (Freeman, Knott, & Schwartz, 1996; Gregory & Britt, 1987). Yet, certain core beliefs, un­derlying principles, and necessary curriculum topics must be dealt with before any such activity can be effective (Roberts & Ullom, 1989). Student-life professionals have become increasingly interested in improving their leadership abilities at the same time that they have devoted additional time and effort to helping students in this area (McDade, 1989). This dual focus may help colleges take more initiative overall and promote a greater .sense of community.

COUNSELING AND STUDENT-LIFE SERVICES WITH NONTRADITIONAL STUDENTS

In addition to working with mainstream groups, college counselors and student-life pro­fessionals address the needs of nontraditional students. These may be older students, first-generation college students, minority culture students, or even student athletes. A com­mon characteristic of nontraditional students is financial independence (51%), followed by pan-time attendance (48%), and delayed enrollment (46%) (Evelyn, 2002). Nontraditional students such as the groups just described are actually in the majority at most colleges and universities now, with many of them enrolled in public two-year colleges (Benshoff & Lewis, 1992; Evelyn, 2002).

Older Students

Many nontraditional students are adults who are older than the traditional college age. Over half of all undergraduate students and more than 50% of all graduate students are over age 30 (Brazziel, 1989). As a group, they are highly motivated, prefer interactive learning, have family and financial concerns, view education as an investment, and have multiple commitments and responsibilities that are not related to school (Richter-Antion, 1986). Within this large group there are two basic subgroups: students ages 25-50 and those ages 50-80.

The first subgroup is usually motivated to return to college because of changing job or career requirements or opportunities that include family life transitions (e.g., marriage, divorce) (Aslanian & Brickell, 1980). Building up self-esteem and providing academic and social support are particularly important for these younger nontraditional students. The latter subgroup, often called senior students, come to campus for many purposes, which include obtaining degrees and finding personal enrichment. When working with senior students, college counselors and student-life professionals must take several factors into consideration, such as modifications to the environment (perhaps brighter lighting or warmer room temperatures), the clients’ developmental stage (e.g., dealing with issues of generativity or integration), the pace of the counseling sessions (slower may be better), potentially difficult areas (such as transference), and the use of counseling techniques (e.g., bibliotherapy, journal writing) (Huskey, 199-4). With an increase in the number of older people, the numbers of senior students will most likely continue to grow.

Regardless of how fast the number of senior students grows, the overall number of nontraditional students will increase because of business downsizing, the rapid advance of technology, and increased opportunities for professional development. Community and technical colleges and public universities are most likely to enroll (he majority of these nontraditional students. As is the case with traditional students, more females than males will enroll, there will be an increase in the number of part-time students, and more cultural and racial minorities will seek a college education (Hodgkinson. Outtz, & Obarakpor. 1992). All these events will test the limits of counseling and other student-life services.

First-Generation Students

A second group of nontraditional students is first-generation college students—that is, stu­dents who are the first in their family to enter college. The individuals in this category come from a wide variety of backgrounds, including second-generation immigrants and upwardly mobile poor (Hodgkinson et al., 1992). “Family support for education is the key difference between first generation and second generation students. Family support is also a fundamental variable in the decision to attend college and in the successful completion of college” (Fallon, 1997, p. 385).

Thus, first-generation college students have numerous needs. They must master knowledge of the college environment, including its specific vocabulary—for example, credit hours, GPA, and dean (Fallon, 1997). They must also txrcome committed to the role of being a student, decipher the value systems of second-generation college students, as well as learn to understand student-life services and study skills. Language barriers and social or cultural customs must also be addressed.

Minority Culture Students

Minority culture students in the United States are predominantly Afncan American, Native American, Asian American, or Hispanic/Latino. They face a number of challenges differ­ent from other students because in many cases they fall into a number of categories be­sides being minorities. For example, some of these students are first-generation, older, and/or student athletes. They also “often experience a lack of support and an unwelcom­ing academic climate” (Ancis, Sedlacek. & Mohr, 2000, p. 180).

In helping minority culture students adjust to college and/or do well overall, college counselors and student-life personnel can offer them encouragement and social support, as well as provide them tangible means by which to foster ethnic pride. For example, with African-American college students, ethnic pride may become a part of the learning envi­ronment through official sponsorship in universities of programs such as Kwanzaa cele­brations and Black History Month (Phelps, Tranakos-Howe, Dagley, & Lyn, 2001). Small­er large-group events that promote and enhance ethnic identity and one’s self-concept





CHAPTER 19

9 01 2010

Pada bagian awal Chapter 19, Penulis memaparkan pendahuluan dari bab yang berjudul Sebuah Pandangan ke Masa Depan sebagai berikut. Dia mempunyai sedikit tugas untuk membina profesi. Perubahan tugas akan menyebabkan dan memberi peluang. Kadang-kadang dia berpikir  untuk beralih tugas dari sekolah di kota ini, tetapi tidak terwujud. Dia harus mencintai tempat kerja yang paling aman dan akan ditekuni sampai akhir hayat. Dia mencintai tugas, rumah dan keluarga.

Pada profesi konseling yang dia tekuni selama lebih dari tigapuluh tahun, dapat dilihat perubahan-perubahan. Misalnya perubahan pada perhatian yang lebih besar terhadap etika dan lintas budaya, perubahan popularitas masing-masing teori konseling, pengaruh-pengaruh pada manajemen perawatan, perubahan pelaksanaan konseling di sekolah, serta pergeseran besar pada bidang konseling. Setiap perubahan diiringi kontroversi dan menyebabkan sedikit ketidak-seimbangan. Pada satu sisi perlu merintis dunia baru, di sisi lain perlu meninggalkankan yang sudah ada.

Bab selanjutnya meninjau perubahan profesi konselor pada masa yang akan datang. Perubahan yang dibahas lebih bersifat umum. Secara khusus akan dimulai dari tinjauan bagaimana hubungan antara konseling yang akan terpengaruh dengan terobosan medis, manajemen perawatan, dan dampak meluasnya komputer dan cepatnya arus informasi. Bagian selanjutnya dari bab ini akan berkaitan dengan konseling di sekolah lanjutan dan bimbingan jabatan pada bidang konseling. Kemudian penekanan yang meningkat  pada masalah multibudaya di lapangan dan masalah etika, profesional serta masalah resmi yang kelihatannya akan berpengaruh pada profesi : bunuh diri sebagai pilihan sementara bagi konseli yang sakit, perluasan akreditasi, berkembangnya kartu kredit, penekanan peningkatan standar perawatan, perubahan asosiasi profesi, dan bagaimana menjaga kesehatan diri dalam profesi yang sangat memerlukan fisik yang sehat. Kesimpulan pada akhir dari bab selanjutnya dengan memperhatikan pentingnya menghadapi resiko dan maju ke depan bila ingin aktif dan hidup bersama profesi konseling.

BAB  II

SEBUAH PANDANGAN KE MASA DEPAN

Dalam bab ini dibahas mulai terobosan medis, komputer dan jalan raya arus informasi, sampai  masalah kesejahteraan konselor pada masa yang akan datang.

A. Terobosan Medis

Tahun-tahun terakhir ini telah dilihat beberapa terobosan ilmu pengetahuan yang sulit dipercaya pengaruhnya terhadap praktek konseling pada masa yang akan datang. Ada tiga bidang khusus yakni penelitian genetika dan konseling genetika, penggunaan pengobatan psikotropis, dan penelitian hubungan badan/jiwa, terlihat secara khusus cukup penting (Neukrug, 2001).

KOTAK   19.1

Penyakit Huntington
Penyakit Huntington (Huntington’s Desease = HD) adalah penyakit yang berat, progresif dan neurologis yang mana saraf-saraf caudate di bagian inti otak tidak aktif. Usia penderita rata-rata 36 tahun. Perkembangan HD terbagi empat tahap masing- masing berjarak lima tahun.

Tahap pertama ditandai hilangnya koordinasi otot, perubahan kepribadian, kemarahan, permusuhan dan depresi. Tahap kedua bicaranya menjadi terputus-putus, ekspresi wajah berubah menjadi anaeh, terjadi hentakan otot terus menerus, kepal tangan merapat dan meregang, tangan dan kaki bergerak-gerak sendiri, berjalan tertatih-tatih. Dalam kata-kata Nancy Wexler: “ Secara bertingkat, sekujur badan penuh gerakan-gerakan tak sengaja. Tubuh meliuk dan wajah kusut”. Saat tahap kedua ia diberhentikan dari pekerjaannya. Pada tahap ketiga mengalami penurunan mental berat, menjadi tergantung kepada orang lain, dirawat di rumah atau di lembaga. Tahap keempat penderita diam, tidak bisa berjalan.(Pence, 2004: 405).

1. Riset Genetika dan Konseling Genetika

Melalui tes genetika, peneliti bisa menentukan apakah seseorang terkena sesuatu penyakit berat atau kelainan mental (Nova, 2000). Konseling genetika seperti penelitian genetika yang mengungkap berbagai masalah kesehatan fisik dan mental, konseling genetika menjanjikan menjadi aspek penting yang dapat dilakukan konselor. Dalam beberapa kasus identifikasi gen penyebab kelainan atau pembawa kecendrungan kelainan, menjadi penanganan awal sebelum pengobatan penyakit. Contoh,  hasil riset genetika dapat membantu untuk mengetahui apakah sesorang memiliki gen penyakit Huntington,  penyakit  melemahkan yang sering terjadi pada masa dewasa awal individu dan berakibat fatal (lihat kotak 19.1).

Hantington adalah salah satu penyakit genetika. Beberapa penyakit yang berkaitan dengan genetika lainnya adalah penyakit gula, beberapa jenis kanker, penyakit Alzheimer, beberapa kelainan hati, penyakit bipolar (dua kutub). Schizophrenia, kecendrungan depresi, kecemasan, dan sejumlah penyakit fisik dan mental lainnya. Kemampuan untuk menentukan apakah seseorang mempunyai kelainan gen atau tidak, menimbulkan berbagai masalah (Holloway, 2004). Sebagai contoh, mungkin seseorang berupaya melakukan tes mengenai sesuatu penyakit, bagaimana ia dapat hidup tenteram kalau ia  mempunyai gen penyakit tertentu,  bagaimana kalau ia punya anak bila tidak dites atau bila mereka mengungkap penyakitnya itu saat ini, dan apakah ia akan memberitahu orang lain bahwa mereka mengidap gen penyakit tertentu kepada keluarganya atau teman-temannya (Harmon,2005; McDaniel,2005; ten Kroode, & van’t Spijker,1997;Pence, 2004). Hal ini merupakan keputusan yang tidak mudah bagi sesorang, untuk itu konselor yang terlatih mungkin dapat membantunya.

Dengan adanya kelainan yang berkaitan dengan genetika, konselor perlu memahami  tentang prosedur kerja mendampingi individu yang berjuang menghadapi masalah ini dan konseling genetika yang resmi dan merupakan cabang etika khusus (Bodenhorn dan Lawson, 2003; Pence, 2004).

2. Pengobatan Psikotropik

Saat ini merupakan waktu yang baik untuk meneliti kesehatan mental. Dasarnya pada Dekade Otak, yang sejajar dengan Dekade Pengalihan, diperoleh hal-hal baru dari genomic, ilmu saraf, dan mengawali pembaharuan ilmu pengetahuan perilaku, perlakuan yang lebih efektif, dan akhirnya menuju kemungkinan pencegahan dan perawatan penyakit mental. (NIMH, 2005b,Section: “A New Organizational Structure”)

Kotak 19.2

Populerisasi Pengobatan Psikotropik
Pengobatan psikotropik digunakan sebagai upaya (treatment) perlindungan terakhir, diberikan secara berhati-hati oleh psikiater yang terlatih dan kadang-kadang oleh dokter keluarga yang menjalankan praktek. Sekarang berbagai pengobatan diiklankan dalam majalah popular dan obat dibeli dengan menggunakan resep dokter keluarga.

Tahun 1990 direncanakan oleh Presiden George Bush sebagai “ Dekade Otak” (Library of Congress, 2000). Dengan meningkatnya anggaran yang diberikan untuk mempelajari fungsi otak dan melanjutkan penelitian biokimia alam penyakit mental. Termasuk peningkatan tipe pengobatan yang digunakan untuk merawat berbagai kelainan emosi.

Walaupun penggunaan perawatan psikotropis modern telah dimulai limapuluh tahun yang lalu, perkembangan terakhir adalah penelitian mengenai otak dan perkembangan selanjutnya dari pengobatan baru menimbulkan akibat dramatis pada strategi perawatan. Saat ini dijanjikan suatu pengobatan baru yang mampu membantu penderita psikosis, depresi, kecemasan, kelainan menurunnya perhatian, demensia dan kelainan mental serta gangguan emosi (Scatzberg dan Numeroff, 2004). Jutaan orang Amerika memanfaatkan pengobatan kelainan psikologis, baik sebagian perawatan maupun perawatan seluruhnya (lihat Kotak 19.2). Saat ini di seluruh dunia menghadapi masalah penyembuhan oleh individu yang tidak kompeten dalam pengobatan, sebagaimana yang dicatat dalam kode etik ACA. Konselor memahami perlunya studi lanjut untuk memenuhi atau mencapai tingkat pengenalan ilmiah masa kini dan informasi profesi dalam bidang kegiatannya. Mereka berusaha agar mempunyai kompetensi dalam ketrampilan yang diperlukan, tebuka terhadap prosedur baru, dan mempertahankan hal baru untuk diterapkan pada berbagai populasi dan populasi khusus dengan siapa mereka bekerja. (ACA, 2005b. Bagian C.2.f.).

Yang diragukan saat ini adalah apakah semua konselor menyadari akibat dari berbagai pengobatan dan pengobatan dengan pendekatan baru yang dikembangkan (lihat Bab 10 mengenai pandangan berlebihan terhadap pengobatan psikotropik).

3. Hubungan Jiwa dan Badan

Berdasarkan pengalaman, menunjukkan bahwa kepercayaan, pola pikir psikologis dan sikap mempunyai kaitan dengan respon fisiologis, kita menghadapi ketakutan, kita bayangkan hal yang baik dan yang buruk tetapi juga perkembangan penyakit dan akibatnya dalam kehidupan kita. (Robert, Kiselica, dan Frederickson,2002, h. 430)

Kesalahpahaman tentang hubungan antara jiwa dan badan tidak dilanjutkan penelitiannya, apakah menjadi sumber kesehatan atau penyakit (Coppra, 2001; Weil, 2005). Saat ini penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa bagaimana kita berpikir terdapat hubungan bagaimana kita berbuat dan antara kondisi fisik dengan emosi kita. Sebagai contoh, bukti menunjukkan bahwa meditasi dan pengalaman penyegaran jiwa dapat mengurangi tingkatan-tingkatan stress  dan penyakit (Fava dan Sonino, 2000; Ryff dan Singer, 1996). Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang lebih terbuka antara penyakit fisik, keadaan psikologis dan spiritualitas, dibanding dengan penelitian yang sebelumnya (Roberts, Kiselica, dan Frederickson, 2002).

Konselor akan bekerja efektifp apabila segera memahami adanya hubungan antara jiwa dan badan. Mereka akan memiliki pemahaman adanya hubungan antara keadaan psikologis, penyakit fisik dan spiritualitas.

4. Praktek Pengobatan HMOS, PPOS, Uh Oh dan Perubahan Alami

Pembahasan meliputi ahli hukum dan penasehat hukum, brosur iklan, logos perusahaan, data basis dan blangko surat, peluang pemasaran dan teknologi tinggi, sistem telepon multi guna. Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan pengelolaan layanan perusahaan – gangguan mikro manajemen dalam pekerjaan, batasan waktu yang kaku, makalah yang tak kunjung selesai, berjuang untuk memperbaiki penghasilan—mereka (tujuh orang terapis) memutuskan sebagaimana seribu orang terapis lainnya di Amerika menyatukan bakat dan menemukan cara kerja bersama berupaya meningkatkan kebebasannya : mempraktekan profesinya dengan tingkat kebebasan yang wajar, mandiri, tulus/jujur, dan masih mendapat penghasilan.(Wylie,1995, hal. 20-21)

Sistem jaminan kesehatan di Amerika berubah secara dramatis. Biaya perawatan kesehatan khususnya layanan kesehatan mental, meningkat pada pertengahan abad duapuluh dan kelihatannya akan sama dalam abad ini (Janesick dan Goldsmith, 2000; Sancher dan Turner, 2003; Smith, 1999). Akibatnya perusahaan asuransi kesehatan mulai mengurangi penawarannya khususnya untuk perawatan kesehatan mental, persyaratan pengajuan asuransi menjadi lebih ketat, diperlukan bukti bahwa perawatan mengalami kemajuan dan diharapkan bahwa sebagian besar dilayani dengan cepat (Granello dan Witmer, 1998; Sancez dan Turner, 2003).

Dalam upaya menekan biaya perawatan kesehatan, beberapa pengusaha dan organisasi diperbolehkan mengelola perawatan bersama organisasi seperti HMOs (Health Maintenance Organization) dan PPOs (Preferred Provider Organiztions) (Burger dan Youkeles, 2004). Beberapa organisasi menawarkan layanan terbatas (misalnya hanya layanan dokter dan terapis), jumlah sesi layanan konseling terbatas, mengajukan proposal untuk pengendalian biaya. Walaupun kenyataannya banyak penyelenggara perawatan kesehatan mental dirasakan pelayanannya negatif, bukti ditunjukkan oleh HMOs dan PPOs (Danzinger dan Welfel, 2001; Rupert dan Baird, 2004).

Hasil perubahan sistem penawaran kesehatan, diperlukan perubahan cara dalam penawaran konseling pada abad duapuluh satu.  Konselor menghadapi dilemma. Seorang konselor dapat melayani secara tradisional namun perusahaan asuransi membatasi jumlah sesi konseling dan memaksa konselor untuk memilih (1) tidak dibayar, (2) melayani dengan pengurangan gaji, (3) membatasi layanan konseling.  Atau konselor dikenal sebagai pemberi layanan singkat, tidak seperti yang diajarkan pada program konseling tradisional. Antara konselor dengan program-program konseling harus menghadapi dan menyelesaikan dilemma ini bila ingin bertahan pada abad duapuluh satu (Daniels, 2001).

B. Komputer dan Jalan Raya Informasi

Pada tahun 2003, diperkirakan 62 persen rumah tangga mempunyai sebuah komputer (Biro Sensus Amerika Serikat, 2004-2005b). Saat ini sekitar dua per tiga dari semua pemilik komputer menggunakan internet, dan 53 persennya memiliki sebuah koneksi berkecepatan tinggi.

Profesi konselor dan kesehatan mental menyesuaikan dengan cepat dalam hal penggunaan komputer (Layne dan Hohenshil, 2005; Tyler dan Sabella, 2004). Misalnya penggunaan komputer dan teknologi lain seperti video interaktif, CD room untuk mengelola, menyimpan catatan, pengukuran dan diagnosis klinis, merumuskan kasus, pengukuran kepribadian konseli; konseling komprehensif, dokumentasi catatan konseli, penagihan, pemasaran dan membantu konseli mempelajari ketrampilan baru ( misalnya ketrampilan keorangtuaan, latihan asertif, dan ketrampilan kerja bagi pekerjaan tertentu).

Dalam pelatihan konselor dan profesional terkait, ternyata komputer dapat menunjukkan hasilnya dengan baik (Clingerman dan Bernard, 2004; Hohenshil, 2000; Layne dan Hohenshile, 2005; Tyler dan Sabella, 2004).

Tetapi mungkin ekspansi internet mengalami perubahan terbesar dalam teknologi. Internet membawa kepada kita home page bagi asosiasi profesi kita, e-mail untuk persahabatan dan pengawasan, daftar distribusi dan daftar layanan profesi yang diminati; gelombang video bagi pertemuan profesi. Kursus dasar Web, portofolio berdasarkan Web, penelitian mesin untuk riset, beberapa file konseling dapat diunduh (down load), dan konseling dengan tema yang kontroversi dapat disiarkan langsung (on line). Kenyataannya konseling on line tak terelakkan menjadi populer, sehingga ACA mengembangkan pedoman etik konseling melalui internet pada tahun 1999 (ACA, 2002b). Selanjutnya ACA memasukkan pedoman etik tersebut ke dalam kode etik dalam penggunaan teknologi, misalnya konseling melalui internet. Kotak 19.3 berisi ketentuan ijin penggunaan teknologi dan informasi. Walaupun terdapat aspek positif dan negatif dalam konseling on line, nyatanya konseling on line hadir di sini. Kotak 19.4 berisi tentang manfaat dan mudarat konseling di internet.

Sebuah journal keknologi, yang dikenal dengan Journal Tenologi dalam Konseling (lihat http//jtc.colstate.edu/). Gerakan kita ke depan, jelas teknologi akan berlanjut untuk mengubah pemberian layanan konseling dan cara konselor belajar (Granello, 2000; Layne dan Hohenshil, 2005; Sampson, Kolodinsky dan Greeno, 1997).

Kotak 19.3

Ijin Teknologi dan Informasi
Sebagian proses pemberian ijin, konse lor melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Menjaga masalah yang sulit dihindar kan dari penyiaran komunikasi elektro –nik.

2. Beritahu konseli siapa yang berhak mengakses penyiaran elekronik infor masi tentang konseli.

3. Konseli perlu menetapkan yang ber -hak menggunakan informasi melalui teknologi yang digunakan dalam konse- ling.

4. Beritahu konseli berkaitan dengan peraturan dan ketentuan pemerintah ten tang praktek profesi ke luar negeri.

5. Gunakan komunikasi situs encrypted Web dan e-mail untuk membantu kerahasiaan bila memungkinkan.

6. Bila tidak mungkin menggunakan en kripsi, konseli diminta membatasi pem- bahasan hanya hal-hal umum.

7. Menyampaikan kepada konseli sampai kapan rekaman pembicaraan disimpan.

8. Diskusikan kemungkinan kegagalan tek nologi dan pilihan metode layanan lain.

9. Katakan kepada konseli tentang prose – dur darurat, misal telpon ke 911 atau no – mor telpon darurat lokal.

10. Diskusikan perbedaan wilayah waktu, kebiasaan setempat, perbedaan budaya atau perbedaan bahasa yang mungkin mempe – ngaruhi layanan yang diberikan.

11. Sampaikan kepada konseli bila ada jarak bantuan teknologi dalam layanan kon seling tidak dijamin asuransi

(ACA 2005b,Bagian A.12.9 Ijin Teknologi dan Informasi).

Kotak 19.4

Manfaat dan mudarat konseling pada internet
Ringkasan beberapa manfaat pemberian konseling melalui internet, menurut Sampson, Kolodinsky, dan Greeno (1997) bila mengikuti mekanisme, sebagai berikut

a. Mengembangkan akses konseli dari tempat yang jauh atau terpencil.

( Lanjutan Kotak 19.4)

b. Mengembangkan orientasi konseli dalamproses konseling.

c. Mempermudah dalam melengkapi intrumen pengukuran dan penyerahan pekerjaan rumah.

d. Memperbesar penyimpanan catatan dan laporan (monitoring) kemajuan konseli.

e. Memperluas jangkauan referral/ pengalih tanganan.

f. Memperluas akses pengukuran dan mendukung interpretasi tes.

g. Mengurangi kesulitan penjadwalan dalam konseling pasangan dan keluarga.

h. Memungkinkan konseli menggunakan konseling membantu diri sendiri.

i. Menambah pilihan pengawasan dan konferensi kasus.

j. Menambah koleksi data penelitian.

Pada sisi lain, mudarat atau tidak bermanfaatnya konseling melalui internet adalah

a. Kerahasiaan konseling terbatas.

b. Memberikan informasi yang tidak sebenarnya.

c. Kurang memerlukan intervensi konselor.

d. Penyalah gunaan oleh konselor yang tidak terlatih atau melebihi kewenangan.

e. Terbatasnya kesadaran konselor akan pentingnya lokasi kusus dalam konseling.

f. Terbatasnya akses yang sama dari sumber-sumber konseling.

g. Terbatasnya pemenuhan privasi (kebutuhan pribadi) konseli.

h. Terbatasnya kepercayaan terhadap konselor. (h. 211)

Sumber: Dari “ Counseling an the Information Highway: Future Possibilities and Potentials Problem”. Oleh Sampson, Kolodinski dan Greeno dalam Journal of Counseling and Development, 75, h.211. Copyright C 1977 ACA. Reprinted with permission. No further reproduction authorized without written permission.

C. Memilih Program Konseling atau Mendapatkan Pekerjaan

Bagian Bab 19 ini menguji sejumlah masalah dan memberikan petunjuk bagi seorang yang baru lulus tentang pemilihan program  dan memperoleh pekerjaan. Dan ketika seseorang telah mapan dengan suatu program, masih dapat menikmati aspek-aspek dari bagian ini yang menarik—informasi yang terkait dengan pencarian pekerjaan. Secara lebih spesifik, akan dilihat pada beberapa item pilihan yang menjadi pertimbangan ketika memilih sebuah program atau mendapatkan pekerjaan: proses aplikasi (lamaran),resume, portofolio, dan bagaimana menempatkan program lulusan (graduate program) atau mendapatkan pekerjaan.

1. Beberapa Item Pilihan yang perlu Dipertimbangkan ketika Memilih sebuah Program atau Mendapatkan Pekerjaan

Beberapa persoalan pilihan yang perlu dipertimbangkan ketika memilih sebuah program lulusan atau mencari pekerjaan, pembahasan berikut ini menyoroti beberapa unsur yang sangat penting. Misalnya, ketika membuat keputusan yang disebarkan (pada banyak orang) tentang kelanjutannya terhadap tamatan sekolah (graduate school), seseorang seharusnya menyelidiki apakah program tersebut terakreditasi, jenis keahlian konseling dan gelar (tingkat) yang ditawarkan, orientasi filosofis dari program tersebut, syarat-syarat masuknya, besarnya, rasio siswa-fakultas, biaya dan jumlah bea siswa yang tersedia, lokasi, dan penempatan kerja (Bater dkk., 1997). Hal yang sama, pencari kerja seharusnya tahu  surat-surat (syarat-syarat) minimum yang diperlukan untuk mencari pekerjaan, orientasi filosofis seting (lingkungan) tersebut, jumlah dan jenis klien yang diharapkan akan ditemui seseorang, peranan dan fungsi kerja , gaji , dan kemungkinan untuk kemajuan pekerjaan.

a. Proses Melamar Kuliah atau Pekerjaan

Ketika melamar pada sekolah setingkat sarjana (graduate school) atau untuk sebuah pekerjaan , seseorang seharusnya melakukan hal-hal berikut ini: (1) Memenuhi semua persyaratan pelamaran. (2) Mengisi semua formulir yang diperlukan. (3) Mengikuti tes yang sesuai (misalnya GRE untuk sekolah setingkat sarjana—graduate school, tes kepribadian untuk beberapa pekerjaan). (4) Menulis karangan atau pernyataan filosofi. (5) Untuk wawancara, agar dipersiapkan apa yang diperlukan. (6) Mengenal perguruan tinga melalui staf fakultas atau mengetahui  tentang latar belakang calon pimpinan dan mencari kesempatan untuk bertanya mengenai apa yang telah mereka capai. (7) Berilah resume secara tertulis. (8) Ingatlah untuk mengumpulkan  portofolio. (9) Bersikaplah positif , fokus, dan siap. (10) Jangan bersikap negatif atau sinis.

b. Resume

Beberapa program  dan pimpinan yang paling potensial akan meminta anda mengumpulkan sebuah resume. Resume yang baik biasanya menyajikan  gambaran yang luas  tentang siapa diri anda sebenarnya, juga ide-ide yang baik perlu diungkapkan meskipun tidak diminta. Ketika mengumpulkan sebuah resume, buatlah agar mudah terbaca (dipahami), menarik, tatabahasanya benar, dan tidak bertele-tele. Jangan terlalu memperhatikan pada panjangnya resume tersebut. Jangan terlalu banyak  memberikan rincian, dan jangan terlalu panjang lebar atau membingungkan.  Untuk melihat lebih jelas dalam menulis resume tersebut, carilah  sebuah buku yang baik tentang cara-cara  penulisan resume, misalnya Amazing Resume yang ditulis oleh Bright dan Earl, 2006, dan Best Resumes for College Students and New Grads oleh Kursmark, 2003.

c. Portofolio

Disamping resume yang baik, bahan-bahan lain dapat menambah peluang anda diterima di sekolah setingkat sarjana (graduate school) atau pekerjaan yang diinginkan. Misalnya,  portofolio yang berbentuk paparan atau portofolio yang berbasis web (jejaring) dapat melengkapi persyaratan bagi calon karyawan atau program setingkat sarjana (graduate program) dengan tinjauan yang luas tentang pengetahuan dan ketrampilan anda (Barnes, Clark, & Thull, 2003; Cobia, Carney, & Shannon, 2000; Cobia dkk., 2004; Hackbarth & Greenwalt, 2001). Portofolio dapat meliputi hal-hal sepeerti transkrip, makalah yang pernah anda tulis, pernyataan yang berkaitan dengan  filosofi konseling, kerangka latihan kerja (workshop) yang anda sajikan, dan videoklip (Baltimore, Hickson, George, & Crutchfield, 1996).

2. Menemukan Program  Sarjana atau Mendapatkan Pekerjaan

Seseorang yang siap mengajukan lamaran pada sebuah program atau mencari sebuah pekerjaan. Seterusnya dapat melihat informasi lebih lanjut. Ada tempat-tempat tertentu  yang dapat dihubungi untuk mendapatkan program setingkat sarjana yang menjadi pilihan, dan ada cara-cara  untuk meningkatkan peluang   dalam mendapatkan pekerjaan yang diimpikan.

a. Mendapatkan Program  Sarjana

Sejumlah sumber daya tersedia untuk membantu  mahasiswa  yang potensial di dalam menemukan  sekolah tingkatan sarjana (lihat Baxter dkk., 1997; Collison & Garfield, 1996; Garner, 2001). Sebagian hal ini termasuk hal-hal berikut:

.            •    Untuk daftar  program master dan doktor di dalam konseling:

Dewan untuk Akreditasi Konseling dan Program Pendidikan Terkait (CACREP)

5999 Stevenson Avenue

Alexandria, VA 22304

Telepon : 7038239800   Web site: www.counseling.org/cacrep

.            •    Untuk informasi rinci mengenai level program lulusan master dan doktor di dalam konseling:

Clawson, T., Henderson, D.A., Sweiger, W.K., & Collins, D.R. (2004).

Persiapan Kounselor: Program, fakultas, tren (ed. Ke 11)

New York: Brunner-Routledge.

Telepon: 212.414.0650    Web site:http://www.routledge-ny.com/

.            •    Untuk daftar program doktoral di dalam psikologi konseling:

Asosiasi Psikologi Amerika (APA)

750 First Street NE

Washington , D 20002

Telepone: 202.336.5979    Web Site: www.apa.org/ed/doctoral.html

.            •    Untuk informasi tentang program konseling rehabilitasi yang terakreditasi:

Dewan Nasional tentang Pendidikan Rehabilitasi

Dr. Charles Arokiasamy, Coordinator, Program Konseling Rehabilitasi Sekolah Pendidikan dan Pengembangan Manusia Kremen

Universitas Negeri California-Fresno

5005 N. Maple Ave, M/s ED 3, Fresno CA 90740-8025

Telepon: 559.278.0325   Web site: www.rehabeducators.org

.            •    Untuk informasi tentang program terapi keluarga dan pernikahan yang terakreditasi:

Komisi  Akreditasi untuk Pendidikan Terapi Keluarga dan Pernikahan

112 South Alfred Street,

Alexandria, VA 22314-3061

Telepon: 703.838.9808 Web site : www.aamft.org/about/COAMFTE/index_nm.asp

.            •    Untuk program pastoral klinis yang terakreditasi:

Asosiasi untuk Pendidikan Pastoral Klinis, Inc.

1549 Clairmont Road , Suite 103

Decatur, GA 30033

Telepon: 404.320.1472    Web site: www.acpe.edu

.            •    Untuk program setingkat sarjana yang terakreditasi di bidang kerja sosial:

Dewan Pendidikan Kerja Sosial

1725 Duke St., Suite 500

Alexandria, VA 22314

Telepon: 703.683.8080 Web site: www.cswe.org

.            •    Untuk program terapi seni yang terakreditasi:

Asosiasi Terapi Seni Amerika

1202 Allanson Road,

Mundelein, IL 60060

Telepon: 847.949.6064 atau 888.290.0878  Web site:www.arttherapy.org

b. Menemukan Pekerjaan

NETWORKING (JEJARING)  Seseorang telah menyelesaikan pendidikan / pelatihan dan siap mencari pekerjaan. Apa yang akan dikerjakan? Baikah, jika  ingin segera memulai proses tersebut,  perlu bergabung dengan  asosiasi profesional  baik lokal, negara bagian atau nasional sebelum selesai pendidikan anda.  Networking (jejaring) dalam hal ini adalah  adalah jejaring yang paling banyak digunakan  dan metode yang terbaik dalam mendapatkan pekerjaan (lihat box 19.5)

BERLANJUT KE INTERVIEW Seseorang telah memiliki resume dan telah membuat portofolio, telah memiliki jejaring, kelihatan bagus dan kedengarannya memang bagus—sekarang apa yang akan  dilakukan? Baiklah,  mungkin perlu dikenalkan dengan beberapa jenis pekerjaan yang berbeda di bidang konseling. Sekarang waktunya untuk menemukan beberapa orang  yang memiliki pekerjaan ini dan berlanjut dengan interview. Interview ini akan memungkinkan untuk melihat lebih dekat secara pasti apa yang dilakukan orang dan akan membantu membuat keputusan yang berkaitan apakah  seseorang tadi benar-benar ingin mengejar  pekerjaan tertentu. Sebenarnya, kadang-kadang orang akan membiarkan anda membuntutinya  pada pekerjaan tersebut, dan kadang-kadang  interview dapat mengarahkan anda pada pembukaan pekerjaan tertentu.

MERESPON IKLAN PADA PUBLIKASI PROFESIONAL    Sekarang ini, ada sejumlah publikasi profesional  yang membuat daftar  lowongan pekerjaan secara lokal, negara bagian dan nasional. Asosiasi konseling yang aktif di masyarakat atau negara bagian mungkin memiliki lowongan pekerjaan dan daftar lowongan pekerjaan di dalam newsletternya. Counseling Today, koran ACA bulanan , membuat daftar berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan konseling  di seluruh negeri. Demikian juga dengan koran APA, The Monitor. Hal yang sama , Chronicle of Higher Education membuat daftar lowongan pekerjaan secara nasional , walaupun sebagian besar  pekerjaan yang termuat dalam daftar tersebut terbatas pada  wilayah level pekerjaan yang berkaitan dengan mahasiswa dan atau pekerjaan tingkat doktoral.

BO 19.5

Randy: Memiliki Jaringan, Terlibat dan Mendapat kerja

Randy  mahasiswa yang sangat berantusias dibidang konseling. Dia bergabung dengan asosiasi profesional , dia bekerja di bidang riset, dan dia ikut ambil bagian di dalam aktifitas profesional kapanpun memungkinkan. Karena Randy demikian terlibat , dia memiliki kesempatan untuk bersama menyajikan lokakarya  pada sebuah konferensi  asosiasi profesional negara bagian. Antusiasme dan pengetahuannya demikian mengesankan salah satu peserta yang pada akhir salah satu lokakarya tersebut dia menawarkannya sebuah pekerjaan—tepat disana (ditempat lokakarya tersebut).

INTERVIEW DI KONFERENSI NASIONAL      Sering , konferensi nasional yang besar , seperti halnya  konferensi konselor tahunan yang disponsori oleh  ACA, akan menawarkan proses dimana individu yang sedang mencari pekerjaan dapat melakukan wawancara dengan calon pimpinannya di konferensi tersebut. Walaupun hal ini umumnya terfokus  pada pekerjaan pendidik  konselor level doktoral, beberapa pekerjaan setara master  biasanya juga tersedia.

LAYANAN PENEMPATAN PEKERJAAN AKADEMI DAN UNIVERSITAS      Layanan penempatan kerja dan pusat manajemen karir  di Akademi maupun di Universitas  sering memiliki  daftar agensi masyarakat lokal yang bisa membantu ketika melakukan pencarian pekerjaan. Kadang-kadang jasa penempatan ini  memiliki daftar  pekerjaan dan menawarkan pasar kerja yang sesuai dengan mahasiswa tamatan di bidang konseling.

METODE PENCARI KERJA LAINNYA  Ingat metode yang benar dan telah dicoba untuk mendapatkan pekerjaan —seperti halnya  mengajukan lamaran secara langsung kepada bos (majikan), membalas iklan lowongan di surat kabar, menghubungi  agensi tenaga kerja swasta atau negara bagian, dan menempatkan  iklan di dalam sebuah jurnal profesional. Metode ini kadang-kadang berhasil!

c. Yang Terpilih, Yang Ditolak

Pendidik konselor menghindari mengatakan seseorang “ditolak” dari suatu program atau pekerjaan, dengan mengatakan sebaliknya bahwa individu tidak diperkenankan  masuk atau diberi kesempatan lain. Namun demikian, kebanyakan orang yang tidak diterima terhadap sekolah pilihan pertamanya atau tidak diberikan pekerjaan yang menjadi cita-citanya sering merasa terbuang. Jika anda ditolak atau tidak diberikan pekerjaan yang anda inginkan, mintalah masukan berkenaan dengan lamaran anda dan atau proses interview. Walaupun secara pribadi kadang-kadang  berat untuk tidak menanggung penolakan, hal ini bisa jadi peluang untuk menemukan apa yang dapat anda kerjakan untuk meningkatkan  aplikasi anda. Sekali anda memahami apa itu kesalahan, anda dapat meningkatkan  kesempatan mendapatkan  pekerjaan atau program lulusan (setingkat sarjana) yang anda pilih.

D. Masalah Konseling Multikultur / Lintas Budaya

Tidak memungkinkan lagi bagi konselor untuk mengabaikan  budaya mereka sendiri atau budaya klien mereka (Pedersen, 1991, halaman 11)

Kutipan diatas mungkin bahkan lebih cocok sekarang  ini dari pada dahulu ketika awalnya ditulis lebih dari 15 tahun yang lalu. Konseling multikultural  merupakan topik yang hangat. Hal tersebut merupakan topik yang paling sering dibahas di dalam Jurnal Konseling dan Perkembangan (Arrendodo dkk., 2005),  dan masalah-masalah yang melingkupi multikulturalisme sering disajikan dan diperdebatkan di konferensi-konferensi. Bahkan, ketika diteliti tentang pengalaman mereka di dalam program pendidikan konselor, banyak siswa menunjukkan bahwa mereka tidak puas dengan  pelatihan mereka di dalam konseling multikultur (Holcomb-McCoy & Myers, 1999). Dengan hampir 30% orang Amerika yang termasuk kelompok minoritas etnis dan ras dan kemungkinan 50% orang Amerika yang termasuk ke dalam kelompok minoritas menjelang tahun 2050 (Biro Sensus Amerika, 2004a), ketidakpuasan dengan pendidikan / pelatihan multikultur tidak dapat diterima.

Karena profesi kita selalu membanggakan diri  dengan menunjukkan toleransi terhadap orang lain, nampaknya jelas bahwa di masa yang akan datang kita akan dan harus melihat pendidikan yang semakin meningkat di bidang konseling multikultur, teori-teori dan model-model konseling multikultur yang baru, sebagaimana halnya meningkatnya riset tentang kemanjuran berbagai pendekatan konseling dengan klien yang beragam (Hanna, Bemak, & Chung, 1999; Hill, 2003).

E. Masa Depan Etika, Profesional dan Persoalan Hukum

1. Bunuh Diri sebagai Opsi (pilihan) untuk Konseli yang Sakit Terus-menerus

Sangat mengejutkan bagiku. Saya memperhatikan Kode Etik ACA yang baru  (ACA, 2005b) , dan saya melihat kalimat berikut ini:

Dengan menghargai  masalah-masalah pribadi, moral dan kompetensi yang terkait dengan keputusan untuk mengakhiri hidup, konselor dapat memilih untuk menangani atau tidak menangani dengan konseli yang terus-menerus sakit yang ingin menjalani pilihan untuk mengakhiri hidupnya. Konselor memberikan informasi rujukan yang sesuai (tepat) untuk menjamin bahwa konseli tersebut menerima bantuan yang diperlukan. (Bagian A.9.b. Kompetensi Konselor)

Bisa saja hal ini diinterpretasikan sebagai hal yang tidak benar, tetapi nampaknya penambahan terhadap  kode etik yang menyatakan bahwa  ketika seorang konseli  memiliki penyakit yang terus-menerus, konselor dapat memilih  untuk menangani klien tersebut di dalam mengeksplorasi (menjajagi) opsi mereka—yang salah satunya bisa jadi bunuh diri. Pada dasarnya kode (peraturan) tersebut mendukung  kemungkinan bunuh diri untuk beberapa klien yang sakit terus-menerus. Tanpa memperhatikan perasaan tentang masalah yang rumit ini, harus diakui bahwa hal ini mengejutkan, ACA mengambil pijakan yang pro-aktif semacam itu.  Dari pengalaman penulis mengajar selama 30 tahun,  ia sangat yakin  bahwa akan ada perdebatan berkaitan dengan perubahan ini.

2. Perluasan Akreditasi

Lambat, tapi pasti, semakin banyak program konseling  bergerak menuju akreditasi CACREP dan akreditasi semacam itu dipandang semakin penting pada bidang tersebut (McGlothln & Davis, 2004; Sweeny, 1995). Sekarang ini, dari 500 lembaga yang memiliki program setingkat sarjana di bidang konseling,  paling tidak 188 memiliki satu program yang terakreditasi CACREP dan banyak yang menawarkan spesialisasi ganda (CACREP, 2006c). Walaupun program akreditasi  pasti  menaikkan standar, namun ada kekurangan-kekurangannya. Misalnya, program yang lebih kecil, dari segi waktu lebih sulit  untuk terakreditasi karena standar persyaratan  jumlah minimum dari fakultas dan kadang-kadang tidak memiliki jenis fasilitas  program-program. Juga standarisasi  dari program  mengakibatkan kurang luwesnya kreatifitas dalam pengembangan kurikulum. Disamping, sebagian mengeluh tentang jumlah uang dan waktu yang dihabiskan dalam mempersiapkan, membuat, dan memelihara kurikulum dan perubahan lain sebagai akibat dari proses akreditasi. Bagaimanapun juga, sebagian besar setuju bahwa waktu untuk akreditasi program diabaikan dan bahwa manfaat tersebut lebih berat (besar) daripada kekurangannya. Sebagaimana tokoh dalam profesi kita mencatat, “Maukah anda pergi ke dokter yang belum menjalani  sekolah kedokteran yang terakreditasi? Lalu apakah kemudian berharap  yang lebih kecil dari profesi kita?”

3. Pengembangan Kredential (Surat Mandat—Kepercayaan)

Bersamaan dengan akreditasi, mungkin bahwa masa depan akan melihat bertambahnya jumlah konselor yang menjadi kredential (Neukrug, Milliken, & Walden, 2001). Sekarang nampaknya  bahwa upaya lobying  untuk mensyaratkan lisensi di seluruh negara bagian akan berhasil.  Disamping itu lebih dari sekedar kemungkinan  bahwa jumlah konselor yang mendapatkan  sertifikasi nasional dan sertifikasi keahlian khusus akan terus bertambah. Ketika pemberian kepercayaan (credentialing) menjadi semakin penting untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan, untuk mendapatkan pembayaran kembali dari pihak ketiga, dan sebagai cara menunjukkan bahwa konselor memberikan standar ketelitian yang tinggi (Remley & Herlihy, 2005), ada sedikit keraguan apakah banyak konselor yang akan mencari lisensi atau sertifikasi.

4. Meningkatnya Tekanan (Perhatian) pada Standar Perawatan

Agar membantu konseli , hindari tuntutan malpraktek , dan dapat dipercaya terhadap perusahaan asuransi, sumber-sumber pembiayaan, dan para pimpinan, konselor akan makin diminta untuk menunjukkan standar perawatan terhadap konseli yang memadai (Corey dkk., 2006). Di dalam mempertimbangkan apakah standar praktek dapat diterima, pengadilan pada umumnya melihat apa yang dianggap sebagai “praktek yang dapat diterima secara minimal” di dalam profesi tersebut. Untuk menunjukkan bahwa konselor  memberikan perawatan yang memadai, sebagian menyarankan bahwa di masa yang akan datang  konselor senantiasa harus (1) memberikan pernyataan professional yang terbuka, (2) membuat rencana layanan, (3) mencatat kemajuan klinis yang baik, (4) melakukan  evaluasi formatif (yang sedang berlangsung) terhadap efektifitas konselor, (5) melakukan  riset terhadap   efektifitas konselor , (6) mengendalikan konsultasi dan membuat refferal (rujukan) yang tepat, (7) menjamin kesehatan mental dan fisik mereka sendiri, (8) sadar terhadap masalah etika dan hukum, (9) cerdik secara multikultur, dan (10) mendapatkan  kredential yang tepat dan ikut serta di dalam melanjutkan  pendidikan (Anderson, 1992; Granello & Witmer, 1998). Di samping  daftar ini,  daftar Corey, Corey & Callanan (2006) yang lengkap tentang cara – cara menghindari  tuntutan malpraktek dan menjaga  standar perawatan yang tinggi.

5. Setelah Perubahan demi Perubahan, Sedikit Banyak (masih) Sama

Selama tahun 1990-an Asosiasi Personalia Akademi Amerika (ACPA) memisahkan diri dari ACA. Segera setelah itu, dewan Asosiasi Konselor Kesehatan Mental Amerika (AMHCA) dan Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA) meminta para anggotanya untuk memberikan suara (voting) terhadap pemisahan tersebut. Kedua voting tersebut dikalahkan. Pada tahun 1989 dan memasuki tahun 1990an kita melihat  pembentukan tiga divisi: Asosiasi Konselor Keluarga dan Perkawinan Internasional (IAMFC) pada tahun 1989, Asosiasi Konseling Akademi Amerika (ACCA) pada tahun 1992, dan Asosiasi untuk kaum Gay, Lesbian, dan Masalah-masalah Bi-sexual di dalam Konseling (AGLBIC) pada tahun 1997. Pada tahun 2001 kita hampir melihat penggabungan Asosiasi Konselor  Rehabilitasi Nasional (NRCA) dan Asosiasi  Konseling Rehabilitasi Amerika (ARCA, sebuah divisi dari ACA) (Simmon, 2001). Dan, yang terkini, kita melihat pembentukan dua divisi ACA yang baru: Konselor untuk Keadilan Sosial (CSJ) dan Asosiasi  untuk Kreatifitas di bidang Konseling. Akhirnya, sebagai akibat perubahan hukum ACA pada tahun 1998, profesional konseling  dapat menggabungkan 6 divisi manapun tanpa bergabung dengan ACA (C. Neiman, komunikasi pribadi, 15 June 2001). Sekarang , sejumlah divisi  termasuk dua yang terbesar, AMHCA dan ASCA, menangani  keanggotaan mereka sendiri dan jarang menyatakan / mengakui keberadaan ACA di dalam situs mereka.

Jelaslah bahwa pada tahun-tahun belakangan ini keadaan ACA, paling  tidak, berada dalam perubahan yang terus-menerus. Sebagian orang mungkin mengutuk / mencela perubahan ini, sementara yang lain  mungkin menyambutnya, tetapi garis dasarnya adalah bahwa ACA tetap menjadi organisasi yang ingin berubah dari waktu ke waktu (Sheeley, 2002). Kita bisa saja menjadi tidak sabar dan menjadi terganggu dengan perubahan ini. Tetapi, mungkin seperti seorang konseli yang terus-menerus berubah, kita perlu menerima kenyataan bahwa organisasi tersebut benar-benar berubah dan menyadari bahwa hal ini mungkin benar-benar menjadi tanda kesehatan yang baik.

6. Model Kesejahteraan (Kesehatan)  untuk Konselor

Berurusan dengan orang bisa jadi banyak tuntutan. Menghabiskan banyak energi agar bisa tenang  di tengah-tengah krisis, agar menjadi sabar dalam menghadapi frustasi, agar memahami dan sangat merasa kasihan ketika diliputi oleh ketakutan, rasa sakit, kemarahan, atau rasa malu (Maslach, 1982 / 2003, p.26)

Sayangnya, stres, sinisme, dan pemadaman  mungkin menjadi perhatian utama konselor di dalam abad ke-21. Hans Selye dan yang lainnya (Selye, 1956, 1974; Maslach, 1982 / 2003; Pritts dkk., 2000) telah mencatat bahwa stress bisa jadi  merupakan respon adaptif  yang memungkinkan individu  menangani situasi yang benar-benar baru. Yang lain cepat menunjukkan bahwa terlalu banyak stress dikaitkan dengan  banyaknya masalah fisik maupun psikologis dan bahwa hal tersebut sangat penting untuk membuat rencana untuk menyebutkan stress dan pemadaman (burn out) (Fava & Sonino, 2000; Leiter & Maslach, 2005). Apa yang dapat dilakukan konselor untuk mencegah terlalu banyak stress? Sebagian orang telah menyarankan bahwa konselor yang efektif  harus senantiasa waspada di dalam mengurus domain sikap, interpersonal, perilaku, emosi, dan fisiknya jika mereka ingini meminimalkan  stress di dalam kehdupan mereka (Kahill, 1988a, 1988b).

Satu metode menilai tingkat kesehatan anda adalah dengan menguji (memeriksa) apa yang telah didentifikasi oleh Myers dan Sweeney (2005) sebagai Pribadi yang Tak dapat Dibagi (Indivisible Self). Model ini memandang  kesehatan (kesejahteraan)  sebagai  faktor utama atau urutan yang tinggi  yang terdiri dari  lima sub-faktor  dan 17 dimensi kesehatan (kesejahteraan) yang tersebar diantara lima faktor. Faktor-faktor tersebut termasuk  pribadi yang kreatif (creative self), pribadi yang dapat mengatasi masalah/ penanggulangan (coping self), pribadi yang berjiwa sosial (social self), pribadi yang memiliki sifat dasar (essential self), dan pribadi yang memiliki fisik (physical self). Sub-faktor yang berjumlah 17 terdapat di dalam daftar dan dijelaskan di dalam Tabel 19.1. Sebuah gambaran visual dari model tersebut dapat dilihat di dalam gambar 19.1.

Disamping terhadap faktor-faktor dan dimensi tersebut, model tersebut meminta untuk melihat (memeriksa) empat konteks atau lingkungan dimana seseorang membuat perasaan kesehatan / kesejahteraan. Gambar 19.1 mengidentifikasi  konteks ini, dan mungkin ingin mempertimbangkan bagaimana tiap-tiap hal tersebut mempengaruhi perasaan kesehatan / kesejahteraan sebagaimana dijelaskan di dalam faktor-faktor dan dimensi tersebut.

Model kesejahteraan / kesehatan ini (wellness model) telah menunjukkan janjinya  sebagai sebuah alat penelitian di dalam memeriksa kesehatan individu (Myers & Sweneey, 2005), dan mungkin perlu menyelesaikan  penilaian informal pada masing-masing faktor dan dimensi tersebut untuk menentukan wilayah mana yang menjadi pusat perhatian (fokus). Misalnya, diberi skor diri dari 1 sampai 10 dari tiap-tiap faktor dan dimensinya, dengan 10 yang menunjukkan kebutuhan yang terbesar yang akan difokuskan pada bidang tersebut. Kemudian tulislah cara-cara yang dapat memperbaiki diri sendiri di bidang apapun dimana  memberikan kepada diri  skor yang lebih tinggi (mungkin antara 7 sampai dengan 10). (Untuk pemeriksaan / penyelidikan yang lebih mendalam / luas tentang skor kesehatan (kesejahteraan)   lihat Myers dan Sweeney, 2005.)

Tentu saja ada banyak cara untuk menjamin bahwa seseorang memperdulikan kesehatannya, tetapi yang disukai dari beberapa pointer  yang disarankan oleh ahli terapi keluarga yang terkenal Carl Whitaker (1976). Berikut ini adalah daftarnya, yang  sedikit diubah:

.            1.   Tempatkan diri  sebagai prioritas.

.            2.   Belajar bagaimana mencintai.

.            3.   Dengarkan kata hati.

.            4.   Dengarkan suara hati, seperti halnya juga kepada orang lain.

.            5.   Nikmati kelebihan  yang lebih dari orang lain.

.            6.   Pisahkan struktur peranan dan otoritas tantangan.

.            7.   Tantanglah diri  sendiri— manusia tidak selalu benar.

.            8.   Bangunlah hubungan jangka panjang sehingga merasa aman dan cukup nyaman untuk mengungkapkan perasaan.

Tabel 19.1

Lima Faktor dan Tujuh Belas Dimensi dari Pribadi yang tak dapat Dibagi
Pribadi Kreatif (Creative Self)

Berpikir. Aktif secara mental, berpikiran terbuka; kemampuan agar menjadi kreatif dan eksperimental; memiliki perasaan rasa ingin tahu; kemampuan untuk menerapkan strategi pemecahan masalah terhadap konflik sosial.

Emosi. Menjadi sadar  atau bersinggungan dengan perasaan seseorang; kemampuan untuk mengungkapkan  secara tepat perasaan positif dan negatif.

Kontrol. Keyakinan terhadap kompetensi, rasa percaya diri, dan penguasaan pribadi; keyakinan bahwa  biasanya dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan bagi diri  sendiri.

Kerja. Kepuasan dengan kerja seseorang; perasaan bahwa ketrampilan seseorang  digunakan dengan semestinya; perasaan bahwa seseorang dapat mengelola beban kerja seseorang ; perasaan pengertian terhadap keamanan kerja; perasaan dihargai di dalam pekerjaan yang dilakukan seseorang.

Pribadi yang dapat Mengatasi masalah (Coping Self)

Waktu luang. Kepuasan dengan waktu seseorang yang dihabiskan pada waktu luang; perasaan bahwa ketrampilan seseorang digunakan sebagaimana mestinya.

Manajemen Stress. Penilaian diri yang sedang berlangsung terhadap sumber daya penguasaan masalah seseorang ; kemampuan untuk mengorganisir / mengelola sumber daya seperti waktu, energi, dan keterbatasan keadaan.

Nilai diri (self-worth). Menerima apa dan siapa seseorang, sifat-sifat positif yang bersamaan dengan ketidaksempurnaannya; perasaan / pengertian menjadi sejati (ikhlas) di dalam diri seseorang dan dengan orang lain.

Keyakinan yang realistis.  Kemampuan untuk memproses informasi dan memahami realitas  secara akurat; tidak adanya  keyakinan dan pikiran irasional yang terus-menerus dan perlunya kesempurnaan.

Pribadi Sosial (Social Self)

Persahabatan. Hubungan sosial yang melibatkan hubungan dengan orang lain secara individu atau di dalam masyarakat, tetapi yang tidak  memiliki komitmen keluarga, seksual atau perkawinan; yang memiliki kapasitas untuk  mempercayai orang lain ; memiliki empati terhadap orang lain; merasa dimengerti oleh orang lain.

Cinta. Kemampuan untuk dekat (intim), memperayai, membuka diri satu sama lain;kemampuan untuk memberi sebagaimana ungkapan kasih sayang  dengan orang lain yang penting dan menerima orang lain tanpa syarat.

Pribadi yang memiliki sifat dasar (Essential Self)

Spiritualitas. Kepercayaan dan perilaku pribadi yang dipraktekkan sebagai bagian dari pengakuan bahwa kita lebih dari sekedar aspek materi dari pikiran dan tubuh; percaya dengan kekuatan yang lebih tinggi; berharap dan optimisme; praktek (melakukan) pemujaan, beribadah (sholat) , dan / atau meditasi; tujuan dalam hidup; perasaan kasih sayang  untuk orang lain; nilai-nilai moral; transendensi ( perasaan kesatuan dengan alam).

Identitas Gender. Kepuasan dengan dan perasaan didukung di dalam gender seseorang; kemampuan untuk menjadi androgyn.

Identitas Kultural. Kepuasan dengan dan perasaan didukung di dalam identitas kultural seseorang; asimilasi budaya.

Perhatian diri. Memikul tanggung jawab untuk kesejahteraan seseorang  melalui perhatian diri (self care) dan kebiasaan yang aman yang bersifat prefentif.

Pribadi yang bersifat Fisik

Nutrisi. Makan makanan  yang seimbang secara nutrisi (gizi);menjaga berat normal ( dalam 15% dari berat ideal).

Olahraga. Melakukan kegiatan olah raga yang cukup melalui latihan (fisik) di dalam pekerjaan seseorang  untuk menjaga  kondisi fisik yang baik.

7. Konselor dalam Proses: Jatuh dibelakang (tertinggal) atau Terus Maju?

Perubahan bisa jadi menyakitkan. Hal tersebut mensyaratkan  berhentinya pandangan hidup terdahulu di dunia dan  mengakomodasi cara-cara yang baru. Bahkan ketika cara-cara lama tidak  tidak berjalan, hal tersebut merupakan jaminan keamanan kita. Itulah yang kita tahu, dan sering merasa lebih aman  untuk tetap melekat dengan hal-hal yang sudah dikenal (familier) daripada mengambil resiko memasuki wilayah yang belum diketahui. Bagaimanapun juga, jika orang tidak takut akan perubahan, mereka akan jarang membutuhkan konselor.

Abad ke-21 membawa banyak tantangan terhadap profesi kita dan terhadap hal-hal biasanya kita melakukan sesuatu.Ketrampilan kita akan dipertanyakan, teori-teori baru akan ditawarkan, garis baru akan ditarik (digambar)  di pasir terhadap persaingan profesional, teknologi baru akan merubah  cara kita melakukan konseling, sejumlah perubahan lainnya yang belum diketahui akan terjadi. Kita memiliki pilihan. Kita dapat terus melakukan bisnis (urusan) seperti biasanya, tidak pernah menghadapi tantangan yang akan datang atau kita dapat menjadi pengambil resiko dan mencoba teori-teori baru, ketrampilan-ketrampilan baru, teknologi baru, dan apapun yang akan datang.

Ada sesuatu yang akan dikatakan untuk tetap menggunakan apa yang telah berjalan. Seperti kursi malas tua kesukaan kita. Kita dapat menyandarkan padanya agar nyaman dan setia pada kita. Kita dapat selalu  jatuh ke belakang di atasnya. Ada sesuatu yang perlu dikatakan untuk mengambil resiko. Seperti bermain roller blade untuk pertama kali, sangat menyenangkan. Sekali suatu waktu anda dapat jatuh, tetapi umumnya anda akan berakhir di atas kaki anda.

Ketika anda meniti karir sebagai konselor, apakah anda merasa nyaman di kursi malas anda atau anda terombang-ambing?

Gambar 19.1 Pribadi yang Utuh (Tak dapat dibagi): Model Kesehatan (kesejahteraan) yang Berdasar  Bukti

Konteks

Lokal (keamanan)

Keluarga

Lingkungan sekitar

Masyarakat

Kelembagaan (Kebijakan dan hukum)

Pendidikan

Agama

Pemerintahan

Bisnis / Industri

Global (peristiwa dunia)

Politik

Budaya

Peristiwa dunia

Lingkungan

Media

Masyarakat

Kronometrik (rentang kehidupan)

Terus-menerus Positif

Memiliki Tujuan

Penjelasan Gambar:

Lingkaran besar disebut Pribadi yang Utuh

Lima lingkaran kecil, dari kiri atas searah jarum jam : KREATIF. COPING, SOSIAL ESENSIAL DAN FISIK yang memiliki unsur masing-masing, yaitu :

KREATIF terdiri dari

Berpikir, Emosi, Kontrol, Kerja, Humor positif

PENANGGULANGAN (COPING) Terdiri dari :

Waktu luang, Manajemen stress, Nilai diri, Keyakinan realistis

SOSIAL Terdiri dari :

Persahabatan, Cinta

ESSENSIAL Terdiri dari :

Spiritualitas, Identitas gender, Identitas Budaya, Perhatian diri

FISIK Terdiri dari :

Latihan , Nutrisi






CHAPTER 11

9 01 2010

BAB 11
PERKEMBANGAN KARIR: KONSELOR DAN DUNIA KERJA
Ayahku adalah seorang kontraktor bangunan. Ketika aku masih kecil ia selalu mengajakku ke berbagai tempat konstruksi, dan aku melihat bangunan yang  perlahan-lahan mulai dibangun. Sebagai seorang remaja, selama musim panas, aku dibantu seorang tukang kayu atau buruh di situs. Aku ingat mulai mencangkul pukul setengah enam pagi, sesak setengah tertidur di dalam kabin dari sebuah truk, yang akan di pasang untuk bekerja. Aku berpikir dalam hati, “Apakah ini yang ingin aku lakukan untuk sisa hidupku?” Untungnya, karena aku lakukan dengan baik di sekolah, aku tahu aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi untuk melakukan apa?
Jurusan biologi dan aku berpikir, aku tidak akan diterima di sekolah kedokteran, aku memilih kedokteran gigi sebagai pilihan pekerjaanku. keputusanku sudah bulat, pikirku. Tetapi beberapa hal aku merasa ada sesuatu yang belum tepat. Walaupun hatiku berkata, “Pergilah ke sekolah kedokteran gigi,” bisikan dari jauh kudengar, “Ini bukan untuk Anda, Anda memiliki hal-hal lain yang harus dilakukan dalam hidup Anda, hal-hal lain yang melibatkan orang-orang terbantu dengan cara yang lain”. Perasaan dan pikiran ini berbeda, pasti karena banyak hal yang aku pertimbangkan, termasuk nilai-nilai keluargaku, kedudukan dalam keluargaku, minatku, nilai-nilai yang muncul dalam diriku sendiri, dan kemampuanku.
Walaupun itu keputusan yang sulit, akhirnya aku memilih untuk mendengarkan suara batinku, dan aku beralih ke jurusan psikologi. Akhirnya, aku melalui percobaan yang dipilih dan kadang-kadang gagal, saya berakhir di bidang konseling. Tidak diragukan lagi, hidupku akan terasa lebih mudah jika aku mempunyai manfaat dari konselor karier yang bisa membantuku menilai apa yang aku suka dan tidak suka, prinsipku, dan kemampuanku; membantuku memahami kepribadianku, difasilitasi pengetahuan diri dan refleksi dalam diri; dan membantuku dalam menerapkan semua pengetahuan ini untuk perjalanan perkembangan karirku.
Saat dalam perjalanan karirku, aku terus dihadapkan dengan sejumlah pilihan. Haruskah aku pergi untuk gelar doktor? Haruskah aku pergi ke arah pekerjaan klinis atau akademi? Haruskah aku mengubah jalur karir yang berbeda? Sekali lagi, tampaknya pilihan saya sering menjadi produk trial and error. Aku akan mencoba sesuatu untuk melihat apakah aku menyukainya dan jika aku bisa melakukan dengan baik, dan kemudian aku akan membuat keputusan tentang arah masa depan karirku. Namun, seperti yang aku dapatkan lebih banyak kesadaran dan memulai untuk lebih memahami proses pengembangan karir, aku melihat bahwa aku bisa memilih arah sendiri dalam hidup ini jika aku telah cukup pengetahuan tentang diriku sendiri dan pengetahuan tentang dunia kerja. Tidak akan lagi terjadi pengambilan keputusan karirku menjadi sebuah kegagalan. Aku mulai bisa memilih masa depanku!
Terlepas dari kenyataan bahwa aku telah cukup puas dengan pilihanku, ada saat-saat ketika hidupku merasa belum lengkap. Oleh karena itu, aku mengisi kegiatan-kegiatan lain pada waktu-waktu kosong. Dalam pertengahan usiaku menginjak dua puluhan aku mulai joging. Tahun demi tahun terus berjalan, berlari dan aerobik menjadi kegiatan rutin dalam hidupku. Mereka menawarkan solusi untuk mengatasi masalahku, membawaku ke suatu tempat untuk dapat ­bertemu dengan orang lain, dan kegiatan yang bisa membawa sejenak melupakan keruwetan dari pekerjaanku. Di awal empat puluhan saya menikah, dan segera setelah itu, aku adalah seorang ayah. Sebagai peran baru dalam kehidupan, saya menemukan bahwa aku harus menyeimbangkan peranku sebagai seorang profesor, dokter, berolahraga, dan penulis dengan  peranku sebagai seorang suami dan ayah.
Ceritaku, dengan lika-likunya adalah sesuatu yang umum. Orang cenderung sembarangan menjalani hidup tanpa memanfaatkan bimbingan, kadang-kadang secara intuitif bergerak menuju ke arah kehidupan mereka yang terbaik. Namun, banyak orang tidak bahagia dengan pekerjaannya dan peran hidup lainnya.
Jika diberi kesempatan untuk konseling karier, banyak yang akan menjadi lebih mudah dalam menentukan perjalanan kehidupan mereka. Mereka akan dapat lebih cerdas dalam menentukan pilihan pada pekerjaan dan kehidupannya. Itulah sebabnya bab ini sangat penting. Bab ini menjelaskan proses pengembangan karier, yang berperan penting bagi kepuasan hidup, dan peran konselor dalam memfasilitasi pengembangan karir.
Bab ini meneliti proses pengembangan karir dan secara khusus mengkaji bagaimana individu dalam membuat pilihan karir, arti kerja dalam kehidupan masyarakat, teori-teori utama dari pengembangan karir, dan beberapa sistem informasi karir yang tersedia. Selain itu, kami akan menyimpulkan bab ini dengan memeriksa isu-isu multikultural yang berkaitan dengan pengembangan karir, dan etis, profesional, dan isu-isu hukum dalam bidang pengembangan karir.
Beberapa Definisi
Proses pengembangan karier mungkin merupakan satu hal yang paling mungkin disalahpahami konseling-terkait subjek/manusia. Oleh karena itu, sangat penting untuk memulai dengan definisi dasar. Definisi berikut, disintesis oleh beberapa penulis terkemuka, yaitu istilah-istilah yang terkait dengan proses pengembangan karir (Herr et al., 2004; Isaacson & Brown, 2000; Sears, 1982; Super, 1976). Perlu diketahui bahwa beberapa definisi tersebut mungkin tidak sama dengan kita pada umumnya, yaitu:

Kegemaran. Sebuah kegiatan yang dipilih dan diminati oleh seseorang karena memberikan kepuasan pada orang itu dan memenuhi aspek penting dari kehidupan seseorang. Mungkin atau tidak mungkin menghasilkan pendapatan.
Karir. Totalitas kehidupan kerja dan peran dimana seorang individu dapat mengekspresikan dirinya sendiri. Mungkin termasuk pekerjaan, waktu luang, dan kegiatan hobi.
Kesadaran Karir. Salah satu kesadaran tentang keputusan yang berhubungan dengan karier, yang dapat difasilitasi melalui ujian diri dari  nilai-nilai, kemampuan, preferensi/kesukaan, pengetahuan tentang pekerjaan dan peran hidup, dan kepentingan.
Pengembangan karier. Seluruh aspek dari psikologis, sosiologis, pendidikan, fisik, ekonomi, dan faktor-faktor lain yang berperan dalam membentuk karier seseorang selama hidupnya.
Konseling Karir. Konseling individu atau kelompok yang terfokus pada peningkatan kesadaran karier dan pembinaan dalam pengambilan keputusan yang relatif terhadap tujuan-tujuan karir.
Bimbingan Karir. Suatu program, yang dirancang oleh konselor, yang menawarkan informasi tentang pengembangan karir dan memfasilitasi individu terhadap kesadaran karier.
Tingkatan Karier. Urutan posisi dan/atau pekerjaan yang biasanya menandakan kemajuan potensial.
Pekerjaan. Posisi didalam lingkungan kerja tertentu (misalnya, sekolah, kantor, bisnis) dan lain-lain yang serupa.
Kenyamanan. Waktu yang diambil dari usaha yang diperlukan (misalnya, pekerjaan atau kedudukan) dalam rangka untuk menjalankan kegiatan pilihannya sendiri yang menunjukkan kemampuan dan/atau kepentingan seseorang
Kedudukan. Pekerjaan yang dapat ditemukan dalam beberapa lingkungan kerja dan mengandung arti mengejar tambahan jenis-jenis pekerjaan seseorang.
Bekerja. Upaya yang dilakukan pada suatu pekerjaan, kedudukan, atau kegemaran sehari-hari untuk menghasilkan atau mencapai sesuatu.
Apakah Pengembangan Karir Senantiasa Berkembang?
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa bab mengenai pengembangan karir termasuk dalam bagian tentang pembangunan manusia. Bahkan, pengembangan karir adalah perkembangan karena meneliti proses pengambilan keputusan karir seorang individu sebagaimana yang terjadi melalui tahapan yang berbeda seumur hidup. Sayangnya, saya menemukan bahwa ketika kebanyakan orang berpikir tentang pengembangan karir, mereka berpikir bahwa itu adalah proses mencari pekerjaan. Pada kenyataannya, jauh lebih dari itu. Bahkan, pengembangan karir mencakup semua hal berikut:
• Usia 3 tahun, bermain rumah-rumahan atau palu pasak ke dalam lubang.
• Usia 5 tahun, mulai bergabung dengan liga T-bola.
• Usia10 tahun, masa pemuda yang memiliki peran beberapa macam.
• Usia 12 tahun, mulai memeriksa kemampuannya baik suka dan tidak suka.
• Usia 14 tahun, tiba-tiba menemukan bahwa orangtuanya bercerai.
• Usia 17 tahun, menentukan kuliah apa yang akan diambil dan usia 17 tahun

juga memikirkan pekerjaan apa yang akan diambil setelah SMA.
• Usia 25 tahun, mengambil pekerjaan baru dan juga memimpin kelas aerobik.
• Usia 30 tahun, memberikan pekerjaan secara penuh untuk merawat anak.
• Usia 37 tahun, dipromosikan dan menjadi wakil presiden PTA lokal.
• Usia 45 tahun, membenci pekerjaannya, tetapi terus bekerja untuk mencari uang,

di samping itu tetap menjaga hobi yang menyenangkan.
• Usia 50 tahun, bertanya-tanya, “Apakah ini semua ada?”
• Usia 60 tahun, merenungkan apakah dia harus pensiun dalam dua tahun.
• Usia 70 tahun, tidak bekerja, telah mengangkat keluarga, dan telah menjadi

turnamen yang cukup baik sebagai pemain bridge.

• Usia 85 tahun, merefleksikan kembali pada berbagai peran kehidupannya.

Pengembangan karir adalah pembangunan seumur hidup (Super & Hall, 1978). Hal ini dinyatakan melalui pekerjaan, kedudukan, aktivitas rekreasi, dan kegemaran yang telah kita pilih. Paling penting, adalah bagaimana pengalaman kita sendiri dalam semua peran kehidupan kita. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal dari pesan yang kita terima baik dari orangtua kita, dari komunitas kita, dari afiliasi keagamaan kita, dan dari masyarakat. Hal ini berkelanjutan, dan tidak akan berakhir sampai kita mati.
Mengapa Pengembangan Karir dan Konseling Karir?
Saya harap sekarang Anda mulai memahami bahwa pengembangan karir tidak hanya proses mencari pekerjaan, tetapi pengembangan semua hidup kita dengan berbagai peran dan faktor-faktor yang membentuk mereka. Hal ini tercermin dalam bagaimana dari kita masing-masing mengungkapkan identitas kita melalui peran yang kita pilih. Konseling karir membantu individu menavigasi proses pengembangan karir. Dengan demikian, konseling karir membantu anak usia 3 tahun dalam mengembangkan kesadaran diri, membantu anak usia 12 tahun dalam memahami apa yang baik dan apa yang dia suka, membantu remaja usia 17 tahun dalam memilih perguruan tinggi atau pekerjaan, membantu klien mempertimbangkan kepentingan relatif untuk menjadi orangtua dan bekerja di sebuah pekerjaan tertentu, membantu orang yang bekerja melalui isu-isu setengah baya, membantu individu ketika ia menyiapkan diri untuk pensiun, dan mengenang masa lalu dengan orang yang lebih tua tentang hidupnya. Konseling karier membantu untuk meningkatkan kesadaran seseorang tentang pilihan dia membuat keputusan hidup.
Konseling karier yang memadai dapat membantu kita dalam membuat pilihan cerdas pada suatu pekerjaan dan peran hidup lainnya. Pekerjaan yang kita pilih adalah bagian yang penting dari proses pengembangan karir kita dan melayani sejumlah hal yang penting: ekonomi, sosial, dan kebutuhan psikologis bagi individu (lihat Tabel 11.1). Banyak penelitian menunjukkan bahwa perencanaan karir dan konseling karir terkait dengan kepuasan kerja dan kesehatan mental yang positif (Spokane, Meir, & Catalano, 2000; Ton & Hansen, 2001; Verquer, Behr, & Wagner, 2003). Ini bukan sebuah lompatan besar untuk menyadari bahwa perencanaan karir yang memadai dan konseling karir dapat membantu kita merasa lebih baik dalam kehidupan kita. Inilah sebabnya mengapa konseling karier begitu penting untuk memfasilitasi perkembangan karir klien.
TABEL 11.1

Perbedaan tujuan akan pekerjaan dapat melayani:
EKONOMI SOSIAL PSIKOLOGI
Pemuasan keinginan atau kebutuhan

Akuisisi aset fisik

Keamanan terhadap kemungkinan masa depan

Aset yang digunakan untuk investasi atau menangguhkan kepuasan

Pembelian barang dan jasa

Bukti keberhasilan

Aset untuk membeli waktu luang atau waktu luang

Tempat untuk bertemu orang-orang

Potensi persahabatan

Hubungan kemanusiaan

Status sosial bagi pekerja dan keluarga

Merasa menjadi dihargai oleh orang lain.

Untuk apa menghasilkan sesuatu?

Merasa dibutuhkan orang lain untuk mendapatkan pekerjaan yang dilakukan atau untuk mencapai tujuan bersama

Tanggung Jawab

Harga diri
Identitas

Kesadaran untuk memerintah

Dapat diandalkan, keandalan

Perasaan kepemimpinan atau kemampuan

keberhasilan diri

Komitmen, Personal evaluasi                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

SUMBER: Dari EC Herr, SH Cratncr, Karir Bimbingan dan Konseling Melalui Life Span, 6e. Diterbitkan oleh Allyn and Bacon, Boston, MA. Copyright © ZC04 oleh Pearson Education. Dicetak ulang dengan izin dari penerbit.

Sejarah Singkat
Profesi konseling keberadaannya dibutuhkan untuk bimbingan jabatan. Pada pergantian abad kedua puluh, pada saat revolusi industri, datanglah banyak perubahan secara demografis diseluruh Amerika Serikat. Hampir dalam semalam, terjadi arus besar orang dari daerah pedesaan pindah ke kota-kota, peningkatan jumlah imigran yang menetap terutama di daerah perkotaan dan dengan ini, peningkatan besar dalam jumlah anak-anak di sekolah-sekolah kota. Pergeseran jenis pekerjaan yang tersedia terlihat jelas seperti kebutuhan untuk membantu penduduk kota baru ini dan siswa dalam pengembangan jabatan mereka.
Salah satu orang yang pertama dikreditkan dengan mengembangkan pendekatan sistematis bimbingan jabatan adalah Frank Parsons (McDaniels & Watts, 1994). Seperti tercantum dalam Bab 2, Parsons memikirkan secara sistematis bimbingan jabatan di sekolah, gerakan bimbingan jabatan nasional, dan pentingnya konseling untuk membantu individu dalam pengembangan jabatan mereka (Jones, 1994). Parsons, orang yang berjiwa kemanusiaan, kemudian dikenal sebagai pendiri bimbingan jabatan dan menyarankan bahwa bimbingan jabatan melibatkan proses tiga langkah yang mencakup mengetahui diri sendiri, mengetahui karakteristik pekerjaan, dan memadukan antara keduanya melalui “penalaran yang benar” (Parsons, 1909 / 1989, Paus &. Sveinsdottir, 2005). Menyadari akan pentingnya bimbingan jabatan, mereka yang beralih pada musik. Individu-individu seperti Jesse Davis di Grand Rapids, Michigan; Eli Weaver di New York City; dan Anna Reed di Seattle mendirikan layanan bimbingan di sistem sekolah masing-masing (Aubrey, 1977).
Pada tahun 1932, selama pertengahan mengalami depresi, UU Wagner O’Day disahkan mendirikan Layanan Ketenagakerjaan AS, yang memberikan bimbingan jabatan untuk para penganggur. Juga sekitar waktu ini, gerakan pengujian mulai menyebar. Penggabungan bimbingan jabatan dengan pengujian adalah kemitraan alami karena menawarkan penilaian yang relatif cepat dan dapat diandalkan cara menentukan sifat-sifat individu. Itu juga selama ini bahwa kerangka waktu. US Departemen Tenaga Kerja menerbitkan Dictionary of Occupational Titles, yang mewakili salah satu upaya pertama mengorganisir informasi karir. Sekarang, setiap orang dapat menilai sifat dan mencocokkan mereka pada pekerjaan yang ada.

1950-an adalah awal dari munculnya teori pengembangan karir. Misalnya, bahwa Ann Roe mengembangkan sistem klasifikasi konseling karier yang bergantung pada pengalaman anak usia dini dalam menentukan karier. Teori-teori lain selama dekade ini mulai fokus pada proses pengembangan karir. Alih-alih hanya berfokus pada pekerjaan membuat pilihan, penekanan sekarang ditempatkan di salah satu pola karir seumur hidup, dengan konsep karir didefinisikan sangat luas. Sekarang, kegiatan di waktu luang, avocations, pekerjaan, dan pasca-pola kejuruan yang berkaitan dengan pensiun semua akan dianggap sebagai komponen penting seseorang “pengembangan karier.” Satu teori, diusulkan oleh sebuah tim yang terdiri dari seorang ekonom, seorang sosiolog, seorang psikiater, dan seorang psikolog (Ginzberg, Ginsburg, Axelrad, &. Herma, 1951; Ginzberg, 1972), dan teori kedua, yang dikembangkan oleh Donald Super (Super , 1957, 1990), adalah alat dalam mengubah bimbingan jabatan untuk perkembangan bimbingan karir dan konseling (Walsh & Osipow, 1988).

Dengan munculnya pendekatan konseling humanistik, serta inisiatif pemerintah seperti Undang-Undang Pendidikan Pertahanan Nasional, yang menekankan bimbingan karier di sekolah-sekolah, model komprehensif baru bimbingan karier dikembangkan pada 1960-an dan 1970-an. Dalam model ini, bimbingan karier dilihat secara luas dan mencakup: (1.) Seumur hidup yang berfokus pada pola pengembangan karir, (2) membantu individu dalam membuat pilihan yang merefleksikan kesadaran diri mereka; (3) memeriksa aktivitas waktu luang dan hobi ketika bekerja dengan klien; (4 ) melihat perkembangan karir sebagai sebuah proses yang fleksibel dan dapat berubah, dibandingkan dengan yang kaku  proses ireversibel dari sebelumnya; dan (5) menekankan pada individu, bukan penasihat, sebagai pembuat keputusan karir (Herr, Cramer, & Miles, 2004) . Selama tahun 1970-an kita juga melihat munculnya kepribadian John Holland teori konseling karier, yang meneliti pentingnya bagaimana kepribadian individu yang “cocok” ke dalam lingkungan kerja yang berbeda.

1980-an dan 1990-an mengembangkan gagasan bahwa pengembangan karir adalah proses di mana konselor dapat membantu individu dalam menentukan peran hidup mereka. Seperti tahun 1990-an membuka lipatan, umur komputer perusahaan itu terus berlanjut dalam aplikasi konseling karir dan membawa kekayaan informasi yang dapat diakses cepat yang memungkinkan untuk eksplorasi dunia kerja. Evolusi model pengembangan karir dalam kaitannya dengan teknologi baru ini membuat eksplorasi karir yang menyenangkan dan proses mendalam. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat perluasan dari beberapa model sebelumnya pengembangan karir serta penambahan beberapa model-model baru, termasuk Karir Teori Kognitif Sosial dan Teori Konstruktivis. Baru-baru ini, kita telah melihat penulis mencoba mengintegrasikan dari berbagai model pengembangan karir.

Hari ini, bimbingan karier dan konseling karier merupakan komponen penting dari apa yang semua konselor lakukan. Ini adalah salah satu alasan pengembangan karir dan umur telah dipilih oleh CACREP sebagai wilayah konten penting bagi program pascasarjana dalam konseling.
Teori Pengembangan Karir
Sekarang, ada banyak teori pengembangan karir yang dapat membantu konselor dalam membantu untuk memahami bagaimana klien mendekati dunia kerja dan merancang strategi untuk membantu para klien dalam pencarian karir. Meskipun teks ini tidak membahas semua teori, namun kita akan membahas beberapa dari mereka yang telah disorot dalam literatur, termasuk zaman modern teori sifat dan faktor, teori kepribadian John Holland dalam pilihan pekerjaan, teori Ann Roe’s psikodinamik, teori Super tentang pembangunan jangka hidup, Teori Kognitif Sosial Karir, dan Pendekatan Pengembangan konstruktif. Setelah mengetahui semua teori-teori ini, kami akan menawarkan Anda sebuah pendekatan integratif dalam konseling karier.
Pendekatan Sifat dan Faktor
Pendekatan sifat dan faktor, awalnya diusulkan dalam karya awal dari Frank Parsons, yaitu teori utama pengembangan karir, selama bertahun-tahun, mempertahankan popularitasnya hingga 1950-an. Pendekatan ini awalnya adalah sebuah proses sederhana yang melibatkan konselor membantu klien dalam menilai kekuatan nya, memeriksa ketersediaan pekerjaan, dan menggunakan proses rasional untuk membuat keputusan karir. Pendekatan yang berfokus pada penilaian kemampuan dan kepentingan, adalah sebagian besar didaktik dan direktif.

Meskipun teori sifat dan faktor menekankan pada pentingnya kesesuaian antara individu dan lingkungan, Namun dalam sifat dan faktor, konselor telah memperluas peran mereka. Berikut ringkasan beberapa prinsip-prinsip penting yang dipegang oleh teori  sifat dan faktor (Brown, 1984; Herr, Cramer, & Miles, 2004; Miller, 1974; Swanson, 1994):

  1. Setiap individu memiliki karakter yang unik yang dapat diukur, dibahas, dan diperiksa. Beberapa di antaranya adalah bakat, kebutuhan dan kepentingan, nilai, keteguhan dan harapan, penyesuaian psikologis, kecenderungan untuk mengambil risiko, dan aspirasi
  2. Pekerjaan mengharuskan bahwa individu hendaknya memiliki sifat-sifat tertentu jika mereka ingin menjadi sukses dalam pekerjaannya.
  3. Semakin baik kemampuan individu untuk menempatkan sifat-sifatnya dalam pekerjaan, maka semakin besar kemungkinan individu tersebut untuk meraih kesuksesan dan  merasa puas.
  4. Interaksi antara klien dan terapis adalah sebuah proses dinamis yang meliputi komponen afektif dan kognitif.
  5. Kemampuan individu untuk menempatkan sifat-sifatnya dalam pekerjaan adalah sebuah proses sadar yang terjadi dalam bentuk usaha yang penuh pertimbangan. Namun demikian, ketepatan sifat tersebut hanya dapat efektif jika seseorang memiliki wawasan dan pengetahuan tentang keunikan karakter dirinya sendiri dan faktor-faktor sosiologis yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam pengambilan keputusan

Sekarang, sifat dan faktor konselor tidak hanya sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan dengan pekerjaan, tetapi menggunakan berbagai variabel untuk mengkaji bagaimana menyiapkan keterampilan yang dimiliki klien, minat, dan kepribadian yang mungkin mempengaruhi pilihan karir. Hal ini dilakukan dengan cara yang dinamis, di mana konselor melalui penggunaan teknik konseling modern, membantu dalam pemahaman diri klien dan membantu klien dalam membuat keputusan terhadap pilihan karir.
Teori Kepribadian John Holland  dalam pemilihan pekerjaan.

John Holland mengembangkan teori pilihan pekerjaan yang menyatakan bahwa orang mengekspresikan kepribadian mereka melalui pilihan karir yang mereka buat (Belanda, 1973; Holland &. Gottfredson, 1976). Menganggap baik anatra teori kepribadian dan teori sifat dan faktor (Dawis, 2005; Spokane, Luchetta, & Richwine, 2004), Teori Holland menyatakan bahwa teori genetik dan pengaruh lingkungan mempengaruhi orang-orang untuk mengembangkan “tingkatan kebiasaan atau pilihan metode untuk menghadapi tugas dalam sosial dan lingkungan” (Herr, Cramer, & Niles, 2004, hal 211). Pada dasarnya, kami akan sangat senanng jika kita bisa mengidentifikasi kepribadian unik kami dan menemukan kecakapan yang cocok untuk mereka di dunia kerja.

Holland mengidentifikasi enam tipe kepribadian yang ia percaya mewakili dari sejumlah unsur-unsur utama, di mana perbedaaan individu-individu dan pemberian nama mereka yang mencerminkan orientasi mereka: realistis, investigasi, artistik, sosial, giat, dan konvensional (lihat Kotak 11.1). Holland menegaskan bahwa ada banyak pekerjaan yang dapat ditampung tipe kepribadian seseorang. Dengan demikian, individu dengan tipe kepribadian yang sama namun kemampuan yang berbeda dapat menemukan sejumlah pekerjaan di mana mereka bisa mengekspresikan tipe kepribadian mereka.

Meskipun orang bisa menjadi tipe murni, lebih biasa bagi seorang individu untuk memiliki dua atau lebih jenis yang dominan. Dengan listing individu atas tiga tipe dalam urutan preferensi, kita dapat menemukan apa yang disebut kode pekerjaan seseorang. Holland melakukan penelitian yang mendukung gagasan bahwa enam tipe kepribadian dapat dilihat melalui segi enam, dengan berbagi jenis elemen yang berdekatan lebih umum daripada yang tidak berdampingan (lihat Gambar 11.1). Secara umum, tipe dominan dan tipe sekunder yang dimiliki seorang individu adalah dekat satu sama lain yang tampak pada segi enam. Sebagai contoh, jika seorang individu sangat unggul dalam tipe sosial, maka dari itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan jika tipe artistik dan giatnya juga tinggi karena terletak disamping tipe sosial pada segi enam.

Belanda juga menegaskan bahwa pekerjaan dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe. Dengan demikian, dia memperkirakan bahwa jika Anda secara akurat sesuai kode individu dengan pekerjaan yang memiliki kode yang sama, Anda dapat meningkatkan kesempatan Anda meraih kepuasan pada pekerjaan dan kariernya. Dengan demikian, individu dengan kode SAE bisa disesuaikan dengan pekerjaan “konselor,” yang memiliki kesesuaian kode yang sama. Penelitian pada kode Holland telah telah banyak dan telah menunjukkan bahwa kesesuaian yang  akurat memang meningkatkan peluang pada kepuasan kerja (Spokane et al., 2000; Jagger, Neukrug, & McAuliffe, 1992). Perlu diingat, bahwa ada banyak pilihan lain selain SAE konselor.

Holland dan yang lainnya telah bekerja keras untuk mengidentifikasi kode yang paling sesuai dalam berbagai pekerjaan. Sebagai contoh, Gottfredson, Holland, dan Ogawa (1996) mengidentifikasi kode pekerjaan lebih dari 12.000 pekerjaan dan kode-kode ini dipublikasikan dalam buku The Dictionary of Occupational Dia-Hand Codes, Dengan mengambil satu atau lebih dari sejumlah instrumen penilaian (misalnya , Kuat Interest Inventory, Consulting Psyehologist Press, 2004b; Self-Directed Search, Belanda, 1994), seorang individu dapat menentukan kode Hollandnya dan kemudian mencocokkan dengan kode pekerjaan. Anda mungkin ingin melakukan latihan di Gambar 11.2 jika Anda ingin cara cepat mendapatkan kode Holland Anda.

Teori Holland telah digunakan secara luas oleh konselor karier, dan itu untuk kreditnya dengan instrumen penilaian nomer untuk menentukan kode seseorang yang telah dikembangkan. Selain itu, penelitian secara konsisten menunjukkan pentingnya teori Holland ketika bekerja dengan klien. John Holland secara pasti memberikan banyak bantuan untuk konseling karier.

BOX 11.1
Teori Kepribadian Holland dan Jenis/Tipe Pekerjaan
Realistis: Orang yang realistis suka bekerja dengan peralatan, mesin, atau peralatan, sering lebih suka bekerja di luar rumah, dan memanipulasi benda-benda fisik. Orang-orang ini lebih memilih untuk menghindari situasi sosial, artistik, atau tugas intelektual. Beberapa contoh dimana Anda mungkin menemukan individu yang realistis seperti orang yang bekrja di: SPBU, pertanian, toko mesin, konstruksi, dan pembangkit listrik.
Investigasi: orang yang bersifat investigasi suka berpikir abstrak, memecahkan masalah, dan menyelidiki sesuatu. Orang-orang ini merasa nyaman mencari pengetahuan dan memanipulasi ide-ide dan simbol. individu yang bersifat investigasi lebih suka menghindari situasi sosial dan menjadi pribadi yang introver (tertutup). Beberapa contoh di mana Anda mungkin menemukan individu investigatif meliputi penelitian laboratorium, rumah sakit, universitas, dan pemerintah-lembaga penelitian yang disponsori.
Artistik: individu yang bersifat artistik lebih suka untuk mengekspresikan diri secara kreatif, biasanya melalui bentuk-bentuk artistik seperti drama, seni, musik, dan menulis. Mereka lebih memilih kegiatan tidak terstruktur di mana mereka dapat menggunakan imajinasi dan sisi kreatifnya. Beberapa contoh di mana Anda mungkin menemukan individu termasuk seni teater, ruang konser, perpustakaan, seni atau studio musik, studio tari, orkestra, fotografi studio, koran, dan restoran.
Sosial: orang yang bersifat sosial memiliki jiwa pengasuh, pembantu, dan pengasuh dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Mereka sangat introspektif dan mendalam dan lebih suka lingkungan kerja yang dapat mengembangkan keterampilan intuitif dan pengasuhan. Beberapa contoh di mana Anda mungkin menemukan orang-orang sosial seperti: lembaga pemerintah pelayanan sosial, konseling kantor, gereja, sekolah, rumah sakit jiwa, pusat rekreasi, personalia kantor, dan rumah sakit.
Giat: individu yang bersifat Enterprising memiliki sifat percaya diri, petualang, berani, dan ramah. Mereka memiliki kemampuan persuasif yang baik dan lebih menyukai posisi kepemimpinan. Mereka cenderung mendominasi percakapan dan menikmati lingkungan kerja yang dapat memenuhi kebutuhan mereka akan pengakuan, kekuasaan, dan ekspresi. Beberapa contoh di mana Anda mungkin menemukan individu giat termasuk lembaga asuransi jiwa, agen periklanan, kantor politik, real estat kantor, mobil bekas baru dan banyak, kantor penjualan, dan posisi manajemen.
Konvensional: Individu yang berorientasi konvensional cenderung stabil, terkontrol, konservatif, dan ramah. Mereka lebih suka bekerja pada tugas-tugas konkrit dan suka mengikuti instruksi. Mereka menghargai dunia bisnis dan tugas-tugas ulama dan cenderung lebih baik pada kemampuan berhitung. Beberapa contoh di mana Anda mungkin menemukan orang-orang konvensional, termasuk bank, pusat bisnis, akuntansi perusahaan, dan kantor catatan medis.
SUMBER: Direproduksi dengan izin khusus dari Penerbit, Psikologi Penilaian Resources, Inc, dari Profesional Making Choices, Copyright 1973, 1985, 1992, 1997 oleh Psikologi Penilaian Resources, Inc All rights reserved

Gambar 11.1

Model Segi Enam Holland

SUMBER: Direproduksi dengan izin khusus dari Penerbit, Psikologi Penilaian Resources, Inc, dari Profesional Making Choices, Copyright 1973, 1985, 1992, 1997 oleh Psikologi Penilaian Resources, Inc All rights reserved

Realistis                      Investigasi

Konvensional                                                                         Artistik

Enterprising               Sosial

Gambar 11.2
Menemukan kode Holland Anda

Investigasi: Orang yang suka untuk menyelidiki, berpikir secara abstrak, dan melakukan pemecahan masalah, tapi menghindari situasi sosial dan cenderung tertutup.
Realistis: Orang yang praktis, kuat, memiliki keterampilan fisik yang baik, menyukai hal di luar ruangan, dan menghindari situasi sosial, intelektual, dan artistik
Artistik: Orang yang mengekspresikan diri melalui seni, kreatif dan imajinatif, menyukai kegiatan yang tidak terstruktur, dan cenderung sensitif, introspektif, dan mandiri.
Konvensional: Orang yang konkret, suka bekerja dengan data, dan lebih menyukai pemecahan masalah. Mereka lebih memilih tugas ulama dan cenderung rapi, ikuti instruksi, dan mencari persetujuan sosial
Sosial: Orang yang senantiasa memperhatikan orang lain, pengasuh, introspektif, dan bertanggung jawab, menyukai situasi sosial dan terampil dalam berkomunikasi secara verbal
Giat: Orang yang persuasif, percaya diri, suka memimpin, dan melihat dirinya sebagai pribadi yang stabil, ramah, petualang, berani, dan percaya diri

Ambil huruf pertama dari grup untuk masing-masing dari tiga kelompok pertama yang Anda ambil, dari urutan yang Anda pilih; ini adalah kode Anda. Sebagai contoh, saya memilih kelompok sosial pertama, kelompok artistik kedua, dan kelompok Enterprising ketiga. Oleh karena itu, kode Holland saya akan SAE.

Teori psikodinamik Ann Roe

Pada tahun 1956 Ann Roe mengembangkan teori yang agak rumit bahwa berdasarkan pilihan karier ke tingkat yang besar pada awal jenis pengasuhan yang diterima (Roe, 1956). Roe berhipotesis bahwa orang tua dapat digolongkan sebagai hangat atau dingin dan kedua hasil gaya tersebut menghasilkan salah satu dari tiga jenis iklim emosional: emosi konsentrasi pada anak, penerimaan terhadap anak, atau menghindari si anak (lihat Gambar 11.3). Tipe iklim emosional dalam rumah akan menghasilkan satu dari enam jenis hubungan orangtua dengan anak, yang mempengaruhi pilihan jenis-jenis pekerjaan anak yang akan direncanakan (Roe & Siegelman, 1964). Gaya pengasuhan, menurut Roe, hasil akhirnya dalam individu adalah memiliki salah satu dari delapan bentuk orientasi terhadap dunia kerja: pelayanan (I), bisnis (II), organisasi (III), teknologi (IV), outdoor/lapangan (V), ilmu pengetahuan (VI), budaya umum (VII), dan seni dan hiburan (VIII).

Peterson, Sampson, dan Reardon (1991) menjelaskan Roe perbedaan gaya pengasuhan orang tua dan kemungkinan pengaruhnya terhadap pemilihan pekerjaan mereka:

  1. Protektif. Orangtua memanjakan dan mencurahkan segenap kasih sayang dan memberikan hak-hak istimewa anak. Rumah dapat digambarkan berpusat pada anak Anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga jenis ini cenderung tertarik ke layanan, seni, atau bidang hiburan.
  2. Menuntut. Orangtua memiliki harapan yang tinggi pada keberhasilan dan memaksakan peraturan yang ketat dan ketaatan. Anak-anak yang tumbuh dewasa dalam lingkungan jenis ini dapat berorientasi pada budaya umum (pengacara, guru, ulama, pustakawan) atau ke bidang seni dan hiburan
  3. Menolak. Para orangtua tidak menerima anak sebagai anak, mungkin bahkan tidak sebagai seorang individu. Mereka sering dingin, bermusuhan, dan menghina, membuat anak merasa rendah diri dan tidak diterima. Penolakan itu menjadikan anak-anak cenderung untuk mengejar pekerjaan ilmu pengetahuan.
  4. Mengabaikan. Orangtua mengabaikan anak, mereka memberi sedikit perhatian, baik positif atau negatif. Mereka menyediakan perawatan fisik minimum dan kurang kedekatan secara emosional. Diabaikan tersebut menjadikan anak-anak cenderung mengembangkan ilmu pengetahuan dan tertarik di luar rumah.
  5. Casual. Para orangtua memberikan perhatian fisik dan emosional kepada anak, setelah hal-hal prioritas yang lebih tinggi dalam kehidupan mereka telah diurus. Anak yang diperlakukan dengan santai(casual) cenderung tertarik ke pekerjaan teknologi (insinyur, penerbang, diterapkan para ilmuwan) atau organisasi pekerjaan (bankir, akuntan, juru tulis)
  6. Loving. Para orangtua yang hangat, membantu, dan penuh kasih sayang. Mereka menentukan batas-batas dan mengarahkan perilaku melalui pemecahan masalah yang rasional. Mereka membantu anak dengan berbagai aktivitas tetapi tidak mengganggu. Anak-anak yang orangtuanya mencintai, cenderung tertarik pada pelayanan atau kontak bisnis pekerjaan (promotor, tenaga penjualan), (hal. 55-56)

Meskipun Roe percaya bahwa gaya pengasuhan awal, penting dalam membentuk pilihan pekerjaan, ia juga percaya bahwa faktor-faktor seperti jender, ekonomi, penampilan fisik, faktor kesempatan, latar belakang keluarga, temperamen, dan genetik seseorang semua bisa mempengaruhi seseorang terhadap minat dan kemampuan dan pada akhirnya mempengaruhi pilihan karier. Dia percaya bahwa faktor-faktor ini berinteraksi satu sama lain dalam cara yang komplek. Walaupun penelitian mengenai model Roe telah menghasilkan hasil yang beragam (Herr, Cramer, & Niles, 2004; Isaacson, 1985), ia telah menyumbang banyak dengan menjadi salah satu ahli teori pilihan pekerjaan yang berhubungan dengan gaya kepribadian. Secara dramatis adalah penting mengubah cara kerja konselor dengan klien sebagaimana hal tersebut menunjukkan pentingnya melihat dinamika keluarga awal ketika melakukan konseling karier.

Gambar 11.3
Pendekatan Pengembangan umur oleh SUPER untuk Karir Konseling

Selama tahun 1950-an Donald Super menarik dari perkembangan sejumlah model, seperti yang dibahas dalam Bab 9, untuk munculkan dengan pendekatan pengembangan pilihan karier. Pendekatan ini, yang dengan cepat mendapatkan popularitas, melibatkan individu melewati serangkaian tahapan secara berurutan dan dapat diprediksi. Awalnya dikenal sebagai perkembangan teori konsep diri, sebagaimana Osipow (1996) mencatat bahwa teori Super berpendapat bahwa:

  1. Pengembangan karir yang berkelanjutan dan berkesinambungan, dan proses awal  dimulai pada anak usia dini dan berakhir dengan kematian.
  2. Kemampuan seseorang, sifat-sifat kepribadian, dan perbedaan konsep diri, dan individu dapat memenuhi syarat dari beberapa perbedaan tipe tersebut pada jenis pekerjaan didasarkan pada karakteristik mereka.
  3. Pekerjaan secara spesifik cenderung sesuai bagi orang-orang dengan kualitas tertentu, meskipun ada variabilitas dalam pekerjaan, cukup untuk memungkinkan beberapa perbedaan jenis-jenis orang yang tertarik kepada pekerjaan itu.
  4. Konsep diri baik fungsi dan hasil dari suatu proses pengembangan karier dan dapat berubah saat melewati tahap-tahap perkembangan.
  5. Gerakan dari tingkat pekerjaan yang satu menuju tingkat yang lain dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk tingkat sosial ekonomi orang tua, status, kebutuhan, nilai, minat, keterampilan berhubungan antarpribadi, kondisi ekonomi, dan kecerdasan.
  6. Sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa akhir, pengembangan karier dapat dibantu dengan membantu individu memahami dirinya dan mengembangkan kemampuan dan minat mereka dan dengan membantu memahami kekuatan dan kelemahan mereka.
  7. Dengan memahami tingkat perkembangan individu, konselor dapat membuat intervensi yang tepat yang dapat membantu individu dalam belajar tentang diri sendiri dan proses pengembangan karir mereka, sehingga dapat membuat pilihan pekerjaan yang lebih cenderung kepada kepuasan di tempat kerja dan tingkat konsep diri.
  8. Pengembangan karir umumnya ireversibel, meskipun beberapa orang yang menghadapi krisis perkembangan yang penting dan dapat mensikapinya melalui tahap-tahap pada setiap poin dalam karir mereka

Super melihat perkembangan karir sebagai lima tahapan proses, dengan masing-masing tahapan memiliki sub-tahap perkembangan yang dibedakan oleh tugas-tugas yang unik (lihat Gambar 11.4). Selama tahap pertumbuhan (usia lahir sampai 14), anak-anak mengidentifikasi dengan orang lain, mendapatkan pemahaman tentang minat dan kemampuan, dan mulai mengembangkan karier konsep diri. Termasuk dalam tahap ini, anak yang masih sangat muda yang baru memiliki pemahaman awal tentang dunia kerja dan sekolah menengah, anak remaja membandingkan kemampuannya dan minat mereka dari teman-temannya. Pada tahap eksplorasi (usia 14-25), remaja dan dewasa muda mulai hati-hati meraba-raba fantasi pekerjaan mereka melalui kerja, sekolah, dan hobi. Kemudian dalam tahap ini individu dalam preferensi pekerjaan mereka mulai mengkristal dengan memilih pekerjaan atau pelatihan profesional lebih lanjut. Tahap Pembentukan (usia 25-45) mulai menstabilkan dan memajukan pilihan karir di bidang yang dipilih, sedangkan tahap pemeliharaan (usia 45-60) meliputi pelestarian status seseorang dalam pilihan-pilihan yang dibuat dan menghindari stagnasi. Selama tahap penurunan (usia 60 dan ke atas), orang mulai melepaskan diri dari bidang yang mereka pilih dan semakin berfokus pada pensiun, waktu luang, dan/atau kegiatan hobi.

Jika konselor akan merancang strategi yang efektif dalam bekerja sama dengan klien, mereka harus akrab dengan setiap tahapan dan sub-tahapan sehingga mereka dapat menyesuaikan teknik mereka yang sesuai dengan tugas-tugas unik tertentu bagi tonggak perkembangan. Sebagai contoh, konselor pada sekolah dasar akan sangat bodoh jika untuk membantu anak dalam membuat pilihan karir tertentu, dan konselor perguruan tinggi lalai untuk mendorong mahasiswa agar cepat menjadi mapan dalam kariernya.

Pendekatan perkembangan Super telah menambah dimensi penting dalam pemahaman tentang proses pengembangan karir dengan membuat kita menyadari tugas perkembangan secara menyeluruh yang dihadapi individu-individu sepanjang hidup mereka.

Gambar 11.4

Teori Karir Kognitif Sosial

Dalam beberapa tahun terakhir, Teori Karir Kognitif Sosial (SCCT) telah mengambil beberapa keunggulan dalam berbagai bidang (Dagley & Salter, 2004; Flores et al., 2003; Whiston & Brecheisen, 2002). SCCT menarik bersama sejumlah teori, seperti teori efektivitas diri yang menyatakan bahwa jenis pilihan yang kita ambil didasarkan pada keyakinan tentang apakah bisa atau tidak kita melakukan perilaku tertentu (Albert &. Luzzo, 1999; Bandura, 1997; McAuliffe , 1992b); teori belajar sosial, yang menegaskan bahwa pengambilan keputusan karir merupakan fungsi dari pengalaman belajar dan bahwa klien dapat diajarkan cara-cara baru meningkatkan kualitas hidup mereka (Krumboltz, 1994; Krumboltz, Mitchell, &. Jones, 1976; Mitchell, Levin, & Krumboltz, 1999); dan teori sosiologis, yang mempelajari bagaimana hal-hal di luar diri kita, seperti diskriminasi, mobilitas, seksisme, dan ekonomi mempengaruhi jenis pilihan seseorang (Johnson & Mortimer, 2004).

Lent, Brown, &. Hackett (1994, 2000, 2002) menyatakan bahwa SCCT meneliti bagaimana bentuk lingkungan mempengaruhi pengambilan keputusan karier seorang individu, khususnya kepercayaan orang tentang kemampuan, harapan tentang pilihan hidup, dan tujuan akhir terhadap pilihannya. Dalam teori ini lingkungan didefinisikan secara luas dan mencakup hal-hal seperti pengaruh sosial yang mendukung (misalnya, orang tua, konselor, unsur signifikan yang lain); dampak dari faktor-faktor budaya, seperti nilai-nilai masyarakat di sekitar gender, etnis, kecacatan, dan stereotip budaya; dan pengaruh sosial lainnya. Mereka menyarankan bahwa individu dipengaruhi oleh faktor-faktor objektif, seperti faktor-faktor lingkungan (jenis atau kualitas pengalaman pendidikan seseorang yang diperoleh; kesulitan ekonomi), dan faktor-faktor yang dirasakan, yang meliputi jenis-jenis pesan internal seperti berkata kepada diri sendiri tentang realitas. Jadi, dua individu dapat merespon sesuatu dengan cukup berbeda walaupun mereka mungkin menghadapi faktor-faktor objektif yang sama. Lent dan Colleagues (2000) menyebut hal ini lingkungan dan kontekstual interchange.

Teori ini mempunyai implikasi khusus untuk peran konselor dalam bekerja dengan klien. Mengingat bahwa ada lingkungan kontekstual interchange, konselor dapat memiliki dampak yang besar pada kehidupan klien mereka dengan mempengaruhi lingkungan mereka sekaligus bekerja pada sistem kepercayaan klien. Sebagai contoh, konselor sekolah tinggi dapat bekerja dengan guru untuk membantu mereka memahami bahwa keyakinan mereka tentang siswa mereka, dan bagaimana keyakinan mereka dapat diterjemahkan dengan perilaku (yang mereka ambil di kelas, pesan nonverbal yang dikirim kepada siswa, dan sebagainya), dapat mempengaruhi bagaimana mahasiswa memandang diri mereka. Embedded, keyakinan rasis sering tidak disadari tentang ketidakmampuan dari beberapa kelompok minoritas untuk dapat dinetralisisr oleh konselor untuk melakukan workshop bagi para guru dan membantu mereka melihat bagaimana mereka telah memegang keyakinan tersebut dan penting untuk percaya dan berperilaku dengan cara-cara yang memberikan pesan kepada para siswa bahwa mereka dapat mencapai. Dalam usia ini No Child Left Behind, dan akuntabilitas yang diminta dari para guru untuk memiliki pencapaian semua anak, hal ini menjadi tugas yang jauh lebih penting bagi konselor. Secara bersamaan, konselor dapat bekerja dengan siswa untuk merubah keyakinan mereka tentang dirinya. Siswa yang belum memperoleh dukungan signifikan dari orang lain dalam kegiatan akademisnya sering membutuhkan dukungan langsung seperti itu. Perempuan dan laki-laki yang diperkuat dengan gender dan sosial stereotip, mungkin mempengaruhi dampak negatif dalam pilihan karir dapat memperluas wawasan mereka.

Seperti konselor sekolah, konselor yang bekerja di badan-badan atau perguruan tinggi dapat mempengaruhi cara di mana orang dewasa muda dan orang dewasa memandang diri mereka dan mengarahkan mereka ke arah pemahaman yang lebih luas tentang dunia kerja. Selain itu, mereka dapat mensikapi dalam perubahan sosial. Teori SCCT berimplikasi luas bagi masyarakat, karena berpotensi dapat mematahkan banyak stereotip dan berkeyakinan bahwa individu memahai tentang diri mereka sendiri dan kami percaya bahwa satu sama lain berpengaruh secara relatif terhadap dunia kerja.

Pendekatan Pengembangan konstruktif bagi Konseling Karir

Relatif baru yang lain selain teori pengembangan karir yang telah diresmikan oleh ahli teori pengembangan yang konstruktif, percaya bahwa pengambilan keputusan karir terkait dengan bagaimana individu membuat makna keluar dari dunia kerja (McAuliffe, 1993; Peavy, 1994; Savickas, 1995, 2001) . Developmentalists konstruktif berpendapat bahwa sebagian besar teori-teori pengembangan karir tidak menjelaskan perubahan dalam fungsi kognitif individu di atas usia. Mereka berpendapat bahwa seorang individu yang unik membuat makna atau cara-cara di mana seorang individu datang untuk “mengetahui” dunia dengan segala perubahan karena setiap klien memiliki pengalaman dunia (ini kontras dengan konstruktivis sosial yang lebih menekankan pada bagaimana aspek-aspek sosial dan dinamika kelompok mempengaruhi pengetahuan). Mereka percaya bahwa konselor dapat membantu klien dengan memahami makna keunukan mereka membuat sistem, menentukan tahap perkembangan kognitif mereka, dan kemudian menyusun strategi untuk membantu klien menuju ke tahap perkembangan yang lebih tinggi (Knefelkamp & Slepitza, 1976; McAuliffe & Eriksen, 1999).

Salah satu metode bahwa konstruktivis sering mengandalkan  upaya untuk mengungkap makna dalan diri klien dalam membuat sistem adalah seperti sebuah cerita (Bujold, 2002). Dengan mendengarkan kisah hidup klien, seseorang dapat memperoleh rasa dari mana klien datang, di mana dia sekarang, dan bagaimana klien berpikir tentang masa depan. Setelah konstruktivis memahami pandangan dunia klien, ia dapat ikut serta dengan cara perlahan mendorong klien untuk berpikir dengan cara baru dan untuk mengembangkan sistem dalam pembuatan makna baru. Dalam menerapkan prinsip-prinsip di atas, konselor telah mengandalkan teori-teori perkembangan kognitif yang berbeda. Sebagai contoh, sedangkan McAuliffe berusaha memahami makna individu melalui teori pengembangan konstruktif Kegan, orang lain mungkin menggunakan teori Perry (lihat Bab 9).

Anda mungkin ingat dari Bab 3 dan 9 bahwa Perry berbicara tentang dua jenis orang, dualis dan relativis. Sebentar, dualis melihat dunia sebagai hitam atau putih dan percaya bahwa setiap individu berwenang memiliki jawaban. Relativis, di sisi lain, melihat dunia memiliki kebenaran yang relatif, dengan banyak cara untuk menjelaskan sebuah fenomena atau memahami dunia. Untuk lebih memahami teori ini, pertimbangkan dualistik mahasiswa yang mencari konseling karier. Pelajar ini melihat pembimbing karier mempunyai pengetahuan untuk membantu dia atau dia menemukan pekerjaan yang benar, sehingga ditutupnya kemampuan pilihan pekerjaan lainnya. Efektivitas perngembangan konstruktif, konselor karier ingin memahami siswa (mungkin melalui penggunaan narasi), pada awalnya mendukung cara berpikir mahasiswa dalam melihat sesuatu, dan kemudian dengan lembut menantang dia untuk memahami dunia, dan dalam hal ini, proses konseling karier, dilakukan dalam berbagai cara. Oleh karena itu, konselor ini perlu merancang strategi untuk membantu siswa mengarahkan pada pandangan relativistik, di mana mahasiswa melihat banyak kemungkinan pilihan pekerjaan, bukan hanya melihat satu pekerjaan saja. Selain itu, perubahan ini sehingga mahasiswa dapat melihat proses konseling karir sebagai upaya kolaboratif daripada jika hanya menggunakan satu arah pandangan direktif konselor dalam melakukan proses konseling dengan klien.

Teori pengembangan konstruktif adalah sebuah pendekatan baru yang menarik yang memungkinkan pertumbuhan klien jika konselor mampu memahami cara-cara yang unik dalam melihat dunia klien, klien mengidentifikasi tahap perkembangan kognitif, dan dapat mendukung dan menantang klien untuk mengetahui cara-cara baru dalam memahami dunia:

Tampak sederhana adanya transisi [perkembangan kognitif] menjadikan kesempatan dalam transformasi struktural yang mendalam. Tugas konselor adalah untuk menilai makna implisit klien, pembuatan strategi dan menantang dan mendukung klien untuk menghadapi dilema dan menjadi terbuka terhadap setiap kemungkinan-kemungkinan baru. (McAuliffe, 1993, hal 1)

BOX 11.2

Mengintegrasikan teori perkembangan karir: Angela
Angela berusia 24 tahun, lulusan pertama African American mahasiswa pascasarjana jurusan konseling. Ibunya, yang adalah konselor sekolah, dan ayahnya adalah seorang kepala perawat, kedua orang tuanya mendorongnya untuk masuk ke profesi konseling. Angela memiliki saudara laki-laki, John, yang berusia dua tahun lebih tua dan sekolah kedokteran. Dia menggambarkan hubungan dengan orang tuanya sangat mencintainya tapi kadang-kadang sedikit berlebihan. Angela tinggal di rumah dan mulai merasa frustrasi karena orangtuanya terus ingin mengetahui di mana dia setiap waktu. Angela telah melakukan segalanya dengan baik di sekolah, khususnya dalam bidang sains dan matematika. Bahkan, tahun lalu ia beralih jurusan dari psikologi ke kimia. Meskipun Angela melakukan dengan baik dalam setiap hal, ia tetap memiliki “perasaan aneh” menjadi seorang konselor. Jauh di lubuk hati, ia berpikir bahwa mungkin dia seharusnya melakukan sesuatu yang lain.


Mengintegrasikan Models dari Pengembangan Karir

Ketika beberapa teori-teori utama dari pengembangan karir diperiksa, jelas bahwa pendekatan bekerja mereka dengan individu dengan cara-cara yang berbeda. Jadi, untuk menangani berbagai kekhawatiran berbagai teori mengatakan, banyak konselor berupaya untuk mengintegrasikan berbagai teori. Lihat Angela (Kotak 11.2), dan kemudian mari kita periksa bagaimana setiap teori yang dibahas bisa menawarkan perspektif yang berbeda dan penting di setiap situasinya

1. Teori traid dan faktor dan Teori kepribadian Holland

Dengan traid dan faktor konselor dapat membantu Angela mengeluarkan sifat-sifatnya seperti minat, pembawaan, nilai, dan kualitas kepribadiannya, dilakukan dengan beberapa daftar minat, mengukur kepribadian dan/atau tes kemampuan. Selain itu, traid dan faktor, konselor mungkin bisa membantu Angela mengeluarkan  prinsip yang dia pegang tentang pekerjaan tertentu sebagaimana kepercayaannya tentang macam-macam pekerjaan yang dia pikir bisa dilakukannya (seperti, kemampuan diri). Konselor ini akan membantu    menyelidiki  dunia kerja dan membantunya dalam memahami semua jenis pekerjaan yang mungkin cocok dengan tipe kepribadian (seperti, Holland) sebagaimana faktor-faktor sosiologis dapat mempengaruhi pilihan-pilihannya.
2. Teori Developmental

Angela masih berada dalam tahap eksplorasi dalam proses pengembangan karirnya. Seseorang dalam tahap ini biasanya bertanya-tanya tentang pilihan-pilihan yang telah ia buat dan mempertimbangkan pilihan lain. Mengetahui hal ini, konselor mungkin ingin memastikan Angela bahwa merupakan hal yang biasa bagi orang dewasa muda untuk mempertanyakan keputusan mereka. Pada saat yang sama, akan menjadi penting bagi konselor untuk memahami jenis-jenis keraguan Angela tentang keputusannya untuk menjadi seorang konselor. Pada akhirnya, tujuan dari konselor akan membantu Angela bergerak menuju posisi yang relatif lebih stabil terhadap apa pun keputusan yang dia buat yang berhubungan dengan karier.
3. Teori psikodinamik

konselor karir Psikodinamik akan berasumsi bahwa, dalam cara-cara tak sadar, orangtua Angela sudah sangat mempengaruhi jenis pilihan karir yang telah dia dibuat. Rasa cinta orangtua yang agak terlalu protektif dan keduanya dengan baik mendorong Angela untuk mengambil pekerjaan pelayanan seperti konseling (lihat Ann Roe). Namun satu hal tidak memperhatikan pekerjaan layanan lainnya. Selain itu, memeriksa jenis model awal dan pesan yang dia terima dari orangtuanya, serta gaya pengasuhan umum dan apasaja yang mungkin telah mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (misalnya, ketergantungan kebutuhan), konselor bisa menawarkan banyak informasi tentang Angela. Juga, konselor akan memeriksa posisi Angela dalam keluarganya dan memahami bagaimana rasanya menjadi anak yang termuda dalam keluarga, satu-satunya anak perempuan dalam keluarga, dan adik dari kakak yang sukses.
4. Teori Kognitif Sosial Karir

Teori kognitif sosial karier sangat peduli terhadap jenis pesan Angela diterima dari orangtuanya dan dari relatif sosial terhadap pilihan karirnya. ” Secara khusus, karena Angela adalah African American dan perempuan, konselor ingin melihat apakah orangtua Angela memperkuat peran stereotip untuk Angela. Hal ini penting bahwa Angela tampaknya memiliki minat dalam bidang ilmu pengetahuan, namun dalam mencapainya, dilapangan ia memiliki “perasaan aneh” tentang konselor. Selain itu, akan menarik untuk melihat apakah Angela diperkuat untuk mengejar bidang yang membutuhkan kemampuan akademis tinggi, sebagai seorang African American. Kadang-kadang, meskipun fakta bahwa seseorang baik di sekolah, penguatan untuk pekerjaan tertentu mungkin tidak terjadi karena stereotip bahwa guru dan siswa lain memegang African American. Dengan demikian, teori ini ingin meneliti faktor-faktor sosial yang mempengaruhi Angela juga bagaimana dia sekarang merasakan situasinya. Persepsi sendiri tentang apa yang harus dia lakukan mungkin agar dapat hidup di keluarga dan masyarakat stereotip.
5. Teori Pengembangan konstruktif

Dari perspektif ini konselor yang ingin memahami bagaimana Angela membuat makna dari keputusan karirnya. Pada akhirnya, konselor ingin menentukan tingkat perkembangan kognitif Angela dan kemudian membantunya menuju tahap pemikiran yang lebih tinggi dan posisi yang relatif lebih stabil terhadap yang berhubungan dengan pengambilan keputusan karir. Menggunakan Perry, misalnya, konselor dapat berhipotesis, berdasarkan usia dan situasi Angela, bahwa Angela dalam masa transisi dari dualisme ke relativisme. Konselor mungkin ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut dalam usaha untuk memahami Angela dan menegaskan atau merevisi hipotesis ini:

  • Ada apa dengan konseling sehingga menarik Angela, dan bagaimana hal itu cocok dengan pandangan dirinya?
  • Apa yang penting dalam kehidupan Angela?
  • Bagaimana Angela memahami pilihan yang telah dibuat?
  • Bagaimana keluarga Angela mempengaruhinya?
  • Bagaimana Angela membuat keputusan?

Jika hipotesis konselor ditegaskan, ia akan mengakui bahwa telah menjadi dualis, Angela telah kaku percaya ia harus menjadi seorang konselor dan tidak terbuka untuk mendengarkan pilihan-pilihan lain. Namun, tampaknya bahwa ia berada dalam transisi ke berpikir relativistik, dia mulai mempertanyakan pandangan masa lalunya dan dapat terbuka untuk mendengarkan tentang pilihan lain. Mendorong Angela dengan menantang dia agar menemukan suaranya (keinginan) sendiri untuk membantu dirinya dalam proses pengambilan keputusan karir yang sulit ini.

Membawa Semua Itu Bersama

Seperti yang anda lihat, setiap teori menawarkan perspektif yang unik dari Angela; ketika digunakan bersama-sama, mereka dapat memberikan yang kesempatan terbaik bagi Angela untuk memahami dirinya sendiri dan membuat pilihan agar bekerja yang terbaik bagi dirinya. Seperti yang dapat Anda bayangkan, untuk sepenuhnya membantu Angela perlu beberapa waktu. Hal ini mencakup mengeksplorasi masa lalunya dan pengaruh terhadapnya, menilai tingkat perkembangan usianya, meluangkan waktu untuk memahami cara-cara sekarang agar memahami dunia kerjanya, menilai ciri-cirinya, membantunya memeriksa peluang-peluang yang tersedia baginya, menjelajahi stereotip orang lain dan masyarakat yang mungkin telah mempengaruhi dirinya, dan membantu dia dalam membuat sebuah transisi kepada pandangan baru untuk memahami dunia. Memang, kita tidak hanya bicara tentang Angela dalam mencari pekerjaan atau menggantinya tetapi membantu Angela utama untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang dirinya sendiri sehingga ia dapat membuat keputusan yang paling bijak untuk hidupnya.
Penggunaan Karir- Informasi Relasi

Secara luas tersedia informasi pekerjaan di bidang pengembangan karir. Dalam proses konseling karir, informasi karir memastikan bahwa semua orang memiliki akses pengetahuan tentang karier, membantu klien dalam memahami sifat pekerjaan, membantu konselor memahami klien, dan meningkatkan pemahaman diri klien (Fredrickson, 1982). Bagian ini akan membahas beberapa informasi yang lebih umum tentang sumber daya yang tersedia. Perlu diketahui bahwa ini hanya mewakili beberapa dari banyak cara untuk mendapatkan informasi tentang dunia kerja.
Sistem Klasifikasi Pekerjaan
1. O*NET OnLine dan O*NET  Kamus dari Judul Pekerjaan

Occupational Information Network (O*NET, http://www.onetcenter.org), adalah sebuah database online yang dikembangkan oleh Departemen Tenaga Kerja yang menyediakan array besar pekerja atribut dan karakteristik pekerjaan. O*NET OnLine (http://online.onetcenter.org/) seperti halnya O*NET Dictionary of Occupational Titles (O*NET DOT) (Farr & Shatkin, 2004), sebuah versi hardbound dari O* NET OnLine, memberikan informasi rinci yang dapat:
• Membantu orang-orang yang mencari pekerjaan untuk pertama kalinya
• Membantu orang yang tertarik atau berpikir tentang mengubah karier
• Membantu konselor yang membantu pengembangan karir individu dengan           keputusan

Jelas, O*NET OnLine memiliki keuntungan karena dapat memperbarui informasi dalam mode sesuai perkembangan zaman. O*NET OnLine dan O*NET DOT memberikan informasi sekitar 1000 pekerjaan dan menggantikan Dictionary of Occupational Titles (DOT), yang selama bertahun-tahun adalah sistem klasifikasi pekerjaan utama dari Departemen Tenaga Kerja dan memberikan deskripsi sekitar 13.000 pekerjaan. Walaupun jauh lebih sedikit pekerjaan yang tercantum dalam O*NET OnLine dan O*NET DOT, “Banyak pekerjaan DOT tua yang sangat khusus atau mempekerjakan beberapa orang, dan deskripsi mereka tidak dimasukkan dalam O*NET. Hasilnya adalah daftar pekerjaan dalam O*NET lebih kecil dan jauh lebih bermanfaat untuk berbagai tujuan “(Farr & Shatkin, 2004, hal 1).

O*NET OnLine dan O*NET DOT menyediakan array besar informasi pekerjaan, banyak yang dapat cross-referenced, diteliti dari perspektif yang berbeda, dan memberikan penerangan dalam pencarian kerja. Box 11,3 menawarkan beberapa bidang informasi yang dapat dinilai dari O*NET DOT, yang sangat mirip dengan jenis informasi yang dapat diperoleh juga dari O*NET OnLine. Box 11,4 memberikan keterangan dari O*NET DOT bagi konselor sekolah dan konselor kesehatan mental untuk menilai delapan item yang pertama yang tercantum dalam Boks 11.3.
2. The Guide for Occupational Exploration (GOE) [Panduan untuk mengeksplorasi pekerjaan]

Sebenarnya diterbitkan pada tahun 1979 sebagai pendamping volume ke DOT (Sharf, 1993), Guide for Exploration Occupational (GOE) baru-baru ini mengalami revisi besar-besaran dan sekarang mencakup 14 kepentingan daerah (lihat Kotak 11.5) dan 83 kelompok kerja (Farr, Ludden, &. Shatkin, 2001). Daftar GOE sekitar 1.000 pekerjaan merupakan daftar silang antara kepentingan daerah dan kelompok kerja. Berdasarkan O*NET sistem, GOE mencakup informasi seperti deskripsi pekerjaan, proyeksi tingkat pertumbuhan, pendidikan dan/atau pelatihan apa yang dibutuhkan, nilai-nilai, keterampilan, dan kondisi kerja. Selain itu, GOE menyediakan sebuah mekanisme untuk kepentingan referensi silang, keterampilan, nilai, dan sebagainya untuk pekerjaan potensial.

3. Occupational Outlook Handbook (OOH)
Occupational Outlook Handbook (OOH) (US Department of Labor, 2004-2005a) memuat informasi mengenai sifat pekerjaan-pekerjaan; kondisi kerja; kerja statistik; pelatihan, kualifikasi lainnya, dan kemajuan; pekerjaan pandangan; pendapatan; terkait pekerjaan; dan sumber-sumber informasi tambahan. Meskipun hanya buku pegangan namun memeriksa sekitar 250 pekerjaan, dan tidak selalu sempurna dalam prediksi, account itu untuk sekitar tujuh dari delapan pekerjaan dan merupakan sumber informasi yang baik tentang kategori pekerjaan umum. OOH sekarang bisa diakses di internet (lihat Kotak 11.6).

BOX 11.3

Informasi daerah dari O*NET DOT
  1. Jumlah O*NET dan judul beberapa pekerjaan
  2. Jumlah O*NET dan subkategori pekerjaan
  3. Pendidikan / pelatihan yang diperlukan
  4. Dipekerjakan: Jumlah orang saat ini yang bekerja di sebuah pekerjaan
  5. Pendapatan tahunan
  6. Pertumbuhan: 25,3%
  7. Lowongan kerja tahunan: 22,000
  8. Lead description: deskripsi singkatt pekerjaan
  9. Deskripsi pekerjaan: Sebuah gambaran luas tentang pekerjaan.
  10. Kepentingan daerah berdasarkan Panduan Eksplorasi Kerja
  11. Tipe kepribadian berdasarkan enam kode Holland
  12. Nilai-nilai yang dibutuhkan untuk pekerjaan: Berdasarkan pada nilai-nilai 21 kerja (misalnya, altruisme, otonomi, keselamatan)
  13. Keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan: Berdasarkan 35 keterampilan (misalnya, aktif mendengarkan, matematika, pemantauan, instalasi)
    1. Kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan: Berdasarkan 52 kemampuan  (misalnya, kemampuan kognitif, ungkapan lisan, reaksi waktu)
15.  Aktivitas kerja umum: Berdasarkan 41  kegiatan (misalnya, proses mental, bekerja output, berinteraksi dengan orang lain)

16.  Kondisi kerja fisik: Berdasarkan 25 kondisi kerja  (misalnya, penyakit atau infeksi, di luar rumah, sangat panas atau dingin)

17.  Karakteristik pekerjaan lain: Berdasarkan pada 5 karakteristik (misalnya, konsekuensi dari kesalahan, tingkat otomatisasi)

18.  Pengalaman yang diperlukan: Berdasarkan 5 level (misalnya, sedikit, beberapa, sedang, besar, luas/ekstensif)

19.  Persiapan pekerjaan: Jumlah bulan setiap tahun yang diperlukan untuk mempersiapkan pekerjaan

20.  Pengetahuan: Berdasarkan 33 descriptors: (misalnya, filsafat dan teologi, penjualan dan pemasaran, hukum dan pemerintahan)

21.  Program instruksional: Nama jenis program yang dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan

22.  Related DOT pekerjaan: Cross-referensi O*NET pekerjaan dengan pekerjaan yang sama dari sebelumnya yaitu Dictionary of Occupational Title (DOT)

BOX 11.4

Sebagian deskripsi dari O*NET DOT dari konselor sekolah

dan Konselor kesehatan mental

konselor sekolah
Jumlah dan Luas Judul pekerjaan: 21-1.000, Konselor, Pekerja Sosial, dan Komunitas serta Pelayanan Sosial Spesialis lain.
Jumlah dan Subkategori Kerja: 21-10012.00 Pendidikan, Kejuruan, dan Sekolah Konselor

Pendidikan/Pelatihan yang disyaratkan: Gelar Master

Employed: 205.482

Penghasilan Tahunan: $ 43,470

Pertumbuhan: 25,3%

Pembukaan Kerja Tahunan : 22,000
Diskripsi Program: Konselor individu dan menyediakan pendidikan kelompok dan layanan bimbingan kejuruan. (Fan-& Shatkin, 2004, hal 178)
Konselor Kesehatan Mental
Jumlah dan Luas Judul pekerjaan: 21-1.000, Konselor, Pekerja Sosial, dan Komunitas serta Pelayanan Sosial Spesialis lain
Jumlah dan Subkategori Kerja: 21-10014,00 Pendidikan, Kejuruan, dan Konselor Sekolah
Pendidikan/Pelatihan yang disyaratkan: Gelar Master

Employed: 67.195

Penghasilan Tahunan: $ 29,050

Pertumbuhan: 21,7%

Pembukaan Kerja Tahunan: 7.000
Diskripsi Program: Pengacara dengan penekanan pada pencegahan. Bekerja dengan individu dan kelompok untuk meningkatkan kesehatan mental yang optimal. Dapat membantu individu menghadapi kecanduan dan penyalahgunaan zat; keluarga, mengasuh anak, dan masalah perkawinan; bunuh diri; stres manajemen; masalah dengan harga diri, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan penuaan dan kesehatan mental dan emosional. (Fair & Shatkin, 2004, hal 180)

BOX 11.5

Empat belas daerah kepentingan GOE
01 Seni, Hiburan, dan Media

02 Sains, Matematika, dan Teknik

03 Tumbuhan dan Hewan

04 Hukum, Penegakan Hukum, dan

Keamanan Publik

05 Ahli Mesin, Installers, dan Repairers

06 Konstruksi, Pertambangan, dan         Pengeboran

07 Transportasi

08 Produksi Industri

09 Bisnis Detail

10 Penjualan dan Pemasaran

11 Rekreasi, Perjalanan, dan Pelayanan umum lain

12 Pendidikan dan Pelayanan Sosial

13 Manajemen umum dan Dukungan

14 Kedokteran dan Layanan Kesehatan

BOX 11.6

Memilih Ahli dari OOH: pekerjaan pandangan konselor
Poin Signifikan
Gelar master sering diperlukan untuk mendapat izin atau sertifikat sebagai konselor. Kecuali tiga negara membutuhkan beberapa bentuk lisensi atau sertifikasi untuk praktik di luar sekolah; semua Negara membutuhkan konselor sekolah untuk mengadakan sertifikasi konseling sekolah Negara. .

Kerja
Konselor membantu orang-orang baik pribadi, keluarga, pendidikan, kesehatan mental, dan keputusan-keputusan karier dan masalah. Tugas-tugas mereka bergantung pada individu yang mereka layani dan pada pengaturan di tempat mereka bekerja. .

Ketenagakerjaan
Konselor diadakan sekitar 526.000 pekerjaan pada tahun 2002. Ketenagakerjaan
didistribusikan di antara spesialisasi konseling sebagai berikut:
Pendidikan, kejuruan,
konselor sekolah dan 228.000
Konselor rehabilitasi 122.000
Konselor kesehatan mental 85.000
Substansi penyalahgunaan konselor 67.000
Perkawinan dan 23.000 terapis keluarga. . .

Job Outlook
Keseluruhan pekerjaan konselor diharapkan tumbuh lebih cepat daripada rata-rata bagi semua pekerjaan hingga

2012, dan kesempatan kerja harus lebih baik karena biasanya lebih banyak terdapat lowongan pekerjaan dari lulusan program konseling. Selain itu, banyak membuka lowongan pekerjaan karena banyak konselor pensiun atau meninggalkan profesi.
Penghasilan
Pendapatan tahunan rata-rata pendidikan, kejuruan, dan konselor sekolah pada tahun 2002 adalah $ 44.100. . .
Pendapatan tahunan rata-rata dari penyalahgunaan substansi dan gangguan perilaku konselor pada tahun 2002 adalah $ 30.180. . .
Pendapatan tahunan rata-rata dari konselor kesehatan mental pada tahun 2002 adalah $ 29.940. . .
Pendapatan tahunan rata-rata dari konselor rehabilitasi pada tahun 2002 adalah $ 25.840. . .
Pendapatan tahunan rata-rata dari terapi keluarga dan perkawinan pada tahun 2002 adalah $ 35.580. . .
pekerjaan konselor memiliki praktek-praktek yang baik, sebagaimana konselor bekerja dalam praktek kelompok, memiliki penghasilan tertinggi.
(U. S. Departemen Tenaga Kerja, 2004-20056)

Instrumen Penilaian
1. Persediaan Minat

Selama bertahun-tahun, sejumlah instrumen penilaian telah dikembangkan untuk membantu individu dalam proses eksplorasi karir mereka. Mungkin yang paling penting telah menjadi minat inventori, seperti Strong Interest Inventory (Consulting Psyehologist Press, 2004b), Sistem Pembuatan Keputusan Karir (COM) (Harrington &. O’Shea, 2000), dan Inventory Karier Penilaian (CAI) (Johansson, 1996). Minat memeriksa kepentingan klien di bidang-bidang seperti mata pelajaran sekolah, tip-tipe orang, jenis pekerjaan, hiburan, dan/atau karakteristik pribadi. Beberapa minat, seperti The Self-Directed Search (Belanda, 1994), dan Kuat (lagi) memeriksa kepribadian seseorang yang berorientasi terhadap dunia kerja dan biasanya menyediakan pekerjaan di mana klien mungkin menemukan pekerjaan yang cocok.
2. Penilaian Kemampuan

Tes kemampuan memungkinkan individu untuk memeriksa apakah bisa atau tidak pilihan pekerjaan cocok dengan kemampuannya. Sebagai contoh, seorang individu memiliki minat untuk menjadi seorang peneliti namun memiliki kemampuan matematikanya cukup sehingga menjadi cukup sulit untuk mencapai tujuan kerja, dan orang yang ditemukan memiliki kemampuan mekanik yang tinggi dapat mempertimbangkan berbagai pekerjaan yang terkait dengan bakat ini. Dua dari tes bakat populer termasuk Differential Aptitude Test (DAT), yang diterbitkan oleh Psychological Corporation; dan Armed Services Vocational Aptitude Battery (ASVAB), yang dikembangkan untuk militer dan kadang-kadang diberikan di sekolah-sekolah secara gratis.
3. Penilaian Kepribadian

Sejumlah tes kepribadian telah digunakan dalam hubungannya dengan konseling karir. Tes ini seperti The Myers-Briggs Type Indicator (Consulting Psyehologist Press, 2004a) dan The California Psychological Inventory (Consulting Psyehologist Press, 2004c) dapat membantu klien memusatkan perhatian pada dimensi kepribadian dasar dan memeriksa dapat atau tidak-nya profil kepribadian yang mungkin cocok dengan pekerjaan tertentu (lihat Kotak 11,7).

BOX 11.7

profil kepribadian Shayna
Shayna sudah jelas memutuskan bahwa dia tertarik dalam pekerjaan yang akan memberinya kesempatan untuk membantu orang. Sebuah inventori kepribadian menunjukkan bahwa dia sangat pendiam dan tidak tegas dan tunduk kepada orang lain.Dia setuju dengan hasil inventarisasi kepribadian dan juga setuju bahwa karakteristik ini akan menyulitkan baginya untuk mencapai tujuan pekerjaannya. Shayna menjadi yakin bahwa dia harus mengubah karakteristik kepribadian tersebut melalui berbagai program, termasuk kelompok pemahaman diri dan pelatihan ketegasan. (Zunker, 2002, hal. 222-223)

Bantuan Komputer bagi Bimbingan Karir
Penggunaan komputer pribadi membuat sistem informasi karir tersedia secara luas bagi setiap individu. Komputer menawarkan metode yang mudah dan cepat dalam mengakses tentang sejumlah informasi karir. Sekarang, ada banyak program perangkat lunak yang memungkinkan kita untuk menilai kemampuan, minat, nilai, dan keterampilan dan juga dapat memudahkan kita untuk memperoleh segala macam informasi pekerjaan. Berikut adalah beberapa cara yang digunakan komputer saat ini dalam bimbingan karier.

  1. 1. Program Berbasis Komputer Komprehensif
    Dewasa ini, program-program berbasis komputer sedang dikembangkan sehingga memungkinkan seorang individu untuk dapat memeriksa nilai-nilainya, minat, dan keterampilan, dan berisi informasi tentang berbagai hal seperti pekerjaan, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah perdagangan, jurusan perguruan tinggi, ketersediaan pekerjaan, dan bantuan keuangan. Banyak program komputer ini dapat ditemukan di sekolah-sekolah, akademi, bisnis dan industri, pekerjaan umum dan tenaga kerja-instansi terkait, dan lembaga konseling karier pribadi. Dua program yang lebih populer ditemukan (ACT, 2005) dan Sistem Bimbingan Interaktif dan Informasi-plus (SIGI-Plus) (Valparint, 2006). Program-program ini umumnya ditawarkan sebagai program perangkat yang bebas dan juga dapat diakses dan dinilai secara langsung melalui Internet.
  2. 2. Pengujian

Sekarang, banyak penawaran berbagai tes minat, bakat, dan tes kepribadian pada komputer dan konselor semakin dipermudah, tidak lagi harus mengirim tes untuk merubah menjadi skor atau menghabiskan waktu yang lama untuk menghitung skor instrumen. Banyak dari instrumen penilaian tradisional, seperti yang disebutkan sebelumnya, dengan cepat dikembangkan dari penggunaan komputer.

  1. 3. Internet

Jumlah informasi pekerjaan yang ditemukan di Internet seperti astronomi yang senantiasa terus meningkat. Sebagai contoh, O*NET dan Occupational Outlook Handbook keduanya dapat diakses di Internet. Selain itu, banyak perusahaan penerbitan yang menawarkan perangkat lunak yang berhubungan dengan karier. kini mereka mulai menjual perangkat lunak di Internet, dan dalam banyak program, biaya men-download perangkat lunak dilakukan secara langsung. Akhirnya, jumlah situs yang ada semakin meningkat, beberapa agaknya menjadi tidak profesional, karena menawarkan bimbingan karier biasanya dengan motivasi untuk mendapatkan uang.
Sumber lain Informasi Pekerjaan

Jumlah informasi pekerjaan yang tersedia sangat besar, dan banyak dari itu adalah bebas! Sebagai contoh, bahan cetakan dapat diperoleh dari sejumlah instansi pemerintah, penerbit komersial, asosiasi profesi, institusi pendidikan, dan majalah. Selain itu, banyak perguruan tinggi dan sekolah perdagangan memiliki pusat persediaan karier untuk digunakan oleh mahasiswa dan bahkan kadang-kadang untuk masyarakat umum. Di samping bahan-bahan gratis, berbagai buku menawarkan tentang informasi karir. Sekarang, bahkan ada novel laris yang membantu kami dalam pengembangan karir [misalnya, Apa Warna Parasut Anda? (Bolles, 2005)]. Mencari informasi tentang pekerjaan relatif mudah, seseorang hanya menghabiskan sedikit waktu.

Wawancara Klinis: “The Lost Child” dalam Perkembangan Karir

Banyak teori bidang konseling karier, informasi karir, dan instrumen penilaian karir yang kadang-kadang tampaknya seperti kita kenal sebagai alat konseling, wawancara klinis, dilupakan. Wawancara klinis yang baik dapat membantu konselor mendapatkan sejumlah besar informasi tentang klien, informasi yang secara efektif dapat digunakan dalam membantu klien membuat pilihan karir. Wawancara klinis adalah cara kita untuk menerapkan teori perkembangan karir kita. Hal ini dapat digunakan untuk menilai latar belakang keluarga dari asal isu-isu yang berdampak pada pengembangan karir klien, makna sistem pembuatan klien, hasrat dan keinginan klien, bagaimana klien cenderung menilai dirinya sendiri, dan masalah emosional yang mungkin mengganggu dalam mencari atau mempertahankan pekerjaan tertentu.

Wawancara klinis merupakan bagian utama dari keseluruhan proses penilaian bagi klien, dan keterampilan belajar konseling di sebuah program pascasarjana yang merupakan alat untuk penilaian. Jika konseling karier berarti hanya menilai yang sesuai dengan sifat dan ciri-ciri dengan pekerjaan, kita akan beroperasi dari paradigma abad terakhir dan tidak akan memerlukan. tingkat lanjutan untuk bekerja dengan klien.

Mengintegrasikan Teori, Informasi Karir, dan Penilaian Karir

Antara berbagai teori-teori konseling karir dan sejumlah informasi pekerjaan yang tersedia bagi konselor, Anda mungkin bertanya, “Dimana saya akan memulai ketika melakukan konseling karier?” Eriksen dan McAuliffe’s (1999) Model Tahap Konteks Fase dan Gaya [“Conteks Phase Stage and Style” (CPSS)] menunjukkan bahwa ketika bekerja dengan orang dewasa, orang harus mulai dengan memeriksa dimana konteks kehidupan klien (budaya, masyarakat, keluarga), fase perkembangan atau tahap dimana klien menemukan dirinya sendiri (misalnya, Erikson, Kegan, Super), dan gaya kepribadian klien menuju dunia kerja (misalnya, kode holland, pola-pola anak usia dini). Model ini menawarkan banyak janji dalam mengintegrasikan berbagai unsur yang dibahas dalam bab ini.

Berdasarkan beberapa unsur yang sama ditawarkan oleh Mc Auliffe, izinkan saya menyarankan beberapa strategi khusus ketika melakukan konseling karier dengan orang dewasa:

1. Melakukan wawancara klinis secara menyeluruh. Menilai faktor-faktor penting untuk proses pengembangan karier klien, termasuk sebagai berikut:

• Pelajari bagaimana masalah anak usia dini telah mempengaruhi kecenderungan klien menuju karier tertentu.

• Periksa bagaimana status sosial ekonomi keluarga asal yang telah berdampak pada aspirasi klien.

• Pelajari bagaimana pengembangan karir orangtua telah berdampak pada aspirasi klien.

•Pelajari bagaimana masalah emosional dapat mengganggu pengambilan keputusan karir.

•Pelajari bagaimana masalah sosiologis dapat berdampak pada pengambilan keputusan karir (stereotip, diskriminasi, isu-isu ekonomi, dan sebagainya).

• Tentukan tingkat perkembangan klien (misalnya, Super).

• Tentukan tingkat perkembangan kognitif  klien (misalnya, Kegan, Perry).

2. Menilai kemampuan klien, minat, dan karakteristik kepribadian melalui penggunaan instrumen penilaian yang sesuai (misalnya, kode holland, CPI, The Strong).

3. Merancang strategi pengobatan dengan bekerja sama dengan klien, Anda perhatikan kesiapan perkembangannya dan pengumpulan informasi mengenai klien Anda.

4 Menganalisis ketersediaan informasi sumber daya untuk digunakan dalam hubungannya dengan rencana pengobatan Anda.

5. Membantu klien dalam memahami dunia kerja dan faktor-faktor yang dapat berpotensi mempengaruhi pilihan karier (seperti kondisi ekonomi atau kejenuhan pasar).

6. Membantu klien membuat keputusan karir tentatif.

7. Jelajahi kepraktisan dari keputusan karir yang dipilih dan mulai mengkristalnya pilihan.

8. Apakah klien mengambil langkah-langkah awal memilih jalur karier dengan melakukan hal-hal seperti wawancara informasi dengan orang-orang yang telah mengambil jalan yang sama, membayangkan orang-orang pada suatu pekerjaan, dan membaca literatur tentang jalur karier.

9. Menindaklanjuti dengan klien untuk menjamin kepuasan dan penutupan proses pengembangan karir.

10. Mendaur ulang jika diperlukan. Jika klien tidak puas dengan kemajuannya, ulangi kembali proses tersebut dan menguji kembali semua masalah.

Seperti yang dapat Anda pelajari dari di atas, penilaian karier secara menyeluruh merupakan proses yang agak panjang. Namun, penggunaan seperti menciptakan proses pilihan karier dan bukan kebetulan karier.

Isu Multikultural
Konseling Karir Multikultural: Coming of Age

. . . semakin banyak konselor karir dan psikolog kejuruan juga mempertimbangkan cara di mana mereka perlu mempersiapkan diri untuk memenuhi tantangan mendatang meningkatkan keragaman budaya. . . . (Leong, 1995a, hal 2)

Selama bertahun-tahun, pengembangan karir didekati oleh laki-laki kulit putih perspektif kelas menengah. Banyak penelitian yang dihasilkan didasarkan pada klien pria kulit putih. Instrumen penilaian yang dikembangkan prediktif hanya untuk klien laki-laki kulit putih, dan sedikit perhatian isu-isu yang unik diberikan pada orang kulit berwarna, perempuan, orang cacat, dan kelompok-kelompok yang beragam. Baru-baru ini, telah terjadi ledakan sastra yang ditulis untuk mengatasi masalah ini, dan kita sekarang melihat teks pengembangan karir besar menyajikan banyak bab untuk keanekaragaman (misalnya, Herr et al., 2004; Zunker, 2002), seluruh buku-buku tentang keanekaragaman dalam pengembangan karir sedang ditulis (Leong, 1995b), dan seluruh jurnal yang ditujukan untuk masalah penting ini (Paus, 2005). Meskipun langkah ini, kita memiliki cara untuk pergi ketika kami berusaha untuk meyakinkan bahwa instrumen yang kita gunakan dan gaya konseling kita mengikuti beragam alamat tepat klien (Subich, 2005).

Teori multikultural Pengembangan Karir

Meskipun tidak ada satu metode konseling individu-individu dari berbagai latar belakang yang telah dikembangkan, sejumlah isu yang unik telah disorot bagi konselor untuk dipertimbangkan ketika bekerja dengan klien yang beranekaragam budaya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut (Betz & Fitzgerald, 1995; Osipow & Littlejohn, 1995; Subich, 1996, 2005):

1. Nilai-nilai budaya dan praktek-praktek bisa membuat akses penuh ke tempat kerja lebih sulit bagi beberapa orang tertentu (misalnya, praktik-praktik keagamaan tertentu, seperti berdoa setiap hari dan meluangkan waktu off untuk liburan tertentu, mungkin akan disukai di tempat kerja).

2. Sedangkan arus utama Amerika telah hidup dalam mobilitas ke atas, beberapa kebudayaan dan kelas tidak tinggal mimpi ini dan pendekatan pengembangan karir dengan tujuan dan aspirasi yang berbeda.

3. Ekspresi diri dan pengembangan konsep-diri merupakan pusat dari proses pengembangan karir, terlepas dari latar belakang budaya.

4. Orang lingkungan (kepribadian kerja) yang cocok, terlepas dari latar belakang budaya, sangat penting untuk kepuasan di tempat kerja.

5. Semakin baik memahami klien-nya tentang perkembangan identitas budaya (lihat Bab 14), semakin mudah bagi klien untuk menemukan kecocokan antara diri dan lingkungan.

6. Diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan dan di tempat kerja adalah sebuah realitas dan perlu ditangani dan diakui oleh konselor karier.

7. Diskriminasi dan rasisme telah mengakibatkan beberapa orang memiliki keraguan yang serius tentang kemampuan mereka untuk memperoleh pekerjaan dan menjadi upwardly mobile.

8. Pengetahuan tentang isu-isu pengembangan karir kelompok-kelompok kebudayaan tertentu sangat penting untuk menjadi seorang konselor karier multikultural yang efektif.

9. Mungkin ada banyak perbedaan dalam suatu kelompok budaya dari antara kelompok-kelompok budaya. Hindari asumsi keseragaman atau berpikir bahwa semua klien dari satu budaya adalah sama.

10. Ketahuilah bahwa prosedur penilaian, begitu umum dalam konseling karir, mungkin memiliki bias melekat dan mungkin tidak memiliki, ditujukan seberapa baik mereka memperkirakan untuk keanekaragama kelompok budaya dan perempuan.

Karir Konseling dalam Beragam Budaya: Langkah Spesifik

Walaupun tidak ada teori khusus tentang pengembangan karir multikultural di suatu wilayah, sebuah model untuk bekerja dengan klien minoritas telah dikembangkan yang sangat membantu konselor (Bingham &. Ward, 1996; Fouad & Bingham, 1995; Kerka, 2003). Singkatnya, delapan langkah yang terlibat:
Langkah 1. Menjalin hubungan / hubungan budaya yang sesuai.
Langkah 2. Mengumpulkan informasi relatif terhadap masalah karir.
Langkah 3. Menilai dampak dari budaya, gender, dan variabel efektivitas diri.
Langkah 4. Administer perangkat penilaian sesuai dengan budaya.
Langkah 5. Tetapkan tujuan konseling.
Langkah 6. Sesuai dengan budaya membuat intervensi konseling.
Langkah 7. Membantu klien dalam pengambilan keputusan.
Langkah 8. Melaksanakan dan tindak lanjut.

Etika, Profesional, dan Masalah Hukum
Standar etika Konseling Karir dan Konsultasi

Pada tahun 1982 Dewan Nasional Konselor [National Broad for Certified Counselors (NBCC)] mengembangkan serangkaian standar etika, yang diadopsi oleh Asosiasi Pengembangan Karir Nasional (NCDA) pada tahun 1987 dan direvisi pada tahun 2003 (NCDA, 2003). Karena NCDA adalah divisi dari ACA, pedoman etika ini harus dibaca bersama dengan pedoman etika menyeluruh ACA. Pedoman ini berisi enam bagian: etika umum, hubungan konseling, pengukuran dan evaluasi, penelitian dan publikasi, konsultasi, dan praktek pribadi. Selain itu, panduan berisi pernyataan tentang cara untuk membuat etika keluhan terhadap konselor karier.

Kompetensi Panduan untuk Pengembangan Karir

The National Career Development Association (NCDA) menawarkan deskripsi luas berbasis kompetensi yang dibutuhkan untuk semua konselor yang melakukan konseling karier dan kejuruan (NCDA, 1997). Kompetensi ini meliputi keterampilan umum konseling, informasi, individu/kelompok penilaian, manajemen/administrasi, pelaksanaan, dan konsultasi. Menyadari kompleksitas pengembangan karir dalam hidup, NCDA juga telah mengembangkan kompetensi spesifik bagi mereka yang bekerja dengan Tingkat dasar, SMP, atau siswa sekolah menengah, dan/atau orang dewasa. Tujuan keterampilan kompetensi, pengetahuan, perilaku, dan sikap yang diperlukan untuk menjadi konselor karier yang efektif pada berbagai tingkat perkembangan.

Asosiasi profesional

Para NCDA dan Asosiasi Konselor Ketenagakerjaan Nasional (NECA), kedua divisi dari ACA, dua asosiasi berorientasi ke arah pengembangan karier. (Anda dapat menghubungi divisi tersebut melalui situs Web ACA: http://www.counseling.org.) The Career Development Quarterly, diterbitkan oleh NCDA, dan Journal of Employment Counseling, diterbitkan oleh NECA, adalah mendistribusikan setiap kuartal dan manfaat keanggotaan bagi mereka yang bergabung dengan asosiasi.

Mengoptimalkan Career Development

Baru-baru ini, ketika mengajar kelas sarjana dalam pelayanan manusia, saya meminta mahasiswa saya untuk berbagi mengapa mereka memutuskan untuk memasuki profesi pembantu. Seorang siswa African American bercerita tentang konselor sekolah, yang telah memperlakukan kebanyakan siswa African American di sekolah tinggi dengan cara mencegah mereka dalam mengejar pekerjaan di bidang profesional. Dia berkata, “Inilah sebabnya mengapa saya telah memutuskan untuk menjadi konselor sekolah-jadi aku bisa membantu Afrika Amerika dalam mencapai potensi mereka.” Sayangnya, ini bukan pertama kalinya saya mendengar cerita seperti ini.

Konselor karir harus mengoptimalkan pilihan bagi klien, apakah mereka bekerja sama dengan konselor sekolah marjinal siswa, konselor sekolah membantu mahasiswa dalam pilihan pekerjaan, badan penasihat bekerja dengan orang dewasa setengah baya yang mencari pekerjaan perubahan, konselor rehabilitasi kejuruan bekerja dengan individu yang baru-baru ini menjadi lumpuh, atau mahasiswa pascasarjana mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka tentang pekerjaan doktor. Konselor tidak boleh mengatakan, “Saya berpikir Anda tidak bisa melakukannya, Anda tidak memiliki kemampuan, Anda tidak memiliki keterampilan, Anda tidak akan bisa membawa tekanan.” Sebaliknya, mereka harus mendorong masyarakat, meningkatkan pilihan, dan membantu orang mencari potensi mereka. Realistis, tetapi jangan berkecil hati. Paling-paling, mengecilkan klien dalam mengejar impian karier yang tidak kompeten; yang terburuk, itu rasis, seksis, ageist, dan diskriminatif terhadap individu dengan cacat.

Undang-Undang Penting

1. Undang-Undang Carl Perkins

Lulus pada tahun 1984, undang-undang ini disahkan hibah untuk perluasan program bimbingan karier bagi siswa yang memiliki kebutuhan pendidikan kejuruan, dan juga orang dewasa, orang tua tunggal, pengungsi ibu rumah tangga, mantan pelanggar, dipenjara orang, dan individu dengan cacat yang mempunyai kebutuhan untuk pendidikan kejuruan (Herr et al., 2004).
2. Undang-Undang Disability dari Amerika

Undang-undang ini, yang disahkan pada tahun 1992, menjamin bahwa individu penyandang cacat tidak bisa didiskriminasikan dalam prosedur aplikasi pekerjaan, merekrut, menembak, kemajuan, kompensasi, tunjangan, pelatihan kerja, dan istilah lain, kondisi, dan hak-hak ( “Americans with Disabilities Act , “1992).
3. PL94-142 (Undang-Undang Segala Pendidikan Anak Cacat)

Mengenai bimbingan karier, undang-undang ini, bersama dengan Undang-Undang Carl Perkins, mengharuskan siswa dalam program pendidikan pekerjaan harus diberikan penilaian kejuruan untuk membantu mereka dalam pengembangan karir mereka.
4. PL93-112

Undang-undang ini mengharuskan perguruan tinggi untuk menyediakan layanan karir bagi para penyandang cacat. Misalnya, siswa yang cacat mata yang mungkin diberikan materi dalam Braille untuk membantu mereka dalam kegiatan bimbingan karier.
5. Undang-Undang Rehabilitasi tahun 1973

Undang-Undang Rehabilitasi tahun 1973 meyakinkan akses layanan rehabilitasi kejuruan bagi orang dewasa jika mereka cacat fisik atau cacat mental, jika mereka memiliki cacat yang mengganggu kemampuan mereka untuk mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan, dan jika penilaian telah menunjukkan bahwa pekerjaan dengan kecacatan mereka adalah layak.
6. Undang-Undang Sekolah-ke-Peluang Kerja

Lulus pada tahun 1994 oleh Kongres, tindakan ini memberikan insentif untuk membantu sekolah-sekolah dan perguruan tinggi masyarakat mengembangkan program-program akademik yang mengintegrasikan pembelajaran dengan pengalaman kerja.
7.Judul VII dan Title IX

Undang-undang Hak Sipil Judul VII dari tahun 1964 dan Title IX dari Amandemen Pendidikan tahun 1972 melarang diskriminasi terhadap perempuan dan minoritas dalam semua aspek pekerjaan. Selain itu, Bab VII dan selanjutnya menetapkan amandemen standar penggunaan tes untuk memastikan mereka tidak diskriminasi terhadap populasi beragam budaya.
Proses Konselor: Pengembangan Karir sebagai Proses Kehidupan

Pengembangan karir adalah proses seumur hidup. Dimulai pada saat kelahiran dan berlanjut sampai kita mati. Bukan hanya proses mencari pekerjaan, tapi bagaimana kita mengaktualisasikan peran dalam semua kehidupan kita. Konselor yang cerdik memahami proses ini. Dia dilihat itu seperti navigasi yang mengalir di sungai-sungai yang memiliki liku-liku; bagian yang tampaknya dangkal, berbahaya, dan menakutkan, dan bagian yang dalam, tenang, dan stabil. Konselor dalam hal ini memahami bahwa aliran sungai seperti halnya mulai dalam masa bayi ketika pertama anak mulai meniru perilaku orang dewasa muda dan berlanjut ke masa kanak-kanak ketika anak bertanya-tanya tentang dunia kerja. Seperti konselor melihat sungai ini menambah kecepatan pada masa remaja dengan remaja yang mulai mencari kepentingannya, nilai, dan kemampuan, dan aliran itu bergerak lebih cepat dan berbahaya di masa dewasa muda ketika individu ragu-ragu memilih karier. Sungai ini segera memperdalam dan lambat pada pertengahan usia dewasa dengan orang setengah baya yang merasa mapan, atau tiba-tiba mengambil kelok tajam dengan orang setengah baya yang memutuskan untuk menikmati, melihat pilihan kariernya. Sungai mulai melambat di kemudian hari dengan individu yang bergerak keluar dari pekerjaan dan menjadi kegiatan di waktu luang, atau orang yang mengurangi jumlah pekerjaan yang dia lakukan. Konseling karir yang bijaksana dan berkomitmen adalah mengikuti aliran karir, untuk sementara waktu, di sepanjang sungai ini dengan kliennya; dan mungkin, jika pembantu adalah navigator yang baik, ia dapat membantunya dalam membimbing klien menyusuri sepanjang sungai dan dengan rute yang stabil.

Ringkasan

Bab ini memeriksa konselor dan dunia kerja. Kami mulai dengan mendefinisikan sejumlah istilah yang relevan untuk memahami pengembangan karir. Kami kemudian memeriksa beberapa aspek sosiologis, psikologis, dan ekonomi dan alasan mengapa perencanaan karir yang memadai sangat penting untuk kepuasan kerja dan kesehatan mental yang positif.

Kami mencatat bahwa pengembangan karir, sebelumnya disebut bimbingan kejuruan, adalah asal dari profesi konseling dan dapat ditelusuri kembali ke awal 1900-an dengan karya Frank Parsons. Kami mencatat bahwa bimbingan kejuruan dimulai sebagai beton dan agak direktif pendekatan traid and faktor. Namun, dengan munculnya teori-teori baru oleh Donald Super dan lain-lain, itu menjadi lebih berorientasi humanistically, pendekatan pengembangan dan sejak itu disebut pengembangan karier.

Selanjutnya kami melanjutkan menjelaskan beberapa yang lebih populer dan meneliti teori tentang pengembangan karir, meskipun kami mencatat sejumlah teori lain juga digunakan. Dimulai dengan teori traid and faktor , kita mencatat bagaimana ia telah berkembang selama bertahun-tahun dan saat ini pengguna dari pendekatan ini menilai bagaimana sebuah klien dengan berbagai keterampilan, minat, dan kepribadian akhirnya variabel apa yang mungkin mempengaruhi pilihan karir. Kami kemudian memeriksa teori psikodinamik Ann Roe, yang maju dengan gagasan bahwa gaya pengasuhan awal yang penting dalam membentuk pilihan pekerjaan. Kami memandang teori John Holland, yang menyatakan bahwa orang mengekspresikan kepribadian mereka melalui jenis pilihan karier yang mereka buat, dan kami memeriksa Donald Super dengan teori perkembangan, yang menunjukkan diri seseorang baik konsep-fungsi dan hasil dari salah satu proses pengembangan karier. Pindah ke pendekatan yang lebih baru, kami menyoroti Karir Teori Kognitif Sosial dan mencatat bahwa teori ini menyatakan bahwa faktor-faktor obyektif, seperti faktor-faktor lingkungan (misalnya, pengaruh sosial) dan faktor dirasakan, keduanya mempengaruhi jenis dalam membuat keputusan tentang pilihan karier. Terakhir, kami meninjau teori perkembangan konstruktif, yang menekankan pentingnya memahami bagaimana membuat makna karier bagi klien, sebagai proses pengembangan. Kami mencatat bahwa kisah-kisah yang sering digunakan untuk menilai makna dan untuk membantu mengidentifikasi tingkat kognitif klien. Kami menyimpulkan dengan mencatat bahwa kebanyakan konselor karier saat ini berupaya untuk mengintegrasikan berbagai pendekatan ini ketika melakukan konseling karier.

Bagian selanjutnya dari bab ini memeriksa beberapa jenis lazim tentang informasi karir terkait yang tersedia. Kami pertama kali disajikan ikhtisar tentang sistem klasifikasi pekerjaan. Kami mulai dengan menggambarkan Occupational Information Network (O*NET), yang merupakan database online dikembangkan oleh Departemen Tenaga Kerja yang menyediakan array besar pekerja atribut dan karakteristik pekerjaan untuk sekitar 1000 pekerjaan. Selanjutnya kita bahas Panduan untuk Eksplorasi Kerja, yang berisi sekitar 1000 pekerjaan yang silang dengan 14 bunga daerah dan 83 kelompok kerja. Sistem kita yang terakhir diperiksa adalah Occupational Outlook Handbook (OOH) yang memuat berbagai informasi tentang sifat bekerja untuk sebuah kelompok terpilih dari sekitar 250 pekerjaan.

Kami kemudian belajar tentang bagaimana penilaian minat, bakat, dan kepribadian yang penting dalam konseling karir. Akhirnya, kami membahas meningkatnya penggunaan komputer dalam bimbingan karier komprehensif  dan mencatat bahwa program-program berbasis komputer, yang dibantu komputer penilaian, dan sumber daya karier di Internet menjadi semakin populer.

Setelah membahas teori, informasi kerja, dan teknik penilaian, kami menyoroti poin bahwa wawancara klinis merupakan salah satu alat yang paling penting yang konselor memiliki ketika bekerja dengan klien. Kami kemudian dipresentasikan garis besar untuk mengintegrasikan teori pengembangan karir, informasi kerja, teknik penilaian, dan wawancara klinis ketika melakukan konseling karier.

Meskipun kami mencatat bahwa tidak ada teori khusus pengembangan karir multikultural, kita menyatakan bahwa beberapa pedoman umum harus dipertimbangkan ketika bekerja dengan keberagaman klien. Selain itu, kami menguraikan sejumlah langkah untuk digunakan ketika konseling klien minoritas mengenai masalah-masalah karier.

Menjelang akhir bab ini, kita menyebutkan dua asosiasi utama di bidang pengembangan karir: di NCDA dan NECA. Kami juga mencatat bahwa NCDA menawarkan panduan etika dan menunjukkan kompetensi dalam pelatihan konselor karier. Kami mendiskusikan fakta bahwa konselor harus mengoptimalkan pilihan bagi klien, tidak membatasi mereka, dan kami mencatat beberapa undang-undang penting yang terkait dengan konseling karier dan bimbingan karier.

Terakhir, kami menekankan bahwa konseling karir adalah proses seumur hidup yang penuh dengan lika-liku dan konselor karir yang efektif akan membantu untuk memandu klien menuju dalam membuat perjalanan hidup ini menjadi sedikit lebih memuaskan.

Saluran info edisi perguruan tinggi dan sumber-sumber informasi lainnya (misalnya, ERIC dan PsyclNFO)
Catatan: bila relevan, kata-kata kunci dalam tipe tebal.

1. Penelitian teori pengembangan karir apapun pilihan Anda secara lebih rinci.

2. Jelajahi meluasnya peran komputer dan penilaian karir.

3. Memeriksa efek dari Undang-Undang kecacatan dari Amerika atau undang-undang lain yang relevan pada pilihan karir dan penge





CHAPTER 4 BUKU 2

9 01 2010

BAB 4.  Pendekatan Individual Konseling

Tahap 3; Pemilihan Teknik. Dengan melihat dari teori pembelajaran sosial- pengkondisian operant dan pengkondisian klasik, terapis memiliki banyak sekali teknik untuk membantu klien dalam proses perubahan. Pada tahap ini dalam proses penyembuhan. Terapis harus hati-hati memilih teknik yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam Tahap 2. Beberapa teknik yang sesuai akan dibahas secara singkat.

Tahap 4: Penilaian Sukses. Karena dasar dari intensitas, frekuensi, dan durasi dari masalah perilaku biasanya direkam, itu adalah proses yang relatif mudah untuk menilai apakah atau tidak ada mengurangi masalah perilaku. Jika tidak ada kemajuan yang terlihat, penting untuk meninjau kembali masalah dan teknik-teknik yang dipilih (atau daur ulang dari tahap 2). Jika masalah ini awalnya didiagnosis secara akurat, dan jika teknik-teknik yang tepat dipilih, klien harus mulai untuk melihat perbaikan masalah.

Tahap 5: Pengakhiran dan Follow-Up. Teori penguatan menunjukkan bahwa kepunahan dari sebagian besar perilaku biasanya akan diikuti oleh kebangkitan perilaku yang ditargetkan (Nye, 1992, 2000). Oleh karena itu, penting untuk tetap dengan klien cukup lama untuk menjamin keberhasilan dan untuk prepare klien untuk kemungkinan masalah kebangkitan setelah terapi telah berakhir. Oleh karena itu, banyak behavioris membangun dalam mengikuti tindak lanjut kursus terapi. Tentu saja, seperti halnya dalam terapi, penting bahwa klien mengalami rasa penutupan ketika mengakhiri terapi.

TEKNIK Karena terapis akan mencoba membuat analisis objektif dari masalah dan akan memilih teknik yang akan membahas isu-isu tertentu, akan sangat membantu untuk memiliki berbagai teknik di tangan. Beberapa teknik yang populer akan dijelaskan di bawah ini.

Modeling. . Hampir semua perilaku dapat diamati di dalam klinik dan dipraktekkan oleh klien, pertama di kantor dan kemudian mereka sendiri. Seperti. Perilaku sebagai kemampuan komunikasi, empati mendengarkan, mondar-mandir makan, dan “kemampuan belajar hanyalah beberapa dari sekian banyak perilaku yang dapat dilihat dan kemudian pertama yang dilakukan oleh klien. Barangkali keahlian yang paling sering diajarkan dan dipraktikkan dalam terapi Pengaturan ini ketegasan. Sering setan -

dimulai dalam grup pengaturan, perilaku ini dilihat oleh seorang klien dan kemudian berlatih melalui bermain peran selama sesi tersebut.

Digunakan. Dari persyaratan instrumental Teknik. Setelah  ia pembentukan awal, konselor akan bekerja dengan klien untuk mulai kepunahan perilaku yang tidak diinginkan. Tiba-tiba, menghentikan perilaku biasanya sangat sulit sehingga memperlambat proses kepunahan dengan Posi ¬ tive penguatan sering perilaku baru didirikan (tentu saja, beberapa perilaku yang terbaik dihilangkan dengan pergi “kalkun dingin”, seperti merokok). Sebagai contoh, sebuah program penurunan berat badan mungkin memiliki klien menguatkan dirinya untuk penurunan kalori yang dimakan (misalnya, rf r positif) (self-talk). Selain itu, klien lain yang signifikan dapat memperkuat dirinya untuk kehilangan berat badan secara bertahap (misalnya, “Kau tampak benar-benar baik!”) – Selain itu, klien bisa bergabung dengan self-help kelompok pengurangan berat badan untuk penguatan tambahan. Selain itu, kontrol rangsangan dapat diperkenalkan (misalnya, hanya makanan rendah lemak diperbolehkan dalam rumah). Akhirnya, perilaku lain seperti latihan atau meditasi mungkin akan diperkenalkan sebagai alat untuk memperkuat gaya hidup baru.

Latihan relaksasi dan desensitisasi sistematis. Karena seorang individu tidak dapat pengalaman cemas dan perasaan tenang secara bersamaan, latihan relaksasi sering diajarkan untuk klien yang mengalami kecemasan dan / atau takut. Meskipun sejumlah teknik relaksasi dapat digunakan, prosedur relaksasi klasik dikembangkan oleh Jacobson (1938).

BAB II.  Hubungan Yang Bersifat Membantu: Teori dan Keterampilan

Dalam metode ini, klien semakin santai dengan berfokus pada masing-masing tumbuh otot utama tubuh-mengencangkan dan kemudian merasakan otot rileks, sampai seluruh tubuh relaks.

Pelatihan Relaksasi juga digunakan sebagai komponen pengkondisian klasik teknik desensitisasi sistematis, di mana seorang individu pasang respons takut dengan rasa relaksasi. Metode ini telah terbukti sangat berhasil bila digunakan untuk perilaku fobia. Dalam bekerja dengan klien menggunakan teknik ini, suatu hierarki ketakutan dikembangkan. Fc Misalnya, bayangkan seorang individu yang memiliki rasa takut lift. Sebuah hirarki mungkin includetion (1) melihat lift, (2) berdiri di lift dengan pintu yang diadakan di posisi terbuka, (3) akan naik satu penerbangan di lift, (4) naik lima penerbangan di lift, (5) bergabung naik 20 penerbangan dalam lift, (6) akan naik 50 penerbangan dalam lift, (7) akan naik ke puncak c Empire State Building. Di kantor, seorang konselor akan mulai dengan tingkat pertama hirarki dengan meminta klien untuk menutup mata nya dan kemudian mengambil klien melalui respons relaksasi. Selanjutnya, konselor akan mulai di bagian bawah hirarki, dalam hal ini, meminta klien untuk membayangkan melihat lift. Klien akan diberitahu untuk menaikkan; jari segera setelah dia mengalami kecemasan. Ketika kegelisahan terasa, konselor membangun kembali perasaan yang santai dan mulai berakhir. Konselor akhirnya akan memiliki diem membayangkan seluruh hirarki. Teknik ini memerlukan waktu, kadang-kadang sebanyak empat atau lebih sesi sampai klien mampu sepenuhnya membayangkan hirarki tanpa cemas. Setelah menyelesaikan hierarki di kantor, klien dapat mempraktekkan dalam kehidupan nyata. Saat ini, tidak jarang terapis untuk mendampingi klien ketika mencoba perilaku ini.

Self-Management Techniques. Baru-baru ini, berbagai perilaku klien mengajar teknik dan setelah mereka mengembangkan dan praktek perilaku baru pada mereka sendiri telah menjadi umum. Dalam proses ini, penting untuk klien (1) untuk memilih yang akurat dan dapat dicapai tujuan dan strategi, (2) dengan jelas memahami berbagai perilaku teknik dan perangkap yang mungkin terlibat, (3) untuk melakukan pemantauan diri yang akurat, (4) untuk menilai kembali proses jika kesuksesan tidak tercapai, (5) untuk menindaklanjuti pada tujuan , dan (6) untuk merencanakan masa depan dan diharapkan kemunduran.

Banjir dan Teknik Implosion. Biasanya digunakan dalam pengobatan fobia, banjir dan melibatkan teknik ledakan memiliki klien mengekspos dirinya sendiri ke jumlah intensif rangsangan yang berhubungan dengan fobia. Dalam banjir, baik klien membayangkan berada di hadapan tempat rangsangan atau benar-benar dirinya sendiri “in vivo” pada rangsangan (naik elevator di Empire State Building bagi mereka yang memiliki fobia lift tanpa desensitisasi!). Teknik Implosive melibatkan penggunaan gambar mental yang berlebihan dalam beberapa cara abstrak yang berhubungan dengan fobia (misalnya, “Bayangkan diri Anda dalam sebuah lift di Empire State Building. Anda akan pergi ke lantai atas. Anda bisa sampai ke lantai 90 dan satu -setengah, dan lift berhenti. Anda sudah terjebak. Dan kau di lift dengan mantan pasangan Anda dan orang yang histeris! “). Kedua teknik memaksimalkan kecemasan, dengan hasil yang diharapkan menjadi negara akhirnya relaksasi karena kecemasan intensif tersebut tidak dapat ditoleransi oleh orang untuk jangka waktu yang lama. Akhirnya, individu mulai merasa tenang dengan rangsangan. Jelas, teknik tersebut harus digunakan hanya oleh terapis yang terlatih baik.

Hubungan yang Mengobati, zaman modern terapi perilaku menekankan pentingnya dan kepedulian yang positif hubungan antara terapis dan klien. Hubungan ini memungkinkan kepercayaan dan hubungan yang akan dibangun dan terapis affords kesempatan yang lebih besar untuk secara akurat menilai area masalah. Selain itu, penting bagi terapis untuk bekerja sama dengan klien dan mengarahkan klien ke arah teknik yang terbaik akan memperbaiki apapun termasuk mengidentifikasi masalah.

BOX 4,5

Dapatkah seorang Behavioris menjadi Humanist?

Selama membela disertasi doktor penasihat saya, yang adalah seorang behavioris, bertanya apakah “seorang behavioris bisa menjadi humanis.” Aku melanjutkan untuk memberikan apa yang saya pikir pada waktu untuk respon yang agak esoterik dicatat bahwa orientasi dasar dari pendekatan filosofis berbeda dan karenanya tidak kompatibel satu sama lain. Beberapa tahun kemudian

Saya mendapat kesempatan untuk mendengar BF Skinner berbicara di sebuah gereja di New Hampshire. Setelah bicara Aku pergi kepadanya dan bertanya, “Dapatkah seorang behavioris menjadi humanis?” Menunggu sejenak, ia menoleh padaku, dan dengan sangat reflektif melihat ia berkata, “Yah, aku tidak tahu tentang itu, tapi dia pasti bisa menjadi manusiawi.”

Terapis juga bertindak sebagai ilmuwan yang objektif yang membantu klien dalam menilai frekuensi, durasi, dan intensitas dari perilaku (s) harus diubah dan yang membantu klien menilai kemajuan dari sudut pandang yang objektif. Oleh karena itu klien mengalami terapis sebagai manusiawi yang penuh perhatian dan orang yang dapat secara efektif mendengarkan, menilai masalah, mengajarkan klien tentang teknik, dan mengarahkan klien ke arah tujuan perawatan.

SINOPSIS     Perilaku terapi ini dikembangkan pada paruh pertama abad kedua puluh dan didasarkan pada tiga jenis perilaku paradigma: instrumental conditioning, conditioning klasik, dan model. Terapi perilaku Meskipun awalnya dipandang sebagai ilmiah, reduksionistik, dan kebanyakan pendekatan steril konseling, terapi perilaku saat ini telah terintegrasi banyak metode humanistik ke pendekatan nya. Sebagai contoh, tidak jarang untuk hari modern behavioris untuk menggunakan empati dan mengembangkan kerja kolaborasi ing ¬ hubungan dengan klien. Hal ini memungkinkan terapis untuk membangun kepercayaan dan kebenaran identifikasi perilaku yang ditargetkan klien ingin berubah. Setelah diidentifikasi perilaku, tujuan dapat dibentuk dan teknik yang dipilih. Selanjutnya behavioris memiliki segudang teknik untuk memilih dari, dan tidak lazim bagi behavioris untuk mulai bekerja dengan seorang klien di dalam kantor, tapi nanti untuk bekerja sama dengan klien di lapangan. Modern behavioris bertindak sebagai manusiawi, kepedulian guru profesional dan teknik yang membantu dalam mengarahkan klien ke arah tujuan pengobatan dan rasa kepuasan dalam hidup (lihat Kotak 4.5).

Multimodal Terapi

Merasa bahwa terapi perilaku yang terbatas teknik dan strategi, Arnold Lazarus mengembangkan apa yang disebut terapi multimodal (Lazarus, 1976, 2002; Wolpe & Lazarus, 1966). Saat ini, terapi multimodal menggunakan array yang luas dari teknik dan telah diidentifikasi oleh banyak orang sebagai sistematis, relatif singkat, pendekatan eklektik (Lazarus, 1976; 1997a, 1997b; Lazarus &. Beutler, 1993; Mahalik, 1990). Karena usaha Lazarus dengan jelas mendefinisikan masalah, menetapkan tujuan, mengidentifikasi teknik, dan mengukur keberhasilan, ia tampak dalam banyak cara agar sesuai dengan zaman modern definisi behaviorisme. Selain itu, kecenderungan ke arah teoretisnya teori pembelajaran sosial dan kurangnya fokus pada “proses dinamis” titik teorinya lebih ke arah orientasi perilaku (Corsini & Wedding, 2000; Lazarus, 1986). Namun, seperti yang akan Anda lihat, Lazarus’s formulasi telah pergi jauh melampaui lebih tra ¬ karya ditional terapis perilaku.

Lazarus Pendekatan ini didasarkan pada analisis yang hati-hati klien dalam waktu tujuh ikatan ¬ modali dikenal dengan singkatan BASIC ID. Dalam menilai kebutuhan klien dalam terapi, Lazarus bertanya

William Glasser

klien untuk mengembangkan sendiri modalitas profil dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan di domain berikut:

Perilaku: Buatlah daftar perilaku yang terbuka, seperti tindakan, kebiasaan, sikap, tanggapan, dan reaksi, bahwa Anda ingin meningkatkan dan orang-orang yang akan menurun. Apa yang akan Anda ingin mulai dan berhenti melakukan?

Mempengaruhi: Tuliskan emosi yang tidak diinginkan, suasana hati, dan perasaan yang kuat (misalnya, anx ¬ iety, rasa bersalah, kemarahan, depresi).

Sensasi: Buatlah daftar sensasi negatif apapun yang berkaitan dengan indera Anda menyentuh, merasakan, mencium, melihat, dan mendengar (misalnya, ketegangan, pusing, rasa sakit, memerah, mentega ¬ lalat di perut).

Perumpamaan: Tuliskan apapun yang mengganggu mimpi dan hidup berulang kenangan dan fitur negatif tentang citra diri Anda. Buatlah daftar semua citra mental atau gambar pendengaran yang mungkin mengganggu Anda.

Cognition: Buatlah daftar dari setiap sikap, nilai, pendapat, dan ide yang bisa di jalan kebahagiaan Anda. Termasuk hal-hal negatif Anda sering berkata kepada diri sendiri (misalnya, “Aku gagal”).

Hubungan interpersonal: Tuliskan apa pun mengganggu interaksi dengan orang lain (saudara, teman, kekasih, majikan, kenalan). Segala keprihatinan Anda miliki tentang cara orang lain memperlakukan Anda harus muncul di sini.

Obat / Biologi: Buatlah daftar semua obat yang Anda gunakan, baik yang diresepkan oleh dokter atau tidak. Mencakup masalah kesehatan, masalah medis, dan penyakit yang kini Anda memiliki atau pernah dimiliki di masa lalu (diparafrasekan dan diperpendek dari Lazarus, 1986).

Setelah analisis menyeluruh klien BASIC ID, langsung strategi pengobatan dan tujuan perawatan dikembangkan untuk masing-masing modalitas. Meskipun setiap modal ¬ ity akan ditanggulangi, beberapa modalitas kemungkinan akan ditekankan atas orang lain. Jelas, Lazarus Pendekatan pragmatis dan dapat diadopsi oleh setiap terapis yang memiliki pengetahuan mendalam intervensi perawatan dan dapat mencocokkan ini secara efektif dengan klien * profil.

Reality Therapy and Choice Theory

Realitas terapi ini dikembangkan pada 1950 oleh William Glasser (Glasser, 1961, 1965, 1984) dan lebih baru-baru ini telah diperluas oleh Robert Wubbolding (2005, 2006). Menggunakan konsep-konsep yang termasuk eksistensial, perilaku, dan kerangka kerja kognitif, Glasser awalnya bekerja dengan tunggakan sangat terganggu pemuda dan orang dewasa (Wubbolding, 2005). Glasser percaya bahwa orang tidak korban dari masa lalu mereka dan dapat membuat pilihan-pilihan dalam hidup mereka untuk mengubah persepsi mereka sendiri. Dalam Glasser tulisan-tulisan yang lebih baru, dia menyatakan bahwa kita memiliki lima kebutuhan bawaan: cinta dan memiliki, kekuatan, kebebasan, menyenangkan, dan kelangsungan hidup (Glasser, 1997, 2000b), dan ia mengusulkan bahwa setiap perilaku yang kita pameran adalah suatu usaha untuk memiliki kebutuhan ini bertemu. Namun, Glasser juga percaya bahwa kadang-kadang kita belajar cara dysfunc ¬ nasional untuk mendapatkan kebutuhan ini terpenuhi, dan perilaku disfungsional ini menjadi dasar bagaimana kita memandang realitas. Dia menegaskan bahwa kami terus menunjukkan perilaku tersebut, bahkan jika mereka merusak, dalam rangka untuk menjaga pandangan kita tentang dunia (Glasser, 1994). Melalui proses konseling, Glasser percaya bahwa klien dapat ditunjukkan bagaimana mereka menciptakan realitas mereka sendiri melalui perilaku mereka pilih. Memahami bahwa mereka menciptakan realitas mereka sendiri, klien dapat belajar bagaimana memilih perilaku baru yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana mereka melihat realitas dan bagaimana mereka rasakan; sehingga istilah teori pilihan (Glasser, 2001).

BAB 4 Pendekatan untuk Konseling

Teori pilihan sangat antideterministic ke titik bahwa penyakit mental, serta sebagian besar masalah dalam hidup, dipandang sebagai indikasi bahwa seseorang belum menemukan cara-cara yang sehat karena kebutuhan nya terpenuhi. Sebagai contoh, teori pilihan menegaskan bahwa orang-orang yang menekan mereka ¬ diri, marah sendiri, membuat mereka psikotik, belajar membuat diri mereka penyandang cacat, dan sebagainya dalam upaya disfungsional untuk mendapatkan kebutuhan mereka bertemu (ini adalah satu-satunya cara yang mereka ketahui). Tujuan teori pilihan adalah untuk membantu klien dalam menemukan perilaku sehat yang akan memenuhi kebutuhan dasar mereka dan pada akhirnya memindahkan mereka dari kegagalan identitas ke identitas kesuksesan.

Untuk realitas terapis, proses terapeutik pertama melibatkan menciptakan percaya ENVI ¬ ronment. Realitas terapis melakukan hal ini dengan melibatkan diri dengan klien mereka dan menjadi seorang teman untuk klien mereka. Misalnya, mereka mungkin berbicara tentang masalah atau kegiatan Common klien menikmati. Ketika proses terapeutik unravels, realitas terapis membantu klien memusatkan perhatian pada apa yang mereka lakukan untuk melanjutkan perasaan negatif dan kegagalan mereka identitas. Klien ditantang untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan mereka dan didorong untuk mengidentifikasi behav ¬ iors mereka ingin ubah. Selain itu, dengan bantuan dari realitas terapis, klien didorong untuk menyusun sebuah rencana untuk berubah. Walaupun terapis percaya realitas konselor tidak boleh menerima alasan ketika klien tidak menindaklanjuti rencana mereka, mereka juga sangat merasa bahwa konselor harus membuat komitmen untuk klien dan tidak menyerah pada mereka. Klien yang tidak mengikuti melalui dipandang sebagai memerlukan penilaian ulang rencana mereka dan / atau dorongan untuk terus mencoba.

Teori pilihan, dan sistem pengiriman, realitas terapi, telah diterapkan untuk pengaturan yang lebih besar, seperti sekolah dan rumah sakit jiwa. Dalam kasus ini, keterlibatan dari seluruh lembaga sangat penting. Lembaga, kata Glasser, harus mengembangkan seperangkat aturan perilaku, dan semua yang terlibat perlu memahami dan mematuhi jelas oleh mereka. Ketidakpatuhan aturan harus mengarah pada konsekuensi alamiah tertentu, sebagai lawan dari hukuman, yang Glasser mengerutkan kening atas.

Teori Glasser optimis, berorientasi tindakan, dan maju bergerak, dapat diterapkan dalam berbagai pengaturan, dan telah digunakan di seluruh dunia (Wubbolding, 2000; Wubbolding et al., 2004). Karena banyak konsep yang secara eksistensial dan kognitif berbasis, beberapa bisa berpendapat bahwa teori dan kenyataan pilihan terapi tidak boleh tercantum sebagai pendekatan perilaku, namun karena berfokus pada perilaku Glasser sebagai kunci untuk mengubah, saya telah meletakkan teori dalam bidang terapi perilaku. Namun, mungkin paling cocok dalam “kognitif-perilaku” wilayah (Bob Wubbolding, komunikasi pribadi, 1 April 2005)-yang membawa kita ke diskusi berikutnya pendekatan kognitif.

Pendekatan kognitif

Mendefinisikan Cognitive Therapy dan View of Human Nature

Behavioris awal sedikit perhatian kepada kognisi yang mungkin mediasi perilaku. Bahkan, Skinner (1972) menyatakan bahwa tidak ada gunanya untuk mencari penyebab internal perilaku, karena mereka hanya dikembangkan melalui penguatan eksternal kemungkinan:

. . . kita tidak memiliki akses langsung ke keadaan pikiran, perasaan, tujuan, sikap, Opin ¬ ion, atau nilai-nilai. Apa yang kita lakukan adalah mencoba untuk mengubah perilaku dari yang kita simpulkan hal-hal semacam itu, dan kita berubah hanya dengan mengubah lingkungan. … (hal. 423)

Namun, sejak tahun 1960-an psikoterapi kognitif ketat ini telah menantang pandangan behavioris radikal. Meskipun kebanyakan terapis kognitif percaya bahwa ada interaksi yang kompleks antara berpikir, merasa, dan bertindak, sebagai namanya, penekanan mereka

BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan

seluruh proses perubahan adalah bagaimana kita berpikir dan membuat makna di dunia kita. Tl penekanan bukanlah hal baru:

. . . jika Anda memiliki pendapat yang benar, Anda akan ongkos baik; jika mereka salah, Anda akan ongkos sakit. Karena kepada setiap orang penyebab aktingnya adalah pendapat. . . . (Epictetus, c. 100 AD)

Selama tahun 1960-an menjadi terapi kognitif yang dipopulerkan oleh Albert Ellis (Ellis, 196 Ellis & Harper, 1997). Tidak lama setelah pandangan Ellis dikenal, sejumlah individu bergabung dengan “revolusi kognitif.” Sebagai contoh, Aaron Beck (1976), Donald Meichenbau (1977), dan Michael Mahoney (1974) menawarkan pendekatan baru dalam psikoterapi kognitif

Terapis kognitif tradisional percaya bahwa individu dilahirkan dengan kemampuan berpikir rasional atau tidak rasional, dengan proses berpikir seseorang menjadi diperkuat selama bertahun-tahun, mapan dan sulit untuk memadamkan. Meskipun perasaan dan perilaku yang mungkin memiliki peran penting dalam kehidupan individu, penekanan pada proses pemikiran, keyakinan bahwa kecerdasan berpikir logis dapat diganti dengan pemikiran logis dalam cara yang hampir bedah.

Baru-baru ini, beberapa ahli terapi kognitif telah bergerak ke arah konstruktivis memahami bagaimana orang berpikir dan membuat makna dunia (Mahoney, 1991, 1995a ‘Bahwa rasionalis dari sekolah-sekolah tradisional terapi kognitif dilihat sebagai suatu proses yang berorientasi logika yang melibatkan irasional mengganti pikiran dengan rasional orang, yang konstruktivis menekankan bagaimana konstruksi realitas kita didasarkan pada suatu interaksi yang rumit antara pemikiran kita, bertindak, dan merasa dunia, dengan masing-masing individu menciptakan nya atau dia sendiri yang unik sistem pembuatan makna. Dan, sedangkan rasionalis menggunakan logika akal sehat, dan berpikir rasional dalam upaya untuk mengubah kognisi, yang konstruktivis akan kami teknik seperti story telling, metafora dan analogi, abstraksi, pingsan saran, dan proses kompleks lainnya untuk membantu individu untuk mengadopsi arti baru sistem pembuatan dan pandangan baru tentang dunia yang lebih adaptif (Goncalves &. Machado: 1995; Mahoney, 1995a; Neimeyer & Mahoney, 1999).

Meskipun tradisional dan pendekatan konstruktivis bervariasi dalam beberapa cara inti, ada juga banyak kesamaan. Keduanya antideterministic dalam bahwa mereka percaya bahwa individu dapat berubah. Keduanya percaya bahwa saat ini satu cara memandang dunia adalah kunci untuk membuat perubahan, baik dalam yang logis, sistematis seperti dengan kaum tradisionalis, atau dalam yang sangat reflektif diri dengan cara yang menganalisis makna dan menawarkan proses perubahan yang kompleks yang mengandalkan sebagian besar pada pemikiran abstrak (Neimeyer, 1995). Meskipun keduanya mungkin tidak menyangkal konsep motivasi tak sadar, proses tak sadar bukan merupakan konsep inti dalam terapi.

Dalam bagian ini, saya memilih Albert Ellis’s rasional emotif terapi perilaku (REBT) untuk memeriksa secara agak rinci. Ellis, yang dianggap sebagai tradisionalis oleh sebagian besar (Mahoney, 1995a) tetapi konstruktivis oleh dirinya sendiri (Ellis, 1988a, 1990, 1993), telah sangat dipengaruhi bidang terapi kognitif. Selain itu, terapi kognitif Beck (1976), yang diperluas pada ide-ide Ellis sementara menawarkan beberapa arah baru untuk psikoterapi kognitif, akan dibahas secara singkat sebagai akan konstruktivis yang lebih baru pengertian tentang Mahoney (Mahoney, 1995b; Mahoney, Miller, & Arciero, 1995 ; Neimeyer & Mahoney, 1999).

Ellis Perilaku rasional emotif Terapi

Ellis yakin bahwa manusia menciptakan gangguan psikologis dengan berpikir tidak logis dan dengan mempertahankan seperangkat keyakinan irasional (Ellis, 1988a; Ellis &. Harper, 1997). Individu kekang-doctrinate sendiri, kata Ellis, dengan tidak logis ini pikiran dan keyakinan tidak rasional karena alam kita akan sangat dipengaruhi oleh orang lain-lain yang tidak logis sendiri memegang keyakinan:

Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling

BOX 4,6

1. Gagasan bahwa itu adalah suatu keharusan mengerikan bagi orang dewasa untuk dicintai atau disetujui oleh hampir semua orang penting dalam masyarakat.

2. Gagasan bahwa seseorang harus benar-benar kompeten, memadai, dan mencapai semua hal yang mungkin jika kita mempertimbangkan diri berharga.

3. Gagasan bahwa ketidakbahagiaan manusia adalah disebabkan eksternal dan bahwa orang-orang yang memiliki sedikit atau tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kesedihan dan gangguan mereka.

4. Gagasan bahwa salah satu sejarah masa lalu adalah segala-faktor penting dalam perilaku seseorang hadir dan itu karena sesuatu yang pernah sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, itu harus selamanya memiliki efek yang sama.

5. Gagasan bahwa ada selalu yang benar, tepat, dan solusi tepat untuk masalah-masalah manusia dan bahwa itu adalah cata ¬ strophic jika solusi yang sempurna ini tidak ditemukan.

6. Gagasan bahwa jika sesuatu sedang atau dapat membahayakan atau menakutkan orang harus sangat prihatin tentang hal ini dan harus tetap memikirkan kemungkinan yang terjadi.

7. Gagasan bahwa orang-orang tertentu yang buruk, jahat, atau Vil ¬ lainous dan bahwa mereka harus berat dipersalahkan dan dihukum karena kejahatan mereka.

8. Gagasan bahwa hal itu mengerikan dan bencana ketika ada yang tidak cara seseorang akan sangat ingin mereka menjadi.

9. Gagasan bahwa lebih mudah untuk menghindari daripada menghadapi kesulitan hidup tertentu dan tanggung jawab diri.

10. Gagasan bahwa seseorang harus menjadi sangat kecewa atas masalah orang lain dan gangguan.

11. Gagasan bahwa orang harus bergantung pada orang lain dan membutuhkan seseorang yang kuat daripada diri pada siapa yang bisa diandalkan. (EIUs, 1973, pp. 152-153, 242-243)

Albert Ellis

Manusia, dengan kata lain, sangat dibisikkan, mudah dipengaruhi, rentan, dan mudah tertipu. Dan mereka adalah diri-berbicara, mengindoktrinasi diri, merangsang diri makhluk. Mereka membutuhkan, tentu saja, beberapa pengaruh lingkungan untuk berkembang menjadi dibisikkan dan propaganda diri individu, sama seperti mereka membutuhkan stimulasi eksternal dalam rangka untuk mengembangkan sama sekali. (Euis, 1973, hal 34)

Terapi Ellis melibatkan lima langkah dasar. Pertama, terapis perlu meyakinkan klien bahwa ia berpikir rasional. Kedua, kebutuhan terapis untuk menunjukkan klien bagaimana ia mempertahankan ini adalah tidak logis dan tidak rasional berpikir. Ketiga, kebutuhan klien untuk mempelajari bagaimana tantangan-nya keyakinan irasional. Keempat, klien perlu mempertimbangkan bagaimana keyakinan irasional spesifik mungkin didasarkan pada satu atau lebih dari 11 digeneralisasi keyakinan irasional yang telah menjadi menginternalisasi (lihat Kotak 4.6). Kelima, kebutuhan klien untuk bekerja mengembangkan cara yang lebih rasional hidup di dunia.

TEKNIK Meskipun kebanyakan REBT awalnya berfokus pada kognisi (the “E” dan “B” di REBT ditambahkan kemudian), hari ini ada terapi ini lebih dari sekedar mengidentifikasi pikiran irasional. Bahkan, Ellis bebas mengakui bahwa ia akan mendorong klien untuk mengubah pikiran logis dalam berbagai cara, seperti melalui penggunaan teknologi perilaku atau emotif ¬ niques. Hal ini karena Ellis percaya ada hubungan intim antara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak. Berikut ini adalah contoh dari berbagai teknik yang mungkin digunakan Ellis.

ABC of Personality Pembentukan. Menggunakan teknik yang disebut “ABC mengungkapkan per ¬ sonality pembentukan,” Ellis percaya bahwa bukan acara mengaktifkan (A) yang menyebabkan konsekuensi emosional (C), tetapi kepercayaan (B) tentang kejadian tersebut. Sebagai contoh, t’aced dengan situasi yang sama-kehilangan hubungan-satu sistem kepercayaan klien dapat mengakibatkan sui ¬ cidal depresi, sementara yang lain sistem kepercayaan klien dapat mengakibatkan klien baik-baik saja aboui putus. Sedangkan satu klien mungkin akan membuat bencana kehilangan relasi ¬ kapal dan membuat pernyataan diri (B) seperti “Aku tidak berguna,” “Aku jelek,” dan “Aku tidak akan pernah baik orang lain seperti itu orang, “klien kedua mungkin akan berkata,” Ini adalah kesempatan bagi saya untuk bertemu orang baru “dan” Hubungan yakin ternyata ada sisi negatifnya. “

Dalam proses terapeutik Ellis mendorong klien untuk memeriksa apakah mereka membuat rasional atau tidak rasional pernyataan diri. Misalnya, dalam contoh di atas, meskipun kehilangan hubungan perubahan yang signifikan dalam kehidupan seseorang, tidak ada bukti bahwa individu tidak ada gunanya atau bahwa klien tidak akan terlibat dengan orang lain (keyakinan yang irasional). Di samping itu, konselor REBT akan mendorong klien untuk ujian ¬ ine lebih dalam, yang mendasari keyakinan yang mungkin berhubungan dengan nya berbicara kepada diri sendiri (lihat Kotak 4-6).

Salah satu peran dari terapis REBT adalah untuk menciptakan sebuah intervensi bersengketa (D) untuk irra keyakinan ¬ nasional (B) yang akan efek (E) yang baru, dan lebih baik, perasaan (F). Oleh karena itu, konseling yang aktif, direktif proses di mana konselor membantu klien mengidentifikasi pemikiran irasional dan kemudian membantu klien dalam memerangi dan menantang keyakinan yang irasional. Dalam contoh di atas, klien bisa mulai berlatih dengan mengatakan hal-hal seperti “Saya berharga” dan “Aku akan mencari hubungan lain,” dalam metode aktif memerangi tertanam mencela diri sendiri pikiran negatif. Dengan demikian, intervensi yang bersengketa adalah klien berlatih percakapan-diri (D), yang efek (E) yang baru dan lebih keyakinan positif tentang self (B) dan menghasilkan perasaan yang baik tentang self (F).

Kognitif Homework. Setelah klien meninggalkan kantor terapis, mereka dapat secara aktif mengupayakan restrukturisasi kognitif oleh keyakinan irasional bersengketa, identifikasi seharusnya, musts, dan pemikiran absolut yang mengarah ke keyakinan irasional semacam itu, dan terus-menerus bekerja untuk reor ¬ ganize pemikiran mereka menjadi lebih terikat dan lebih bebas hidup.

Bibliotherapy. Dengan membaca buku-buku yang mendukung hipotesis dasar Ellis dan khusus untuk masalah klien, klien dapat terus aktif mengubah cara berpikir dan bertindak dan bekerja pada masalah-masalah mereka sendiri.

Role-Playing. Klien dapat mencoba perilaku baru, baik di kantor terapis dan pada mereka sendiri. Proses aktif ini membantu untuk menantang keyakinan irasional yang ada dan menyediakan mulai ¬ ning kerangka perubahan perilaku.

Malu-Latihan Menyerang. Ellis menyarankan bahwa untuk mengurangi pengaruh orang-orang yang terlalu sering pada orang lain, klien harus melakukan hal-hal yang tidak konvensional dan praktek sosial yang berbeda .. Misalnya, seseorang yang pemalu mungkin pergi ke pesta dan bertindak outlandishly extro ¬ verted ke titik di mana orang-orang menghindarinya. Hal ini memungkinkan individu untuk melepaskan “keharusan” dan “musts” dan bertindak yang lebih berjiwa bebas mode.

Latihan pencitraan. Ellis mendorong orang untuk membayangkan bagaimana mereka ingin menjadi. Imaging, terutama jika diikuti oleh praktek perilaku, dapat memindahkan seorang individu kepada cara baru berada di dunia.

Perilaku Techniques. Ellis mendorong menggunakan teknik perilaku apapun yang akan facil ¬ klien itate perubahan. Teknik sebagai persyaratan instrumental, pemodelan, ketegasan pelatihan, pengelolaan diri, banjir, dan ledakan dapat digunakan dalam perawatan.

BAB 4 Pendekatan untuk Konseling

BOX 4,7

Beberapa tahun setelah menyelesaikan gelar doktor saya dianggap melakukan persekutuan postdoctoral di emotif Perilaku Rasional Institute di New York City. Aku mengirimkan resume dan saya dipanggil untuk wawancara. Mula-mula, saya mewawancarai dengan salah satu direktur, kemudian saya diberitahu bahwa saya akan harus melakukan peran-bermain dengan “Al.” Aku dibawa untuk melihat Al, yang sedang duduk di besar, kursi yang nyaman. Dia terus meminta saya untuk memainkan peran seorang konselor. Dia adalah klien, pra ¬ senting mahasiswa laki-laki yang mengalami kesulitan berkencan.

Saya mulai mendengarkan dan menanggapi dengan empati, berpikir bahwa setelah mendengar tentang masalah, saya akan pindah ke suatu gaya REBT respons. Setelah sekitar tiga tanggapan empatik berturut-turut, Al berkata kepadaku, sesuatu seperti, “Jangan beri aku semua itu Rogerian __! Aku ingin melihat konselor emotif rasional.” Aku terus memberikan apa yang ia inginkan, berpikir dalam hati, “Dia yakin serius tentang unimportance tentang” perlu dan memadai Condi ¬ tions. “1 saya memutuskan untuk tidak mengejar persekutuan.

Beberapa tahun setelah menyelesaikan gelar doktor saya dianggap melakukan persekutuan postdoctoral di emotif Perilaku Rasional Institute di New York City. Aku mengirimkan resume dan saya dipanggil untuk wawancara. Mula-mula, saya mewawancarai dengan salah satu direktur, kemudian saya diberitahu bahwa saya akan harus melakukan peran-bermain dengan “Al.” Aku dibawa untuk melihat Al, yang sedang duduk di besar, kursi yang nyaman. Dia terus meminta saya untuk memainkan peran seorang konselor. Dia adalah klien, pra ¬ senting mahasiswa laki-laki yang mengalami kesulitan berkencan.

Saya mulai mendengarkan dan menanggapi dengan empati, berpikir bahwa setelah mendengar tentang masalah, saya akan pindah ke suatu gaya REBT respons. Setelah sekitar tiga tanggapan empatik berturut-turut, Al berkata kepadaku, sesuatu seperti, “Jangan beri aku semua itu Rogerian __! Aku ingin melihat konselor emotif rasional.” Aku terus memberikan apa yang ia inginkan, berpikir dalam hati, “Dia yakin serius tentang unimportance tentang” perlu dan memadai Condi ¬ tions. “1 saya memutuskan untuk tidak mengejar persekutuan.

Teknik emotif. Meskipun sering dikritik karena terlalu kognitif, Ellis tidak kebal terhadap emosi memeriksa. Meski tidak percaya bahwa katarsis adalah dalam dirinya sendiri dan kuratif, Ellis tidak percaya itu adalah penting untuk menguji emosi dan memahami perasaan-perasaan yang mungkin hasil dari berpikir irasional. Oleh karena itu, Ellis mendorong klien untuk berhubungan dengan perasaan mereka dalam upaya untuk melakukan pemeriksaan diri serius dari sistem kepercayaan mereka.

THE THERAPEUTIC HUBUNGAN REBT aktif, direktif, dan pendekatan didaktik konseling. Ellis tidak percaya bahwa hubungan terapeutik yang diperlukan dan memerlukan kondisi yang memadai Rogers menganjurkan (lihat Kotak 4.7). Apa yang penting, negara Ellis, adalah keyakinan klien dalam filsafat REBT, terlepas dari perasaannya terhadap terapis. Oleh karena itu, proses terapeutik yang melibatkan seorang terapis mengajarkan klien tentang ABCDs berpikir dan mendorong serta mengkonfrontasikan klien untuk secara aktif mengambil cara-cara baru berpikir dan menjalani hidup. Ellis yakin bahwa klien harus melakukan perpindahan dari menjadi korban dari keadaan atau dirinya sendiri untuk menjadi orang yang dapat con ¬ Pendapatan = Hibah hidupnya dan membuat kognitif aktif pergeseran dan perubahan perilaku.

SINOPSIS Albert Ellis telah menjadi pemimpin dalam mengembangkan pendekatan rasional terapi kognitif. Pendekatannya mengasumsikan bahwa individu mampu berpikir rasional dan tidak rasional ¬ ing dan tidak rasional berpikir, bukan peristiwa dalam kehidupan seseorang, menyebabkan konsekuensi emosi negatif ¬ quences. Berdasarkan pandangan ini, Ellis mengembangkan teori ABCD gangguan emosional di mana A adalah peristiwa mengaktifkan dan B keyakinan tentang peristiwa yang menyebabkan C, emo ¬ konsekuensi nasional. Sekali seorang individu mengidentifikasi keyakinan tidak rasional, ia dapat sengketa (D) keyakinan dan mulai menjalani gaya hidup yang kurang neurotik. Ellis yakin bahwa kapal ¬ hubungan antara terapis dan klien tidak sepenting apakah klien berikut melalui dengan teknik-teknik dan memahami filosofi REBT. Ellis telah mengembangkan sejumlah kognitif, perilaku, dan emosi teknik untuk membantu seorang individu dalam bergerak dari irasional ke rasional gaya hidup.

Aaron Beck’s Cognitive Therapy

Meskipun serupa dalam banyak cara untuk Ellis teori, filosofi dasar dan beberapa teknik pendekatan Beck bervariasi dari Ellis. Meskipun kedua Beck dan Ellis bekerja pada klien cara-cara berpikir, Beck tidak setuju dengan Ellis atas konsep irasional berpikir, percaya bahwa istilah ini terlalu penuh, terlalu kuat, dan dapat berpotensi memberikan pesan kepada klien bahwa ia hidup tidak rasional. Beck lebih suka percaya bahwa prob ¬ lems dalam hidup disebabkan oleh struktur kognitif. Ketidaksepakatan ini selama jangka waktu berpikir irra nasional mewakili perbedaan yang lebih luas antara Beck dan Ellis. Mana Ellis mengajarkan dan mengarahkan, Beck berkolaborasi dan mendengarkan. Di mana Ellis membujuk dan membujuk, Beck lembut probe ke dalam dunia kognitif klien, dan di mana Ellis disavows pentingnya kondisi empati dan tanpa syarat menganggap positif, Beck menyatakan bahwa terapi yang berhasil, aliansi kerja sangat penting, dan bahwa satu metode bangunan sebuah aliansi adalah melalui hangat, hubungan yang tidak menghakimi (Beck, 1987, 1997) * Secara keseluruhan, jelas bahwa nilai-nilai Beck hubungan dan dampaknya pada proses perubahan jauh lebih daripada Ellis.

Setelah menjalin hubungan, Beck membantu klien dalam mengidentifikasi hirarki cara berpikir dan persepsi yang melibatkan kegiatan kognitif, kognitif pengolahan, dan struktur kognitif (Beck, 1972; Beck & Weishaar, 2000). Peristiwa kognitif yang tak pernah berakhir otomatis arus pikiran bahwa kita semua memiliki tetapi tidak selalu sadar. Mendapatkan berhubungan dengan aliran pikiran kita dapat membantu kita dalam memahami perasaan-perasaan negatif yang mungkin berhubungan dengan pikiran tertentu (Beck, 1976). Kedua, Beck mendorong klien untuk memahami proses kognitif mereka, yang mendasari cara-cara di mana mereka memproses informasi. Kadang-kadang proses tersebut melibatkan salah berpikir, yang dapat mengakibatkan distorsi kognitif dan perasaan palsu realitas. Contoh distorsi tersebut meliputi penalaran dikotomis, di mana individu-individu cenderung untuk melihat dunia dalam cara-cara dualistik daripada melihat dunia dalam cara yang lebih rumit (misalnya, “Partai Republik benar, Demokrat salah]”); personalisasi, di mana individu menganggap bahwa eksternal yang tidak terkait peristiwa yang entah bagaimana berhubungan dengan individu (misalnya, “terapis saya sudah terlambat untuk sesi-nya dengan saya, dia pasti tidak suka padaku”); dan overgeneralization, di mana seseorang membesar-besarkan pengaruh berdasarkan suatu peristiwa sedikit informasi ( “I ‘ ve punya dua klien tidak akan muncul untuk sesi minggu ini, saya harus melakukan sesuatu yang salah “). Bagian ketiga dari hierarki adalah struktur kognitif, yang mewakili skema atau rencana lantai yang mempengaruhi bagaimana setiap individu, dengan sendiri-sendiri cara unik untuk melihat dunia, telah masuk akal dari itu. Pada dasarnya, struktur kognitif kita memediasi proses kognitif kita (bagaimana kita mendistorsi infor ¬ mation), yang pada gilirannya menengahi peristiwa kognitif kita (otomatis pikiran).

Struktur -> Proses -> Events

(Skema) (Distorsi) (Automatic Thoughts)

Meskipun setiap individu memiliki sendiri unik struktur, proses, dan peristiwa, Beck percaya bahwa dalam kategori diagnostik, orang dapat menemukan beberapa kesamaan. Lynn dan Garske (1985) mencatat bahwa “individu cemas memproses informasi dalam suatu skema yang didominasi oleh ide-ide dari ancaman dan bahaya. Tertekan individu yang memproses informasi dalam skema penolakan sosial dan kegagalan” (hal. 338). Beck percaya bahwa begitu hangat dan peduli hubungan dengan klien dikembangkan, klien dan terapis dapat bersama-sama bercermin pada struktur kognitif jenis, proses, dan peristiwa yang unik bagi klien. Proses ini dapat dipercepat jika seseorang memiliki rasa yang jelas klien diagnosis.

Pendekatan Konstruktivis Mahoney

Dari perspektif Konstruktivis, rasionalitas secara intrinsik relativistik, dan, dengan demikian, itu hanya dapat merujuk kepada kontekstual dan historis terletak meaningand upaya untuk mencapai koherensi. (Guidano, 1995, hal 93)

Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa ahli terapi baru saja mengubah fokus mereka dari kecenderungan rasionalis terapis kognitif awal yang relatif baru perspektif konstruktivis untuk bekerja dengan klien. Meskipun biasanya ditempatkan dalam kerangka kerja konseptual terapi kognitif, teori konstruktivis sering bertentangan dengan yang lebih tradisional, rasional mendaya ¬ pendekatan nitive Ellis, dan untuk tingkat yang lebih rendah, dengan yang ada Beck. Mahoney, yang dirinya dimulai sebagai terapis kognitif yang lebih tradisional, menyoroti beberapa ¬ con berikut ini berkaitan dengan konstruktivis cepts pengertian tentang psikoterapi (Mahoney, 1995b; Mahoney et al., 1995; Neimeyer, 1995).

1. Teori konstruktivis tantangan objectivists penegasan bahwa ada satu, otentik, realitas eksternal.

2. Melalui proses hidup dan berinteraksi dengan lingkungan, dan sebagai fungsi dari proses kognitif kita, orang terus-menerus menciptakan dan recreat ¬ ing pemahaman mereka tentang realitas.

3. Deep mendasari skema, hal-hal seperti proses tak sadar dan perasaan seseorang dan identitas diri, lebih sulit untuk mengubah struktur dari permukaan.

4. Ada interaksi yang kompleks dan tidak dapat dipisahkan antara satu pikiran, perasaan, dan tindakan.

5. Kami tidak hanya memiliki pikiran dan interpretasi dunia; kita pikiran kita dan interpretasi, terus-menerus mengalami rekonstruksi seperti yang kita antar ¬ bertindak dengan orang lain di dunia.

Membandingkan pendekatan rasional lebih tradisional dengan pendekatan konstruktivis, kita menemukan beberapa perbedaan utama (Goncalves & Machado, 1995; Mahoney, 1995b; Mahoney et al., 1995) (lihat Tabel 4.2).

Tujuan terapi untuk Mahoney dan konstruktivis lain akan membantu klien dalam memahami-nya untuk mengetahui cara-cara yang unik dan membuat rasa keluar dari dunia dan untuk membantu klien membuat bangunan baru yang mungkin bekerja lebih baik baginya. Konstruksi baru diciptakan melalui sebuah proses dialektis di mana saham klien nya makna sistem pembuatan dan terapis berusaha memahami dan menawarkan cara-cara baru untuk klien untuk membuat makna atau menciptakan sebuah kenyataan baru. Sebagian, terapis melakukan hal ini dengan mencoba untuk memahami bagaimana pandangan klien signifikan hubungan masa lalu dan masa kini. Narasi klien mengungkapkan tentang hubungan ini terus arti klien cara mengetahui dunia dan untuk-nya struktur kognitif yang unik. Sebagai arti dan

TABEL 4,2

perbandingan rasionalis dan Konstruktivis Views

Konstruktivis VIEWS

Rasionalis VIEWS

Kebanyakan manusia adalah makhluk rasional yang diliputi oleh pikiran irasional. Pikiran dapat menguasai perasaan dan perilaku.

Mematuhi proses berpikir logis penalaran, yang karenanya berarti bahwa tidak logis / irasional keyakinan dapat diganti dengan logis / rasional yang.

Psikoterapi melibatkan pemahaman batin seseorang menggantikan pikiran dan berpikir dengan logis tidak logis / rasional berpikir bahwa akan membawa lo sehat secara mental.

Manusia yang kompleks dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang saling bergantung.

Pikiran adalah metafora tentang keberadaan kita dan bagaimana kita membuat makna. Memahami makna seseorang sistem pembuatan dan Anda memiliki kesempatan untuk membantu dia atau dia dalam cara-cara baru dan mendalam.

Masing-masing arti keputusan dapat dipahami melalui kisah-kisah orang yang membuat. Meskipun berbagai teknik psikoterapi, konstruksi realitas baru dapat dikembangkan.

struktur-struktur dalam menjadi mengerti, klien dapat memilih untuk mengubah cara-cara nya berada di dunia. Terapis dapat memfasilitasi proses ini melalui berbagai teknik, termasuk penggunaan empati, metafora dan analogi, hipnoterapi, kognitif tradisional ¬ siologic ada, dan teknik lainnya yang dapat membantu mengungkap lebih dalam struktur dan mendukung klien melalui proses perubahan.

3! Current Theoretical Trends

Pendekatan integratif untuk Konseling (eklektisisme): Dari Chaos untuk metateori

Gagasan bahwa seorang konselor mungkin bisa menggabungkan dua atau lebih pendekatan teoretis ketika bekerja dengan klien bukanlah hal yang baru (Lazarus &. Beutler, 1993). Pada kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa antara 39% dan 70% dari konselor dan profesional kesehatan mental lainnya mengidentifikasi diri mereka sebagai “eklektik” (Jensen, Bergin, & Greaves, 1990; Neukrug, Milliken, & Shoemaker, 2001; Neukrug &. Williams, 1993 ; Norcross, Prochaska, & Gallagher, 1989). Dengan demikian, penting untuk menentukan bagaimana menggabungkan teori-teori efektif dan untuk mengidentifikasi pendekatan yang paling baik bekerja dengan klien (Krumboltz, 1966a, 1966b), terutama mengingat kenyataan bahwa kemanjuran praktek semacam itu selalu bersangkutan (Lazarus & Beutler, 1993; Nelson, 2002).

Sayangnya, terlalu sering seorang terapis yang menyebut dirinya sendiri “eklektik” adalah prac ¬ ticing yang kecampuran teknik yang memiliki sedikit atau tidak ada dasar teoritis yang mendasari. Jenis atheoretical eklektisisme adalah berlawanan dan dianggap oleh banyak orang sebagai “menembak ¬ ing from the hip” terapi. Eklektisisme semacam ini tidak didasarkan pada penelitian yang sistematis dan merugikan tujuan profesi kita dan, yang lebih penting, untuk sukses ¬ ment memperlakukan klien. Bagaimana, kemudian, adalah penasihat untuk membuat keputusan cerdas jika memilih integra-pendekatan konseling tive? Meskipun model-model yang berbeda berusaha untuk menjelaskan teori integrasi dari sudut pandang yang agak berbeda (Hansen, 2002, Lebow, 2002a, b; Prochaska & DiClemente, 2002), semua model muncul untuk mengatasi beberapa con Common ¬ cerns yang Bawa aku untuk melihat integrasi teoretis sebagai proses perkembangan yang dimulai dengan kekacauan dan berakhir dengan komitmen untuk suatu metateori.

Tahap I: Chaos

Tahap awal ini pengembangan pendekatan eklektik atheoretical, ceroboh, didasarkan pada saat-ke-saat penilaian subjektif dari konselor, dan kemungkinan besar merugikan klien (Garfield, 1982; Patterson, 1985; Spruill & Benshoff, 2000). Konseling awal siswa yang baru mulai untuk memahami teori konseling dan hap ¬ mencoba menggabungkan teori-teori hazardly mungkin pada tahap kekacauan ini.

Tahap 2: koalesensi

Sebagai teori yang dipelajari, paling konselor mulai melayang ke arah kepatuhan terhadap satu pendekatan. Ketika mereka mulai merasa nyaman dengan pendekatan ini, mereka mungkin mulai mengintegrasikan teknik yang berbeda dari pendekatan-pendekatan lain ke dalam pendekatan utama mereka.

Tahap 3: Theoretical Integrasi

Selama tahap ini, konselor telah benar-benar belajar satu teori dan mulai untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang satu atau lebih teori-teori lain. Pengetahuan bahwa untuk banyak klien salah satu dari teori mungkin sama efektif dengan penasihat menyajikan sebuah dilema: perspektif teoretis Apa yang harus saya mematuhi, dan bagaimana mungkin saya menggabungkan dua atau lebih perspektif theoret ¬ ical mode secara sistematis yang akan mengarah pada pengobatan yang paling efektif (Spruill & . Benshoff, 2000)? Pada akhirnya, para konselor mampu berpikir melalui impor tant ¬ pertanyaan dan mengembangkan pendekatan teoretis yang dapat menggabungkan dua atau lebih teori.

Tahap 4: metateori

Sebagai konselor mengembangkan apresiasi penuh dari banyak teori, mereka mulai bertanya-tanya tentang kesamaan-kesamaan yang mendasari dan tema di antara teori-teori yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan beberapa negara ¬ selors untuk mengembangkan sendiri atau pelukan superordinate yang sudah ada teori atau metateori (Beutler, 1986; Hansen, 2004; McBride & Martin, 1990; Simon, 1991). Sebagai contoh, sebuah pendekatan sistem konseling mungkin lebih diutamakan daripada salah satu pendekatan teori, dan konselor dapat mengintegrasikan banyak teori dalam pendekatan sistem. Dalam evaluat ¬ ing seseorang metateori, poin-poin berikut ini harus ditangani: (1) Bagaimana teori dibahas dalam metateori? (2) Bagaimana masalah klien mempengaruhi pendekatan perawatan? (3) Bagaimana hubungan terapeutik dikembangkan? (4) Apa teknik yang digunakan, dan bagaimana mereka bekerja secara sistematis? dan (5) Apa yang menyebabkan perubahan? (Mahalik, 1990).

Jika Anda baru memulai perjalanan Anda sebagai seorang konselor, Anda mungkin berharap untuk melewati keempat tahap seperti yang Anda mulai menyortir berbagai pendekatan teoretis dan mengembangkan gaya unik Anda sendiri konseling.

Singkat dan Solusi-Terfokus Terapi

Bagi banyak pengamat, tampak bahwa minat terhadap pengobatan singkat telah sangat meningkat selama dekade terakhir. Psikoanalitik, kognitif, interpersonal [misalnya, eksistensial-humanistik], dan perilaku dokter, tampaknya terbujuk oleh faktor-faktor teoretis, temuan penelitian, dan / atau realitas keras pihak ketiga penggantian tekanan, telah meneliti cara-cara yang dapat dilakukan pengobatan yang efektif maksimal dalam jangka waktu singkat, (Budman &. Gurman, 1988, hal ix)

Sebuah tinjauan terhadap Info Psyc database antara tahun 2000 dan 2006 mengungkapkan bahwa lebih dari 1000 artikel dan manuskrip dalam beberapa cara singkat yang ditujukan terapi atau psikoterapi, dan satu studi menunjukkan bahwa hari ini 89% dari semua psikolog melakukan beberapa terapi singkat (Levenson &. Davidovitz, 2000 ). Jadi, meskipun berbagai bentuk perawatan singkat telah ada selama beberapa tahun, jelas telah ada penekanan pada perawatan singkat baru-baru ini. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa apa yang telah dianggap perawatan singkat di masa lalu kini sering dianggap terapi jangka panjang. Sebagai contoh, orang-berpusat konseling, yang pada mulanya dipandang sebagai alternatif pengobatan singkat terapi psikoanalitik, sekarang dianggap oleh banyak untuk menjadi jangka panjang pendekatan pengobatan.

Tekanan untuk menawarkan perawatan singkat datang dari berbagai tempat, seperti organisasi-organisasi perawatan kesehatan ingin penasihat untuk membatasi sesi, konseling sekolah melihat jangka pendek, dan lembaga yang memiliki jumlah terbatas terapis untuk bekerja dengan sejumlah besar klien. Sebagai akibatnya, dan dengan bukti bahwa perawatan singkat mungkin sama efektifnya dengan terapi jangka panjang (Gingerich &. Eisengart, 2000; MacDonald, 2003), tampaknya pendekatan pengobatan singkat yang penting dan pendekatan praktis dalam dunia sekarang ini (Carlson &. Sperry, 2000; Gelso, 1992; Koss & Butcher, 1986). Meskipun pengobatan singkat memiliki kritik (misalnya, Dryden & Feltham, 1992; Webb, 1999), jelas bahwa, untuk waktu dekat, pendekatan pengobatan singkat akan sekitar.

Nilai komparatif Dominan Jangka Panjang dan Jangka Pendek * Terapist

JANGKA PANJANG terapis terapis JANGKA PENDEK

1. Mencari perubahan dalam karakter dasar. 1. Lebih suka pragmatisme, kekikiran, dan paling radikal

intervensi, dan tidak percaya pada gagasan tentang “menyembuhkan.”

2. Percaya bahwa perubahan psikologis yang signifikan tidak mungkin dalam 2. Mempertahankan perspektif perkembangan orang dewasa yang

kehidupan sehari-hari. perubahan psikologis yang signifikan dipandang sebagai tak terelakkan,

3. Menyajikan melihat masalah sebagai sesuatu yang mencerminkan patologi yang lebih mendasar. 3. Pasien menekankan kekuatan dan sumber daya; menyajikan

masalah yang dianggap serius (walaupun tidak selalu pada nilai nominal).

4. Ingin untuk “berada di sana” sebagai pasien membuat perubahan yang signifikan. 4 – Menerima bahwa banyak perubahan akan terjadi “setelah terapi” dan

tidak akan diamati dengan terapis.

5. Melihat terapi sebagai memiliki “abadi” kualitas dan bersedia 5. Tidak menerima keabadian dari beberapa model terapi.

menunggu untuk perubahan.

6. Sadar mengakui kemudahan fiskal 6. Masalah fiskal sering diredam, baik oleh sifat

pemeliharaan jangka panjang pasien. praktik terapis atau dengan struktur organisasi untuk

penggantian.

7. Tinjauan psikoterapi seperti yang hampir selalu menjadi berguna. 7 – Tampilan psikoterapi sebagai kadang-kadang berguna dan

kadang-kadang berbahaya.

8. Melihat pasien sedang dalam terapi sebagai bagian yang paling penting 8. Melihat berada di dunia sebagai lebih penting daripada di

dari kehidupan pasien. terapi.

SUMBER: Dari Teori dan Praktik Brief Therapy, oleh Budman dan AS SH Gurman, p.ll. Copyright 1988 Guilford Press. Dicetak ulang dengan permis ¬ sion of The Guilford Press.

Perawatan singkat telah didefinisikan oleh beberapa orang sebagai mulai dari satu sampai 20 sesi, dan oleh orang lain sebagai termasuk sebanyak 50 sesi (Budman &. Gurman, 1988; Dryden & Feltham, 1992). Namun, Budman dan Gurman (1988) mungkin menawarkan definisi yang paling menarik ¬ tion ketika mereka mencatat bahwa “Brief terapi pengobatan di mana waktu yang dialokasikan untuk mengobati ¬ ment adalah dijatah” (hal. 5-6). Meskipun semua orientasi teoritis kami melihat dalam bab ini menawarkan beberapa bentuk pendekatan pengobatan singkat (Carlson & Sperry, 2000; Budman, 1981; Budman & Gurman, 1988), bagaimana konselor merasa tentang menggunakan pendekatan pengobatan singkat tampaknya lebih penting klien hasil daripada pendekatan teoretis dipilih (Budman &. Gurman, 1988) (lihat Tabel 4.3).

Garfield’s Tahap Model Brief Therapy

Baru-baru ini, terjadi penekanan pada lintas-teoretis model integratif memperlakukan singkat ¬ ment (lihat Garfeld, 1998; Webb, 1999). Salah satu model oleh Garfteld (1998) menunjukkan bahwa semua pendekatan pengobatan singkat melewati empat tahap yang meliputi (1) membangun hubungan ¬ kapal dan menilai masalah; (2) mengembangkan rencana bagi klien, mendorong pekerjaan rumah, dan bekerja pada permasalahan; (3) menindaklanjuti rencana pengobatan dan perumusan rencana perawatan yang didasarkan pada informasi baru dan client feedback, dan (4) ter ¬ mination, di mana perasaan-perasaan klien tentang kemajuan yang dinilai, rencana masa depan dis ¬ mengumpat (misalnya, tindak lanjut, arahan, cara-cara untuk melanjutkan kemajuan), dan penutupan diselesaikan.

Garfield juga menunjukkan bahwa sejumlah elemen umum yang hadir di semua memperlakukan ¬ ment singkat pendekatan: (1) pentingnya hubungan terapeutik yang baik, (2) fokus pada

interpretasi, wawasan, dan pengertian; (3) pelepasan emosional; (4) confronta ¬ tion satu masalah; (5) penguatan perilaku baru, dan (6) mengurangi secara bertahap dari keseriusan masalah. Beberapa teknik umum untuk semua perawatan singkat pendekatan termasuk mendengarkan dan refleksi, saran, memberikan informasi, konfrontasi, ¬ reassur terorganisir, pekerjaan rumah, pemodelan dan peran-bermain, mempertanyakan, dan keterbukaan diri. Tentu saja, masing-masing terapis akan menggunakan teknik ini dengan sendiri-sendiri spin khusus.

Solusi-Terfokus “Ringkas” Terapi

Salah satu pendekatan pengobatan singkat yang telah menerima banyak perhatian akhir-akhir ini adalah terapi yang berfokus pada solusi (Gingerich & Eisengart, 2000). Dibandingkan dengan banyak perawatan singkat pendekatan yang cenderung berfokus pada masalah, yang berfokus pada solusi terapi menunjukkan bahwa unsur kunci untuk pengobatan singkat adalah memusatkan perhatian pada masa yang akan datang (de Shazer, 1991; Hoyt, 2000; O’Hanlon &. Weiner – Davis, 2003; O’Connell & Palmer, 2003). Pada kenyataannya, penulis pergi terlalu jauh dengan saran ¬ gest bahwa fokus pada masalah sebenarnya bisa merugikan untuk menemukan solusi, karena masalahnya adalah terperosok ke dalam perebutan kekuasaan di antara orang-orang yang terlibat dengan masalah dan membangkitkan perasaan-perasaan negatif.

Solusi-terfokus terapis menunjukkan bahwa klien mendefinisikan apa yang mereka inginkan untuk masa depan mereka terlihat seperti dan mengembangkan strategi-strategi yang akan membantu mereka sampai di sana. Misalnya, de Shazer (1985,1988) menyarankan konselor meminta klien untuk merefleksikan sebuah “keajaiban pertanyaan,” yang melibatkan bagaimana masa depan akan tampak jika masalah klien (s) yang secara ajaib terpecahkan. Kemudian terapis membantu klien berfokus pada menciptakan masa depan yang akan mencerminkan perubahan ini. Orang dapat melihat bagaimana terapi yang berfokus pada solusi dalam banyak hal pendekatan yang berbasis di konstruktivisme dalam klien fokus pada mereka merekonstruksi sistem pembuatan makna (Hoyt, 2000). Bagian berikut dari sebuah perumpamaan dari O’Connell (2003) menggambarkan esensi dari bentuk terapi menarik:

Dahulu kala hiduplah sekelompok pengembara yang menikmati tribespeople menceritakan cerita pendek. Mereka mengunjungi komunitas-komunitas lain dan berbagi dengan t / iem kisah kepahlawanan biasa tapi orang-orang yang berhasil mengatasi peluang besar dalam hidup mereka. Mereka yang mendengar ¬ sto ries disebut pelanggan, karena itu adalah kebiasaan untuk mendengarkan cerita-cerita!

Cerita-cerita mereka tentang bagaimana orang dapat menciptakan masa depan mereka sendiri. Mereka adalah tentang sumber daya manusia, kompetensi, dan solusi. Mereka mengatakan kepada pelanggan mereka bahwa “tidak ada yang salah dengan mereka bahwa apa yang benar dengan mereka cant fix.” Kisah-kisah ini terdengar seperti mukjizat karena karakter dalam mereka merasa diberdayakan dalam kehidupan mereka. Pada akhir dongeng malam yang baik, para pendengar melihat bagaimana mereka merasa lebih baik, lebih bahagia, lebih tenang dan lebih positif, (hal 169)

Multicultural Issues

Pendekatan Konseling Apakah Eurocentric dan Developed by Men

Mari kita mulai dengan mengatakan bahwa hanya karena pendekatan konseling memiliki perspektif Barat dan mungkin dikembangkan oleh seorang laki-laki tidak dengan sendirinya berarti itu buruk. Namun, kita harus

melihat bagaimana sebuah sudut pandang Barat dan laki-laki mungkin menyimpan bias tertentu (McFadden, 1999; Pedersen, 2000; Yutrzenka, 1995). Sebagai contoh, perspektif semacam itu umumnya mengasumsikan bahwa individu mampu berubah (pilih sendiri oleh Anda bootstraps!), Mengasumsikan bahwa diri lebih penting daripada masyarakat, de-menekankan spiritualitas individu, dan menekankan suatu lokus kontrol internal. Ini mungkin bekerja untuk banyak orang, namun akan bertentangan dengan beberapa. Mari kita mengkaji bagaimana empat konseptual orientasi dan pendekatan pengobatan singkat ujian ¬ ined dalam bab ini dapat terus bias.

Bias dalam Konseling Pendekatan

Pendekatan psikodinamik

Sebagian besar bentuk terapi psikodinamik dipandang sebagai jangka panjang, sehingga masyarakat miskin atau bahkan sebagian besar kelas menengah tidak mampu mengambil bagian di dalamnya (Ivey, D’Andrea, Ivey, Šimek-Morgan, 2002). Pendekatan ini menempatkan penekanan pada pengembangan diri dan de-menekankan hubungan antara diri kepada masyarakat. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa, melalui pengembangan diri, individu adalah sumber neurosis nya, dan tempat-tempat sedikit penekanan pada bagaimana kondisi eksternal dapat menjadi sumber masalah yang berkelanjutan.

Pendekatan Eksistensial-Humanistik

Terapis eksistensial-humanistik percaya klien menciptakan realitas mereka sendiri dan bertanggungjawab ¬ ble eksistensi mereka; mereka menekankan keterbukaan diri dan de-menekankan influ eksternal ¬ ences. Dengan demikian, beberapa klien Asia yang percaya bahwa kesehatan mental dicapai melalui sikap tabah dan kemampuan untuk menghindari emosi yang kuat mungkin akan dimatikan oleh pendekatan ini menempatkan penekanan pada bagian-bagian yang lebih dalam mengungkapkan diri (Kim, 2004). Juga, beberapa orang kulit hitam yang percaya mis ¬ konselor putih mungkin waspada terhadap eksistensial-humanis yang percaya ketidakpercayaan ini menjadi penciptaan internal, sebagai lawan dari kebenaran eksternal (Poston, Craine, & Atkinson, 1991). Juga, karena pendekatan ini cenderung sangat verbal dan fasilitatif sebagai lawan dari pemecahan masalah, kurang verbal klien dan beberapa klien yang mungkin baik dalam suatu proses yang mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan akan terhambat oleh model ini (Ivey, D’Andrea , Ivey, & Šimek-Morgan, 2002). Akhirnya, klien yang dihadapkan dengan peristiwa kehidupan sulit yang tampaknya di luar kendali mereka (misalnya, rasisme, ekonomi miskin kali) mungkin merasa tidak berdaya dalam menghadapi terapis eksistensial menyarankan bahwa klien bertanggung jawab untuk menciptakan kenyataan nya.

Pendekatan Behavioral

Pendekatan ini menempatkan nilai besar pada “individualisme yang kasar.” Orang dapat memecahkan ¬ lems prob mereka jika mereka mengikuti rutinitas. Corey (2005) menyatakan bahwa fokus pada individu dengan mengorbankan budaya kadang-kadang bisa berbahaya bagi klien lintas-budaya yang menempatkan signifikansi pada nilai-nilai budaya yang lebih besar. Para behavioris yang menekankan bahwa klien harus menetapkan tujuan untuk dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya komunitas yang lebih luas dapat mengakibatkan beberapa klien menyusuri jalan rasa bersalah dan rasa malu dan menjadi dikucilkan oleh komunitas mereka.

Pendekatan kognitif

Dengan terapi kognitif menekankan pada “irasional” atau “sehat” cara berpikir, budaya yang terikat, tidak menyadari konselor boleh berasumsi bahwa seorang klien berpikir padahal sebenarnya tidak rasional cara berpikir seperti ini adalah wajar dalam budaya klien. Sebagai contoh, sedangkan Albert Ellis menekankan pentingnya tidak percaya bahwa ketidakbahagiaan adalah disebabkan eksternal, beberapa tempat budaya Hispanik penekanan yang berat pada “fatalismo” (fatalisme), atau keyakinan bahwa peristiwa kehidupan tertentu tidak dapat dihindari dan tidak dapat dipengaruhi oleh jenis intervensi (Sue & Sue, 2003).

Perawatan singkat Pendekatan

Seperti kebanyakan dari pendekatan lain, pendekatan pengobatan singkat cenderung untuk melihat masalah internal, sementara de-menekankan konteks budaya dan menekankan pemecahan masalah spesifik kegiatan (Steenbarger, 1993). Dengan demikian, seperti beberapa pendekatan sudah dis ¬ degil, pengobatan singkat dapat mengisolasi klien dari beragam budaya nya komunitas yang lebih luas dan mengarah pada perasaan depersonalization dalam masyarakat.

Etis, Profesional, dan Masalah Hukum

Terlepas dari orientasi teoretis Anda, sejumlah isu-isu etis referensi muncul dalam hubungan konseling. Meskipun kita tidak dapat menyentuh semua masalah ini, kita akan cahaya ¬ tinggi sedikit dari yang lebih umum yang dibahas dalam Bagian A dari ACA’s ethi ¬ kode kal (2005b), yang berjudul “The Konseling Relationship.” Anda dianjurkan untuk sepenuhnya memeriksa Bagian A dari kode tersebut (lihat Lampiran A untuk alamat Web).

Menghormati Kesejahteraan Klien (dari Bagian AI)

Salah satu unsur utama dari hubungan konseling adalah rasa hormat untuk kesejahteraan klien. Hal ini dilakukan dalam banyak cara, tapi juga meliputi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan klien, mengembangkan rencana-rencana konseling bersama-sama dengan klien, mengakui pentingnya keluarga dalam kehidupan klien, dan pemahaman pentingnya karir yang bermain di klien ‘kehidupan.

Informasi Izin dan Kerahasiaan (dari Bagian A.2)

Klien memiliki hak untuk diberitahu tentang semua prosedur konseling tionship ¬ nyata dan risiko yang terlibat, dan konselor harus sangat sensitif terhadap isu-isu lintas-budaya yang dapat mencegah klien dari pemahaman jenis perlakuan mereka akan menerima ( misalnya, kendala bahasa). Beberapa isu-isu yang lebih penting tentang klien yang harus diberi mencakup “tujuan, sasaran, teknik, prosedur, keterbatasan, potensi resiko, dan manfaat jasa; kualifikasi guru pembimbing, creden ¬ tials, dan pengalaman yang relevan; kelanjutan dari layanan atas incapacitation atau kematian seorang konselor; dan informasi terkait lainnya. “

Kerahasiaan dan Privileged Komunikasi (Sebagian dari Bagian A.2.b)

Klien memiliki hak untuk berharap bahwa percakapan mereka dengan penasihat swasta, kecuali di bawah keadaan-keadaan khusus yang dijelaskan kepada klien pada awal ¬ ing nasihat hubungan (misalnya, ketika seorang klien berada dalam bahaya merugikan diri sendiri atau yang lain atau bila hukum memerlukan penasihat untuk mematahkan kerahasiaan) (lihat Kotak 4.8).

Meskipun tidak dibahas dalam Bagian A secara langsung, seorang konselor perlu menyadari adanya perbedaan antara etika konselor kewajiban untuk menjaga kerahasiaan dan hak hukum istimewa komunikasi (Glosoff, Herlihy, & Spence, 2000). Istimewa

BOX 4,8

Seorang klien bernama Prosenjit Poddar, yang terlihat di pusat konseling di University of California di Berkeley, mengatakan kepada para psikolog bahwa sebagai hasil dari pacarnya ancaman baru-baru ini putus dengannya dan tanggal laki-laki lain, ia berniat membunuhnya. Akibatnya, para psikolog memberitahu para pembimbing dan polisi kampus kliennya ancaman, di titik mana polisi kampus menahannya. Menegur pengawas psikolog untuk melanggar kerahasiaan dan, tidak menemukan alasan untuk lebih menahan Mr Poddar, polisi kampus melepaskannya. Dua bulan kemudian dia membunuh pacarnya, Tatiana Tarasoff. Orangtua Ms Tarasoff menggugat universitas, terapis, para pengawas, dan polisi, dan memenangkan gugatan mereka terhadap semua tapi polisi. Keputusan, yang dipandang sebagai sebuah model untuk “kewajiban untuk memperingatkan,” ini ditafsirkan oleh pengadilan nasional berarti bahwa seorang terapis harus membuat segala upaya untuk mencegah bahaya yang lain atau untuk diri sendiri.

Seorang klien bernama Prosenjit Poddar, yang terlihat di pusat konseling di University of California di Berkeley, mengatakan kepada para psikolog bahwa sebagai hasil dari pacarnya ancaman baru-baru ini putus dengannya dan tanggal laki-laki lain, ia berniat membunuhnya. Akibatnya, para psikolog memberitahu para pembimbing dan polisi kampus kliennya ancaman, di titik mana polisi kampus menahannya. Menegur pengawas psikolog karena melanggar kerahasiaan;

dan, tidak menemukan alasan untuk lebih menahan Mr Poddar, polisi kampus melepaskannya. Dua bulan kemudian dia membunuh pacarnya, Tatiana Tarasoff. Orangtua Ms Tarasoff menggugat universitas, terapis, para pengawas, dan polisi, dan memenangkan gugatan mereka terhadap semua tapi polisi. Keputusan, yang dipandang sebagai sebuah model untuk “kewajiban untuk memperingatkan,” ini ditafsirkan oleh pengadilan nasional berarti bahwa seorang terapis harus membuat segala upaya untuk mencegah bahaya yang lain atau untuk diri sendiri.

^

komunikasi percakapan dilakukan dengan seseorang bahwa hukum (negara atau makan-eral undang-undang) delineates sebagai orang dengan siapa percakapan dapat hak istimewa (misalnya, pengacara-klien, dokter-pasien, terapis-pasien, pendeta-bertobat, suami-istri , dan sejenisnya). Dalam kasus konselor, tujuan hukum adalah untuk mendorong klien untuk terlibat dalam percakapan tanpa rasa takut bahwa konselor akan mengungkapkan isi conversa ¬ tion (misalnya, dalam pengadilan hukum). Hak milik klien dan hanya bisa dibebaskan oleh dia atau dia (Jaksa C. Borstein, komunikasi pribadi, November 1, 2001; Swenson, 1997, hal 464). Konselor perlu untuk memeriksa peraturan di negara tempat mereka bekerja untuk melihat apakah mereka memegang hak istimewa. Umumnya, ini berlisensi konselor profesional yang telah diberi hak untuk percakapan istimewa, tetapi ada beberapa pengecualian, seperti negara yang telah diberi hak untuk seperti konselor sekolah.

Klien Siapa Multiple Membantu Dalam Hubungan (dari Bagian A.3)

Jika klien dalam hubungan dengan membantu profesional kesehatan mental lain profesionalisasi ¬ sional, konselor harus meminta izin dari klien untuk memberitahukan bahwa profesional. Konselor harus berusaha untuk memiliki hubungan kolaboratif dan positif dengan profesional kesehatan mental lainnya dengan klien yang terlibat.

Menghindari Bahaya dan Mengenakan Nilai (dari Bagian A, 4)

Konselor secara aktif berusaha untuk menghindari membahayakan klien atau memaksakan nilai-nilai mereka pada klien.

Dual Hubungan dan Seksual Hubungan dengan Klien (dari Bagian A.5)

Konselor berusaha untuk menghindari hubungan ganda yang dapat menyebabkan kerugian bagi klien. Beberapa contoh akan meliputi konseling teman, kerabat, atau rekan kerja. Konselor tidak pernah memiliki hubungan seksual dengan klien saat ini. Di bawah persyaratan tertentu, seperti yang dijabarkan dalam kode, konselor dapat memiliki hubungan romantis dengan mantan klien jika sudah minimal lima tahun sejak klien dalam konseling dengan konselor.

Para Penasihat dalam Proses: Merangkul Teori tetapi Buka untuk Perubahan

Selama beberapa tahun setelah mendapat gelar master saya, saya ingat dogmatis mengikuti eksistensial-humanistik pendekatan dalam gaya konseling. Aku kukuh menentang chodynamic sebuah psy-pendekatan, meskipun aku sudah sedikit pengetahuan tentang orientasi ini. Meskipun saya hampir tidak menyadarinya pada waktu itu, pandangan saya setidaknya sebagian didasarkan pada beberapa masalah yang belum selesai saya sendiri.

Seperti telah saya bertambah tua, saya telah mendapatkan apresiasi yang mendalam untuk semua pendekatan konseling. Saya percaya masing-masing dari mereka menawarkan kepada kita sesuatu. Tidak diragukan lagi, karena anda sudah selesai membaca berbagai teori, Anda telah mengidentifikasi lebih dengan beberapa dari yang lain. Mungkin ini disebabkan oleh beberapa gaya pribadi dan mungkin beberapa urusan yang belum selesai Anda sendiri. Walaupun saya anjurkan Anda untuk berlatih dan mempelajari lebih lanjut tentang teori atau teori-teori yang Anda merasakan kedekatan, saya juga sangat menyarankan agar Anda tidak terjebak dalam satu pendekatan; Saya harap Anda memperoleh pengetahuan dari semua teori. Sebagai profesional Anda hidup sebagai seorang konselor berlangsung, dan ketika Anda membaca penelitian baru tentang teori-teori yang berbeda, saya berharap agar Anda tetap terbuka untuk mengubah pandangan teoretis dan beradaptasi sesuai dengan teori Anda (lihat Spruill & Benshoff, 2000). Mereka yang tertutup untuk proses berkelanjutan ini terjebak dalam satu pandangan hubungan yang membantu, dan kekakuan ini kemungkinan akan menghambat pertumbuhan klien.

Mungkin kita bisa belajar sesuatu dari Hoyt (1995), yang menunjukkan bahwa penasihat, seperti klien yang berfokus pada solusi menjalani terapi, mungkin ingin menjawab pertanyaan berikut ini “keajaiban” pertanyaan:

Misalnya malam ini, sementara Anda kembali tidur, sebuah keajaiban terjadi. . . dan ketika Anda membangunkan Anda menemukan Anda membantu klien secara lebih positif dan efektif t) \ yang sebelumnya! Bagaimana Anda akan melihat latihan Anda telah berubah? Keterampilan baru apa yang akan Anda gunakan? (hal. 8)

Ringkasan 3S

Bab ini memeriksa beberapa orientasi konseptual utama yang berhubungan dengan teori-teori konseling dan psikoterapi. Dengan menjelaskan konsep pergeseran paradigma, kita diperiksa bagaimana keakraban dengan pengetahuan masa lalu sangat penting untuk memahami pengetahuan saat ini. Menghubungkan konsep ini untuk teori-teori konseling, kami menyadari bahwa teori-teori seperti kita saat ini konsep terbaik dari apa yang efektif dalam proses konseling dan psikoterapi. Kami mencatat bahwa pada dasarnya, teori heuristik, atau diteliti dan diuji, dan dapat dimodifikasi dari waktu ke waktu.

Berfokus pada psikodinamik, eksistensial-humanistik, perilaku, dan kognitif orientasi konseptual, kami menyoroti unik mereka masing-masing pandangan tentang alam manusia dan menjelajahi beberapa dari banyak teori-teori konseling dan psikoterapi ¬ associ paling dekat dengan mereka diciptakan. Lebih khusus, di bawah pendekatan psikodinamik kami memeriksa psikoanalisis Freud, psikologi analitik Jung, Adlerian terapi, dan Mahler’s object-hubungan terapi. Dalam arena terapi eksistensial-humanistik kita orang-berpusat dieksplorasi konseling, dikembangkan oleh Rogers; terapi eksistensial dan Gestalt ada siologic ¬ sebagaimana dikembangkan oleh Peris. Dengan memeriksa terapi perilaku kita melihat bahwa asal-usulnya didasarkan pada tiga paradigma utama: Skinner’s instrumental conditioning, Pavlov con ¬ ditioning klasik, dan Bandura’s modeling. Dalam orientasi ini, kami secara khusus meninjau model umum bagaimana terapi perilaku dipraktikkan, Lazarus’s multimodal terapi, dan terapi realitas Glasser. Akhirnya, di bidang terapi kognitif kita ditinjau Ellis

rasional emotif terapi perilaku, terapi kognitif Beck pendekatan, dan pendekatan konstruktivis Mahoney.

Dalam bab ini, kami juga menjelajahi dua tren baru-baru ini dalam konseling dan psikologi ¬ chotherapy: adaptasi oleh banyak terapis yang eklektik atau pendekatan integratif terapi, dan peningkatan baru-baru ini penggunaan pengobatan singkat. Kami menyoroti ¬ tal Developmen proses untuk suatu pendekatan integratif konseling dengan tahap-tahap mulai dari kekacauan, untuk koalesensi, untuk integrasi teoretis, untuk ketaatan pada metateori. Kami mencatat bahwa walaupun ada banyak bentuk pengobatan singkat, apa yang mungkin paling penting bukanlah jenis perawatan singkat, tapi apakah terapis berkomitmen untuk pengobatan singkat. Kami mencatat bahwa Garfield percaya bahwa segala bentuk pengobatan singkat berisi elemen ¬ Common KASIH dan teknik, dan bahwa mereka semua harus mengikuti tahap-tahap untuk perawatan dapat diidentifikasi menjadi efektif. Kami juga menyarankan agar bentuk lain dari perawatan singkat, pendekatan yang berfokus pada solusi, cenderung berorientasi pada masa depan dan diambil dari teori konstruktivis.

Kita bahas dalam bab ini bagaimana sebagian besar teori-teori konseling yang digunakan saat ini telah dikembangkan dari perspektif Eropa yang menekankan individualisme dan diri dan de-menekankan masyarakat dan spiritualitas. Kami mencatat bias budaya spesifik yang melekat dalam empat pendekatan konseptual dan dalam pendekatan pengobatan singkat dibahas dalam bab ini.

Dalam bab ini kami juga mencatat sejumlah etis, profesional, dan isu-isu hukum yang

menimpa pada hubungan konseling, termasuk menghormati kesejahteraan klien,

persetujuan dan kerahasiaan informasi, kerahasiaan dan hak istimewa komunikasi,

klien yang berada di beberapa membantu hubungan, menghindari bahaya dan menerapkan nilai-nilai, dan

dual hubungan dan hubungan seksual dengan klien. Akhirnya, kami mengakhiri bab ini dengan

menekankan pentingnya mematuhi pendekatan konseling terbuka belum meninggalkan diri kita

y ide-ide baru dan cara-cara baru untuk bekerja dengan klien.

aku

W InfoTrac College Edition dan Sumber Daya Informasi Lain-lain (misalnya, ERIC dan PsycINFO)

Catatan: Bila relevan, kata-kata kunci dalam tipe tebal.

1. Menggali lebih dalam salah satu dari orientasi konseptual dibahas dalam bab ini (psikodinamik, eksistensial, perilaku, kognitif, singkat).

2. Kembangkan integratif Anda sendiri (eklektik) pendekatan konseling.

3. Penelitian batas c

Sumbangkan terjemahan yang lebih baik

Terima kasih telah menyumbangkan saran terjemahan Anda ke Google Terjemahan.

Menyumbangkan terjemahan yang lebih baik:

Masing-masing  <br>Tahap 3; ^ / kehilangan. Teknik. Dengan menggambar dari sosial-teori belajar instrumental conditioning dan pengkondisian klasik, terapis memiliki array besar teknik untuk membantu, <br>klien melalui. proses perubahan. Pada tahap ini dalam proses terapeutik! Terapis harus hati-hati memilih teknik yang sesuai dengan tujuan erat digambarkan dalam Tahap 2. Beberapa teknik yang lebih umum akan dibahas segera. <br> <br>Tahap 4: Penilaian Sukses. Karena dasar dari intensitas, frekuensi, dan dura ¬ tion dari masalah perilaku biasanya direkam, itu adalah proses yang relatif mudah untuk menilai apakah atau tidak ada mengurangi masalah perilaku. Jika tidak ada kemajuan seperti terlihat, penting untuk meninjau kembali masalah dan teknik-teknik yang dipilih (atau daur ulang dari tahap 2). Jika masalah ini awalnya didiagnosis secara akurat, dan jika teknik-teknik yang tepat dipilih, klien harus mulai untuk melihat perbaikan masalah. <br> <br>Tahap 5: Penutupan dan Follow-Up. Teori penguatan menunjukkan bahwa kepunahan dari sebagian besar perilaku biasanya akan diikuti oleh kebangkitan perilaku yang ditargetkan (Nye, 1992, 2000). Oleh karena itu, penting untuk tetap dengan klien cukup lama untuk menjamin keberhasilan dan untuk pra ¬ pare klien untuk kemungkinan masalah kebangkitan setelah terapi telah berakhir. Oleh karena itu, banyak behavioris membangun dalam mengikuti sesi Up kursus terapi. Tentu saja, seperti halnya dalam terapi, penting bahwa klien mengalami rasa penutupan ketika mengakhiri terapi. <br>TEKNIK Karena terapis akan mencoba membuat analisis objektif ¬ prob lem dan teknik memilih £ topi akan membahas isu-isu tertentu, akan sangat membantu untuk memiliki berbagai teknik di tangan. Beberapa teknik yang digunakan lebih populer tertera di bawah ini. <br>. 0 <br>Modeling. . Hampir semua perilaku dapat diamati dalam, pengaturan klinis dan dipraktekkan oleh klien, pertama di kantor dan kemudian mereka sendiri. Seperti. Perilaku sebagai kemampuan komunikasi,, empati mendengarkan, mondar-mandir makan, dan &quot;kemampuan belajar hanyalah beberapa dari banyaknya perilaku yang dapat dilihat dan kemudian pertama yang dilakukan oleh klien. Barangkali keahlian yang paling sering diajarkan dan dipraktikkan dalam terapi Pengaturan ini ketegasan. Sering setan – <br>dimulai dalam grup pengaturan, perilaku ini dilihat oleh seorang klien dan kemudian berlatih melalui bermain peran selama sesi tersebut. <br>      <br>Digunakan. Dari persyaratan instrumental Teknik. Setelah £ ia pembentukan awal, <br>konselor akan bekerja dengan klien untuk mulai kepunahan perilaku yang tidak diinginkan. Tiba-tiba, menghentikan perilaku biasanya sangat sulit sehingga memperlambat proses kepunahan dengan Posi ¬ tive penguatan sering perilaku baru didirikan (tentu saja, beberapa perilaku yang terbaik dihilangkan dengan pergi &quot;kalkun dingin&quot;, seperti merokok). Sebagai contoh, sebuah program penurunan berat badan mungkin memiliki klien menguatkan dirinya untuk penurunan kalori yang dimakan (misalnya, rf r positif) (self-talk). Selain itu, klien lain yang signifikan dapat memperkuat dirinya untuk kehilangan berat badan secara bertahap (misalnya, &quot;Kau tampak benar-benar baik!&quot;) – Selain itu, klien bisa bergabung dengan self-help kelompok pengurangan berat badan untuk penguatan tambahan. Selain itu, kontrol rangsangan dapat diperkenalkan (misalnya, hanya makanan rendah lemak diperbolehkan dalam rumah). Akhirnya, perilaku lain seperti exer ¬ cise atau meditasi mungkin diperkenalkan sebagai alat untuk memperkuat gaya hidup baru. <br> <br>Latihan relaksasi dan desensitisasi sistematis. Karena seorang individu tidak dapat pengalaman ¬ ence cemas dan perasaan tenang secara bersamaan, latihan relaksasi sering diajarkan untuk klien yang mengalami kecemasan dan / atau takut. Meskipun sejumlah teknologi ¬ niques relaksasi dapat digunakan, prosedur relaksasi klasik dikembangkan oleh Jacobson (1938). <br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> <br>      BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br> <br> <br>Dalam metode ini, klien semakin santai dengan berfokus pada masing-masing tumbuh otot utama tubuh-mengencangkan dan kemudian merasakan otot rileks, sampai seluruh tubuh relaks pelatihan Relaksasi juga digunakan sebagai komponen pengkondisian klasik teknik desensitisasi sistematis, di mana seorang individu pasang respons takut dengan rasa relaksasi. Metode ini telah terbukti sangat berhasil bila digunakan untuk perilaku fobia. Dalam bekerja dengan klien menggunakan teknik ini, suatu hierarki ketakutan dikembangkan. Fc Misalnya, bayangkan seorang individu yang memiliki rasa takut lift. Sebuah hirarki mungkin includetion (1) melihat lift, (2) berdiri di lift dengan pintu yang diadakan di posisi terbuka, (3) akan naik satu penerbangan di lift, (4) naik lima penerbangan di lift, (5) bergabung naik 20 penerbangan dalam lift, (6) akan naik 50 penerbangan dalam lift, (7) akan naik ke puncak c Empire State Building. Di kantor, seorang konselor akan mulai dengan tingkat pertama hirarki dengan meminta klien untuk menutup mata nya dan kemudian mengambil klien melalui respons relaksasi. Selanjutnya, konselor akan mulai di bagian bawah hirarki, dalam hal ini, meminta klien untuk membayangkan melihat lift. Klien akan diberitahu untuk menaikkan; jari segera setelah dia mengalami kecemasan. Ketika kegelisahan terasa, konselor membangun kembali perasaan yang santai dan mulai berakhir. Konselor akhirnya akan memiliki diem membayangkan seluruh hirarki. Teknik ini memerlukan waktu, kadang-kadang sebanyak empat atau lebih sesi sampai klien mampu sepenuhnya membayangkan hirarki tanpa cemas. Setelah menyelesaikan hierarki di kantor, klien dapat mempraktekkan dalam kehidupan nyata. Saat ini, tidak jarang terapis untuk mendampingi klien ketika mencoba perilaku ini. <br>Self-Management Techniques. Baru-baru ini, berbagai perilaku klien mengajar teknik dan setelah mereka mengembangkan dan praktek perilaku baru pada mereka sendiri telah menjadi umum. Dalam proses ini, penting untuk klien (1) untuk memilih yang akurat dan dapat dicapai tujuan dan strategi, <br>(2) dengan jelas memahami berbagai perilaku teknik dan perangkap yang mungkin terlibat, (3) untuk melakukan pemantauan diri yang akurat, (4) untuk menilai kembali proses jika kesuksesan tidak tercapai, (5) untuk menindaklanjuti pada tujuan , dan (6) untuk merencanakan masa depan dan diharapkan kemunduran. <br>Banjir dan Teknik Implosion. Biasanya digunakan dalam pengobatan fobia, banjir dan melibatkan teknik ledakan memiliki klien mengekspos dirinya sendiri ke jumlah intensif rangsangan yang berhubungan dengan fobia. Dalam banjir, baik klien membayangkan berada di hadapan tempat rangsangan atau benar-benar dirinya sendiri &quot;in vivo&quot; pada rangsangan (naik elevator di Empire State Building bagi mereka yang memiliki fobia lift tanpa desensitisasi!). Teknik Implosive melibatkan penggunaan gambar mental yang berlebihan dalam beberapa cara abstrak yang berhubungan dengan fobia (misalnya, &quot;Bayangkan diri Anda dalam sebuah lift di Empire State Building. Anda akan pergi ke lantai atas. Anda bisa sampai ke lantai 90 dan satu -setengah, dan lift berhenti. Anda sudah terjebak. Dan kau di lift dengan mantan pasangan Anda dan orang yang histeris! &quot;). Kedua teknik memaksimalkan kecemasan, dengan hasil yang diharapkan menjadi negara akhirnya relaksasi karena kecemasan intensif tersebut tidak dapat ditoleransi oleh orang untuk jangka waktu yang lama. Akhirnya, individu mulai merasa tenang dengan rangsangan. Jelas, teknik tersebut harus digunakan hanya oleh terapis yang terlatih baik. <br>THE THERAPEUTIC HUBUNGAN zaman modern terapi perilaku menekankan pentingnya dan kepedulian yang positif hubungan antara terapis dan klien. Kapal ¬ relasi ini memungkinkan kepercayaan dan hubungan yang akan dibangun dan terapis affords kesempatan yang lebih besar untuk secara akurat menilai area masalah. Selain itu, penting bagi terapis untuk bekerja sama dengan klien dan mengarahkan klien ke arah teknik yang terbaik akan memperbaiki apapun <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 105 <br>  <br>BOX 4,5 <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Dapatkah seorang Behavioris Be-a Hurnanist? <br>  <br>  <br>  <br>Selama membela disertasi doktor saya penasihat saya, yang adalah seorang behavioris, bertanya apakah &quot;seorang behavioris bisa menjadi humanis.&quot; Aku melanjutkan untuk memberikan apa yang saya pikir pada waktu untuk respon yang agak esoterik dicatat bahwa ¬ tions orienta dasar dari pendekatan filosofis berbeda dan karenanya tidak kompatibel satu sama lain. Beberapa tahun kemudian <br>  <br>Saya mendapat kesempatan untuk mendengar BF Skinner berbicara di sebuah gereja di New Hampshire. Setelah bicara Aku pergi kepadanya dan bertanya, &quot;Dapatkah seorang behavioris menjadi humanis?&quot; Menunggu sejenak, ia menoleh padaku, dan dengan sangat reflektif melihat ia berkata, &quot;Yah, aku tidak tahu tentang itu, tapi dia pasti bisa menjadi manusiawi.&quot; <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Arnold. Lazarus <br>mengidentifikasi masalah. Terapis juga bertindak sebagai ilmuwan yang objektif yang membantu klien dalam menilai frekuensi, durasi, dan intensitas dari perilaku (s) harus diubah dan yang membantu klien menilai kemajuan dari sudut pandang yang objektif. Oleh karena itu klien mengalami terapis sebagai manusiawi yang penuh perhatian dan orang yang dapat secara efektif mendengarkan, menilai masalah, mengajarkan klien tentang teknik, dan mengarahkan klien ke arah tujuan perawatan. <br>SINOPSIS Perilaku terapi ini dikembangkan pada paruh pertama abad kedua puluh dan didasarkan pada tiga jenis perilaku paradigma: instrumental conditioning, conditioning klasik, dan model. Terapi perilaku Meskipun awalnya dipandang sebagai ilmiah, reduksionistik, dan kebanyakan pendekatan steril konseling, terapi perilaku saat ini telah terintegrasi banyak metode humanistik ke pendekatan nya. Sebagai contoh, tidak jarang untuk hari modern behavioris untuk menggunakan empati dan mengembangkan kerja kolaborasi ing ¬ hubungan dengan klien. Hal ini memungkinkan terapis untuk membangun kepercayaan dan benar iDEN ¬ tify perilaku yang ditargetkan klien ingin berubah. Setelah diidentifikasi perilaku, tujuan dapat dibentuk dan teknik yang dipilih. Hari modern behavioris memiliki segudang teknik untuk memilih dari, dan tidak lazim bagi behavioris untuk mulai bekerja ¬ ing dengan seorang klien di dalam kantor, tapi nanti untuk bekerja sama dengan klien di lapangan. Modern behavioris bertindak sebagai manusiawi, kepedulian guru profesional dan teknik yang membantu dalam mengarahkan klien ke arah tujuan pengobatan dan rasa kepuasan dalam hidup (lihat Kotak 4.5). <br>Multimodal Terapi <br>Merasa bahwa terapi perilaku yang terbatas teknik dan strategi, Arnold Lazarus mengembangkan apa yang disebut terapi multimodal (Lazarus, 1976, 2002; Wolpe &amp; Lazarus, 1966). Saat ini, terapi multimodal menggunakan array yang luas dari teknik dan telah diidentifikasi oleh banyak orang sebagai sistematis, relatif singkat, pendekatan eklektik (Lazarus, 1976; 1997a, 1997b; Lazarus &amp;. Beutler, 1993; Mahalik, 1990). Karena usaha Lazarus dengan jelas mendefinisikan masalah, menetapkan tujuan, mengidentifikasi teknik, dan mengukur keberhasilan, ia tampak dalam banyak cara agar sesuai dengan zaman modern definisi behaviorisme. Selain itu, kecenderungan ke arah teoretisnya teori pembelajaran sosial dan kurangnya fokus pada &quot;proses dinamis&quot; titik teorinya lebih ke arah orientasi perilaku (Corsini &amp; Wedding, 2000; Lazarus, 1986). Namun, seperti yang akan Anda lihat, Lazarus's formulasi telah pergi jauh melampaui lebih tra ¬ karya ditional terapis perilaku. <br>Lazarus Pendekatan ini didasarkan pada analisis yang hati-hati klien dalam waktu tujuh ikatan ¬ modali dikenal dengan singkatan BASIC ID. Dalam menilai kebutuhan klien dalam terapi, Lazarus bertanya <br>  <br>106 BAGIAN Jika The Membantu Hubungan saya: Teori dan Keterampilan <br>  <br>  <br>WiUiam Glasser <br>klien untuk mengembangkan sendiri modalitas profil dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan di domain berikut: <br>Perilaku: Buatlah daftar perilaku yang terbuka, seperti tindakan, kebiasaan, sikap, tanggapan, dan reaksi, bahwa Anda ingin meningkatkan dan orang-orang yang akan menurun. Apa yang akan Anda ingin mulai dan berhenti melakukan? <br>Mempengaruhi: Tuliskan emosi yang tidak diinginkan, suasana hati, dan perasaan yang kuat (misalnya, anx ¬ iety, rasa bersalah, kemarahan, depresi). <br>Sensasi: Buatlah daftar sensasi negatif apapun yang berkaitan dengan indera Anda menyentuh, merasakan, mencium, melihat, dan mendengar (misalnya, ketegangan, pusing, rasa sakit, memerah, mentega ¬ lalat di perut). <br>Perumpamaan: Tuliskan apapun yang mengganggu mimpi dan hidup berulang kenangan dan fitur negatif tentang citra diri Anda. Buatlah daftar semua citra mental atau gambar pendengaran yang mungkin mengganggu Anda. <br>Cognition: Buatlah daftar dari setiap sikap, nilai, pendapat, dan ide yang bisa di jalan kebahagiaan Anda. Termasuk hal-hal negatif Anda sering berkata kepada diri sendiri (misalnya, &quot;Aku gagal&quot;). <br>Hubungan interpersonal: Tuliskan apa pun mengganggu interaksi dengan orang lain (saudara, teman, kekasih, majikan, kenalan). Segala keprihatinan Anda miliki tentang cara orang lain memperlakukan Anda harus muncul di sini. <br>Obat / Biologi: Buatlah daftar semua obat yang Anda gunakan, baik yang diresepkan oleh dokter atau tidak. Mencakup masalah kesehatan, masalah medis, dan penyakit yang kini Anda memiliki atau pernah dimiliki di masa lalu (diparafrasekan dan diperpendek dari Lazarus, 1986). <br>Setelah analisis menyeluruh klien BASIC ID, langsung strategi pengobatan dan tujuan perawatan dikembangkan untuk masing-masing modalitas. Meskipun setiap modal ¬ ity akan ditanggulangi, beberapa modalitas kemungkinan akan ditekankan atas orang lain. Jelas, Lazarus Pendekatan pragmatis dan dapat diadopsi oleh setiap terapis yang memiliki pengetahuan mendalam intervensi perawatan dan dapat mencocokkan ini secara efektif dengan klien * profil. <br>Reality Therapy and Choice Theory <br>Realitas terapi ini dikembangkan pada 1950 oleh William Glasser (Glasser, 1961, 1965, 1984) dan lebih baru-baru ini telah diperluas oleh Robert Wubbolding (2005, 2006). Menggunakan konsep-konsep yang termasuk eksistensial, perilaku, dan kerangka kerja kognitif, Glasser awalnya bekerja dengan tunggakan sangat terganggu pemuda dan orang dewasa (Wubbolding, 2005). Glasser percaya bahwa orang tidak korban dari masa lalu mereka dan dapat membuat pilihan-pilihan dalam hidup mereka untuk mengubah persepsi mereka sendiri. Dalam Glasser tulisan-tulisan yang lebih baru, dia menyatakan bahwa kita memiliki lima kebutuhan bawaan: cinta dan memiliki, kekuatan, kebebasan, menyenangkan, dan kelangsungan hidup (Glasser, 1997, 2000b), dan ia mengusulkan bahwa setiap perilaku yang kita pameran adalah suatu usaha untuk memiliki kebutuhan ini bertemu. Namun, Glasser juga percaya bahwa kadang-kadang kita belajar cara dysfunc ¬ nasional untuk mendapatkan kebutuhan ini terpenuhi, dan perilaku disfungsional ini menjadi dasar bagaimana kita memandang realitas. Dia menegaskan bahwa kami terus menunjukkan perilaku tersebut, bahkan jika mereka merusak, dalam rangka untuk menjaga pandangan kita tentang dunia (Glasser, 1994). Melalui proses konseling, Glasser percaya bahwa klien dapat ditunjukkan bagaimana mereka menciptakan realitas mereka sendiri melalui perilaku mereka pilih. Memahami bahwa mereka menciptakan realitas mereka sendiri, klien dapat belajar bagaimana memilih perilaku baru yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana mereka melihat realitas dan bagaimana mereka rasakan; sehingga istilah teori pilihan (Glasser, 2001). <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 107 <br>Teori pilihan sangat antideterministic ke titik bahwa penyakit mental, serta sebagian besar masalah dalam hidup, dipandang sebagai indikasi bahwa seseorang belum menemukan cara-cara yang sehat karena kebutuhan nya terpenuhi. Sebagai contoh, teori pilihan menegaskan bahwa orang-orang yang menekan mereka ¬ diri, marah sendiri, membuat mereka psikotik, belajar membuat diri mereka penyandang cacat, dan sebagainya dalam upaya disfungsional untuk mendapatkan kebutuhan mereka bertemu (ini adalah satu-satunya cara yang mereka ketahui). Tujuan teori pilihan adalah untuk membantu klien dalam menemukan perilaku sehat yang akan memenuhi kebutuhan dasar mereka dan pada akhirnya memindahkan mereka dari kegagalan identitas ke identitas kesuksesan. <br>Untuk realitas terapis, proses terapeutik pertama melibatkan menciptakan percaya ENVI ¬ ronment. Realitas terapis melakukan hal ini dengan melibatkan diri dengan klien mereka dan menjadi seorang teman untuk klien mereka. Misalnya, mereka mungkin berbicara tentang masalah atau kegiatan Common klien menikmati. Ketika proses terapeutik unravels, realitas terapis membantu klien memusatkan perhatian pada apa yang mereka lakukan untuk melanjutkan perasaan negatif dan kegagalan mereka identitas. Klien ditantang untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan mereka dan didorong untuk mengidentifikasi behav ¬ iors mereka ingin ubah. Selain itu, dengan bantuan dari realitas terapis, klien didorong untuk menyusun sebuah rencana untuk berubah. Walaupun terapis percaya realitas konselor tidak boleh menerima alasan ketika klien tidak menindaklanjuti rencana mereka, mereka juga sangat merasa bahwa konselor harus membuat komitmen untuk klien dan tidak menyerah pada mereka. Klien yang tidak mengikuti melalui dipandang sebagai memerlukan penilaian ulang rencana mereka dan / atau dorongan untuk terus mencoba. <br>Teori pilihan, dan sistem pengiriman, realitas terapi, telah diterapkan untuk pengaturan yang lebih besar, seperti sekolah dan rumah sakit jiwa. Dalam kasus ini, keterlibatan dari seluruh lembaga sangat penting. Lembaga, kata Glasser, harus mengembangkan seperangkat aturan perilaku, dan semua yang terlibat perlu memahami dan mematuhi jelas oleh mereka. Ketidakpatuhan aturan harus mengarah pada konsekuensi alamiah tertentu, sebagai lawan dari hukuman, yang Glasser mengerutkan kening atas. <br>Teori Glasser optimis, berorientasi tindakan, dan maju bergerak, dapat diterapkan dalam berbagai pengaturan, dan telah digunakan di seluruh dunia (Wubbolding, 2000; Wubbolding et al., 2004). Karena banyak konsep yang secara eksistensial dan kognitif berbasis, beberapa bisa berpendapat bahwa teori dan kenyataan pilihan terapi tidak boleh tercantum sebagai pendekatan perilaku, namun karena berfokus pada perilaku Glasser sebagai kunci untuk mengubah, saya telah meletakkan teori dalam bidang terapi perilaku. Namun, mungkin paling cocok dalam &quot;kognitif-perilaku&quot; wilayah (Bob Wubbolding, komunikasi pribadi, 1 April 2005)-yang membawa kita ke diskusi berikutnya pendekatan kognitif. <br>Pendekatan kognitif <br>Mendefinisikan Cognitive Therapy dan View of Human Nature <br>Behavioris awal sedikit perhatian kepada kognisi yang mungkin mediasi perilaku. Bahkan, Skinner (1972) menyatakan bahwa tidak ada gunanya untuk mencari penyebab internal perilaku, karena mereka hanya dikembangkan melalui penguatan eksternal kemungkinan: <br>. . . kita tidak memiliki akses langsung ke keadaan pikiran, perasaan, tujuan, sikap, Opin ¬ ion, atau nilai-nilai. Apa yang kita lakukan adalah mencoba untuk mengubah perilaku dari yang kita simpulkan hal-hal semacam itu, dan kita berubah hanya dengan mengubah lingkungan. … (hal. 423) <br>Namun, sejak tahun 1960-an psikoterapi kognitif ketat ini telah menantang pandangan behavioris radikal. Meskipun kebanyakan terapis kognitif percaya bahwa ada interaksi yang kompleks antara berpikir, merasa, dan bertindak, sebagai namanya, penekanan mereka <br>  <br>108 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>seluruh proses perubahan adalah bagaimana kita berpikir dan membuat makna di dunia kita. Tl penekanan bukanlah hal baru: <br>. . . jika Anda memiliki pendapat yang benar, Anda akan ongkos baik; jika mereka salah, Anda akan ongkos sakit. Karena kepada setiap orang penyebab aktingnya adalah pendapat. . . . (Epictetus, c. 100 AD) <br>Selama tahun 1960-an menjadi terapi kognitif yang dipopulerkan oleh Albert Ellis (Ellis, 196 Ellis &amp; Harper, 1997). Tidak lama setelah pandangan Ellis dikenal, sejumlah individu bergabung dengan &quot;revolusi kognitif.&quot; Sebagai contoh, Aaron Beck (1976), Donald Meichenbau (1977), dan Michael Mahoney (1974) menawarkan pendekatan baru dalam psikoterapi kognitif <br>Terapis kognitif tradisional percaya bahwa individu dilahirkan dengan kemampuan berpikir rasional atau tidak rasional, dengan proses berpikir seseorang menjadi diperkuat selama bertahun-tahun, mapan dan sulit untuk memadamkan. Meskipun perasaan dan perilaku yang mungkin memiliki peran penting dalam kehidupan individu, penekanan pada proses pemikiran, keyakinan bahwa kecerdasan berpikir logis dapat diganti dengan pemikiran logis dalam cara yang hampir bedah. <br>Baru-baru ini, beberapa ahli terapi kognitif telah bergerak ke arah konstruktivis memahami bagaimana orang berpikir dan membuat makna dunia (Mahoney, 1991, 1995a 'Bahwa rasionalis dari sekolah-sekolah tradisional terapi kognitif dilihat sebagai suatu proses yang berorientasi logika yang melibatkan irasional mengganti pikiran dengan rasional orang, yang konstruktivis menekankan bagaimana konstruksi realitas kita didasarkan pada suatu interaksi yang rumit antara pemikiran kita, bertindak, dan merasa dunia, dengan masing-masing individu menciptakan nya atau dia sendiri yang unik sistem pembuatan makna. Dan, sedangkan rasionalis menggunakan logika akal sehat, dan berpikir rasional dalam upaya untuk mengubah kognisi, yang konstruktivis akan kami teknik seperti story telling, metafora dan analogi, abstraksi, pingsan saran, dan proses kompleks lainnya untuk membantu individu untuk mengadopsi arti baru sistem pembuatan dan pandangan baru tentang dunia yang lebih adaptif (Goncalves &amp;. Machado: 1995; Mahoney, 1995a; Neimeyer &amp; Mahoney, 1999). <br>Meskipun tradisional dan pendekatan konstruktivis bervariasi dalam beberapa cara inti, ada juga banyak kesamaan. Keduanya antideterministic dalam bahwa mereka percaya bahwa individu dapat berubah. Keduanya percaya bahwa saat ini satu cara memandang dunia adalah kunci untuk membuat perubahan, baik dalam yang logis, sistematis seperti dengan kaum tradisionalis, atau dalam yang sangat reflektif diri dengan cara yang menganalisis makna dan menawarkan proses perubahan yang kompleks yang mengandalkan sebagian besar pada pemikiran abstrak (Neimeyer, 1995). Meskipun keduanya mungkin tidak menyangkal konsep motivasi tak sadar, proses tak sadar bukan merupakan konsep inti dalam terapi. <br>Dalam bagian ini, saya memilih Albert Ellis's rasional emotif terapi perilaku (REBT) untuk memeriksa secara agak rinci. Ellis, yang dianggap sebagai tradisionalis oleh sebagian besar (Mahoney, 1995a) tetapi konstruktivis oleh dirinya sendiri (Ellis, 1988a, 1990, 1993), telah sangat dipengaruhi bidang terapi kognitif. Selain itu, terapi kognitif Beck (1976), yang diperluas pada ide-ide Ellis sementara menawarkan beberapa arah baru untuk psikoterapi kognitif, akan dibahas secara singkat sebagai akan konstruktivis yang lebih baru pengertian tentang Mahoney (Mahoney, 1995b; Mahoney, Miller, &amp; Arciero, 1995 ; Neimeyer &amp; Mahoney, 1999). <br>Ellis Perilaku rasional emotif Terapi <br>Ellis yakin bahwa manusia menciptakan gangguan psikologis dengan berpikir tidak logis dan dengan mempertahankan seperangkat keyakinan irasional (Ellis, 1988a; Ellis &amp;. Harper, 1997). Individu kekang-doctrinate sendiri, kata Ellis, dengan tidak logis ini pikiran dan keyakinan tidak rasional karena alam kita akan sangat dipengaruhi oleh orang lain-lain yang tidak logis sendiri memegang keyakinan: <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 109 <br>  <br>BOX 4,6 <br> <br>  <br>  <br>  <br>  <br> <br>  <br>  <br>  <br>  <br>1. Gagasan bahwa itu adalah suatu keharusan mengerikan bagi orang dewasa untuk dicintai atau disetujui oleh hampir semua orang penting dalam masyarakat. <br>2. Gagasan bahwa seseorang harus benar-benar kompeten, memadai, dan mencapai semua hal yang mungkin jika kita mempertimbangkan diri berharga. <br>3. Gagasan bahwa ketidakbahagiaan manusia adalah disebabkan eksternal dan bahwa orang-orang yang memiliki sedikit atau tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kesedihan dan gangguan mereka. <br>4. Gagasan bahwa salah satu sejarah masa lalu adalah segala-faktor penting dalam perilaku seseorang hadir dan itu karena sesuatu yang pernah sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, itu harus selamanya memiliki efek yang sama. <br>5. Gagasan bahwa ada selalu yang benar, tepat, dan solusi tepat untuk masalah-masalah manusia dan bahwa itu adalah cata ¬ strophic jika solusi yang sempurna ini tidak ditemukan. <br>  <br>6. Gagasan bahwa jika sesuatu sedang atau dapat membahayakan atau menakutkan orang harus sangat prihatin tentang hal ini dan harus tetap memikirkan kemungkinan yang terjadi. <br>7. Gagasan bahwa orang-orang tertentu yang buruk, jahat, atau Vil ¬ lainous dan bahwa mereka harus berat dipersalahkan dan dihukum karena kejahatan mereka. <br>8. Gagasan bahwa hal itu mengerikan dan bencana ketika ada yang tidak cara seseorang akan sangat ingin mereka menjadi. <br>9. Gagasan bahwa lebih mudah untuk menghindari daripada menghadapi kesulitan hidup tertentu dan tanggung jawab diri. <br>10. Gagasan bahwa seseorang harus menjadi sangat kecewa atas masalah orang lain dan gangguan. <br>11. Gagasan bahwa orang harus bergantung pada orang lain dan membutuhkan seseorang yang kuat daripada diri pada siapa yang bisa diandalkan. (EIUs, 1973, pp. 152-153, 242-243) <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Albert Ellis <br>Manusia, dengan kata lain, sangat dibisikkan, mudah dipengaruhi, rentan, dan mudah tertipu. Dan mereka adalah diri-berbicara, mengindoktrinasi diri, merangsang diri makhluk. Mereka membutuhkan, tentu saja, beberapa pengaruh lingkungan untuk berkembang menjadi dibisikkan dan propaganda diri individu, sama seperti mereka membutuhkan stimulasi eksternal dalam rangka untuk mengembangkan sama sekali. (Euis, 1973, hal 34) <br>Terapi Ellis melibatkan lima langkah dasar. Pertama, terapis perlu meyakinkan klien bahwa ia berpikir rasional. Kedua, kebutuhan terapis untuk menunjukkan klien bagaimana ia mempertahankan ini adalah tidak logis dan tidak rasional berpikir. Ketiga, kebutuhan klien untuk mempelajari bagaimana tantangan-nya keyakinan irasional. Keempat, klien perlu mempertimbangkan bagaimana keyakinan irasional spesifik mungkin didasarkan pada satu atau lebih dari 11 digeneralisasi keyakinan irasional yang telah menjadi menginternalisasi (lihat Kotak 4.6). Kelima, kebutuhan klien untuk bekerja mengembangkan cara yang lebih rasional hidup di dunia. <br>TEKNIK Meskipun kebanyakan REBT awalnya berfokus pada kognisi (the &quot;E&quot; dan &quot;B&quot; di REBT ditambahkan kemudian), hari ini ada terapi ini lebih dari sekedar mengidentifikasi pikiran irasional. Bahkan, Ellis bebas mengakui bahwa ia akan mendorong klien untuk mengubah pikiran logis dalam berbagai cara, seperti melalui penggunaan teknologi perilaku atau emotif ¬ niques. Hal ini karena Ellis percaya ada hubungan intim antara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak. Berikut ini adalah contoh dari berbagai teknik yang mungkin digunakan Ellis. <br>ABC of Personality Pembentukan. Menggunakan teknik yang disebut &quot;ABC mengungkapkan per ¬ sonality pembentukan,&quot; Ellis percaya bahwa bukan acara mengaktifkan (A) yang menyebabkan konsekuensi emosional (C), tetapi kepercayaan (B) tentang kejadian tersebut. Sebagai contoh, t'aced dengan <br>  <br>110 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>situasi yang sama-kehilangan hubungan-satu sistem kepercayaan klien dapat mengakibatkan sui ¬ cidal depresi, sementara yang lain sistem kepercayaan klien dapat mengakibatkan klien baik-baik saja aboui putus. Sedangkan satu klien mungkin akan membuat bencana kehilangan relasi ¬ kapal dan membuat pernyataan diri (B) seperti &quot;Aku tidak berguna,&quot; &quot;Aku jelek,&quot; dan &quot;Aku tidak akan pernah baik orang lain seperti itu orang, &quot;klien kedua mungkin akan berkata,&quot; Ini adalah kesempatan bagi saya untuk bertemu orang baru &quot;dan&quot; Hubungan yakin ternyata ada sisi negatifnya. &quot; <br>Dalam proses terapeutik Ellis mendorong klien untuk memeriksa apakah mereka membuat rasional atau tidak rasional pernyataan diri. Misalnya, dalam contoh di atas, meskipun kehilangan hubungan perubahan yang signifikan dalam kehidupan seseorang, tidak ada bukti bahwa individu tidak ada gunanya atau bahwa klien tidak akan terlibat dengan orang lain (keyakinan yang irasional). Di samping itu, konselor REBT akan mendorong klien untuk ujian ¬ ine lebih dalam, yang mendasari keyakinan yang mungkin berhubungan dengan nya berbicara kepada diri sendiri (lihat Kotak 4-6). <br>Salah satu peran dari terapis REBT adalah untuk menciptakan sebuah intervensi bersengketa (D) untuk irra keyakinan ¬ nasional (B) yang akan efek (E) yang baru, dan lebih baik, perasaan (F). Oleh karena itu, konseling yang aktif, direktif proses di mana konselor membantu klien mengidentifikasi pemikiran irasional dan kemudian membantu klien dalam memerangi dan menantang keyakinan yang irasional. Dalam contoh di atas, klien bisa mulai berlatih dengan mengatakan hal-hal seperti &quot;Saya berharga&quot; dan &quot;Aku akan mencari hubungan lain,&quot; dalam metode aktif memerangi tertanam mencela diri sendiri pikiran negatif. Dengan demikian, intervensi yang bersengketa adalah klien berlatih percakapan-diri (D), yang efek (E) yang baru dan lebih keyakinan positif tentang self (B) dan menghasilkan perasaan yang baik tentang self (F). <br>Kognitif Homework. Setelah klien meninggalkan kantor terapis, mereka dapat secara aktif mengupayakan restrukturisasi kognitif oleh keyakinan irasional bersengketa, identifikasi seharusnya, musts, dan pemikiran absolut yang mengarah ke keyakinan irasional semacam itu, dan terus-menerus bekerja untuk reor ¬ ganize pemikiran mereka menjadi lebih terikat dan lebih bebas hidup. <br>Bibliotherapy. Dengan membaca buku-buku yang mendukung hipotesis dasar Ellis dan khusus untuk masalah klien, klien dapat terus aktif mengubah cara berpikir dan bertindak dan bekerja pada masalah-masalah mereka sendiri. <br>Role-Playing. Klien dapat mencoba perilaku baru, baik di kantor terapis dan pada mereka sendiri. Proses aktif ini membantu untuk menantang keyakinan irasional yang ada dan menyediakan mulai ¬ ning kerangka perubahan perilaku. <br>Malu-Latihan Menyerang. Ellis menyarankan bahwa untuk mengurangi pengaruh orang-orang yang terlalu sering pada orang lain, klien harus melakukan hal-hal yang tidak konvensional dan praktek sosial yang berbeda .. Misalnya, seseorang yang pemalu mungkin pergi ke pesta dan bertindak outlandishly extro ¬ verted ke titik di mana orang-orang menghindarinya. Hal ini memungkinkan individu untuk melepaskan &quot;keharusan&quot; dan &quot;musts&quot; dan bertindak yang lebih berjiwa bebas mode. <br>Latihan pencitraan. Ellis mendorong orang untuk membayangkan bagaimana mereka ingin menjadi. Imaging, terutama jika diikuti oleh praktek perilaku, dapat memindahkan seorang individu kepada cara baru berada di dunia. <br>Perilaku Techniques. Ellis mendorong menggunakan teknik perilaku apapun yang akan facil ¬ klien itate perubahan. Teknik sebagai persyaratan instrumental, pemodelan, ketegasan pelatihan, pengelolaan diri, banjir, dan ledakan dapat digunakan dalam perawatan. <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 111 <br>  <br>BOX 4,7 <br> Beberapa tahun setelah menyelesaikan gelar doktor saya dianggap melakukan persekutuan postdoctoral di emotif Perilaku Rasional Institute di New York City. Aku mengirimkan resume dan saya dipanggil untuk wawancara. Mula-mula, saya mewawancarai dengan salah satu direktur, kemudian saya diberitahu bahwa saya akan harus melakukan peran-bermain dengan &quot;Al.&quot; Aku dibawa untuk melihat Al, yang sedang duduk di besar, kursi yang nyaman. Dia terus meminta saya untuk memainkan peran seorang konselor. Dia adalah klien, pra ¬ senting mahasiswa laki-laki yang mengalami kesulitan berkencan. <br>Saya mulai mendengarkan dan menanggapi dengan empati, berpikir bahwa setelah mendengar tentang masalah, saya akan pindah ke suatu gaya REBT respons. Setelah sekitar tiga tanggapan empatik berturut-turut, Al berkata kepadaku, sesuatu seperti, &quot;Jangan beri aku semua itu Rogerian __! Aku ingin melihat konselor emotif rasional.&quot; Aku terus memberikan apa yang ia inginkan, berpikir dalam hati, &quot;Dia yakin serius tentang unimportance tentang&quot; perlu dan memadai Condi ¬ tions. &quot;1 saya memutuskan untuk tidak mengejar persekutuan. <br>  <br>  <br> <br>  <br>  <br>  <br> <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Beberapa tahun setelah menyelesaikan gelar doktor saya dianggap melakukan persekutuan postdoctoral di emotif Perilaku Rasional Institute di New York City. Aku mengirimkan resume dan saya dipanggil untuk wawancara. Mula-mula, saya mewawancarai dengan salah satu direktur, kemudian saya diberitahu bahwa saya akan harus melakukan peran-bermain dengan &quot;Al.&quot; Aku dibawa untuk melihat Al, yang sedang duduk di besar, kursi yang nyaman. Dia terus meminta saya untuk memainkan peran seorang konselor. Dia adalah klien, pra ¬ senting mahasiswa laki-laki yang mengalami kesulitan berkencan. <br>  <br>Saya mulai mendengarkan dan menanggapi dengan empati, berpikir bahwa setelah mendengar tentang masalah, saya akan pindah ke suatu gaya REBT respons. Setelah sekitar tiga tanggapan empatik berturut-turut, Al berkata kepadaku, sesuatu seperti, &quot;Jangan beri aku semua itu Rogerian __! Aku ingin melihat konselor emotif rasional.&quot; Aku terus memberikan apa yang ia inginkan, berpikir dalam hati, &quot;Dia yakin serius tentang unimportance tentang&quot; perlu dan memadai Condi ¬ tions. &quot;1 saya memutuskan untuk tidak mengejar persekutuan. <br>  <br>  <br>  <br>Teknik emotif. Meskipun sering dikritik karena terlalu kognitif, Ellis tidak kebal terhadap emosi memeriksa. Meski tidak percaya bahwa katarsis adalah dalam dirinya sendiri dan kuratif, Ellis tidak percaya itu adalah penting untuk menguji emosi dan memahami perasaan-perasaan yang mungkin hasil dari berpikir irasional. Oleh karena itu, Ellis mendorong klien untuk berhubungan dengan perasaan mereka dalam upaya untuk melakukan pemeriksaan diri serius dari sistem kepercayaan mereka. <br>THE THERAPEUTIC HUBUNGAN REBT aktif, direktif, dan pendekatan didaktik konseling. Ellis tidak percaya bahwa hubungan terapeutik yang diperlukan dan memerlukan kondisi yang memadai Rogers menganjurkan (lihat Kotak 4.7). Apa yang penting, negara Ellis, adalah keyakinan klien dalam filsafat REBT, terlepas dari perasaannya terhadap terapis. Oleh karena itu, proses terapeutik yang melibatkan seorang terapis mengajarkan klien tentang ABCDs berpikir dan mendorong serta mengkonfrontasikan klien untuk secara aktif mengambil cara-cara baru berpikir dan menjalani hidup. Ellis yakin bahwa klien harus melakukan perpindahan dari menjadi korban dari keadaan atau dirinya sendiri untuk menjadi orang yang dapat con ¬ Pendapatan = Hibah hidupnya dan membuat kognitif aktif pergeseran dan perubahan perilaku. <br>SINOPSIS Albert Ellis telah menjadi pemimpin dalam mengembangkan pendekatan rasional terapi kognitif. Pendekatannya mengasumsikan bahwa individu mampu berpikir rasional dan tidak rasional ¬ ing dan tidak rasional berpikir, bukan peristiwa dalam kehidupan seseorang, menyebabkan konsekuensi emosi negatif ¬ quences. Berdasarkan pandangan ini, Ellis mengembangkan teori ABCD gangguan emosional di mana A adalah peristiwa mengaktifkan dan B keyakinan tentang peristiwa yang menyebabkan C, emo ¬ konsekuensi nasional. Sekali seorang individu mengidentifikasi keyakinan tidak rasional, ia dapat sengketa (D) keyakinan dan mulai menjalani gaya hidup yang kurang neurotik. Ellis yakin bahwa kapal ¬ hubungan antara terapis dan klien tidak sepenting apakah klien berikut melalui dengan teknik-teknik dan memahami filosofi REBT. Ellis telah mengembangkan sejumlah kognitif, perilaku, dan emosi teknik untuk membantu seorang individu dalam bergerak dari irasional ke rasional gaya hidup. <br>Aaron Beck's Cognitive Therapy <br>Meskipun serupa dalam banyak cara untuk Ellis teori, filosofi dasar dan beberapa teknik pendekatan Beck bervariasi dari Ellis. Meskipun kedua Beck dan Ellis bekerja pada klien cara-cara berpikir, Beck tidak setuju dengan Ellis atas konsep irasional <br>  <br>112 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>  <br>  <br>Aaron Beck <br>berpikir, percaya bahwa istilah ini terlalu penuh, terlalu kuat, dan dapat berpotensi memberikan pesan kepada klien bahwa ia hidup tidak rasional. Beck lebih suka percaya bahwa prob ¬ lems dalam hidup disebabkan oleh struktur kognitif. Ketidaksepakatan ini selama jangka waktu berpikir irra nasional mewakili perbedaan yang lebih luas antara Beck dan Ellis. Mana Ellis mengajarkan dan mengarahkan, Beck berkolaborasi dan mendengarkan. Di mana Ellis membujuk dan membujuk, Beck lembut probe ke dalam dunia kognitif klien, dan di mana Ellis disavows pentingnya kondisi empati dan tanpa syarat menganggap positif, Beck menyatakan bahwa terapi yang berhasil, aliansi kerja sangat penting, dan bahwa satu metode bangunan sebuah aliansi adalah melalui hangat, hubungan yang tidak menghakimi (Beck, 1987, 1997) * Secara keseluruhan, jelas bahwa nilai-nilai Beck hubungan dan dampaknya pada proses perubahan jauh lebih daripada Ellis. <br>Setelah menjalin hubungan, Beck membantu klien dalam mengidentifikasi hirarki cara berpikir dan persepsi yang melibatkan kegiatan kognitif, kognitif pengolahan, dan struktur kognitif (Beck, 1972; Beck &amp; Weishaar, 2000). Peristiwa kognitif yang tak pernah berakhir otomatis arus pikiran bahwa kita semua memiliki tetapi tidak selalu sadar. Mendapatkan berhubungan dengan aliran pikiran kita dapat membantu kita dalam memahami perasaan-perasaan negatif yang mungkin berhubungan dengan pikiran tertentu (Beck, 1976). Kedua, Beck mendorong klien untuk memahami proses kognitif mereka, yang mendasari cara-cara di mana mereka memproses informasi. Kadang-kadang proses tersebut melibatkan salah berpikir, yang dapat mengakibatkan distorsi kognitif dan perasaan palsu realitas. Contoh distorsi tersebut meliputi penalaran dikotomis, di mana individu-individu cenderung untuk melihat dunia dalam cara-cara dualistik daripada melihat dunia dalam cara yang lebih rumit (misalnya, &quot;Partai Republik benar, Demokrat salah]&quot;); personalisasi, di mana individu menganggap bahwa eksternal yang tidak terkait peristiwa yang entah bagaimana berhubungan dengan individu (misalnya, &quot;terapis saya sudah terlambat untuk sesi-nya dengan saya, dia pasti tidak suka padaku&quot;); dan overgeneralization, di mana seseorang membesar-besarkan pengaruh berdasarkan suatu peristiwa sedikit informasi ( &quot;I ' ve punya dua klien tidak akan muncul untuk sesi minggu ini, saya harus melakukan sesuatu yang salah &quot;). Bagian ketiga dari hierarki adalah struktur kognitif, yang mewakili skema atau rencana lantai yang mempengaruhi bagaimana setiap individu, dengan sendiri-sendiri cara unik untuk melihat dunia, telah masuk akal dari itu. Pada dasarnya, struktur kognitif kita memediasi proses kognitif kita (bagaimana kita mendistorsi infor ¬ mation), yang pada gilirannya menengahi peristiwa kognitif kita (otomatis pikiran). <br>Struktur -&gt; Proses -&gt; Events <br>(Skema) (Distorsi) (Automatic Thoughts) <br>Meskipun setiap individu memiliki sendiri unik struktur, proses, dan peristiwa, Beck percaya bahwa dalam kategori diagnostik, orang dapat menemukan beberapa kesamaan. Lynn dan Garske (1985) mencatat bahwa &quot;individu cemas memproses informasi dalam suatu skema yang didominasi oleh ide-ide dari ancaman dan bahaya. Tertekan individu yang memproses informasi dalam skema penolakan sosial dan kegagalan&quot; (hal. 338). Beck percaya bahwa begitu hangat dan peduli hubungan dengan klien dikembangkan, klien dan terapis dapat bersama-sama bercermin pada struktur kognitif jenis, proses, dan peristiwa yang unik bagi klien. Proses ini dapat dipercepat jika seseorang memiliki rasa yang jelas klien diagnosis. <br>Pendekatan Konstruktivis Mahoney <br>Dari perspektif Konstruktivis, rasionalitas secara intrinsik relativistik, dan, dengan demikian, itu hanya dapat merujuk kepada kontekstual dan historis terletak meaningand upaya untuk mencapai koherensi. (Guidano, 1995, hal 93) <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 113 <br>Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa ahli terapi baru saja mengubah fokus mereka dari kecenderungan rasionalis terapis kognitif awal yang relatif baru perspektif konstruktivis untuk bekerja dengan klien. Meskipun biasanya ditempatkan dalam kerangka kerja konseptual terapi kognitif, teori konstruktivis sering bertentangan dengan yang lebih tradisional, rasional mendaya ¬ pendekatan nitive Ellis, dan untuk tingkat yang lebih rendah, dengan yang ada Beck. Mahoney, yang dirinya dimulai sebagai terapis kognitif yang lebih tradisional, menyoroti beberapa ¬ con berikut ini berkaitan dengan konstruktivis cepts pengertian tentang psikoterapi (Mahoney, 1995b; Mahoney et al., 1995; Neimeyer, 1995). <br>1. Teori konstruktivis tantangan objectivists penegasan bahwa ada satu, otentik, realitas eksternal. <br>2. Melalui proses hidup dan berinteraksi dengan lingkungan, dan sebagai fungsi dari proses kognitif kita, orang terus-menerus menciptakan dan recreat ¬ ing pemahaman mereka tentang realitas. <br>3. Deep mendasari skema, hal-hal seperti proses tak sadar dan perasaan seseorang dan identitas diri, lebih sulit untuk mengubah struktur dari permukaan. <br>4. Ada interaksi yang kompleks dan tidak dapat dipisahkan antara satu pikiran, perasaan, dan tindakan. <br>5. Kami tidak hanya memiliki pikiran dan interpretasi dunia; kita pikiran kita dan interpretasi, terus-menerus mengalami rekonstruksi seperti yang kita antar ¬ bertindak dengan orang lain di dunia. <br>Membandingkan pendekatan rasional lebih tradisional dengan pendekatan konstruktivis, kita menemukan beberapa perbedaan utama (Goncalves &amp; Machado, 1995; Mahoney, 1995b; Mahoney et al., 1995) (lihat Tabel 4.2). <br>Tujuan terapi untuk Mahoney dan konstruktivis lain akan membantu klien dalam memahami-nya untuk mengetahui cara-cara yang unik dan membuat rasa keluar dari dunia dan untuk membantu klien membuat bangunan baru yang mungkin bekerja lebih baik baginya. Konstruksi baru diciptakan melalui sebuah proses dialektis di mana saham klien nya makna sistem pembuatan dan terapis berusaha memahami dan menawarkan cara-cara baru untuk klien untuk membuat makna atau menciptakan sebuah kenyataan baru. Sebagian, terapis melakukan hal ini dengan mencoba untuk memahami bagaimana pandangan klien signifikan hubungan masa lalu dan masa kini. Narasi klien mengungkapkan tentang hubungan ini terus arti klien cara mengetahui dunia dan untuk-nya struktur kognitif yang unik. Sebagai arti dan <br>  <br>TABEL 4,2 <br> <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Perbandingan rasionalis dan Konstruktivis Views <br>  <br>  <br>  <br>Konstruktivis VIEWS <br>Rasionalis VIEWS <br>  <br>  <br>  <br>  <br>Kebanyakan manusia adalah makhluk rasional yang diliputi oleh pikiran irasional. Pikiran dapat menguasai perasaan dan perilaku. <br>Mematuhi proses berpikir logis penalaran, yang karenanya berarti bahwa tidak logis / irasional keyakinan dapat diganti dengan logis / rasional yang. <br>Psikoterapi melibatkan pemahaman batin seseorang menggantikan pikiran dan berpikir dengan logis tidak logis / rasional berpikir bahwa akan membawa lo sehat secara mental. <br>  <br>Manusia yang kompleks dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang saling bergantung. <br>Pikiran adalah metafora tentang keberadaan kita dan bagaimana kita membuat makna. Memahami makna seseorang sistem pembuatan dan Anda memiliki kesempatan untuk membantu dia atau dia dalam cara-cara baru dan mendalam. <br>Masing-masing arti keputusan dapat dipahami melalui kisah-kisah orang yang membuat. Meskipun berbagai teknik psikoterapi, konstruksi realitas baru dapat dikembangkan. <br>  <br>114 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>struktur-struktur dalam menjadi mengerti, klien dapat memilih untuk mengubah cara-cara nya berada di dunia. Terapis dapat memfasilitasi proses ini melalui berbagai teknik, termasuk penggunaan empati, metafora dan analogi, hipnoterapi, kognitif tradisional ¬ siologic ada, dan teknik lainnya yang dapat membantu mengungkap lebih dalam struktur dan mendukung klien melalui proses perubahan. <br>3! Current Theoretical Trends <br>Pendekatan integratif untuk Konseling (eklektisisme): Dari Chaos untuk metateori <br>Gagasan bahwa seorang konselor mungkin bisa menggabungkan dua atau lebih pendekatan teoretis ketika bekerja dengan klien bukanlah hal yang baru (Lazarus &amp;. Beutler, 1993). Pada kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa antara 39% dan 70% dari konselor dan profesional kesehatan mental lainnya mengidentifikasi diri mereka sebagai &quot;eklektik&quot; (Jensen, Bergin, &amp; Greaves, 1990; Neukrug, Milliken, &amp; Shoemaker, 2001; Neukrug &amp;. Williams, 1993 ; Norcross, Prochaska, &amp; Gallagher, 1989). Dengan demikian, penting untuk menentukan bagaimana menggabungkan teori-teori efektif dan untuk mengidentifikasi pendekatan yang paling baik bekerja dengan klien (Krumboltz, 1966a, 1966b), terutama mengingat kenyataan bahwa kemanjuran praktek semacam itu selalu bersangkutan (Lazarus &amp; Beutler, 1993; Nelson, 2002). <br>Sayangnya, terlalu sering seorang terapis yang menyebut dirinya sendiri &quot;eklektik&quot; adalah prac ¬ ticing yang kecampuran teknik yang memiliki sedikit atau tidak ada dasar teoritis yang mendasari. Jenis atheoretical eklektisisme adalah berlawanan dan dianggap oleh banyak orang sebagai &quot;menembak ¬ ing from the hip&quot; terapi. Eklektisisme semacam ini tidak didasarkan pada penelitian yang sistematis dan merugikan tujuan profesi kita dan, yang lebih penting, untuk sukses ¬ ment memperlakukan klien. Bagaimana, kemudian, adalah penasihat untuk membuat keputusan cerdas jika memilih integra-pendekatan konseling tive? Meskipun model-model yang berbeda berusaha untuk menjelaskan teori integrasi dari sudut pandang yang agak berbeda (Hansen, 2002, Lebow, 2002a, b; Prochaska &amp; DiClemente, 2002), semua model muncul untuk mengatasi beberapa con Common ¬ cerns yang Bawa aku untuk melihat integrasi teoretis sebagai proses perkembangan yang dimulai dengan kekacauan dan berakhir dengan komitmen untuk suatu metateori. <br>Tahap I: Chaos <br>Tahap awal ini pengembangan pendekatan eklektik atheoretical, ceroboh, didasarkan pada saat-ke-saat penilaian subjektif dari konselor, dan kemungkinan besar merugikan klien (Garfield, 1982; Patterson, 1985; Spruill &amp; Benshoff, 2000). Konseling awal siswa yang baru mulai untuk memahami teori konseling dan hap ¬ mencoba menggabungkan teori-teori hazardly mungkin pada tahap kekacauan ini. <br>Tahap 2: koalesensi <br>Sebagai teori yang dipelajari, paling konselor mulai melayang ke arah kepatuhan terhadap satu pendekatan. Ketika mereka mulai merasa nyaman dengan pendekatan ini, mereka mungkin mulai mengintegrasikan teknik yang berbeda dari pendekatan-pendekatan lain ke dalam pendekatan utama mereka. <br>Tahap 3: Theoretical Integrasi <br>Selama tahap ini, konselor telah benar-benar belajar satu teori dan mulai untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang satu atau lebih teori-teori lain. Pengetahuan bahwa untuk banyak klien <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 115 <br>salah satu dari teori mungkin sama efektif dengan penasihat menyajikan sebuah dilema: perspektif teoretis Apa yang harus saya mematuhi, dan bagaimana mungkin saya menggabungkan dua atau lebih perspektif theoret ¬ ical mode secara sistematis yang akan mengarah pada pengobatan yang paling efektif (Spruill &amp; . Benshoff, 2000)? Pada akhirnya, para konselor mampu berpikir melalui impor tant ¬ pertanyaan dan mengembangkan pendekatan teoretis yang dapat menggabungkan dua atau lebih teori. <br>Tahap 4: metateori <br>Sebagai konselor mengembangkan apresiasi penuh dari banyak teori, mereka mulai bertanya-tanya tentang kesamaan-kesamaan yang mendasari dan tema di antara teori-teori yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan beberapa negara ¬ selors untuk mengembangkan sendiri atau pelukan superordinate yang sudah ada teori atau metateori (Beutler, 1986; Hansen, 2004; McBride &amp; Martin, 1990; Simon, 1991). Sebagai contoh, sebuah pendekatan sistem konseling mungkin lebih diutamakan daripada salah satu pendekatan teori, dan konselor dapat mengintegrasikan banyak teori dalam pendekatan sistem. Dalam evaluat ¬ ing seseorang metateori, poin-poin berikut ini harus ditangani: (1) Bagaimana teori dibahas dalam metateori? (2) Bagaimana masalah klien mempengaruhi pendekatan perawatan? (3) Bagaimana hubungan terapeutik dikembangkan? (4) Apa teknik yang digunakan, dan bagaimana mereka bekerja secara sistematis? dan (5) Apa yang menyebabkan perubahan? (Mahalik, 1990). <br>Jika Anda baru memulai perjalanan Anda sebagai seorang konselor, Anda mungkin berharap untuk melewati keempat tahap seperti yang Anda mulai menyortir berbagai pendekatan teoretis dan mengembangkan gaya unik Anda sendiri konseling. <br>Singkat dan Solusi-Terfokus Terapi <br>Bagi banyak pengamat, tampak bahwa minat terhadap pengobatan singkat telah sangat meningkat selama dekade terakhir. Psikoanalitik, kognitif, interpersonal [misalnya, eksistensial-humanistik], dan perilaku dokter, tampaknya terbujuk oleh faktor-faktor teoretis, temuan penelitian, dan / atau realitas keras pihak ketiga penggantian tekanan, telah meneliti cara-cara yang dapat dilakukan pengobatan yang efektif maksimal dalam jangka waktu singkat, (Budman &amp;. Gurman, 1988, hal ix) <br>Sebuah tinjauan terhadap Info Psyc database antara tahun 2000 dan 2006 mengungkapkan bahwa lebih dari 1000 artikel dan manuskrip dalam beberapa cara singkat yang ditujukan terapi atau psikoterapi, dan satu studi menunjukkan bahwa hari ini 89% dari semua psikolog melakukan beberapa terapi singkat (Levenson &amp;. Davidovitz, 2000 ). Jadi, meskipun berbagai bentuk perawatan singkat telah ada selama beberapa tahun, jelas telah ada penekanan pada perawatan singkat baru-baru ini. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa apa yang telah dianggap perawatan singkat di masa lalu kini sering dianggap terapi jangka panjang. Sebagai contoh, orang-berpusat konseling, yang pada mulanya dipandang sebagai alternatif pengobatan singkat terapi psikoanalitik, sekarang dianggap oleh banyak untuk menjadi jangka panjang pendekatan pengobatan. <br>Tekanan untuk menawarkan perawatan singkat datang dari berbagai tempat, seperti organisasi-organisasi perawatan kesehatan ingin penasihat untuk membatasi sesi, konseling sekolah melihat jangka pendek, dan lembaga yang memiliki jumlah terbatas terapis untuk bekerja dengan sejumlah besar klien. Sebagai akibatnya, dan dengan bukti bahwa perawatan singkat mungkin sama efektifnya dengan terapi jangka panjang (Gingerich &amp;. Eisengart, 2000; MacDonald, 2003), tampaknya pendekatan pengobatan singkat yang penting dan pendekatan praktis dalam dunia sekarang ini (Carlson &amp;. Sperry, 2000; Gelso, 1992; Koss &amp; Butcher, 1986). Meskipun pengobatan singkat memiliki kritik (misalnya, Dryden &amp; Feltham, 1992; Webb, 1999), jelas bahwa, untuk waktu dekat, pendekatan pengobatan singkat akan sekitar. <br>  <br>116 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan TABEL 4-3 <br>Nilai komparatif Dominan Jangka Panjang dan Jangka Pendek * Terapist <br>JANGKA PANJANG terapis terapis JANGKA PENDEK <br>1. Mencari perubahan dalam karakter dasar. 1. Lebih suka pragmatisme, kekikiran, dan paling radikal <br>intervensi, dan tidak percaya pada gagasan tentang &quot;menyembuhkan.&quot; <br>2. Percaya bahwa perubahan psikologis yang signifikan tidak mungkin dalam 2. Mempertahankan perspektif perkembangan orang dewasa yang <br>kehidupan sehari-hari. perubahan psikologis yang signifikan dipandang sebagai tak terelakkan, <br>3. Menyajikan melihat masalah sebagai sesuatu yang mencerminkan patologi yang lebih mendasar. 3. Pasien menekankan kekuatan dan sumber daya; menyajikan <br>masalah yang dianggap serius (walaupun tidak selalu pada nilai nominal). <br>4. Ingin untuk &quot;berada di sana&quot; sebagai pasien membuat perubahan yang signifikan. 4 – Menerima bahwa banyak perubahan akan terjadi &quot;setelah terapi&quot; dan <br>tidak akan diamati dengan terapis. <br>5. Melihat terapi sebagai memiliki &quot;abadi&quot; kualitas dan bersedia 5. Tidak menerima keabadian dari beberapa model terapi. <br>menunggu untuk perubahan. <br>6. Sadar mengakui kemudahan fiskal 6. Masalah fiskal sering diredam, baik oleh sifat <br>pemeliharaan jangka panjang pasien. praktik terapis atau dengan struktur organisasi untuk <br>penggantian. <br>7. Tinjauan psikoterapi seperti yang hampir selalu menjadi berguna. 7 – Tampilan psikoterapi sebagai kadang-kadang berguna dan <br>kadang-kadang berbahaya. <br>8. Melihat pasien sedang dalam terapi sebagai bagian yang paling penting 8. Melihat berada di dunia sebagai lebih penting daripada di <br>dari kehidupan pasien. terapi. <br>SUMBER: Dari Teori dan Praktik Brief Therapy, oleh Budman dan AS SH Gurman, p.ll. Copyright 1988 Guilford Press. Dicetak ulang dengan permis ¬ sion of The Guilford Press. <br>Perawatan singkat telah didefinisikan oleh beberapa orang sebagai mulai dari satu sampai 20 sesi, dan oleh orang lain sebagai termasuk sebanyak 50 sesi (Budman &amp;. Gurman, 1988; Dryden &amp; Feltham, 1992). Namun, Budman dan Gurman (1988) mungkin menawarkan definisi yang paling menarik ¬ tion ketika mereka mencatat bahwa &quot;Brief terapi pengobatan di mana waktu yang dialokasikan untuk mengobati ¬ ment adalah dijatah&quot; (hal. 5-6). Meskipun semua orientasi teoritis kami melihat dalam bab ini menawarkan beberapa bentuk pendekatan pengobatan singkat (Carlson &amp; Sperry, 2000; Budman, 1981; Budman &amp; Gurman, 1988), bagaimana konselor merasa tentang menggunakan pendekatan pengobatan singkat tampaknya lebih penting klien hasil daripada pendekatan teoretis dipilih (Budman &amp;. Gurman, 1988) (lihat Tabel 4.3). <br>Garfield's Tahap Model Brief Therapy <br>Baru-baru ini, terjadi penekanan pada lintas-teoretis model integratif memperlakukan singkat ¬ ment (lihat Garfeld, 1998; Webb, 1999). Salah satu model oleh Garfteld (1998) menunjukkan bahwa semua pendekatan pengobatan singkat melewati empat tahap yang meliputi (1) membangun hubungan ¬ kapal dan menilai masalah; (2) mengembangkan rencana bagi klien, mendorong pekerjaan rumah, dan bekerja pada permasalahan; (3) menindaklanjuti rencana pengobatan dan perumusan rencana perawatan yang didasarkan pada informasi baru dan client feedback, dan (4) ter ¬ mination, di mana perasaan-perasaan klien tentang kemajuan yang dinilai, rencana masa depan dis ¬ mengumpat (misalnya, tindak lanjut, arahan, cara-cara untuk melanjutkan kemajuan), dan penutupan diselesaikan. <br>Garfield juga menunjukkan bahwa sejumlah elemen umum yang hadir di semua memperlakukan ¬ ment singkat pendekatan: (1) pentingnya hubungan terapeutik yang baik, (2) fokus pada <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 117 <br>interpretasi, wawasan, dan pengertian; (3) pelepasan emosional; (4) confronta ¬ tion satu masalah; (5) penguatan perilaku baru, dan (6) mengurangi secara bertahap dari keseriusan masalah. Beberapa teknik umum untuk semua perawatan singkat pendekatan termasuk mendengarkan dan refleksi, saran, memberikan informasi, konfrontasi, ¬ reassur terorganisir, pekerjaan rumah, pemodelan dan peran-bermain, mempertanyakan, dan keterbukaan diri. Tentu saja, masing-masing terapis akan menggunakan teknik ini dengan sendiri-sendiri spin khusus. <br>Solusi-Terfokus &quot;Ringkas&quot; Terapi <br>Salah satu pendekatan pengobatan singkat yang telah menerima banyak perhatian akhir-akhir ini adalah terapi yang berfokus pada solusi (Gingerich &amp; Eisengart, 2000). Dibandingkan dengan banyak perawatan singkat pendekatan yang cenderung berfokus pada masalah, yang berfokus pada solusi terapi menunjukkan bahwa unsur kunci untuk pengobatan singkat adalah memusatkan perhatian pada masa yang akan datang (de Shazer, 1991; Hoyt, 2000; O'Hanlon &amp;. Weiner – Davis, 2003; O'Connell &amp; Palmer, 2003). Pada kenyataannya, penulis pergi terlalu jauh dengan saran ¬ gest bahwa fokus pada masalah sebenarnya bisa merugikan untuk menemukan solusi, karena masalahnya adalah terperosok ke dalam perebutan kekuasaan di antara orang-orang yang terlibat dengan masalah dan membangkitkan perasaan-perasaan negatif. <br>Solusi-terfokus terapis menunjukkan bahwa klien mendefinisikan apa yang mereka inginkan untuk masa depan mereka terlihat seperti dan mengembangkan strategi-strategi yang akan membantu mereka sampai di sana. Misalnya, de Shazer (1985,1988) menyarankan konselor meminta klien untuk merefleksikan sebuah &quot;keajaiban pertanyaan,&quot; yang melibatkan bagaimana masa depan akan tampak jika masalah klien (s) yang secara ajaib terpecahkan. Kemudian terapis membantu klien berfokus pada menciptakan masa depan yang akan mencerminkan perubahan ini. Orang dapat melihat bagaimana terapi yang berfokus pada solusi dalam banyak hal pendekatan yang berbasis di konstruktivisme dalam klien fokus pada mereka merekonstruksi sistem pembuatan makna (Hoyt, 2000). Bagian berikut dari sebuah perumpamaan dari O'Connell (2003) menggambarkan esensi dari bentuk terapi menarik: <br>Dahulu kala hiduplah sekelompok pengembara yang menikmati tribespeople menceritakan cerita pendek. Mereka mengunjungi komunitas-komunitas lain dan berbagi dengan t / iem kisah kepahlawanan biasa tapi orang-orang yang berhasil mengatasi peluang besar dalam hidup mereka. Mereka yang mendengar ¬ sto ries disebut pelanggan, karena itu adalah kebiasaan untuk mendengarkan cerita-cerita! <br>Cerita-cerita mereka tentang bagaimana orang dapat menciptakan masa depan mereka sendiri. Mereka adalah tentang sumber daya manusia, kompetensi, dan solusi. Mereka mengatakan kepada pelanggan mereka bahwa &quot;tidak ada yang salah dengan mereka bahwa apa yang benar dengan mereka cant fix.&quot; Kisah-kisah ini terdengar seperti mukjizat karena karakter dalam mereka merasa diberdayakan dalam kehidupan mereka. Pada akhir dongeng malam yang baik, para pendengar melihat bagaimana mereka merasa lebih baik, lebih bahagia, lebih tenang dan lebih positif, (hal 169) <br>Multicultural Issues <br>Pendekatan Konseling Apakah Eurocentric dan Developed by Men <br>Mari kita mulai dengan mengatakan bahwa hanya karena pendekatan konseling memiliki perspektif Barat dan mungkin dikembangkan oleh seorang laki-laki tidak dengan sendirinya berarti itu buruk. Namun, kita harus <br>melihat bagaimana sebuah sudut pandang Barat dan laki-laki mungkin menyimpan bias tertentu (McFadden, 1999; Pedersen, 2000; Yutrzenka, 1995). Sebagai contoh, perspektif semacam itu umumnya mengasumsikan bahwa individu mampu berubah (pilih sendiri oleh Anda bootstraps!), Mengasumsikan bahwa diri lebih penting daripada masyarakat, de-menekankan spiritualitas individu, dan <br>  <br>118 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>menekankan suatu lokus kontrol internal. Ini mungkin bekerja untuk banyak orang, namun akan bertentangan dengan beberapa. Mari kita mengkaji bagaimana empat konseptual orientasi dan pendekatan pengobatan singkat ujian ¬ ined dalam bab ini dapat terus bias. <br>Bias dalam Konseling Pendekatan <br>Pendekatan psikodinamik <br>Sebagian besar bentuk terapi psikodinamik dipandang sebagai jangka panjang, sehingga masyarakat miskin atau bahkan sebagian besar kelas menengah tidak mampu mengambil bagian di dalamnya (Ivey, D'Andrea, Ivey, Šimek-Morgan, 2002). Pendekatan ini menempatkan penekanan pada pengembangan diri dan de-menekankan hubungan antara diri kepada masyarakat. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa, melalui pengembangan diri, individu adalah sumber neurosis nya, dan tempat-tempat sedikit penekanan pada bagaimana kondisi eksternal dapat menjadi sumber masalah yang berkelanjutan. <br>Pendekatan Eksistensial-Humanistik <br>Terapis eksistensial-humanistik percaya klien menciptakan realitas mereka sendiri dan bertanggungjawab ¬ ble eksistensi mereka; mereka menekankan keterbukaan diri dan de-menekankan influ eksternal ¬ ences. Dengan demikian, beberapa klien Asia yang percaya bahwa kesehatan mental dicapai melalui sikap tabah dan kemampuan untuk menghindari emosi yang kuat mungkin akan dimatikan oleh pendekatan ini menempatkan penekanan pada bagian-bagian yang lebih dalam mengungkapkan diri (Kim, 2004). Juga, beberapa orang kulit hitam yang percaya mis ¬ konselor putih mungkin waspada terhadap eksistensial-humanis yang percaya ketidakpercayaan ini menjadi penciptaan internal, sebagai lawan dari kebenaran eksternal (Poston, Craine, &amp; Atkinson, 1991). Juga, karena pendekatan ini cenderung sangat verbal dan fasilitatif sebagai lawan dari pemecahan masalah, kurang verbal klien dan beberapa klien yang mungkin baik dalam suatu proses yang mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan akan terhambat oleh model ini (Ivey, D'Andrea , Ivey, &amp; Šimek-Morgan, 2002). Akhirnya, klien yang dihadapkan dengan peristiwa kehidupan sulit yang tampaknya di luar kendali mereka (misalnya, rasisme, ekonomi miskin kali) mungkin merasa tidak berdaya dalam menghadapi terapis eksistensial menyarankan bahwa klien bertanggung jawab untuk menciptakan kenyataan nya. <br>Pendekatan Behavioral <br>Pendekatan ini menempatkan nilai besar pada &quot;individualisme yang kasar.&quot; Orang dapat memecahkan ¬ lems prob mereka jika mereka mengikuti rutinitas. Corey (2005) menyatakan bahwa fokus pada individu dengan mengorbankan budaya kadang-kadang bisa berbahaya bagi klien lintas-budaya yang menempatkan signifikansi pada nilai-nilai budaya yang lebih besar. Para behavioris yang menekankan bahwa klien harus menetapkan tujuan untuk dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan pentingnya komunitas yang lebih luas dapat mengakibatkan beberapa klien menyusuri jalan rasa bersalah dan rasa malu dan menjadi dikucilkan oleh komunitas mereka. <br>Pendekatan kognitif <br>Dengan terapi kognitif menekankan pada &quot;irasional&quot; atau &quot;sehat&quot; cara berpikir, budaya yang terikat, tidak menyadari konselor boleh berasumsi bahwa seorang klien berpikir padahal sebenarnya tidak rasional cara berpikir seperti ini adalah wajar dalam budaya klien. Sebagai contoh, sedangkan Albert Ellis menekankan pentingnya tidak percaya bahwa ketidakbahagiaan adalah disebabkan eksternal, beberapa tempat budaya Hispanik penekanan yang berat pada &quot;fatalismo&quot; (fatalisme), atau keyakinan bahwa peristiwa kehidupan tertentu tidak dapat dihindari dan tidak dapat dipengaruhi oleh jenis intervensi (Sue &amp; Sue, 2003). <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 119 <br>Perawatan singkat Pendekatan <br>Seperti kebanyakan dari pendekatan lain, pendekatan pengobatan singkat cenderung untuk melihat masalah internal, sementara de-menekankan konteks budaya dan menekankan pemecahan masalah spesifik kegiatan (Steenbarger, 1993). Dengan demikian, seperti beberapa pendekatan sudah dis ¬ degil, pengobatan singkat dapat mengisolasi klien dari beragam budaya nya komunitas yang lebih luas dan mengarah pada perasaan depersonalization dalam masyarakat. <br>Etis, Profesional, dan Masalah Hukum <br>Terlepas dari orientasi teoretis Anda, sejumlah isu-isu etis referensi muncul dalam hubungan konseling. Meskipun kita tidak dapat menyentuh semua masalah ini, kita akan cahaya ¬ tinggi sedikit dari yang lebih umum yang dibahas dalam Bagian A dari ACA's ethi ¬ kode kal (2005b), yang berjudul &quot;The Konseling Relationship.&quot; Anda dianjurkan untuk sepenuhnya memeriksa Bagian A dari kode tersebut (lihat Lampiran A untuk alamat Web). <br>Menghormati Kesejahteraan Klien (dari Bagian AI) <br>Salah satu unsur utama dari hubungan konseling adalah rasa hormat untuk kesejahteraan klien. Hal ini dilakukan dalam banyak cara, tapi juga meliputi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan klien, mengembangkan rencana-rencana konseling bersama-sama dengan klien, mengakui pentingnya keluarga dalam kehidupan klien, dan pemahaman pentingnya karir yang bermain di klien 'kehidupan. <br>Informasi Izin dan Kerahasiaan (dari Bagian A.2) <br>Klien memiliki hak untuk diberitahu tentang semua prosedur konseling tionship ¬ nyata dan risiko yang terlibat, dan konselor harus sangat sensitif terhadap isu-isu lintas-budaya yang dapat mencegah klien dari pemahaman jenis perlakuan mereka akan menerima ( misalnya, kendala bahasa). Beberapa isu-isu yang lebih penting tentang klien yang harus diberi mencakup &quot;tujuan, sasaran, teknik, prosedur, keterbatasan, potensi resiko, dan manfaat jasa; kualifikasi guru pembimbing, creden ¬ tials, dan pengalaman yang relevan; kelanjutan dari layanan atas incapacitation atau kematian seorang konselor; dan informasi terkait lainnya. &quot; <br>Kerahasiaan dan Privileged Komunikasi (Sebagian dari Bagian A.2.b) <br>Klien memiliki hak untuk berharap bahwa percakapan mereka dengan penasihat swasta, kecuali di bawah keadaan-keadaan khusus yang dijelaskan kepada klien pada awal ¬ ing nasihat hubungan (misalnya, ketika seorang klien berada dalam bahaya merugikan diri sendiri atau yang lain atau bila hukum memerlukan penasihat untuk mematahkan kerahasiaan) (lihat Kotak 4.8). <br>Meskipun tidak dibahas dalam Bagian A secara langsung, seorang konselor perlu menyadari adanya perbedaan antara etika konselor kewajiban untuk menjaga kerahasiaan dan hak hukum istimewa komunikasi (Glosoff, Herlihy, &amp; Spence, 2000). Istimewa <br>  <br>120 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>  <br>BOX 4,8 <br>  <br>  <br> Seorang klien bernama Prosenjit Poddar, yang terlihat di pusat konseling di University of California di Berkeley, mengatakan kepada para psikolog bahwa sebagai hasil dari pacarnya ancaman baru-baru ini putus dengannya dan tanggal laki-laki lain, ia berniat membunuhnya. Akibatnya, para psikolog memberitahu para pembimbing dan polisi kampus kliennya ancaman, di titik mana polisi kampus menahannya. Menegur pengawas psikolog untuk melanggar kerahasiaan dan, tidak menemukan alasan untuk lebih menahan Mr Poddar, polisi kampus melepaskannya. Dua bulan kemudian dia membunuh pacarnya, Tatiana Tarasoff. Orangtua Ms Tarasoff menggugat universitas, terapis, para pengawas, dan polisi, dan memenangkan gugatan mereka terhadap semua tapi polisi. Keputusan, yang dipandang sebagai sebuah model untuk &quot;kewajiban untuk memperingatkan,&quot; ini ditafsirkan oleh pengadilan nasional berarti bahwa seorang terapis harus membuat segala upaya untuk mencegah bahaya yang lain atau untuk diri sendiri. <br>  <br>  <br> <br>  <br>  <br>  <br>Seorang klien bernama Prosenjit Poddar, yang terlihat di pusat konseling di University of California di Berkeley, mengatakan kepada para psikolog bahwa sebagai hasil dari pacarnya ancaman baru-baru ini putus dengannya dan tanggal laki-laki lain, ia berniat membunuhnya. Akibatnya, para psikolog memberitahu para pembimbing dan polisi kampus kliennya ancaman, di titik mana polisi kampus menahannya. Menegur pengawas psikolog karena melanggar kerahasiaan; <br>  <br>dan, tidak menemukan alasan untuk lebih menahan Mr Poddar, polisi kampus melepaskannya. Dua bulan kemudian dia membunuh pacarnya, Tatiana Tarasoff. Orangtua Ms Tarasoff menggugat universitas, terapis, para pengawas, dan polisi, dan memenangkan gugatan mereka terhadap semua tapi polisi. Keputusan, yang dipandang sebagai sebuah model untuk &quot;kewajiban untuk memperingatkan,&quot; ini ditafsirkan oleh pengadilan nasional berarti bahwa seorang terapis harus membuat segala upaya untuk mencegah bahaya yang lain atau untuk diri sendiri. <br>  <br>^ <br>komunikasi percakapan dilakukan dengan seseorang bahwa hukum (negara atau makan-eral undang-undang) delineates sebagai orang dengan siapa percakapan dapat hak istimewa (misalnya, pengacara-klien, dokter-pasien, terapis-pasien, pendeta-bertobat, suami-istri , dan sejenisnya). Dalam kasus konselor, tujuan hukum adalah untuk mendorong klien untuk terlibat dalam percakapan tanpa rasa takut bahwa konselor akan mengungkapkan isi conversa ¬ tion (misalnya, dalam pengadilan hukum). Hak milik klien dan hanya bisa dibebaskan oleh dia atau dia (Jaksa C. Borstein, komunikasi pribadi, November 1, 2001; Swenson, 1997, hal 464). Konselor perlu untuk memeriksa peraturan di negara tempat mereka bekerja untuk melihat apakah mereka memegang hak istimewa. Umumnya, ini berlisensi konselor profesional yang telah diberi hak untuk percakapan istimewa, tetapi ada beberapa pengecualian, seperti negara yang telah diberi hak untuk seperti konselor sekolah. <br>Klien Siapa Multiple Membantu Dalam Hubungan (dari Bagian A.3) <br>Jika klien dalam hubungan dengan membantu profesional kesehatan mental lain profesionalisasi ¬ sional, konselor harus meminta izin dari klien untuk memberitahukan bahwa profesional. Konselor harus berusaha untuk memiliki hubungan kolaboratif dan positif dengan profesional kesehatan mental lainnya dengan klien yang terlibat. <br>Menghindari Bahaya dan Mengenakan Nilai (dari Bagian A, 4) <br>Konselor secara aktif berusaha untuk menghindari membahayakan klien atau memaksakan nilai-nilai mereka pada klien. <br>Dual Hubungan dan Seksual Hubungan dengan Klien (dari Bagian A.5) <br>Konselor berusaha untuk menghindari hubungan ganda yang dapat menyebabkan kerugian bagi klien. Beberapa contoh akan meliputi konseling teman, kerabat, atau rekan kerja. Konselor tidak pernah memiliki hubungan seksual dengan klien saat ini. Di bawah persyaratan tertentu, seperti yang dijabarkan dalam kode, konselor dapat memiliki hubungan romantis dengan mantan klien jika sudah minimal lima tahun sejak klien dalam konseling dengan konselor. <br>  <br>Individu BAB 4 Pendekatan untuk Konseling 121 <br>Para Penasihat dalam Proses: Merangkul Teori tetapi Buka untuk Perubahan <br>Selama beberapa tahun setelah mendapat gelar master saya, saya ingat dogmatis mengikuti eksistensial-humanistik pendekatan dalam gaya konseling. Aku kukuh menentang chodynamic sebuah psy-pendekatan, meskipun aku sudah sedikit pengetahuan tentang orientasi ini. Meskipun saya hampir tidak menyadarinya pada waktu itu, pandangan saya setidaknya sebagian didasarkan pada beberapa masalah yang belum selesai saya sendiri. <br>Seperti telah saya bertambah tua, saya telah mendapatkan apresiasi yang mendalam untuk semua pendekatan konseling. Saya percaya masing-masing dari mereka menawarkan kepada kita sesuatu. Tidak diragukan lagi, karena anda sudah selesai membaca berbagai teori, Anda telah mengidentifikasi lebih dengan beberapa dari yang lain. Mungkin ini disebabkan oleh beberapa gaya pribadi dan mungkin beberapa urusan yang belum selesai Anda sendiri. Walaupun saya anjurkan Anda untuk berlatih dan mempelajari lebih lanjut tentang teori atau teori-teori yang Anda merasakan kedekatan, saya juga sangat menyarankan agar Anda tidak terjebak dalam satu pendekatan; Saya harap Anda memperoleh pengetahuan dari semua teori. Sebagai profesional Anda hidup sebagai seorang konselor berlangsung, dan ketika Anda membaca penelitian baru tentang teori-teori yang berbeda, saya berharap agar Anda tetap terbuka untuk mengubah pandangan teoretis dan beradaptasi sesuai dengan teori Anda (lihat Spruill &amp; Benshoff, 2000). Mereka yang tertutup untuk proses berkelanjutan ini terjebak dalam satu pandangan hubungan yang membantu, dan kekakuan ini kemungkinan akan menghambat pertumbuhan klien. <br>Mungkin kita bisa belajar sesuatu dari Hoyt (1995), yang menunjukkan bahwa penasihat, seperti klien yang berfokus pada solusi menjalani terapi, mungkin ingin menjawab pertanyaan berikut ini &quot;keajaiban&quot; pertanyaan: <br>Misalnya malam ini, sementara Anda kembali tidur, sebuah keajaiban terjadi. . . dan ketika Anda membangunkan Anda menemukan Anda membantu klien secara lebih positif dan efektif t) \ yang sebelumnya! Bagaimana Anda akan melihat latihan Anda telah berubah? Keterampilan baru apa yang akan Anda gunakan? (hal. 8) <br>Ringkasan 3S <br>Bab ini memeriksa beberapa orientasi konseptual utama yang berhubungan dengan teori-teori konseling dan psikoterapi. Dengan menjelaskan konsep pergeseran paradigma, kita diperiksa bagaimana keakraban dengan pengetahuan masa lalu sangat penting untuk memahami pengetahuan saat ini. Menghubungkan konsep ini untuk teori-teori konseling, kami menyadari bahwa teori-teori seperti kita saat ini konsep terbaik dari apa yang efektif dalam proses konseling dan psikoterapi. Kami mencatat bahwa pada dasarnya, teori heuristik, atau diteliti dan diuji, dan dapat dimodifikasi dari waktu ke waktu. <br>Berfokus pada psikodinamik, eksistensial-humanistik, perilaku, dan kognitif orientasi konseptual, kami menyoroti unik mereka masing-masing pandangan tentang alam manusia dan menjelajahi beberapa dari banyak teori-teori konseling dan psikoterapi ¬ associ paling dekat dengan mereka diciptakan. Lebih khusus, di bawah pendekatan psikodinamik kami memeriksa psikoanalisis Freud, psikologi analitik Jung, Adlerian terapi, dan Mahler's object-hubungan terapi. Dalam arena terapi eksistensial-humanistik kita orang-berpusat dieksplorasi konseling, dikembangkan oleh Rogers; terapi eksistensial dan Gestalt ada siologic ¬ sebagaimana dikembangkan oleh Peris. Dengan memeriksa terapi perilaku kita melihat bahwa asal-usulnya didasarkan pada tiga paradigma utama: Skinner's instrumental conditioning, Pavlov con ¬ ditioning klasik, dan Bandura's modeling. Dalam orientasi ini, kami secara khusus meninjau model umum bagaimana terapi perilaku dipraktikkan, Lazarus's multimodal terapi, dan terapi realitas Glasser. Akhirnya, di bidang terapi kognitif kita ditinjau Ellis <br>  <br>\. <br>122 BAB II Hubungan Membantu saya: Teori dan Keterampilan <br>rasional emotif terapi perilaku, terapi kognitif Beck pendekatan, dan pendekatan konstruktivis Mahoney. <br>Dalam bab ini, kami juga menjelajahi dua tren baru-baru ini dalam konseling dan psikologi ¬ chotherapy: adaptasi oleh banyak terapis yang eklektik atau pendekatan integratif terapi, dan peningkatan baru-baru ini penggunaan pengobatan singkat. Kami menyoroti ¬ tal Developmen proses untuk suatu pendekatan integratif konseling dengan tahap-tahap mulai dari kekacauan, untuk koalesensi, untuk integrasi teoretis, untuk ketaatan pada metateori. Kami mencatat bahwa walaupun ada banyak bentuk pengobatan singkat, apa yang mungkin paling penting bukanlah jenis perawatan singkat, tapi apakah terapis berkomitmen untuk pengobatan singkat. Kami mencatat bahwa Garfield percaya bahwa segala bentuk pengobatan singkat berisi elemen ¬ Common KASIH dan teknik, dan bahwa mereka semua harus mengikuti tahap-tahap untuk perawatan dapat diidentifikasi menjadi efektif. Kami juga menyarankan agar bentuk lain dari perawatan singkat, pendekatan yang berfokus pada solusi, cenderung berorientasi pada masa depan dan diambil dari teori konstruktivis. <br>Kita bahas dalam bab ini bagaimana sebagian besar teori-teori konseling yang digunakan saat ini telah dikembangkan dari perspektif Eropa yang menekankan individualisme dan diri dan de-menekankan masyarakat dan spiritualitas. Kami mencatat bias budaya spesifik yang melekat dalam empat pendekatan konseptual dan dalam pendekatan pengobatan singkat dibahas dalam bab ini. <br>Dalam bab ini kami juga mencatat sejumlah etis, profesional, dan isu-isu hukum yang <br>menimpa pada hubungan konseling, termasuk menghormati kesejahteraan klien, <br>persetujuan dan kerahasiaan informasi, kerahasiaan dan hak istimewa komunikasi, <br>klien yang berada di beberapa membantu hubungan, menghindari bahaya dan menerapkan nilai-nilai, dan <br>dual hubungan dan hubungan seksual dengan klien. Akhirnya, kami mengakhiri bab ini dengan <br>menekankan pentingnya mematuhi pendekatan konseling terbuka belum meninggalkan diri kita <br>y ide-ide baru dan cara-cara baru untuk bekerja dengan klien. <br>aku <br>W InfoTrac College Edition dan Sumber Daya Informasi Lain-lain (misalnya, ERIC dan PsycINFO) <br>Catatan: Bila relevan, kata-kata kunci dalam tipe tebal. <br>1. Menggali lebih dalam salah satu dari orientasi konseptual dibahas dalam bab ini (psikodinamik, eksistensial, perilaku, kognitif, singkat). <br>2. Kembangkan integratif Anda sendiri (eklektik) pendekatan konseling. <br>3. Penelitian batas c <br>





chapter 4 dan 5

9 01 2010

BAB II

HUBUNGAN YANG MEMBANTU I : TEORI DAN KETERAMPILAN

BAB 4  Pendekatan Individu untuk Konseling

BAB 5  Konseling Keterampilan

Tinjauan

Bagian dari teks ini memberikan orientasi ke beberapa teori dan keterampilan yang digunakan dalam konseling individu. Bab 4 menggambarkan empat orientasi konseptual yang luas dan beberapa teori terpilih yang terkait dengannya, termasuk pendekatan psikodinamik, terapi eksistensial dan humanistik, perilaku konseling, dan terapi kognitif. Bab 4 juga mencakup dua kecenderungan teoretis saat ini: pendekatan integratif (eklektisisme), dan singkat dan terapi yang berfokus pada solusi. Bab 5 memeriksa beberapa keterampilan dasar yang diperlukan untuk kesuksesan hubungan konseling, yang banyak di antaranya yang umum bagi semua pendekatan teori yang kami gunakan. Tambahan topik yang dibahas dalam Bab 5 termasuk kasus konseptualisasi, tahapan dari hubungan konseling, dan beberapa keterampilan yang terkait dengan tahapan-tahapan ini.

Sebagaimana Anda membaca Bab 4, mempertimbangkan persamaan dan perbedaan di antara teori-teori dan mempertimbangkan apakah layak atau tidak untuk menggabungkan teori. Kemudian, sebagaimana Anda memeriksa banyak keterampilan yang dibahas dalam Bab 5, mencerminkan kembali pada teori-teori dan mempertimbangkan keterampilan mana yang mungkin akan lebih bisa diterapkan pada masing-masing teori yang  telah Anda pelajari.

BAB 4

Pendekatan Individu untuk Konseling

Aku telah mengunjungi banyak konseling. Konselor pertama saya bisa mendengar bagian terdalam dari keberadaan saya. Dia membantu saya bekerja melalui beberapa rasa sakit dan luka yang mendalam. Dia membantu saya memandang diriku sendiri dan membuka diri untuk perasaanku. Dia adalah seorang eksistensialis-humanis.

Terapis berikutnya menantang saya. Dia meminta saya untuk menutup mata; bisa berhubungan dengan pikiran, perasaan, dan sensasi; dan mendiskusikannya. Dia menunjukkan ketidakkonsistenan, seperti melihat bahwa aku tersenyum ketika aku sedang marah. Dia menantang saya untuk pergi lebih dalam ke dalam diri. Dia adalah seorang terapis Gestalt.

Terapis ketiga aku melihat biasa duduk di kursinya dan mendengarkan aku, jarang merespon. Aku menuduh dia sebagai seorang psikoanalis, ia tidak mengatakan apa-apa. Aku jarang menerima umpan balik. Saya kira dia adalah seorang psikoanalis, atau setidaknya berorientasi psikodinamikal.

Terapis berikutnya adalah pendengar yang baik dan menunjukkan pilihan-pilihan yang aku punya dalam hidupku. Dia mencoba untuk memahami apa yang penting bagi saya dan membantu saya untuk mendefinisikan kembali diri melalui pilihan-pilihan yang saya buat. Dia adalah seorang terapis eksistensialis yang sangat terkenal.

Aku melihat seorang behavioris untuk sementara waktu. Dia membantu saya bekerja pada isu yang sangat terfokus. Ia mengambil sejarah yang panjang, dan kemudian kami mulai bekerja. Aku agak menyukainya.

Baru-baru ini, saya melihat seorang konstruktivis. Dia membantu saya memahami bagaimana saya membuat makna keluar dari dunia. Dia melakukan hal ini dengan membantu saya dalam mengidentifikasi pikiran yang saya miliki dan dengan membantu saya melihat cara-cara yang rumit pemikiran saya mendefinisikan diri saya. Ini menarik, tetapi yakin perubahan tampaknya sulit.

Aku sudah melakukan banyak konseling. Aku pernah mengunjungi terapis laki-laki, terapis perempuan, terapis yang pendek, terapis yang tinggi, terapis yang buruk, dan terapis yang baik. Saya pikir konseling telah membantu saya menjadi orang yang lebih baik. Aku tahu itu memperdalam pemahama saya. Aku tahu itu telah membantu saya menjadi konselor yang lebih baik.

Bab ini akan memeriksa empat konsep orientasi konseling yang luas dan teori-teori yang terkait dengannya. Di bawah pendekatan psikodinamik, aku akan mereview psikoanalisis Freud, psikologi analitik Jung, terapi Adlerian, dan konsep Mahler tentang hubungan-hubungan objek terapi. Dalam arena terapi eksistensial dan humanistik, saya akan menghadirkan konseling person-centered (berpusat pada perseorangan), terapi eksistensial, dan terapi Gestalt. Dalam bidang perilaku konseling, saya akan memberikan tinjauan tentang praktek generik dari terapi behavior (perilaku) dan meninjau terapi multimodal Lazarus dan terapi realitas Glasser. Akhirnya, di bidang terapi kognitif, saya akan meninjau terapi Ellis tentang perilaku emotif yang rasional, pendekatan terapi kognitif Beck, dan pendekatan konstruktivis Mahoney. Dalam bab ini saya juga akan menyajikan dua kecenderungan baru dalam praktek konseling dan psikoterapi: eklektisisme atau pendekatan integratif, dan pendekatan brief treatment (pengobatan singkat).

Mengapa Memiliki Teori Konseling?

Dalam teori berbasis ilmu pengetahuan, sebuah siklus penemuan yang tanpa akhir dan penciptaan tes dan teori-teori perkembangan dari lingkup yang terus meningkat yang dapat membimbing praktik konseling. (Strong, 1991, h.204)

Seorang mantan profesor saya merujuk pada penemuan pengetahuan baru sebagai cabang perawan di pohon. Pengetahuan yang lalu mengarah pada penemuan-penemuan baru, dan penemuan-penemuan baru hanya hasil dari semua yang telah datang sebelumnya. Begitulah yang terjadi dengan penemuan bahwa bumi itu bulat, dan dengan teori relativitas Einstein, dan begitu seterusnya ketika obat untuk AIDS ditemukan atau teori konseling yang baru dikembangkan. Pengetahuan baru didasarkan pada suara firasat ilmiah, terhubung ke semua yang telah datang sebelumnya dan baru kemudian diterima sebagai bukti ilmiah. Seperti tercantum dalam Bab 2, pengetahuan secara berkala mengarah pada pergeseran paradigma. Hal semacam itu jarang terjadi pergeseran dan menandai perubahan dalam persepsi pengetahuan ilmiah. Menggunakan analogi pohon kita, sebuah pergeseran paradigma merupakan tunas dari pohon melahirkan cabang baru. Perubahan-perubahan dalam pemahaman kita tentang pengetahuan secara radikal mengubah persepsi tentang realitas (lihat Kotak 4.1).

Dalam arena konseling teori, hal itu tidak terjadi sampai Freud mengajukan teorinya tentang psikoanalisis bahwa teori psikoterapi pertama yang komprehensif dirumuskan. Teori Freud menciptakan sebuah pergeseran pemikiran; itu melahirkan cara baru memahami orang. Namun, teorinya tidak dikembangkan dalam ruang hampa; itu berkembang karena orang lain sebelum dia telah merenungkan pertanyaan-pertanyaan serupa. Selama bertahun-tahun kami telah belajar bahwa kita dapat membuang sebagian dari teori Freud, menerima aspek-aspek lain, dan terus menguji sisanya. Apakah itu psikoanalisis atau terapi New-Age, teori menawarkan kepada kita bingkai kerja di mana kita dapat melakukan penelitian dan akhirnya menguji aspek teori mana yang mungkin berlaku.

Sebuah teori konseling menawarkan kepada kita sebuah sistem yang komprehensif untuk melakukan konseling dan membantu kita untuk bagaimana kita membuat konsep terhadap permasalahan klien kami, dalam penerapan teknik, dan dalam memprediksi perubahan klien (Neukrug & Schwitzer, 2006). Selain itu, dengan memeriksa apa yang kita katakan kepada klien kami, kami dapat mengevaluasi apakah kita bertindak kongruen (sama) dengan teori kita. Teori-teori itu heuristik yaitu bahwa teori-teori itu dapat diteliti dan diuji dan pada akhirnya memungkinkan kita untuk membuang aspek-aspek yang terbukti tidak efektif. Bahkan lebih signifikan, memiliki teori konseling yang menyatakan kepada dunia bahwa kita tidak sembarangan dalam cara kita menerapkan pengetahuan kami (Brammer, Shostrom, & Abrego, 1993) karena untuk “berfungsi tanpa teori adalah untuk beroperasi tanpa menempatkan peristiwa-peristiwa dalam beberapa urutan dan dengan demikian fungsi tanpa arti”(Hansen, Rossberg, & Cramer, 1994, hal 9).

KOTAK 4,1

Kekacauan dan Teori Superstring : Pergeseran Paradigma?

Linear kami, sebab-akibat pemahaman dunia ditantang hari ini oleh dua teori: teori chaos (kekacauan)  dan teori superstring. Bacalah kutipan di bawah ini dan mempertimbangkan bagaimana persepsi kita tentang dunia mungkin bisa berubah jika kedua teori yang akan ditampilkan memiliki validitas.

Teori chaos (kekacauan): … bahkan perubahan kecil dalam masukan dapat membuat sistem dinamis tertentu yang sederhana -misalnya: cuaca, fungsi jantung, pasar saham- rusak. Oleh karena itu, sejak perubahan kecil pada input (masukan) tidak dapat dihindari, seperti sistem yang harus dipertimbangkan secara inheren tidak dapat diprediksi, yaitu jumlah tertentu dari kekacauan dibangun kepadanya …. Di situ ada pesanan bersembunyi di bawah gangguan; perilaku kacau sendiri mengikuti aturan-aturan sederhana dan bentuk-bentuk pola yang dikenali.

Teori superstring: Alam semesta terdiri, bukan dari partikel subatom … tetapi dari string (tali kecil) yang diikat di ujung untuk membentuk loop (akalan, putaran). String ini eksis dalam sepuluh-dimensi alam semesta, yang kira-kira sebelum Big Bang pecah menjadi dua bagian, empat-dimensi alam semesta (kita; ditambah tiga dimensi waktu) dan enam-dimensi alam semesta yang [adalah] sangat kecil kita sehingga kita tidak bisa melihatnya. Apa yang telah dipikirkan oleh fisikawan sebagai partikel subatom sebenarnya getaran senar, seperti note yang dimainkan pada biola. (Jones & Wilson, 1995, hal 508)

Mungkin aspek terpenting dari setiap teori adalah pandangan tentang kodrat manusia, yang sangat penting untuk pembentukan teori template. Biasanya, pandangan tentang hakikat manusia yang dimiliki oleh masing-masing teori memperhitungkan efek biologi, genetika, dan lingkungan terhadap perkembangan kepribadian individu. Jadi, jika saya percaya bahwa perilaku individu ditentukan oleh genetika, teori saya akan mencerminkan gagasan ini. Di sisi lain, jika saya percaya bahwa lingkungan memegang kunci untuk pembentukan kepribadian, maka teori saya akan mencerminkan kepercayaan ini. Sebelum meninjau teori-teori dalam bab ini, Anda mungkin ingin merefleksikan pandangan Anda tentang hakikat manusia dan pembentukan kepribadian. Kemudian, membaca bab dan mempertimbangkan yang terbaik dari teori-teori sejalan dengan keyakinan Anda.

Lebih dari seratus tahun telah berlalu sejak perkembangan psikoanalisis, dan hari ini terdapat lebih dari 450 jenis psikoterapi (Gabbard, 1995a). Namun, umumnya sepakat bahwa, berdasarkan pada pandangan sifat manusia yang mempunyai 450 tipe ini, kebanyakan darinya dapat dikategorikan ke dalam empat atau lima konseptual orientasi. Bab ini disusun untuk memberikan informasi tentang psikodinamik, eksistensial-humanistik, perilaku, dan orientasi konseptual kognitif untuk konseling dan psikoterapi dan menawarkan gambaran beberapa dari teori-teori yang terkait dengan masing-masing. Lebih spesifik, teori psikoanalisis, konseling person-centered (berpusat pada orang), modem-day behaviorisme (perilaku modern harian), dan perilaku rasional emotif terapi, yang masing-masing terkait dengan setiap orientasi, akan disajikan dengan jumlah yang cukup detail, sementara dua atau tiga teori-teori lain dalam masing-masing orientasi akan disajikan dalam bentuk singkat. Teori-teori itu termasuk yang dipilih karena pengaruhnya di lapangan, popularitasnya, dan mungkin untuk tingkat tertentu karena bias saya sendiri. Sebagaimana Anda membaca teori-teori ini, Anda akan bisa meneliti aspek-aspek mana yang menurut Anda akan sangat berguna ketika bekerja dengan klien. Kemudian bacalah bagian tentang pendekatan integratif, kadang-kadang disebut eklektisisme, dan mempertimbangkan bagaimana Anda bisa mengintegrasikan beberapa aspek favorit Anda dari berbagai teori dalam pendekatan yang unik Anda sendiri. Sebuah pendekatan integratif digunakan oleh banyak konselor hari ini, seperti pendekatan yang relatif baru tentang terapi yang singkat, yang akan kita kaji pada penghujung bab.

Empat Konseptual Orientasi untuk Konseling dan Psikoterapi dan Teori-teori yang Terkait dengannya.

Pendekatan psikodinamik

Permulaan dan Pandangan tentang Sifat Manusia

Diawali dengan teori psikoanalisis Freud pada akhir 1800-an, banyak pendekatan untuk konseling dan psikoterapi telah dikembangkan yang dapat dianggap sebagai psikodinamik dalam sifatnya. Freud (1856-1939), yang mengembangkan di awal abad ke-20, psikodinamik mendominasi lapangan selama hampir setengah abad. Namun, karena Freud mentolerir sedikit perbedaan dari sudut pandangnya, banyak dari muridnya bahkan berpisah dari kekakuannya dan mengembangkan teori-teori sendiri yang terkait dengannya.

Teori psikodinamik berpendapat bahwa kepribadian seorang individu dibangun melalui interaksi yang kompleks dari perjalanan dan pengalaman awal. Dengan demikian, perilaku merupakan akibat dari pola anak usia dini dan sering tidak disadari. Dengan kata lain, kita memiliki kebutuhan dan keinginan yang mendorong perilaku kita dan berdasarkan pada interaksi kita dengan orang lain selama masa kanak-kanak, kita belajar cara yang berbeda dalam memuaskan perjalanan ini. Teori psikodinamik percaya bahwa sering individu melanjutkannya dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang mereka lakukan ketika mereka masih muda. Teori-teori ini bersandar ke arah determinisme, sebagaimana ahli teori psikodinamik pada umumnya percaya bahwa pola awal itu sulit dan kadang-kadang tidak mungkin untuk berubah.

Melengkapi teori psikoanalisis Freud, banyak dari pendekatan psikodinamik yang lain yang telah dikembangkan termasuk teori neo-Freudian seperti Alfred Adler, Carl Jung, Harry Stack Sullivan, Otto Rank, dan Wilhelm Reich, dan teori objek-hubungan, seperti Melanie Klein, Heinz Kohut, dan Margaret Mahler. Meskipun mereka berangkat secara signifikan dari teori Freud, namun semua pendekatan psikodinamik berfokus pada bagaimana faktor-faktor lain berjalan dan memotivasi klien, bagaimana masa lalu berperan dalam pembentukan kepribadian, bagaimana kita secara sadar dan tidak sadar mempengaruhi perilaku, dan bagaimana menggabungkan kekuatan-kekuatan ini dengan cara yang rumit untuk membentuk dan untuk menentukan tingkat tertentu kepribadian individu (Day, 2004; Goldenson, 1984). Di sisi lain, beberapa perbedaan utama antara teori-teori ini tercantum dalam Tabel 4.1.

Bagian ini akan memberikan gambaran psikoanalisis dan kemudian meneliti secara singkat pendekatan neo-Freudian Carl Jung dan Alfred Adler. Akhirnya, pendekatan hubungan objek dari Margaret Mahler akan dibahas.

Psikoanalisis

Sebagai pendekatan pertama psikoterapi yang komprehendif, psikoanalisis secara dramatis mengubah pandangan kesehatan mental dan penyakit mental di dunia Barat. Freud, yang dilatih sebagai seorang dokter, untuk sebuah gelar yang besar percaya pada determinisme biologis, atau gagasan bahwa naluri dan perjalanannya sangat mempengaruhi perilaku. Namun, penjelasan Freud bagi pembentukan kepribadian jauh lebih kompleks dari sekadar pengertian biologi yang menyebabkan perilaku, karena Freud juga percaya bahwa gaya pengasuhan dalam lima tahun pertama kehidupan berinteraksi dalam cara yang kompleks dengan naluri dan tahap-tahap perkembangan yang menghasilkan kepribadian seseorang. Freud percaya bahwa kita dilahirkan dengan naluri tertentu yang menekan kita sebagaimana melewati apa yang disebut tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Akhirnya struktur kepribadian, yang terdiri dari id, ego, dan superego, akan terbentuk melalui naluri nteraksi dinamis, perubahan perkembangan, dan pengalaman anak usia dini. Freud merasa bahwa itu perlu bagi orang untuk mengembangkan mekanisme pertahanan untuk mengatasi kecemasan alami yang melekat dalam hidup maupun sebagaimana kecemasan neurotik yang diakibatkan kesalahan orangtua dan konflik internal di antara id, ego, dan superego seseorang.

TABEL 4.1

Perbandingan Psikoanalisis, Neo-Freudian, dan Teori Hubungan Objek
Psikoanalisis neo-Freudian OBJEK HUBUNGAN
•Menekankan tidak sadar.

•Menekankan dorongan

naluri.

• Menekankan pengaruh

awal perkembangan dalam

pembentukan kepribadian.

• Naluri dan perkembangan

awal menentukan perilaku.

• Perkembangan awal me-

nentukan perkembangan berikutnya.

• Sangat deterministik.

• Menekankan sadar dan

tidak sadar, dengan sadar mengambil prioritas.

• Tidak menekankan naluri.

• Individu didorong oleh

sosial dan/atau faktor-faktor interpersonal.

• Menekankan sosiokultural dan faktor-faktor internal sebagai sangat penting dalam perkembangan ke-

pribadian.

• Perilaku sangat dipenga-

ngaruhi oleh budaya dan faktor sosial.

• Perkembangan awal sering, tetapi tidak selalu, adalah kunci perkembangan selanjutnya.

• Agak deterministik.

• Menekankan sadar dan

tidak sadar, dengan tidak sadar mengambil prioritas.

• Menekankan kemampuan

untuk mengendalikan nalu-

ri melalui kesadaran.

•Faktor interpersonal awal sangat penting untuk menentukan perilaku.

• Pengalaman interpersonal

awal mempengaruhi peri-

laku (naluri dapat ditengahi oleh fungsi ego).

• Perkembangan adalah

kunci, tetapi tidak selalu, menentukan perkembangan selanjutnya.

•Deterministik yang mode-

rat.

KONSEP MAYOR

Naluri.

Freud percaya bahwa ada naluri kehidupan dan naluri kematian. Naluri kehidupan meliputi seluruh dorongan yang mendukung kehidupan seseorang, termasuk rasa lapar, haus, dan energi seksual. Kadang-kadang disebut libido, naluri kehidupan mengarahkan perilaku terhadap kegiatan yang mendukung kehidupan dan akhirnya kelanjutan dari spesies. Naluri kematian, di sisi lain, adalah kecenderungan umat manusia menuju kehancuran dan pemusnahan diri. Freud percaya bahwa organisme memegang sisa-sisa  dari masalah kehidupan, yang memiliki kecenderungan untuk bergerak ke arah pernyataan yang mati (Nye, 2000). Dia mendalilkan bahwa proses evolusi memelihara kecenderungan ini dan mengakibatkan kecenderungan individu untuk memproyeksikan perasaan-perasaan yang merusak diri. Insting kematian juga membantu untuk menjelaskan bunuh diri dan perilaku merusak lainnya. Lihat di sekitar kita, kata Freud, dan Anda melihat agresi merajalela, perang, perilaku menyakitkan terhadap satu sama lain, berpotensi mematikan perilaku seksual, dan bukti lain dari kebinasaan diri ; bukankah telah jelas bahwa kita sekurang-kurangnya sedikit termotivasi oleh dorongan destruktif?

Struktur Kepribadian.

Freud menggambarkan individu sebagai memiliki tiga sistem kepribadian di mana semua energi psikis yang tersebar dan sepenuhnya dikembangkan sampai pada usia 5 tahun. Individu dilahirkan dengan  semua id, katanya. Sistem ini, yang berisi naluri, adalah tidak sadar dan mendorong organisme ke arah yang memiliki kebutuhannya yang dipenuhi tanpa memperhatikan aturan dan norma-norma sosial. Awal sistem yang kedua, ego, segera mengembangkan setelah lahir sebagai kenyataan hidup di dunia ini yang dihadapi oleh bayi yang baru lahir. Ego dikuasai oleh prinsip realitas seperti mencoba untuk menangani secara logis dan rasional dengan dunia ketika mencoba untuk mengendalikan id. Sistem terakhir, superego, termasuk hati nurani dan kode moral. Ini juga menghambat id dan upaya untuk menggantikan perilaku rasional ego dengan perilaku moral (lihat Kotak 4.2).

KOTAK 4.2

Sifat Laki-laki (dan Wanita) yang Tersembunyi.

Film yang berjudul The Hidden Nature of Man (1970) menggambarkan id, ego, dan superego dalam suatu cara yang menarik. Seorang pria muda, tertarik pada seorang wanita, makan siang dengan dia. Egonya ditunjukkan  olehnya dengan duduk di meja saat ia menceritakan padanya betapa cantiknya dia terlihat. Id dan superegonya berdiri di belakangnya dan memberikan tekanan pada ego (wanita muda hanya mendengar ego berbicara). Id, berpakaian merah, berkata, “Aku mau, aku ingin! Hangat. Buah dada.” Superego, berpakaian putih, berkata, “Hormatilah ibumu. Jadilah anak yang baik.” Pria muda membuat pernyataan-pernyataan sugestif terkait dengan kembali ke apartemennya, dan akhirnya, wanita muda mencatat bahwa teman sekamarnya sedang pergi dan menyarankan mereka kembali ke apartemennya. Dengan demikian, kita melihat interaksi yang rumit dari id, ego, dan super ego. Jelas, apa yang tidak ditampilkan dalam film ini adalah id dan superego wanita itu!

Perkembangan Tahapan Psikoseksual.

Freud menyatakan bahwa jalan energi yang tersebar ke id, ego, dan superego adalah fungsi dari bagaimana anak-anak yang diasuh selama lima tahun pertama kehidupannya. Dia percaya bahwa orang tua melalui apa yang ia sebut sebagai tahap perkembangan oral, anal, dan kemaluan menentukan perilaku selanjutnya. Tahapan-tahapan perkembangan selanjutnya, yang disebut tahapan latensi dan genital, memiliki sedikit efek pada pengembangan kepribadian, katanya, tapi perilaku dalam tahapan-tahapan ini mencerminkan apa yang telah dipelajari di tiga tahapan pertama. Meskipun disebut tahapan psikoseksual, referensi Freud terhadap seksualitas anak-anak digambarkan sebagai “pengalaman yang terkait dengan penemuan anak dari kepemilikan dirinya dan makna pengalaman itu kepada orang tua anak” (Baker, 1985, hal 27) (lihat Kotak 4,3 untuk deskripsi seksualitas Freud tentang seksualitas masa kanak-kanak).

Ketika Anda membaca deskripsi singkat tentang tahapan-tahapan di bawah ini, bayangkan betapa berbedanya gaya orangtua dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian sebagai zona sensitif seksual anak bergeser dari satu bagian tubuhnya ke yang lain.

1. Tahapan Oral. Selama dalam tahap ini, terjadi antara masa kelahiran dan usia 18 bulan, zona sensitif seksual bayi adalah mulut, dan kesenangan yang diterima melalui mengisap dan makan. Pemotongan dari payudara dan / atau botol dan makanan dapat sangat mempengaruhi anak kesadaran diri dan rasa kepercayaan dan keamanan di dunia.

2. Tahapan Anal. Mendapatkan kontrol atas buang air besar adalah tugas utama dari tahapan ini, yang terjadi antara usia 18 bulan dan 3 tahun. Kesenangan diterima melalui kontrol ini, dan anak-anak mulai belajar bahwa mereka dapat mengontrol tubuh mereka serta lingkungan mereka. Bagaimana orangtua menangani pelatihan toilet dan pengalaman yang lebih luas dari pengertian anak bahwa ia bisa mengendalikan dunia sangat penting selama tahap ini (bayangkan dari “berpasangan yang mengerikan” saat si anak berusaha untuk mendapatkan caranya dan menguasai dunia ).

3. Tahapan phalik. Pengalaman yang menyenangkan dari sensasi kelamin adalah fokus utama pada tahapan ini, yang terjadi antara usia 3 dan 5 tahun. Anak-anak dalam tahapan ini akan terangsang dan memiliki ketertarikan dengan fungsi tubuh. Mereka sangat dipengaruhi oleh keharusan moral orang tua mereka.

4. Tahap latency. Sedikit terjadi dengan anak-anak selama tahap ini, antara usia 5 dan pubertas, dan ada pola tertentu yang menyiapkan anak untuk dewasa.

5. Tahap Genital. Pola perilaku yang dihasilkan dari oral, anal, dan tahapan-tahapan phalik menjadi bukti sebagai dewasa muda dan dewasa yang menunjukkan perilaku, secara sadar dan tidak sadar.

KOTAK 4.3

Seksualitas Masa kanak-kanak dan Perkembangan Personalitas

… Apakah ada seksualitas anak? Anda akan bertanya ….

Sumber besar kenikmatan seksual anak-anak adalah auto-eksitasi tertentu terutama bagian-bagian sensitif dari tubuh; selain alat kelamin dimasukkan dubur dan pembukaan kanal saluran kemih, dan juga kulit dan permukaan sensorik lainnya. Karena dalam fase pertama kehidupan anak kepuasan seksual terdapat pada tubuh anak sendiri dan tidak ada hubungannya dengan objek lain, kita sebut tahap ini dengan mengikuti kata yang diciptakan oleh Havelock Ellis, yaitu “auto-erotika.”. . .

Hal ini tidak dapat dihindari dan sangat normal bahwa anak harus membuat orang tuanya objek-objek dari pilihan pertamanya. Tatapi libidonya tidak boleh tetap terpaku pada objek yang dipilih pertama ini, tetapi harus membawa mereka hanya sebagai prototipe dan transfer dari orang lain ini pada masa tertentu objek-pilihannya …. (Freud, 1910, hlm. 207, 209, 213)

Mekanisme pertahanan ego.

Freud mendalilkan bahwa tekanan terus-menerus ada pada perkembangan anak untuk mengekspresikan dorongan mentah yang berasal dari id. Namun, anak dengan cepat belajar bahwa ekspresi dorongan ini tidak disetujui oleh orang tua, dan bahkan pada ahkirnya ia belajar menginternalisasi orangtua kode perilaku dalam superego. Namun, karena insting, dorongan terus eksis dan menekan pada organisme. Karena perhatian tentang orangtua mereka ‘reaksi terhadap dorongan ekspresi, anak-anak mungkin punya rasa takut dari “pemusnahan, penolakan, ditinggalkan, isolasi, pengebirian, hilangnya pengendalian diri, dan cacat definisi diri atau identitas” ( Baker, 1985, hal 26). Untuk mengelola ketakutan ini, anak-anak dan orang dewasa menciptakan mekanisme pertahanan. Sebagai contoh, pertimbangkan anak dalam tahap tahap phalik yang merangsang dirinya sendiri. Melihat anak masturbasi, orangtua menampar tangannya dan berkata, “Jangan lakukan itu.” Kemudian secara tidak sadar anak ketakutan pemusnahan dan pengebirian oleh orangtua dan mengembangkan suatu mekanisme pertahanan untuk menghadapi dorongan untuk masturbasi di masa mendatang (misalnya, menghaluskan keinginan dengan menjadi sangat terlibat dalam olahraga atau melalui dorongan mencuci tangan). Pertahanan sering secara sehat merespons terhadap rasa takut, seperti contoh olahraga, tetapi dapat menjadi disfungsional ketika pembelaan menjadi berlebihan, seperti contoh dorongan mencuci tangan.

Walaupun ada banyak mekanisme pertahanan, beberapa yang lebih umum adalah penindasan, yang mendorong keluar dari kesadaran akan mengancam atau menyakitkan kenangan; penyangkalan, realitas distorsi (penyimpangan) dalam rangka untuk menolak, dianggap ancaman terhadap seseorang; proyeksi, melihat orang lain sebagai memiliki kualitas yang dapat diterima masing-masing dirinya sendiri memiliki; rasionalisasi, penjelasan yang jauh dari luka atau sakit ego; regresi, kembali ke perilaku dari tahap awal perkembangan; sublimasi, penyaluran dorongan ke dalam bentuk yang diterima secara perilaku sosial perilaku; identifikasi, mengidentifikasi dengan kelompok-kelompok atau orang lain dalam upaya untuk memperbaiki rasa harga diri; kompensasi, melebih-lebihkan sifat-sifat positif tertentu dalam upaya untuk menutupi sifat-sifat lemah dan pembentukan reaksi, menggantikan perasaan negatif yang dirasakan dengan positif.

TEKNIK

Tradisional psikoanalisis adalah jangka panjang, proses intensif di mana terapis akan mencoba membuat ketidaksadaran menjadi sadar yaitu, untuk membantu klien dalam memahami kekuatan intrapsikis yang mengendalikan dan mengatur tingkah lakunya. Hal ini dilakukan melalui penggunaan beberapa teknik, termasuk yang berikut ini.

Penggunaan Empati. Yang penting namun jarang disorot teknik psikoanalisis adalah penggunaan empati dan keterampilan mendengarkan yang baik. Mendengarkan empati memungkinkan terapis untuk mulai membangun hubungan dengan klien sementara mengungkapkan sedikit, jika ada, tentang dirinya sendiri. Hal ini juga memungkinkan para terapis untuk mengatur hubungan transferensi.

Analisis Transferensi. Sebuah hubungan transferensi terjadi ketika klien pada terapis melihat ciri-ciri kepribadian yang sebenarnya adalah proyeksi dari kepribadian klien. Proyeksi karakteristik kepribadian difasilitasi oleh terapis dengan menyisakan menjauhkan diri dalam hubungan, sehingga menciptakan dinding kosong di proyek-proyek klien. Ini adalah alasan awalnya analis tradisional yang pada awalnya permintaan klien untuk berbaring di sofa. Tentu saja, proyeksi semacam itu mengarah pada distorsi oleh klien dari karakter terapis. Akhirnya, terapis dapat menafsirkan distorsi ini pada klien, menghubungkan mereka kembali ke hubungan masa lalu klien, dan memfasilitasi klien mengungkapan pola-pola yang signifikan dalam hubungan yang penting bagi pembentukan kepribadian klien.

Asosiasi Bebas. Dengan mendorong klien untuk mengatakan apa pun yang muncul dalam pikiran tanpa menyaring, asosiasi bebas memungkinkan ekspresi liar dari keinginan bawah sadar dan kenangan yang  ditekan. Hal ini memungkinkan terapis untuk memahami pola-pola hubungan masa lalu dan bagaimana mereka membentuk pengembangan kepribadian klien.

Analisis Mimpi. Freud percaya bahwa mimpi adalah “jalan raya menuju alam bawah sadar.” Oleh karena itu, para analis akan memeriksa baik yang nyata (jelas) isi mimpi serta laten (tersembunyi) yang berarti mimpi dalam upaya untuk memahami keinginan bawah sadar dan kenangan yang tertekan. (Freud, 1900/1999).

Interpretasi Perlawanan.Freud percaya bahwa klien akan mengembangkan mekanisme pertahanan dan mulai menolak perawatan sebagai isu-isu penting yang mulai bermunculan ke permukaan. Oleh karena itu, perlawanan adalah suatu tanda untuk analis bahwa klien berusaha menghindari masalah penting. Hati-hati dengan waktu, perlawanan seperti itu dapat ditafsirkan ke klien dan kemudian dieksplorasi.

HUBUNGAN YANG TERAPEUTIK

Psikoanalisis tradisional adalah jangka panjang, proses mendalam di mana klien dapat bertemu dengan seorang terapis tiga kali atau lebih seminggu selama lima tahun atau lebih. Dalam upaya untuk membangun hubungan transferensi, konselor tetap menjauhkan diri dari klien. Sedangkan empati dan keterampilan mendengarkan sangat penting untuk awal terapi, interpretasi dan analisis teknik kemudian menjadi kunci dalam hubungan. Sebagai terapi berlanjut dan masalah diselesaikan, terapis akan mulai dilihat oleh klien dalam yang lebih objektif dancara yang realistis. Akhir dalam proses terapeutik, seperti anonimitas menjadi kurang penting, terapis dapat merasa bebas untuk mengungkapkan aspek-aspek kecil dari dirinya sendiri. Pada akhirnya, hubungan berakhir bila klien telah memperoleh peningkatan pengetahuan dan kesadaran yang mendasari dinamika dan bagaimana mendapatkan ini diungkapkan melalui pola dan gejalanya, dan ketika klien telah membuat beberapa perubahan yang didasarkan pada pemahaman ini.

SINOPSIS

Psikoanalisis adalah terapi mendalam yang membantu klien dalam membuat bawah sadar menjadi sadar. Dilihat sebagai teori pesimistis oleh banyak orang, psikoanalisis menyatakan bahwa kepribadian kita ditentukan melalui interaksi yang kompleks antara naluri kita dan pengalaman awal kita. Namun, dengan terapi intensif, kita dapat memperoleh wawasan dan menjadi sedikit lebih sadar atas konstruksi kepribadian kita. Saat sekarang, itu adalah individu langka yang dapat berpartisipasi dalam psikoanalisis tradisional, karena sangat panjang dan mahal. Dan, walaupun banyak teori belum dibuktikan melalui penelitian, banyak dari paradigma telah disesuaikan dengan pendekatan konseling lain dan bahkan dapat ditemukan di seluruh budaya kita.

Dapatkah Anda membayangkan Anda tidak memiliki kata “sadar” dalam kosakata kita, atau tidak memiliki keyakinan bahwa pengalaman awal dan dorongan mempengaruhi perilaku kita dalam beberapa cara? Jelas, ide-ide Freud telah sangat mempengaruhi pandangan kita tentang dunia.

Psikologi Analitik Jung

Seorang rekan Freud, Carl Jung (1875-1961) pada awalnya dilatih dalam tradisi psikoanalisis. Namun, ketika ia berkembang, ia menjadi kecewa oleh psikoanalisis, menggambarkan hal itu “sebagai psikologi dari pernyataan pikiran yang neurotik, pasti di satu sisi pasti… bukan psikologi dari pikiran sehat, dan ini adalah gejala dari kesakitan… ” (Jung, 1975, hal 227). Jung berangkat dari Freud atas pesimis, pandangan deterministik mengenai sifat manusia, dan juga beberapa pandangannya tentang seksualitas masa kanak-kanak. Sebaliknya, Jung optimis percaya bahwa kita bisa menjadi sadar kekuatan bawah sadar dan secara bertahap mengintegrasikan pengetahuan tersebut menjadi cara hidup yang lebih sehat.

Bagi saya, saya lebih suka melihat manusia dalam terang pada apa yang ada dalam dirinya yang sehat dan baik, dan untuk membebaskan manusia yang sakit dari hanya jenis psikologi yang mewarnai setiap halaman yang ditulis oleh Freud. (Jung, 1975, hal 227)

Jung percaya pada bawah sadar pribadi dan bawah sadar kolektif. Bawah sadar pribadi berbeda dari orang ke orang, dan salah satu dapat menjadi “sadar pada hampir segala sesuatu” di dalam bawah sadar pribadi (Jung, 1968, hal 48). Di sisi lain, hampir mistik dalam sifatnya, alam bawah sadar kolektif merupakan penyimpan dari pengalaman kuno, sebuah entitas dari awal awal peradaban yang telah diturunkan kepada kita masing-masing.

Yang terdalam yang bisa kita capai dalam eksplorasi pikiran bawah sadar adalah lapisan di mana manusia tidak lagi individu yang berbeda, tetapi di mana pikirannya melebar keluar dan menyatu ke dalam pikiran umat manusia, bukan pikiran sadar, tapi pikiran bawah sadar umat manusia, di mana kita semua sama …. Pada tingkat kolektif ini kita tidak lagi individu-individu yang terpisah, kita semua adalah satu. (Jung, 1968, hal 46)

Bawah sadar kolektif adalah baik positif maupun negatif dan dinyatakan melalui arketipe. Arketipe itu meliputi persona, atau topeng yang kita pakai dalam kehidupan publik; anima dan animus, yang mewakili karakteristik feminin dan maskulin bahwa kita semua memiliki; dan bayangan, yang mewakili paling gelap, paling tersembunyi, dan bagian-bagian yang paling menakutkan pada diri kita sendiri .

Jung percaya bahwa peran terapi adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang alam bawah sadar kita dan bagaimana dipamerkan melalui arketipe. Kesadaran dari semua bagian dari diri kita sendiri, termasuk sisi gelap kita, adalah langkah pertama untuk integrasi dan penerimaan diri. Seperti Freud, Jung percaya bahwa alam bawah sadar kita dapat diakses melalui mimpi dan asosiasi bebas, sebagaimana apa yang disebut oleh Jung sebagai imajinasi aktif. Informasi yang diperoleh dari ketiga metode analisis memegang simbol-simbol yang merupakan sumber dari arti yang tersembunyi dan dapat membantu klien dalam memahami arketipenya.

Terapi Adlerian

Seperti Jung, Alfred Adler (1870-1937) pada awalnya dilatih dalam tradisi psikoanalitik dan menjadi kolega Freud. Namun, kekecewaan atas beberapa prinsip-prinsip dasar Freud yang dipimpin Adler untuk mengembangkan teori sendiri (Dinkmeyer & Sperry, 2000). Meskipun Adler juga percaya bahwa pengalaman anak usia dini sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian selanjutnya, ia menduga bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sangat ditengahi oleh dorongan sosial daripada naluri seksual atau naluri agresif. Dan, meskipun Adler percaya pada bawah sadar, ia  dipandang lebih sebagai kekurangsadaran seseorang yang melindungi harga diri, sebagai lawan dari pandangan psikoanalitik klasik sebagai sebuah mekanisme untuk melindungi diri dari dorongan naluriah (Dinkmeyer & Sperry, 2000; Watts & Shulman, 2003). Selain itu, Adler percaya bukan itu yang terjadi di masa lalu yang mempengaruhi perilaku, tetapi memori dan penafsiran dari apa yang terjadi.

Adler mengemukakan bahwa kita semua mengembangkan gaya hidup yang berusaha untuk mengkompensasi perasaan rendah diri bawaan. Cara hidup ini didasarkan pada persepsi kita masa lalu kita, khususnya bagaimana kita menganggap diri kita dalam konstelasi keluarga kita. Perasaan rendah diri memotivasi kita ketika kita berusaha untuk mengatasi mereka dan ketika kita berusaha untuk perasaan superioritas dan kesempurnaan. Seperti dengan perasaan rendah diri, Adler merasa bahwa semua individu memiliki sebuah perjuangan untuk superioritas, yang didefinisikan sebagai keinginan untuk mencapai dan melakukannya dengan baik dalam hidup. Adler percaya bahwa kita sering menjadi korban dari asumsi yang salah tentang kehidupan kita yang didasarkan pada persepsi palsu atau tidak akurat di masa lalu dan yang akhirnya mempengaruhi pilihan yang kita buat dalam hidup. Namun, berbeda dengan Freud, Adler merasa bahwa melalui proses terapeutik individu dapat dipahami gaya hidup mereka dan asumsi yang salah dan membuat perubahan yang dramatis.

Digambarkan sebagai salah satu orang pertama yang menerapkan konsep humanistik dan sistemik (Corey, 2005), Adler percaya bahwa orang dapat mengubah, membuat masa depan, membuat makna dalam hidup, menjadi tujuan yang diarahkan, dan tidak harus terbelenggu oleh peristiwa-peristiwa masa lalu. Bahkan, konsepnya tentang “dorongan” telah dilihat sebagai suatu keterampilan yang mencakup filsafat humanistik dan dapat digunakan dalam perawatan modalitas yang singkat. Keterampilan ini meliputi:  menunjukkan empati, mengkomunikasikan rasa hormat dan kepercayaan, dengan fokus pada kekuatan, membantu klien menghilangkan asumsi yang salah, dan berfokus pada tujuan (Watts & Pietrzak, 2000). Dia juga merasa bahwa kesuksesan dalam hidup dapat diukur oleh tingkat individu kepentingan sosial, atau rasa keterhubungan kepada orang lain dan untuk masyarakat di seluruh dunia (Adler, 1959). Meskipun diterapkan dalam berbagai pengaturan konseling, pendekatan Adler telah diadopsi oleh banyak terutama konselor sekolah karena penekanan pada konstelasi keluarga, urutan kelahiran, dan pendidikan (Dinkmeyer & Sperry, 2000; Dreikurs, 1953).

Pendekatan Hubungan Obyek Mahler

Margaret Mahler (1968; Mahler, Pine, & Bergman, 1975/2000) menganut pendekatan hubungan objek pendekatan ke terapi, yang percaya bahwa elemen penting dalam pembentukan kepribadian adalah cara di mana bayi dan anak kecil terpisah dan terisolir dari pengasuh utama dalam beberapa tahun pertama kehidupan. Pendekatan ini, yang baru-baru ini mendapatkan popularitas, tidak menempatkan tekanan pada id sebagai penyimpan seksual dan naluri agresif seperti yang dilakukan psikoanalis tradisional. Sebaliknya, teori hubungan objek memandang gerak hati itu sebagai “selera.” Ini menunjukkan bahwa pada waktu kita mungkin memiliki keinginan untuk menjadi agresif atau seksual, tapi kami tidak menekan kompor, karena untuk melepaskan energi seperti jika gerai yang layak tidak ditemukan. Dengan kata lain, kita tidak didorong oleh yang disebut naluri.

Tidak menekankan tahapan psikoseksual Freud, Mahler dan teoritikus hubungan obyek yang lain merasa bahwa realitas yang erat dihubungkan dengan bagaimana seseorang memisahkan dari pengasuh utama.

… langkah sementara yang paling penting dalam adaptasi dengan realitas yang diperlukan yaitu, bahwa langkah di mana ibu secara bertahap ditinggalkan di luar orbit mahakuasa diri. (Mahler, 1952, hal 288)

Individuasi semacam itu, katakan terapis hubungan obyek, terjadi melalui sebuah proses pematangan dalam beberapa tahun pertama kehidupan. (Todd & Bohart, 2003). Dalam pendekatan Mahler,  proses ini terjadi melalui serangkaian tahapan: autisme infantil yang normal (lahir sampai 1 bulan), simbiosis yang normal (2 hingga 3 bulan), pemisahan individuasi (4 sampai 10 bulan), berlatih (10 14 bulan), pendekatan (14 sampai 24 bulan), dan konsolidasi individualitas atau keteguhan diri (24 hingga 36 bulan).

Mahler, seperti banyak teori hubungan objek, juga percaya bahwa bayi perlu memisahkan pengalaman objek diri menjadi baik dan buruk (Alford, 1989; Klein, 1975; Kohut, 1984; Weininger, 1992). Mekanisme pertahanan ini, dikenal sebagai membelah, memungkinkan anak yang sangat muda, yang belum memiliki kapasitas untuk melihat individu sebagai kompleks, untuk membagi orang (objek!) ke salah satu dari “semua baik” atau “buruk” (misalnya, anak usia 2 tahun yang marah pada orang tuanya suatu saat, dan tergantung dan berikutnya mengasihi). Beberapa individu membawa belahan diri menjadi dewasa, kemudian melihat dunia dalam hal baik atau buruk, atau memiliki sebuah mentalitas “kami dan mereka” (misalnya, teroris yang melihat dunia secara dualistik). Orang semacam ini juga cenderung memiliki untuk memiliki kesulitan dalam hubungan seperti ketika suatu saat ia mencintai, saat berikutnya membenci. Dalam kenyataannya, pemisahan ini dipandang sebagai proyeksi dari awal pengalaman individu pengalaman yang terselesaikan dengan pengasuh utama, yang pada berbagai waktu yang dirasakan oleh anak muda sebagai baik atau jahat. Salah satu tantangan utama untuk klien (dan orang-orang pada umumnya) adalah untuk mendapatkan kapasitas untuk mengintegrasikan buruk dan gambar yang baik dari orang lain dan dengan demikian mempertahankan pandangan orang yang lebih kompleks.

Karena terapi  hubungan objek memelihara banyak ajaran analisis tradisional, pendekatan mereka terhadap terapi dapat dilihat sebagai suatu jangka panjang, mendalam, proses analitis yang mencoba untuk memiliki orang yang memahami pengalaman awal dalam hal pemisahan dan individual. Hal ini dilakukan dengan menggunakan terapis yang memiliki empati dan penafsiran sebagai klien perlahan-lahan anak usia dini menghidupkan kembali konflik dengan orangtua. Akhirnya, klien mampu mengintegrasikan model orang tua baru dan menjadi individual. Pada intinya, terapis menjadi orangtua yang sehat yang tidak pernah dimiliki klien (Masterson, 1981).

Pendekatan Eksistensi Humanistik

Permulaan dan Pandangan Sifat Manusia

Pada pergantian abad keduapuluh, filsafat eksistensial, dengan penekanan pada bagaimana orang membuat makna, menjadi filsafat populer di dunia Barat. Filsuf seperti Kierkegaard, Tillich, Sartre, Camus, dan lain-lain menulis tentang perjuangan hidup dan bagaimana orang-orang membangun makna dalam hidup mereka. Banyak dari filsafat eksistensial mengkitik metode psikoanalitik untuk pandangan deterministik (misalnya, Sartxe, 1962). Dengan bangkitnya Nazi Jerman, banyak filsuf Eropa dan psikoterapis yang memegang pandangan eksistensial manusia berimigrasi ke Amerika Serikat. Pandangan-pandangan eksistensial mereka dengan cepat diambil oleh banyak psikoterapis Amerika yang mencari yang lebih optimistik, kurang deterministik, dan lebih manusiawi dalam cara kerja dengan klien.

Berbeda dengan pandangan deterministik psikoanalisis, pendekatan eksistensial-humanistik percaya pada kehendak bebas, bahwa individu secara sadar atau tidak sadar membuat keberadaan mereka dan, bila diberikan pada keadaan yang tepat, dapat menciptakan kembali keberadaan mereka-dengan kata lain, perubahan. Sebagian besar pendekatan eksistensial-humanistik percaya bahwa ada kecenderungan bawaan bagi individu untuk mengaktualisasikan diri untuk memenuhi potensi mereka jika mereka diberikan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan (Maslow, 1968, 1970).

Pendekatan eksistensial-humanistik mengambil perspektif fenomenologis ketika mereka menekankan realitas subjektif klien. Selain itu, pendekatan ini  tidak menekankan peran bawah sadar sedangkan kesadaran ditekankan. Eksistensial-humanis percaya bahwa kecemasan adalah bagian alami dari hidup maupun pesan tentang keberadaan seseorang.

Setiap pilihan yang kita buat, termasuk memilih untuk tidak memilih, adalah keputusan tentang eksistensi kita dan ini tercermin dalam bagaimana kita merasakan tentang diri kita dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Oleh karena itu, terapis eksistensial-humanistik jangan mencoba untuk “memperbaiki” atau usaha perbaikan seseorang perasaan cemas, tetapi berusaha untuk membantu klien membuat makna keluar dari kecemasan yang ia mengalami. Sangat menentang reduksionistik, tradisi nonpersonal psikoanalisis dan awal terapi perilaku, terapi eksistensial-humanistik menekankan kualitas pribadi dari profesionalisasi dan bagaimana terapis menggunakan dirinya sendiri dalam hubungan untuk perubahan.

Walaupun banyak pendekatan di masa modern ini untuk konseling dan psikoterapi telah meminjam konsep dari aliran eksistensial-humanistik, beberapa teori-teori secara khusus mewujudkan pandangan-pandangan yang baru saja dibahas dan cukup menonjol di lapangan. Pendekatan berpusat pada orang milik Carl Rogers mungkin paling mempengaruhi seni psikoterapi, dan kita akan menggali pendekatan ini dalam beberapa detail. Kami juga akan mengambil sekilas tentang terapi yang kadang-kadang disebut “terapi eksistensial”  di sekolah yang merupakan konglomerasi dari sejumlah terapi berbasis eksistensial seperti terapi yang dilakukan oleh Viktor Frankl (1963), Rollo May (Mei, Angel, & Ellenberger, 1958), dan Dugald Arbuckle (1975). Akhirnya, kami juga akan mengambil sekilas terapi Gestalt, yang awalnya didirikan oleh Fritz Perls. Terapi Gestalt sangat populer di negara ini selama bertahun-tahun dan cenderung untuk menawarkan pandangan yang unik tentang bagaimana filsafat eksistensial dan humanistik dapat diterapkan.

Konseling Berpusat pada Orang

Dilatih sebagai seorang psikolog klinis dengan pengaruh dari psikoanalisis dan filsafat pendidikan (Rogers, 1980a), Carl Rogers (1902-1987) sangat mengubah wajah psikoterapi dengan perkembangan dari pendekatan konseling yang tidak langsung (Rogers, 1942). Pertama, disebut terapi berpusat pada klien (Rogers, 1951), dan kemudian konseling berpusat pada orang, pendekatannya tidak hanya dilihat sebagai cara untuk membantu klien, tetapi sebagai suatu cara hidup (Rogers, 1980b). Dianggap sebagai psikoterapis yang paling berpengaruh pada abad keduapuluh (Kirschenbaum & Henderson, 1989), Rogers percaya bahwa orang-orang memiliki kecenderungan aktualisasi (Rogers, 1951), dan, jika ditempatkan dalam lingkungan perawatan, akan berkembang menjadi sadar sepenuhnya, memfungsikan diri sepenuhnya. Namun, terlalu sering, Rogers mendalilkan, proses perkembangan alami individu digagalkan sebagai kondisi tempat lain yang bernilai pada orang. Karena orang memiliki kebutuhan yang kuat untuk dapat dianggap positif oleh orang lain, dia mungkin bertindak tidak wajar, cara yang tidak nyata dan mengembangkan kesadaran diri menyimpang untuk memenuhi kondisi yang berharga tersebut. Terapi, kata Rogers, menawarkan kesempatan individu untuk mewujudkan peningkatan rasa kesesuaian dengan seseorang diri sejati dan mencapai pengertian yang lebih realistis dari apa yang disebut Rogers sebagai diri ideal, atau diri kita berjuang untuk  eksis (Rogers, 1959).

Rogers merasa bahwa orang bisa berhubungan dengan diri sejati mereka jika mereka berada di sekitar orang lain yang nyata (asli atau kongruen), empatik, dan menunjukkan penilaian positif tanpa syarat. Rogers menyebut keaslian, empati, dan penilaian positif tanpa syarat terhadap “kondisi inti” dan percaya bahwa atribut-atribut ini, dengan sendirianya, cukup untuk memfasilitasi perubahan (Rogers, 1957).

Karena Rogers merasa bahwa sifat-sifat empati, harmoni, dan penilaian positif tanpa syarat itu penting dalam semua hubungan interpersonal, ia menghabiskan banyak waktu kemudian dalam hidupnya advokasi untuk perubahan sosial dan membantu orang memahami perbedaan di antara mereka sendiri (Kirschenbaum & Henderson, 1989). Bekerja dengan orang-orang seperti Protestan dan Katolik di Irlandia Utara, orang kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan, dan individu-individu dalam apa yang kemudian terjadi di Uni Soviet, ia berusaha untuk mendapatkan orang-orang yang memegang filsafat yang berbeda secara luas sudut pandangnyauntuk mendengar satu sama lain dan membentuk kedekatan, hubungan jangka panjang (lihat Kotak 4.4).

KOTAK 4.4

Aku Kira Tidak Ada Orang yang Sempurna — Bahkan Tidak D. Rogers

Pada akhir 1970-an aku pergi untuk mendengarkan Carl Rogers berbicara untuk kedua kalinya. Saya gembira, Rogers adalah pahlawanku. Ada ribuan orang sebagai penonton, dan ketika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan, aku malu-malu mengacungkan tangan. Tiba-tiba, ia menunjuk padaku. Aku berdiri dan berkata sesuatu, dan pada saat ia meminta saya untuk mengulangi, aku mencoba lagi merumuskan pertanyaan saya, dan dia mengatakan sesuatu seperti, “Saya tidak dapat memahami apa yang sedang Anda bicarakan.” Dia pindah ke pertanyaan lain. Saya merasa hancur, sakit hati, dan merasa seperti gulungan menjadi bola. Dan dia – ya, Carl Rogers- sudah tidak begitu peduli dengan konselor muda ini. Saya kemudian menemukan bahwa bahkan para pahlawan kita tidak sempurna.

KONSEP UTAMA

Rogers percaya bahwa perubahan kepribadian akan terjadi jika kerangka terapeutik termasuk apa yang disebut “kondisi yang diperlukan dan memadai”:

• Dua orang yang berada dalam kontak psikologis.

• Yang pertama, yang akan kita istilahkan klien, adalah dalam keadaan incongruence, menjadi mudah diserang atau cemas.

• Orang kedua, yang akan kita istilahkan terapis, adalah kongruen atau terintegrasi dalam hubungan.

• Pengalaman terapis penilaian positif tanpa syarat terhadap klien.

• Pengalaman terapis pada pemahaman empatik dari kerangka internal klien dari acuan dan upaya untuk mengkomunikasikan pengalaman ini kepada klien.

• komunikasi untuk klien dari pemahaman empati terapis dan penilaian positif  tanpa syarat adalah tingkat minimal yang dicapai (Rogers, 1957, hal 96).

Rogers percaya bahwa jika konselor bisa menawarkan kondisi ini kepada klien, klien akan mulai terbuka dan mengerti rasa sakit dan luka masa lalu yang disebabkan oleh hubungan kondisional dalam kehidupan klien. Dalam kenyataannya, hubungan terapeutik seperti itu bisa membantu klien untuk mengubah perilaku dan membantunya  dalam gerakan dari diri palsu ke diri sejati. Hasil dari terapi lain dapat memasukkan peningkatan keterbukaan terhadap pengalaman, lebih objektif dan persepsi yang realistis, peningkatan penyesuaian psikologis, meningkatkan kesetaraan, meningkatkan harga diri, gerakan dari eksternal ke kontrol lokus internal, lebih pada penerimaan dari orang lain, pemecahan masalah yang lebihbaik, dan persepsi yang lebih akurat dari orang lain (Rogers, 1959).

TEKNIK

Rogers menolak untuk menggunakan kata teknik dalam menggambarkan bagaimana konselor bekerja sama dengan klien, sebagaimana dia yakin istilah ini tidak menggambarkan esensi dari hubungan pribadi begitu penting untuk sifat membantu. Namun, ia menghabiskan banyak waktu untuk mendefinisikan tiga kualitas pribadi konselor yang efektif penting untuk membantu: kesesuaian, penilaian positif tanpa syarat, dan empati.

Kesesuaian atau keaslian.Rogers percaya bahwa konselor perlu berhubungan dengan perasaannya, terlepas dari apa yang mereka dapat. Seorang konselor kemungkinan memiliki perasaan negatif yang kuat atau perasaan positif yang kuat terhadap klien, atau perasaan mungkin muncul dalam konselor selama sesi yang mungkin misterius, mengancam, atau menakutkan (Rogers, 1957). Dalam sebuah kasus, konselor perlu berhubungan dan menyadari perasaan ini. Tingkat keterbukaan diri, terapis menunjukkan bahwa klien, bagaimanapun, mungkin bervariasi tergantung pada sesi dan apakah perasaan itu terus-menerus atau tidak. Rogers mencatat bahwa meskipun ia mungkin memiliki perasaan negatif terhadap beberapa klien selama sesi, hampir selalu perasaan ini didisipasi sebagai klien untuk membuka dan terurainya batin. Inilah sebabnya mengapa ia memperingatkan terapi untuk tidak menggunakan pengungkapan diri yang berlebihan. Namun, pada saat yang sama, ia merasa penting untuk menjadi nyata dalam hubungan. Menemukan keseimbangan antara kesadaran konselor dari perasaannya sendiri dan ekspresi perasaan-perasaan itu dalam upaya nyata adalah salah satu tantangan yang dihadapi terapi yang berpusat pada orang.

Penilaian Positif tanpa Syarat. Rogers percaya bahwa hubungan konseling harus digarisbawahi oleh rasa penerimaan, tanpa perasaan apa yang dinyatakan oleh klien. Dengan kata lain, konselor tidak boleh menerima perasaan dan pengalaman tertentu dari klien dan menyangkal orang lain. Penerimaan tanpa syarat ini memungkinkan klien untuk merasa aman dalam hubungan dan untuk menggali lebih dalam ke dirinya sendiri. Ketika klien mulai mengambil langkah-langkah menuju memperdalam pemahaman diri ini, ia akan memahami aspek-aspek dirinya yang palsu dan yang nyata. Dengan kata lain, klien akan mulai melihat bagaimana ia hidup dari kehidupan palsu sebagai akibat dari kondisi masa lalu yang layak ditempatkan atas dirinya. Meskipun Rogers menyatakan bahwa hal positif tanpa syarat harus hadir untuk keseluruhan sesi, ia mengakui bahwa ini adalah yang ideal dan menunjukkan bahwa semua terapis harus terus berusaha mencapai keadaan diri ini.

Pemahaman Empatik. Mungkin yang paling banyak diteliti dan dibicarakan tentang unsur hubungan konseling, empati atau pemahaman yang mendalam mengenai klien adalah konsep Rogers tentang elemen ketiga yang penting dalam hubungan membantu. Pemahaman seperti ini dapat ditunjukkan dalam berbagai cara, termasuk keakuratan yang mencerminkan makna dan pengaruh apa yang diungkapkan oleh klien; menggunakan metafora, analogi, atau gambar visual untuk menunjukkan klien bahwa ia adalah mendengar secara akurat, atau hanya menganggukkan kepalanya atau dengan menyentuh klien secara lembut pada saat klien dalam kesakitan yang mendalam. Pengakuan dari kesulitan klien semacam itu mengatakan bahwa pengalaman dunia terapisnya “seolah-olah itu miliknya sendiri, tapi tanpa pernah kehilangan ”seolah-olah”  berkualitas (Rogers, 1957, hal 99). Dengan kata lain, terapis adalah “dengan”  klien; “mendengar” klien; memahami klien sepenuhnya, dan mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada klien.

Selama bertahun-tahun, penjelasan Rogers tentang mendengarkan dengan empati telah ditafsirkan dan sering dikemas ke dalam apa yang sekarang banyak kita sebut “refleksi perasaan,” atau menirukan apa yang dikatakan klien. Dalam salah satu artikel yang terakhir yang ditulis oleh Carl Rogers, ia menyuarakan amarah terhadap beberapa cara konsepnya tentang pemahaman empatik telah ditafsirkan. Melihat khususnya penggunaan istilah “refleksi dari perasaan” dan “menirukan” pernyataan klien, Rogers menyatakan bahwa dia tidak pernah mengartikan konselor untuk meniru apa yang dikatakan klien, tetapi untuk menggunakan semua kemungkinan jalan untuk menunjukkan kepada klien bahwa konselor memahami caranya membuat makna keluar dari dunia.

Dari sudut pandang saya sebagai terapis, saya tidak berusaha untuk “mencerminkan perasaan.” Saya mencoba untuk menentukan apakah pemahaman saya tentang dunia batin klien sudah benar, apakah saya melihatnya sebagai dia mengalami hal itu saat ini. … Apakah saya menangkap hanya warna, tekstur dan rasa dari makna pribadi di mana Anda mengalaminya sekarang? (Rogers, 1986, hal 376)

Rogers mencatat bahwa tanggapan empatik yang terbaik kepada klien adalah mereka yang di dalamnya ada terapist mampu untuk “subceive” perasaan di balik perasaan-perasaan yang disadarai oleh klien.  Sebagai lawan dari perasaan yang menafsirkan bahwa terapis berpikir, klien mungkin akan mengalami, perasaan subceiving, berarti bahwa terapis merasakan perasaan terdalam dari klien, perasaan yang klien mungkin tidak menyadari. Hanya ketika klien setuju bahwa ia mengalami perasaan-perasaan ini adalah terapis “on target” dengan responnya.

HUBUNGAN TERAPEUTIK.

Seperti bisa diduga, Rogers memandang hubungan terapi sebagai salah satu di mana konselor secara efektif mampu mewujudkan dan mempertahankan kondisi inti empati, keaslian, dan penilaian positif tanpa syarat. Kemampuan konselor untuk melakukan ini adalah secara langsung berhubungan dengan klien mengalami penuh perhatian, hubungan empatik di mana klien merasa diterima. Hubungan semacam ini memungkinkan klien untuk mengalami tingkat yang lebih mengetahui tentang diri sendiri, gerakan fasilitas klien menuju kesadaran diri yang lebih benar, dan membangkitkan kemampuan klien untuk mengalami beberapa dari banyak hasil terapi seperti disebutkan sebelumnya.

Ketika awalnya dikembangkan, konseling yang berpusat pada orang dianggap sebagai terapi jangka pendek, setidaknya dibandingkan dengan yang kemudian populer dengan metode psikodinamik. Namun, dengan perubahan belakangan ini dalam sistem perawatan kesehatan dan bergerak ke arah perlakuan singkat, apa yang secara tradisional dianggap jangka pendek sekarang dipandang sebagai jangka panjang. Meskipun prinsip-prinsip koseling berpusat pada orang dapat diterapkan jika anda bertemu dengan seorang klien satu kali atau selama lima tahun, umumnya konseling berpusat pada orang berlangsung dari beberapa bulan sampai satu tahun atau lebih. Mungkin faktor paling penting dalam menentukan lamanya pengobatan adalah tingkat kesesuaian di klien dan jenis masalah klien membawa pengobatan. Namun, perlu dicatat bahwa banyak konselor saat ini telah terintegrasi keterampilan inti yang digunakan dalam konseling yang berpusat pada orang dengan banyak pendekatan jangka pendek yang saat ini digunakan.

SINOPSIS

Rogers mengembangkan jenis terapi yang telah mempengaruhi konseling dan praktek psikoterapeutik mungkin lebih daripada yang lain. Atribut kesesuaian, penilaian positif tanpa syarat, dan empati telah menjadi kondisi utama yang digunakan oleh banyak terapis di seluruh disiplin ilmu yang berbeda-beda. Filsafat humanistiknya tidak hanya mempengaruhi cara di mana terapis berinteraksi dengan klien tetapi juga berdampak pada hubungan manusia di seluruh dunia. Meskipun filosofi ini telah dikritik oleh beberapa orang sebagai terlalu sederhana, banyak terapis mengalami kesulitan mewujudkan kualitas empati,  keaslian, dan penilaian positif tanpa syarat. Sepanjang tahun penelitian, konseling berpusat pada orang telah diterapkan dengan benar telah terbukti efektif dengan berbagai klien.

Pengaruh Roger dari kerangka eksistensial-humanistik itu jelas. Percaya bahwa orang dapat berubah, teori ini sangat anti deterministik. Mempercayai dunia logis klien, Rogers tidak menawarkan tujuan yang telah ditetapkan atau kerangka penafsiran di dalam usaha untuk memahami dan bekerja dengan klien. Sebaliknya, Rogers menunjukkan bahwa proses aktualisasi bawaan klien, jika diperbolehkan untuk berkembang melalui penggunaan kondisi intinya, akan memfasilitasi gerakan klien melalui proses perubahan. Positif ini, terpusat pada orang, pendekatan tidak langsung, Rogers berpendapat, bisa membuat manfaat dan perubahan tahan lama untuk klien.

Terapi Gestalt. Dikembangkan oleh Fritz Perls (1969), humanistically eksistensial ini didasarkan pada saham terapi beberapa prinsip dasar konseling yang berpusat pada orang, tetapi berbeda secara drastis dalam implementasi dan penggunaan teknik-teknik. Seperti konseling berpusat pada orang, terapi Gestalt adalah pendekatan antideterministik yang mengusulkan secara agresif bahwa individu memiliki kemampuan untuk merubah dengan menjadi lebih sadar diri. Namun, terapis Gestalt percaya bahwa individu-individu mencapai jalan buntu dalam hidup mereka, atau mendapatkan “terjebak dalam neurosis” dan akan memuntahkan “tahi gajah” supaya menjaga neurosis mereka. Terlalu menakutkan, kata Perls, untuk menhentikan pola neurotik ini. Inilah sebabnya mengapa ahli terapi Gestalt mengambil aktif, pendekatan direktif untuk proses perubahan, sebuah pendekatan yang dihadapi klien ke kesadaran.

Mengambil perspektif fenomenologis yang kuat dengan menyatakan bahwa kesadaran sama dengan realitas, terapis Gestalt percaya kenyataan sering tertutup oleh urusan yang belum selesai dari masa lalu. Oleh karena itu diperlukan untuk mendorong klien untuk mengalami “sekarang.” Kesadaran semacam itu akan membantu klien memahami bagaimana ia menggunakan dukungan eksternal untuk menyembunyikan masa lalunya yang sakit dan nyeri. Eksternal seperti mendukung mungkin mencakup penggunaan perilaku nonverbal (bayangkan seseorang yang tanpa sadar menepuk kaki ketika subjek kecemasan yang potensial itu dibawa), atau intellectualizing (menghindari perasaan seseorang dengan membawanya kepada kepala seseorang), atau menyalahkan orang lain (daripada mengambil tanggung jawab karena kurangnya belajar, seseorang menyatakan bahwa ujian tengah semester itu  tidak adil).

Karena pendekatan terapi Gestalt menganggap bahwa individu memiliki kecenderungan untuk menghindari urusan yang belum selesai, terapis Gestalt telah mengembangkan sejumlah teknik untuk menghadapi klien ke kesadaran (Passons, 1975; Zinker, 1978, 1998).

TEKNIK

Latihan kesadaran. Dengan teknik ini, terapis meminta klien untuk menutup matanya dan pengalaman semua perasaan, pikiran, dan indera yang lazim. Hal ini memungkinkan klien untuk mengakses cepat berhubungan dengan perasaan atau pikiran yang tersembunyi yang dipertahankan melawan ketika seseorang menggunakan dunia luar untuk menghindari indra batin.

Penggunaan pernyataan “saya”. Dengan mengasumsikan bahwa salah satu pertahanan yang paling sering digunakan oleh klien adalah proyeksi isu-isu ke orang atau hal, terapis akan mendorong klien untuk menggunakan pernyataan “saya” sesering mungkin. Misalnya, “dunia ini menyebalkan,” menjadi “Saya payah, saya tidak bertanggung jawab untuk kebahagiaan saya.”

Teknik Melebih-lebihkan. Dengan teknik ini, para terapis meminta klien untuk melebih-lebihkan kata, frase, atau perilaku nonverbal bahwa terapis percaya memiliki beberapa arti yang tersembunyi. Sebagai contoh, seorang klien yang membungkuk mungkin akan diminta untuk membungkuk lebih lanjut dan untuk melampirkan kata-kata untuk apa ia begitu membungkuk. Satu klien mungkin berkata, “Saya merasa seolah-olah dunia di pundakku.”  Eksplorasi dilanjutkan oleh terapis mungkin menemukan bahwa “dunia” merepresentasikan tuntutan klien merasa menempatkan pada dirinya. Eksplorasi lebih lanjut klien mengungkapkan bagaimana menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya untuk berhenti mengambil tugas.

Teknik Kursi Kosong. Teknik Gestalt yang populer ini meminta klien untuk membayangkan bahwa seseorang atau suatu bagian dari diri klien duduk di kursi kosong. Terapis kemudian membantu untuk memfasilitasi dialog antara klien dan ini “orang lain” dalam rangka untuk mengungkap masalah yang tergeletak di bawah isu-isu dalam klien. Sebagai contoh, seorang terapis bisa meminta klien yang merasa seolah-olah ia memiliki dunia di pundaknya untuk berkomunikasi dengan dunia, akhirnya sampai ke arti tersembunyi “dunia” berlaku.

Memainkan Proyeksi. Ketika seorang individu mempunyai perasaan yang kuat tentang orang atau hal-hal lain, terapis bisa meminta klien untuk membuat sebuah “pernyataan saya” tentang orang atau hal. Asumsi di sini adalah bahwa perasaan klien yang kuat tentang “lain” adalah benar-benar sebuah proyeksi dari perasaan yang kuat tentang dirinya. Bayangkan seorang klien yang menyatakan bahwa dia tidak mempercayai seseorang dalam hubungan, mengatakan “Saya tidak mempercayai diri saya dalam hubungan dengan orang.”

Merubah Pertanyaan Menjadi Pernyataan Tentang Diri. Terapis Gestalt berasumsi bahwa semua pertanyaan menyembunyikan pernyataan tentang diri seseorang. Oleh karena itu, terapis meminta klien untuk mengubah pertanyaan menjadi pernyataan tentang diri. Bayangkan seorang klien bertanya, “Mengapa orang tidak peduli lagi tentang orang lain?” dan kemudian mengubah pertanyaan menjadi pernyataan, “Saya merasa bahwa orang tidak peduli padaku.”

Teknik-teknik Lain. Dengan mengasumsikan bahwa orang akan sering menghindari tanggung jawab, proyek yang lain, dan mencoba untuk menemukan cara-cara tidak berurusan dengan perasaan yang tersembunyi, ahli terapi Gestalt menggunakan berbagai teknik-teknik lain untuk menghadapi klien ke dalam kesadaran. Misalnya, mereka mendorong klien untuk “tetap dengan perasaan,” untuk memainkan bagian-bagian yang berbeda dari mimpi-mimpi mereka, untuk membuat pernyataan yang menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas perilaku mereka, dan / atau untuk bertindak keluar dari perilaku yang berlawanan atau gejala yang mereka tampak untuk menunjukkan.

Sebagai kesimpulan, terapis Gestalt adalah sebuah keaktifan, terapis yang langsung yang memiliki orientasi eksistensial-humanistik dan berbagi banyak tujuan yang sama dengan terapi berpusat pada orang tetapi dia memfasilitasi pertumbuhan klien pada cara-cara yang sangat berbeda dengan menggunakan berbagai teknik.

Terapi Eksistensial

Sejumlah teoretisi milik sekolah terapi yang mengandalkan langsung pada filosofi eksistensi ketika bekerja dengan klien. Individu-individu semacam Dugald Arbuckle (1975), Rollo May (1950; Mei dkk., 1958), dan Viktor Frankl (1963) telah sangat mempengaruhi pendekatan ini untuk psikoterapi. Corey (2005) mengidentifikasi enam prinsip atau prinsip-prinsip dasar yang tampaknya umum di antara pendekatan mereka. Mereka termasuk:

1. Kapasitas untuk kesadaran diri. Semua orang mempunyai kapasitas untuk kesadaran diri.

2. Kebebasan dan tanggung Jawab. Semua orang memiliki kemampuan untuk membuat beberapa pilihan, terlepas dari keadaan mereka, dan perlu mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka pada masing-masing pilihan sebagai seseorang yang akan mempengaruhi orang lain.

3. Berjuang untuk identitas dan hubungan. Kita memiliki kemampuan untuk menciptakan identitas kita dan untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.

4. Mencari arti. Bagian dari proses hidup alami melibatkan pencarian makna dan tujuan dalam hidup.

5. Kecemasan sebagai kondisi hidup. Sifat pilihan berarti bahwa kecemasan adalah suatu kondisi hidup alami –kita selalu memilih untuk menjalani hidup sepenuhnya atau mati.

6. Kesadaran kematian dan ketidakberadaan. Ketika kita bergerak melalui kehidupan menuju kematian kita, kita memiliki kapasitas untuk menjadi sadar akan pilihan yang kita buat dan bagaimana mereka mempengaruhi pilihan kesadaran diri kita dan kehidupan orang lain.

Meskipun tidak ada teknik preset bahwa terapis eksistensial yang digunakan dalam menerapkan prinsip-prinsip di atas, terapis yang paling eksistensial akan menekankan pentingnya hubungan antara terapis dan klien, membahas filosofi dari psikoterapi eksistensial dan bagaimana hal itu bisa diterapkan pada individu situasi kehidupan tertentu, akan autentik dengan klien, dan melihat proses terapeutik sebagai perjalanan bersama. Perjalanan bersama ini penting karena hanya melalui hubungan asli perubahan itu dapat terjadi. Terapi ini tidak dilihat sebagai suatu proses menerapkan teknik tetapi sebaliknya dipandang sebagai diskusi bersama berkenaan dengan makna hidup dan bagaimana seseorang dapat membuat perubahan yang konstruktif untuk mengubah salah satu rasa kepuasan dan kebermaknaan. Oleh karena itu, melekat pada terapi eksistensial adalah asumsi bahwa klien dapat berubah, memiliki kemampuan untuk memperdalam kesadaran diri, dan dapat membangun hubungan yang bermakna dan nyata dengan terapis yang dapat berdampak pada kedua klien dan terapis kehidupan .

Meskipun mereka memiliki tujuan dan filosofi dasar yang mirip dengan berpusat pada orang  dan pendekatan terapi Gestalt, terapis eksistensial (1) cenderung lebih bersifat mendidik daripada terapi berpusat pada orang di mana bahwa mereka bebas mengajarkan konsep eksistensial, (2) biasanya tidak merasa terikat oleh Rogers kondisi inti dalam membantu klien untuk mencari keberadaan mereka dan cara-cara membuat makna, (3) umumnya tidak begitu konfrontatif seperti terapi Gestalt, dan (4) merasa bebas untuk menggunakan teknik yang akan meningkatkan kesadaran klien mengenai dasar prinsip-prinsip eksistensial.

Pendekatan Perilaku

Permulaan dan Pandangan Sifat Manusia

Sekitar pergantian abad, ilmuwan Rusia Ivan Pavlov (1848-1936) menemukan bahwa anjing yang lapar berliur ketika diperlihatkan makanan akan belajar untuk mengeluarkan air liur ke nada jika nada itu berulang kali dipasangkan atau berhubungan dengan makanan. Dengan kata lain, akhirnya anjing akan mengeluarkan air liur ketika mendengar nada, terlepas dari apakah makanan yang hadir. Pavlov menutupi apa yang kemudian disebut pengkondisian klasik. John Watson (1925; Watson & Raynor, 1920) dan kemudian Joseph Wolpe (1958) pada akhirnya mengambil konsep-konsep ini dan menerapkannya dalam pengaturan klinis.

Selama tahun 1930-an psikolog B. E Skinner (1904-1990) menunjukkan bahwa binatang akan belajar perilaku spesifik jika perilaku hanya yang dipancarkan diperkuat (Nye, 1992, 2000; Skinner, 1938, 1971). Prosedur persyaratan instrumental menunjukkan bahwa penguatan yang positif, pemberian stimulus yang menghasilkan peningkatan perilaku, atau penguatan negatif, penghapusan stimulus yang menghasilkan peningkatan perilaku, dapat berhasil mengubah perilaku. Jadi Skinner menjadi mahir melakukan perubahan perilaku pada binatang-binatang yang selama Perang Dunia Kedua ia dapat memperkuat merpati positif sehingga mereka akan mengemudikan pesawat dengan bahan peledak melekat terhadap target musuh (Skinner, 1960)! Meskipun akurasi yang besar, militer memutuskan untuk tidak menggunakan rudal yang diarahkan merpati. Sama pentingnya dengan menemukan bahwa penguatan positif dan penguatan negatif dapat mengubah perilaku adalah penemuan bahwa hukuman, penambahan sebuah rangsangan permusuhan berikut perilaku yang tidak diinginkan, sangat miskin sarana untuk memodifikasi perilaku (Skinner, 1971).

Selama tahun 1940-an Albert Bandura menemukan bahwa anak-anak yang melihat sebuah film di mana seorang dewasa bertindak secara agresif ke arah boneka Bobo akan bertindak lebih agresif daripada anak-anak yang belum pernah melihat film, ketika semua anak-anak ditempatkan di sebuah ruangan bersama-sama (Bandura, Ross, & Ross, 1963). Pendekatan perilaku ketiga ini, dikenal sebagai pembelajaran sosial atau model, juga menunjukkan bahwa walaupun kita sering tidak segera memancarkan perilaku yang telah kita lihat, kita memiliki kemampuan untuk memancarkan perilaku di kemudian hari (Bandura, 1977).

Tiga pendekatan perilaku pengkondisian klasik, instrumental conditioning, dan pemodelan berbagi pandangan umum sifat manusia dan telah diterapkan secara luas dalam konteks psikoterapi. Umumnya, ketika bekerja dengan klien, tiga pendekatan ini digabungkan untuk membayar pengobatan sepenuh mungkin (Krumboltz, 1966b; Lazarus, 1971).

Perilaku tidak stres bawah sadar dan tidak menempatkan penekanan pada memperoleh informasi tentang pengalaman masa kanak-kanak kita. Sebaliknya, pendekatan ini mengasumsikan bahwa kita telah belajar perilaku kita saat ini dan dapat mempelajari perilaku baru dengan menerapkan prinsip-prinsip perilaku. Oleh karena itu, dengan menggunakan pengkondisian klasik, pengkondisian instrumental, atau modeling secara ilmiah dan cara empiris cara, kita dapat menjelajahi dengan klien kita jenis perilaku mereka ingin mengubah dan menggunakan pendekatan-pendekatan ini untuk membantu mereka dalam perubahan proses. Walaupun masa lalu mungkin penting dalam pengkondisian perilaku kita saat ini, berfokus pada masa lalu tidak dianggap penting dalam perubahan perilaku.

Pada awal hari, pendekatan perilaku dipandang sebagai pendekatan direktif untuk bekerja dengan klien di mana bahwa dalam situasi orang yang ditolong diperiksa dan didiagnosis, dan strategi untuk perubahan perilaku diusulkan dan dilaksanakan oleh para terapis. Namun, pentingnya membangun hubungan melalui pendekatan sebagai nondirective seperti penggunaan empati dan pemodelan telah menjadi terkenal baru-baru ini (Spiegler, 1998). Di samping itu, berbeda dengan awal behavioris yang menganut secara ketat pada paradigma perilaku mereka, sekarang sering melihat behavioris meminjam teknik dari aliran terapi lain terapi ketika bekerja dengan klien. Bahkan, behavioris modern jarang melihat proses psikoterapeutik dalam cara-cara kaku behavioris awal (Corey, 2005). Sebagai contoh, sejak tahun 1960-an banyak behavioris telah menyertakan sebuah komponen kognitif pendekatan terapi perilaku (Beck, 1976; Ellis & Harper, 1997; Meichenbaum, 1977), dan hari ini banyak terapis menggunakan prinsip-prinsip tingkah laku sambil bekerja dalam suatu humanistik atau bahkan kerangka psikodinamik.

Hari ini, adalah cukup umum menemukan terapis mengidentifikasi diri mereka sebagai behavioris kognitif, berlawanan dengan semata-mata menjadi kognitif atau perilaku (lihat O’Donohue, Fisher, & Hayes, 2003). Untuk alasan sejarah, serta masalah kejelasan, bab ini akan memisahkan dua pendekatan. Dalam bagian ini tentang perilaku, kami akan terlebih dahulu menyajikan sebuah pendekatan generik ke terapi perilaku modern yang telah dipengaruhi oleh individu-individu seperti Skinner, Wolpe, Krumboltz, Watson, dan Lazarus. Diskusi ini akan diikuti oleh deskripsi singkat dari dua cabang terapi perilaku: terapi multimodal Lazarus dan terapi realitas Glasser. Kemudian dalam bab ini kita akan dibahas pendekatan kognitif ke terapi.

Perilaku Saat Modern

Saat ini banyak perilaku terapis telah mengadaptasi teori-teori pengkondisian instrumental, kondisi klasikal, dan pemodelan menjadi satu proses perilaku yang komprehensif. Pendekatan seperti itu dapat digambarkan melalui serangkaian tahapan.

TAHAP TERAPEUTIK

Tahap 1: Membangun Hubungan. Selama tahap ini, tujuan utama terapis adalah untuk membangun hubungan yang kuat dengan klien dan mulai dengan jelas mendefinisikan tujuan terapi. Membangun hubungan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan tidak lazim untuk menemukan perilaku terapis menggunakan empati dan keterampilan mendengarkan, menunjukkan kepedulian dan memandang positif, dan mendiskusikan isu-isu dangkal dalam upaya untuk bersikap ramah dan membangun kepercayaan. Sebagai sebuah dukungan, hubungan kepercayaan ini dikembangkan, terapis mulai menjelajahi daerah problem tertentu di mana klien ingin untuk disapa.

Tahap 2: Mendefinisikan Masalah dan Menetapkan Tujuan. Selama tahap kedua, sangat penting bahwa konselor memperoleh informasi yang akurat dan berjangkauan yang luas tentang masalah yang didefinisikan. Oleh karena itu konselor harus cukup aman atas informasi latar belakang yang memadai tentang klien dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidik untuk mengungkapkan sifat sejati dari masalah. Sebuah masalah yang salah diagnosis menata panggung untuk penggunaan teknik-teknik yang salah. Setelah masalah itu dengan jelas diidentifikasikan, biasanya dianjurkan untuk mendapatkan baseline (garis dasar) pada frekuensi, durasi, dan intensitas. Ini membantu klien dan terapis untuk sepenuhnya memahami luasnya masalah. Setelah mengumpulkan semua informasi ini, klien, bekerjasama dengan konselor, dapat mulai menentukan isu untuk fokus dan mengatur beberapa tujuan tentatif.





chapter 14

9 01 2010

Bab 14

TEORI DAN KONSEP KONSELING MULTIKULTURAL

Ada sebuah cerita lama. Kita semua ada dalam cerita ini. Seorang anak pergi menemui seorang pendeta Yahudi dan menanyakan mengapa Tuhan hanya memulai dengan Adam dan Hawa. Sang anak bertanya mengapa Tuhan tidak membuat semua orang sekaligus. Pendeta menjawab bahwa Tuhan hanya membuat Adam dan Hawa sehingga tidak ada seorang pun dari kita yang akan berpaling ke orang lain dan mengatakan, “ayahmu bukanlah ayahku, ibumu bukanlah ibuku, dan kita bukanlah saudara.” Sehingga hal hal ini tidak akan pernah dikatakan orang. Oleh kita semua. Pada kita semua. (penulis tidak diketahui)

Ketika saya tumbuh di New York, kota itu merupakan sebuah dunia tersendiri: makanan, etnik, dan musik dari berbagai budaya, orang orangnya –oh, betapa saya sangat senang mengamati orang orang. Berjalan di jalan Manhattan dan anda dapat melihat sebuah lautan orang yang tak bertepi. Sebuah lautan yang nampak akan mengubah anda ketika mengalir mendekati anda, sebuah lautan yang bentuknya berubah secara kosntan; dan, jika anda mengalir bersama sungai itu cukup jauh, anda akan mengunjungi tiap bagian di dunia. Tidak ada pertanyaan bahwa New York memberikan saya sebuah perspektif yang multikultural bahwa banyak orang tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya. Namun, meskipun adanya berbagai budaya dan kelompok etnik ini, saya tidak pernah benar benar berada di bawah permukaan. Saya dapat merasakan makanan, saya bisa mengamati orang, dan saya dapat mendengarkan musik, namun pengalaman itu sendiri masih berasal dari sebuah perspektif yang dilepaskan. Meskipun saya mungkin melihat pakain yang berwarna cerah milik orang Nigeria, saya masih tidak mengenali orang tersebut. Meskipun saya dapat merasakan sushi, saya tidak mengerti dunia orang Jepang. Dan meskipun saya dapat mendengarkan musik Latin, saya tidak benar benar mengerti orang orang.

Bab ini adalah mengenai perbedaan, persamaan, dan pemahaman satu sama lain. Kita akan mulai bab ini dengan menyarankan sejumlah alasan mengapa permasalahan yang berhubungan dengan konseling multikultural harus mendapatkan tempat yang mencolok dalam profesi koseling sekarang ini. Kita akan mengulas definisi penting dalam bidang tersebut dan meneliti pola yang berkesinambungan dari diskriminasi dan praduga yang ada di Amerika. Dengan mengeksploras perkembangan model model identitas minoritas dan perkembangan identitas orang kulit putih kita akan mencoba untuk memahami mengapa sejumlah besar konselor kulti putih mempunyai permasalahan dengan waktu dibandingkan dengan klien minoritas. Bab ini akan menyoroti pentingnya pemahaman konselor mengenai sikap dan kepercayaannya sendiri, mempunyai pengetahuan dasar banyak budaya, dan mengetahui keahlian konseling lintas budaya jika mereka akan bekerja secara efektif dengan klien yang berbeda secara budaya. Dekat dengan kesimpulan bab kita akan menekankan pentingnya estándar pelatihan konseling multikultural dan meneiliti beberapa permasalahan etika, profesional, dan legal.

Apakah Yang Dimaksud Dengan Konseling Multikultural?

Konsep konseling multikultural telah berubah pada tahun tahun ini dan berlanjut masih berubah terus menerus. Misalnya, beberapa orang telah mempertimbangkan semua konseling agar menjadi multikultural dan telah mengambil sebuah perspektif universal untuk konseling multikultural (Patterson, 1996):

Penekanan yang berlebihan sekarang ini pada perbedaan budaya dan konseling khusus budaya membawa pada (a) sebuah fokus pada teknik tertentu (atau keahlian karena mereka sekarang dipanggil), dengan konselor yang menjadi seorang bunglon yang merubah gaya, teknik, dan metode untuk memenuhi karakteristik yang diperkirakan dari klien yang mempunyai budaya yang berbeda dan kelompok … (hal.230)

Merespon Patterson, McFadden (1996) mencatat pentingnya menjadi kompeten dalam budaya:

Bagi konselor untuk merespon kebutuhan  para pelanggan yang multi budaya, mereka harus bisa bekerja secara efektif dengan orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dalam sebuah cara yang setaraf dengan menghormati budaya klien klien tersebut. (hal. 233-234)

Namun dalam bahkan dalam balasan lainnya, lihatlah bagaimana Pedersen (1996b) membandingkan dua sudut pandang:

Ada tiga kesalahan serius yang dapat dibuat dalam konseling multikultural. Kesalahan pertama adalah penekanan yang berlebihan pada kesamaan, yang membawa pada sebuah titik leleh dimana mayoritas menjadi pemenang melawan minoritas, menyepelekan identitas budaya. Kesalahan kedua adalah penekanan yang berlebihan pada perbedaan, yang membawa pada penggolongan dan keterlepasan ikatan musuh. Mengacuhkan perlunya pekerjaan berat yang biasa, kesalahan ketiga adalah menganggap bahwa seseorang harus menekankan baik kesamaan maupun perbedaan. [ini adalah] … sebuah dikotomi yang salah. (hal. 236)

Tanggapan Pedersen merangkum, kurang lebih, dimana kita sekarang ini. Meskipun ada kesinambungan yang harus dihormati karena banyaknya teknik konseling “percobaan dan kebenaran” pada masa lalu, sekarang ada sebuah penekanan pada pemahaman identitas budaya klien kita dan dapat menggunakan keahlian secara tepat yang akan memfasilitasi perkembangan klien secara maksimal. Jika kita bekerja dengan klien yang mempunyai budaya yang menilai ungkapan perasaan, mereka tidak boleh dipaksa untuk mengungkapkan perasaan. Klien yang budayanya tidak menekankan tempat internal pada unit control sebaiknya tidak didorong untuk “menguasai” situasi tertentu. Sayangnya, beberapa teknik tradisional kita, ketika diaplikasikan secara universal, telah mendorong nilai nilai tradisional barat, yang pada saat itu, antithetik bagi identitas budaya klien. Sebagai hasilnya, kita mendorong klien keluar dari konseling.

Meskipun saya meyakini bahwa semua hubungan konseling menantang konselor untuk bekerja dalam nilai nilai yang berbeda, mendefinisikan konseling multikultural dalam cara yang meminimalisir kenyataan bahwa klien dari kelompok budaya tertentu telah banyak dirusak oleh masyarakat seperti halnya kurangnya kesadaran konselor mengenai permasalahan multikultural. Meskipun penting untuk mengetahui klien kita, yang paling penting adalah bahwa kita menempatkan energy kita pada pemahaman individu individu tersebut yang telah dirugikan oleh masyarakat untuk bekerja secara tepat dengan mereka. Oleh karena itu, meminjam dari Axelson (1999), kita akan melihat konseling multikultural dalam konteks berikut:

[konseling multikultural] meliputi semua komponen dari banyak lingkungan budaya yang berbeda beda dalam sebuah masyarakat yang demokratis, bersama dengan teori teori, teknik, dan latihan konseling yang bersangkutan. Dalam hal ini, pendekatan dimasukan kedalam pertimbangan khusus latar belakang tradisional dan masa sekarang dan pengalaman lingkungan dari klien yang berbeda beda dan betapa kebutuhan mungkin diidentifikasi dan dipenuhi melalui sumber sumber yang membantu profesi. (hal 22)

Mengapa Konseling Multikultural?

Keanekaragaman di Amerika

Jawaban yang paling jelas pada pertanyaan “mengapa konseling multikultural?” apakah benar Amerika Negara yang memiliki paling memiliki keanekaragaman –Negara yang benar benar sebuah kumpulan etnis, ras, budaya, dan agama. Amati table 14.1 dan anda akan melihat individu dari setiap ras/budaya/etnis, individu yang memiliki warisan dari semua bagian dunia, individu dengan orientasi seksual yang berbeda, dan individu yang mencakup gabungan rentangan agama yang luas. Kita hidup dalam sebuah Negara yang benar benar multikultural dan oleh karena itu disebut memberikan layanan konseling pada individu dari banyak latar belakang yang berbagai macam. Namun, disamping sejumlah kecil individu dari latar belakang yang bermacam macam, ada sejumlah alasan lain mengapa konseling multikultural penting bagi masyarakat Indonesia.

Konseling Tidak Dapat Bekerja Untuk Sebuah Segmen Populasi Kita Yang Besar

Jika anda tidak mempercayai ahli terapi, bingung mengenai proses konseling, atau merasa dunia terpisah dari seorang konseling yang anda temui, akankah anda mau pergi atau melanjutkan konseling? Tentu tidak. Sayangnya ini merupakan pernyataan keadaan bagi banyak klien minoritas. Kenyataanya, sekarang ini dianggap oleh banyak orang ketika klien minoritas bekerja dengan konselor mayoritas, ada sebuah kemungkinan kuat bahwa konselor akan (1) meminimalisir  pengaruh tekanan sosial pada diri klien, (2) menginterpretasikan perbedaan budaya sebagai pasalah psychopatholigical, dan (3) salah mendiagnosa klien (Mwaba dan Pedersen, 1990; Yeh dan Hwang, 2000).

Konseling tidak akan bekerja bagi banyak klien. Sebuah bukti yang besar menunjukan bahwa klien minoritas seringkali salah paham, sering kali salah mendiagnosa, menganggap terapi kurang membantu dari pada teman mayoritas mereka, menghadiri terapi pada angka yang lebih rendah daripada klien mayoritas, dan cenderung untuk mengkahiri terapi lebih cepat dari klien mayoritas (Diala, Muntaner, Walrath, & Nickerson; 2000; Garetso, 1993; Gonzales, dkk., 1997; Good, 1997; Lee dan Mixson, 1995; McKenzie, 1999; Morrow dan Deidan, 1992; Olfson, Marcus, Druss, dan Pincus, 2002; Poston, dkk., 1991; Snowden, 1999; Solomon, 1992). Sebagai tambahan, ketika klien sedang bersama dengan seorang konselor dari latar belakang etnik yang sama, mereka cenderung untuk berada dalam konseling lebih lama (Atkinson, 1985; Atkinson, Poston, Furlong, dan Mercado, 1989; Maramba dan Nagayama Hall, 2002; Phelps, Taylor, dan Gerard, 2001).

Mengapa sebuah konseling tidak bekerja untuk sebuah segment yang baik pada populasi kita? Bebearapa telah menyarankan bahwa ketika seorang konselor tidak berkompeten dalam hal budaya, dia mungkin akan kurang berhasil bekerja sama klien, mengabaikan latar belakang etnik konselor (Maramba dan Nagayama Hall, 2002). Yang secara budaya merupakan konselor yang tidak berkompeten? Dia mungkin menangani beberapa sudut pandang berikut ini (Midgette dan Meggert, 1991; Sodowsky & Taffe, 1991, Solomon, 1992; Yutrzenka, 1995):

  1. Mitos titik leleh. Beberapa percaya bahwa Negara ini merupakan sebuah titik leleh beragaman budaya. Namun, ini bukanlah pengalaman banyak klien minoritas, yang mendapati diri mereka sendiri berada di pinggiran budaya Amerika, memandang diri mereka sendiri berbeda dari kebanyakan orang, dan tidak bisa menghubungkan banyak nilai dan kepercayaan yang dipegang oleh kaum mayoritas. Pada kenyataannya, sebagian besar budaya ingin untuk mempertahankan keunikan mereka dan menolak menyerahkan tradisi khusus mereka. Oleh karena itu, konselor yang menganggap bahwa klien harus tepat dan menyesuaikan diri dengan nilai nilai budaya kaum mayoritas yang mungkin mati pada beberapa klien. Mungkin, melihat masyarakat Amerika sebagai mosaic budaya, sebuah masyarakat dengan sebuah nilai dan kebiasan yang berbagai macam, secara akurat lebih mewakili inti dati keberagaman yang kita temukan sekarang ini.

Kotak 14.1

Sebuah Pandangan Dunia Yang Etnosentrik
Saya kuliah pada awal tahun 1970an. Di asrama saya ada seorang siswa dari Iran. Pada saat itu, siswa dari negara negara timur tengah jarang meghadiri perkuliahan di Amerika dibandingkan yang mereka lakukan sekarang, dan pemahaman kita mengenai Islam jauh lebih kurang daripada sekarang. Dia terlihat aneh bagi kita, dan kita memperlakukannya dengan buruk. Kita mengejeknya dan mengasingkannya. Hanya kemudian saya menyadari bahwa dia bukanlah orang aneh –kitalah yang aneh. Kita tidak terbiasa dengan kebiasaannya, dan oleh karena itu menganggap orang tersebut aneh. Kita hanya memahami pandangan kita mengenai dunia. Muhammad, saya harap saya tahu dimana beliau berada sehingga saya dapat meminta maaf.

Sumber: dari “sebuah definisi ulang konseling multikultural.” Oleh S.L Speight, L. Myers, C.F. Fox dan P.S Highlen, 1991, Jurnal Konseling dan Perkembangan, 70, 29-36, hak cipta 1991 ACA, dicetak ulang dengan izin. Tidak ada produksi ulang yang diijinkan tanpa ijin tertulis.

  1. Harapan yang tidak congruent mengenai konseling. Negara Negara barat, khususnya Amerika, yang mendekati konseling memiliki sejumlah anggapan mengenai proses konseling. Misalnya, menganggap bahwa proses konseling harus menekankan individu; tekanan ungkapan perasaan; mendorong penyingkapan diri, keterbukaan, dan wawasan; dan menunjukan sebab dan akibat. Sebagai tambahan, sebagian besar konselor tidak memiliki dua bahasa, mendekati konseling dari sebuah perspektif non religious, dan memandang pikiran dan tubuh secara terpisah. Namun, banyak budaya tidak menilai sifat ini, dan klien dari budaya tersebut oleh karenanya akan memasuki hubungan itu dengan banyak keraguan, mungkin menghadapi kekecewaan ketika sebuah hubungan konseling tidak memenuhi harapannya, dan bahkan mungkin dirugikan oleh hubugnan konseling (Harper dn McFadden, 2003; Marks, 1998; Morris, 1998; Morris dan Robinson, 1996; Yutrzenka, 1995). Misalnya, klien Asia yang bangga akan kemampuannya untuk mengendalikan emosinya mungkin meninggalkan perasaan konseling seperti jika dia dikecewakan konselornya yang telah menekannya untuk mengungkapkan perasaan.
  2. Kurangnya pemahaman mengenai tekanan sosial. Meskipun konselor mungkin efektif dalam menangani perasaan klien sehubungan dengan bagaimana mereka telah didiskriminasi, diperlakukan dengan buruk, atau dipengaruhi faktor “eksternal” lain, konselor yang sama akan seringkali menekankan pengaruh tekanan sosial nyata yang dimiliki oleh klien ini. Konselor sering kali menganggap bahwa sebagian besar, jika tidak semua, perasaan negatif diciptakan individu, dan mereka seringkali memiliki kesulitan memahami kekuatan pengaruh pengaruh sosial. Dengan menekankan tekana sosial, klien yang telah secara ilegal menolak pekerjaan karena ketidakmampuanya mungkin dikecilkan hatinya ketika seorang konselor mengatakan, “apa yang telah anda lakukan untuk mencegah diri anda agar mendapatkan pekerjaan.”
  3. Pandangan luas mengenai etnosentris. Orang yang tidak sadar secara lintas budaya cenderung memandang dunia melalui lensa budaya mereka sendiri (lihat kotak 14.1). konselor etnosentris cenderung secara salah menganggap klien mereka memandang dunia dalam sebuah cara yang sama atau percaya bahwa ketika seseorang memberikan sebuah pandangan yang berbeda akan dunia dia secara emosional terganggu, dicuci otak budayanya, atau salah. Meskipun pentingnya pemahaman mengenai pandangan dunia unik klien selalu krusial untuk hubungan yang membantu secara efektif, hal ini secara khusus menjadi signifikan ketika bekerja dengan klien minoritas yang pelangalaman dunianya mungkin secara khusus asing bagi konselor. Misalnya, seorang konselor mungkin dengan ceroboh membingungkan seorang klien yang merupakan seorang muslim dengan mengatakan, “selamat natal”.
  4. Ketidaktahuan sikap rasis dan praduga seseorang. Tentunya, konselor yang tidak berhubungan langsung dengan prasangka dan sikap rasisme tidak dapat bekerja secara efektif dengan klien minoritas dan mungkin benar benar merugikan klien klien tersebut. Pemahaman stereotipe dan prasangka kita sendiri memerlukan sebuah usaha waspada khusus, sejauh prasangka tak sadar. Misalnya, konselor heteroseksual yang secara tidak sadar mempercayai bahwa menjadai seorang homo adalah merupakan kelainan namun secara sadar menyatakan dia menerima semua orientasi seks yang mungkin rumit memperlakukan seorang klien homo karena ada sesuatu yang salam dengannya.
  5. Ketidak mampuan untuk memahami perbedaan budaya dalam ungkapan symptomatology. Yang mungkin terlihat sebagai “abnormal” di Amerika Serikat mungkin dianggap cukup biasa dan wajar di negara lain. Kurangnya pengetahuan konselor mengenai perbedaan budaya ketika mereka hubungkan dengan ungkapan symptom dapat dengan serius merusak hubungan konseling dan hasilnya salah diagnosa, salah penanganan, dan penghentian dini pada klien yang berbeda secara budaya dari konseling. Misalnya, mengingat, banyak individu dari budaya Anglo-Eropa akan menunjukan kesedihan melalui depresi, agitasi, dan perasaan tak tertolong, seorang Hispanic mungkin memberikannya dengan keluhan somatik.
  6. Penilaian yang tidak dapat dipercaya dan instrumen penelitian. Selama tahun ini, penilaian dan instrument penelitian telah terkenal menyimpang secara budaya. Meskipun kemajuan kemajuan telah dibuat, orang masih dapat dengan cepat menemukan tes yang memiliki kesimpang siuran budaya dan penelitian yang tidak cukup mengendalikan perbedaan budaya. Satu permasalahan dalam penggunaan instrumen penilaian adalah bahwa individu dari budaya lain mungkin dengan tidak hati hati menjawab pertanyaan dalam sebuah cara yang akan dianggap “abnormal” oleh estándar Amerika ketika mereka benar benar tidak memiliki sebuah gangguan emosional. Misalnya, ketika sesuatu dalam sebuah tes menanyakan apakah seseorang “mendengar suara suara”, seorang Hispanik yang relijius mungkin menjawab “ya”, mengira bahwa dia “berbicara pada Tuhan” sebuah tanggapan yang wajar dalam budayanya. Meskipun orang Amerika yang telah menyesuaikan diri mungkin juga “berbicara pada Tuhan,” mereka telah belajar untuk menolak bahwa mereka “mendengar suara suara” karena hal tersebut mengimplikasikan Psychopathology dalam budaya ini.
  7. Rasisme institusional. Karena rasisme institusional ditanamkan dalam masyarakat, dan beberapa akan memperdebatkannya, bahkan dalam organisasi konseling profesioal (D’Andrea dan Daniel, 1991, 1999, 2005), mungkin saja bahwa materi yang digunakan oleh konselor akan dibiaskan dan konselor secara diam diam akan mempunyai sebuah pemahaman yang tidak simetris mengenai klien yang berbeda secara budaya. Misalnya, beberapa diagnosa yang telah didaftarkan dalam DSM-IV-TR telah ditunjukan bahwa secara budaya dibiaskan; pendekatan konseling yang telah diberikan hak yang lebih tinggi dalam jurnal jurnal profesional telah ditunjukan tidak bermanfaat secara praktis ketika bekerja dengan klien dari beberapa budaya; dan program pendidikan konselor sampai sekarang belum menekankan permasalahan musltikultural. Tidak diragukan ada pernyataan yang secara kultural dibiaskan dalam teks ini yang tidak saya sadari.

Jelasnya, ada sebuah kebutuhan untuk konseling multikultural. Meskipun pergerakan pada arah ini masih dalam masa pertumbuhannya, meringankan untuk mengetahui bahwa dalam beberapa tahun tela hada sebuah teriakan banyak orang dalam profesi konseling untuk sebuah penekanan yang meningkat pada konseling multikultural (Arredondo, 1999; Arredondo, Rosen, Rice, Perez & Tovar-Gamero, 2005; D’Andrea, 2005; McAuliffe, 2006; Sue & Sue, 2003). Bagi klien yang berbeda secara budaya, kita berharap bahwa panggilan pada profeson ini akan menghasilkan (1) konselor mempunyai sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai keberagaman, (2) konselor menjadi bisa membuat diagnosa yang lebih akurat, (3) sebuah penurunan dalam angka dropour dari konseling, dan (4) sebuah peningkatan dalam kepuasan terhadap proses konseling (Quintana &Bernal, 1995).

Beberapa Definisi

Dalam memahami perbedaan dalam masyarakat Amerika, penting untuk membedakan antara sejumlah istilah, seperti budaya, diskriminasi, etnis, minoritas, perbedaan kekuatan, ras, seks, heteroseks, dan prasangka seksual, kelas sosial, stereotipe, prasangka, dan rasisme (Atkinson, 2004e; Brauth & Manning, 2003). Pemahaman istilah istilah ini memberikan kita semua sebuah lingkup kerja yang biasanya dimana didalamnya kita dapat berkomunikasi. Berikut ii merupakan definisi dari beberapa istilah tersebut.

Budaya

Nilai nilai yang dibagi, simbol simbol, bahasa, cara untuk berada di dunia adalah beberapa kata dan frasa yang saya rasa ketika merefleksikan budaya di dunia. Budaya mewakili nilia nilai kebiasaan, norma norma perilaku, simbol, bahasa, dan pola hidup yang biasa yang dipelajari orang dan saling berbagi satu sama lain. Misalnya, meskipun perbedaan yang besar dalam masyarakat ini ada sebuah bahasa yang dibagi, simbol yang sebagian besar kita kenali, dan pola perilaku yang sebagian besar juga kita kenali. Bepergian ke seluruh negeri ini kita akan menemukan banyak simbol dari sebuah budaya yang biasa (misalnya restoran cepat saji, musik, hukum, nilai nilai dasar, bahasa yang dibagi). Namun, bahkan seperti yang saya akui bahwa budaya yan biasa ini, saya benar banar menyadari pola unik beberapa subkultur termasuk homo didaerah perkotaan dan lesbian; bemacam macam ras, etnis, dan agama di mana orang orang tinggal (misalnya, “daerah selatan”) (Samovar & Potter, 2001). Dalam mencoba untuk menggambarkan bahwa dapat digunakan untuk membantu memahami pola budaya tertentu. Mereka memasukan bagaimana tiap budaya:

  • Mendefinisikan perasaan dirinya sendiri.
  • Berpakaian dan menilai penampilan.
  • Memeluk kepercayaan tertentu dan sikapnya.
  • Berhubungan dengan keluarga dan orang lain yang signifikan.
  • Bermain dan menggunakan waktu luang.
  • Belajar dan menggunakan pengetahuan.
  • Berkomunikasi dan menggunakan bahasa.
  • Memeluk nilai nilai dan adat istiadat tertentu.
  • Makan dan menggunakan makanan dalam kewajarannya.
  • Bekerja dan mengaplikasikannya sendiri.

Diskriminasi

Aktif, berbahaya, sadar, bertindak, adalah yang saya pikirkan ketika saya merefleksikan kata ini. Mengingat kata stereotype, prasangka dan rasisme mengacu pada sikap yang dimiliji orang orang. Diskriminasi merupakan sebuah perilaku aktif, seperti homo yang memukul atau pratek pemecatan yang tidak adil, yang secara negative mempengaruhi individu dalam etnik atau kelompok budaya (Lum, 2004).

Apakah perluasan dari prasangkan dan diskriminasi di Amerika? Sebuah kajian oleh institut perkotaan berkaitan dengan ras menemukan bahwa kemajuan telah dicapaiu, diskriminasi yang signifikan masih ada di lingkungan perumahan, kepegawaian, transaksi setiap hari, dan perkembangan bisnis minoritas (Fix & Turner, 1998). Secara hampir mirip, meskipun sebuah ketidaksesuaian yang cukup luas antara orang kulit putih dan kulit hitam, mayoritas kulit putih (55%) dan mayoritas kulit hitam yang sangat besar (86%), yakin bahwa orang kulit hitam tidak diperlakukan secara sama (Gallup, 2005b). Juga, sebuah survey dari Anti-Defamation League (ADL, 2005) (perkumpulan anti penistaan menemukan bahwa 14% orang Amerika mempunyai pandangan yang “tidak diragukan lagi” anti-semitik, dan individu yang kurang terpelajar dan mempunyai interaksi yang lebih sedikit dengan orang Yahudi yang lebih mungkin menjadi Anti-semitic. Akhirnya, dan sayangnya, statistik kejahatan yang peling dibenci saat ini dari FBI (2003) mengindikasikan bahwa kita masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukan di negara ini:

Penyimpangan ras memotivasi lebih dari separuh (52,5%) dari 8.706 serangan kejahatan yang dibenci denga bias tunggal yang dilaporkan pada 2003. Bias relijius dan bias orientasi seksual tiap tiapnya bertanggung jawab atas 16,4% dari semua kejahatan yang dibenci dengan bias tunggal yang dilaporkan. Bias etnis/bangsa asal memberikan 14,2% serangan, dan bias ketidakmampuan (cacat) menyumbang 0,5% dari serangan bias yang termotivasi. (hal.5)

Etnis

Warisan, leluhur, dan tradisi, adalah beberapa kata yang muncul di pikiran ketika saya merefleksikan kata etnis. Secara lebih spesifik, ketika sekelompok orang berbagi keturunan yang wajar yang mungkin termasuk budya spesifik dan pola sosial seperti sebuah bahasa yang sama, nilai yang sama, agama yang sama, makanan yang sama, dan expresi seni yang sama, mereka dikatakan berada dalam kelompok etnik yang sama (Encyclopedia Britannica, 2006; Macionis, 2005). Etnis, kebalikan dari ras, tidaklah berdasarkan pada warisan genetika namun pada pola jangka panjang  perilaku yang memiliki beberapa sejarah signifikan dan mungkin termasuk kesamaan, agama, keturunan, bahasa, dan/atau sifat budaya. Oleh karena itu, orang Yahudi, yang berbagi agama dan mungkin berbagi sifat keturunan yang sama, mungkin dianggap sebagai sebuah kelompok etnik namun mungkin tidak membagi budaya yang sama (orang yahudi tinggal di banyak budaya yang berbeda diseluruh dunia). Sama halnya, orang keturunan Asia, meskipun dipertimbangkan sebagai sebuah ras oleh beberapa orang, mungkin tidak membagi budaya yang sama atau latar belakang etnis yang sama.

Minoritas

Penindasan satu kelompok ke kelompok lain, adalah reaksi langsung saya pada kata ini. Sebuah minoritas adalah kelompok orang yang diacuhkan karena sifat budaya atau fisik mereka dan secara sistematis ditindas oleh individu individu yang berada dalam sebuah posisi memiliki kekuatan. Menggunakan definisi ini, sebuah minoritas dapat secara masuk akal menjadi mayoritas numerik sebuah populasi, seperti halnya kasus selama bertahun tahun yang menimpa orang kulit hitam di Afrika Selatan dan seperti situasi yang dialami wanita di Amerika serikat (Atkinson, 2004e; Macionis, 2005).

Perbedaan Kekuatan

Potensi kekerasan, tekanan, control dan atasan/bawahan adalah beberapa kata dan frasa yang muncul dipikiran saya ketka saya memikirkan istilah perbedaan kekuatan. Perbedaan kekuatan mungkin mewakili perbedaan yang lebih besar antara orang dan budaya, kelompok etnis, ras, atau kelas sosial (Jones, 2003). Kekuatan bisa menjadi sebuah fungsi ras, kelas, gender, pekerjaan, dan inang dari faktor lain dan dapat dengan mudah dipahami. Apakah hanya perasaan atau kenyataan, kekuatan dapat disalahgunakan. Misalnya, seorang profesor mungkin menyalahgunakan kekuatannya dengan mengganggu muridnya secara seksual. Seorang wanita Mexico-Amerika manajemen tingkat atas yang tidak menalahgunakan kekuatannya mungkin masih tidak disukai karena pekerja yakin bahwa wanita hispanik seharusnya tidak memegang posisi kekuatan. Dan seorang wanita kulit putih mungkin diberikan sebuah posisi kepemimpinan dalam sebuah kelompok manajemen, bukan karena pengalamannya, namun karena secara tidak sadar dipercaya oleh anggota kelompok lain bahwa laki laki kuilt putih memiliki kekuatan.

Kotak 14.2

Apakah ras anda?
Meskipun sebagian besar orang cenderung memikirkan diri mereka sendiri dalam satu ras atau lainnnya, lihatlah pada apa yang terjadi dalam satu kajian yang secara genetik meneliti sekelompok siswa di Universitas Negeri Pennsylvania.

…sekitar 90 siswa mengambil tes screening genetika yang membandingkan sample mereka dengan yang dimiliki kelompok regional. Banyak diantara siswa ini berpikir bahwa diri mereka “100 persen” kulit putih atau kulit hitam atau yang lainnya, namun hanya sejumlah kecil fraksi yang tidak, yang sebenarnya jatuh pada kategori itu. Sebagian besar malah mempelajari bahwa mereka berbagi penanda genetika dengan orang yang memiliki warna kulit lain. (“Debunking the Concept of Race,” 2005)

Ras

Warisan genetic, warna kulit, ambiguitas adalah beberapa kata dan frasa yang saya pikirkan ketika merefleksikan kata ras. Mengingat konsep budaya adalah berdasarkan pada sifat sifat yang dibagi tersebut, ras secara tradisional telah didefinisikan secara biologis, dengan orang yang mempunyai warisan ras yang sama untuk membagi warisan genetika yang sama (Krogman, 1945). Namun, definisi ini telah ditentang belakangan ini. Misalnya penelitian pada genome manusia menunjukan bahwa manusia membagi jauh lebih banyak secara genetika daripada seperti yang dikira (Proyek Penelitian Genome Manusia, 2005). Kenyataannya, perbedaan genetika antara dua orang hanya 0,1% (1/1000). Dari sudut pandang perilaku nampaknya ada lebih banyak perbedaan dalam kelompok ras daripada antara mereka (Atkinson, 2004c). sebagai tambahan, plasma pembawa sifat menyatu dari seluruh dunia, dan khususnya di Amerika Serikat, telah menjadi secara meningkat bercampur karena migrasi, eksplorasi, invasi, pemerkosaan yang sistematis sebagai sebuah hasil dari peperangan dan penindasan kaum minorita, dan pernikahan lintas negara (lihat kotak 14.2). dengan beberapa sosiolog yang mengatakan tidak ada ras, yang lain mengatakan ada tiga ras, dan masih yang lain menyimpulkan bahwa ada sebanyak 200, permasalahan ras masih suram dan mungkin bukanlah permasalahan besar. Karena kebingungan terhadap istilah ini, beberapa diantaranya sekarang menganjurkan agar menghentikan penggunaannya (Cameron & Wycoff, 1998). Pada umumnya, saya setuju dengan sikap ini, dan untuk bagian yang saya miliki menggunakan kata budaya, etnik, latar belakang, atau minoritas.

Hal yang berkaitan dengan seks, Heteroseks, dan Prasangka Seksual

Pencemaran nama baik dan secara sadar menempatkan orang lain dibawah karena gendernya dan/atau orientasi seksnya adalah beberapa istilah yang saya pikirkan ketika saya mendengar hal tersebut. Ketika seseorang mendiskriminasi, mencemarkan nama baik, atau menodai orang lain karena gendernya, orang tersebut disebut sexist. Dalam sebuah cara yang sama, ketika seseorang mendiskriminasi, menindas, atau menodai seseorang untuk perilaku yang tidak heteroseksual, orang tersebut dikatakan hetereosexist. Istilah heterosexism lebih disukai daripada homophobia karena mengimplikasikan kesadaran, tindakan yang sengaja padahal “phobia” pada kata homophobia mengimplikasikan gangguan, pada waktu yang melampaui control seseorang. Akhirnya, prasangka seksual merupakan istilah yang lebih inklusif yang mengacu pada sikap negative yang mentargetkan individu homoseksual, biseksual, atau heteroseksual. (Herek, 2000).

Kelas Sosial

Uang, kekuatan, status, hirarki –ini merupakan kata kata yang muncul di pikiran saya ketika memikirkan istilah kelas sosial. Menyebutnya “dimensi yang hilang” dalam pemahaman keberagaman, Hannon, Ritchie, dan Rye (1992) mencatat bahwa kelas sosial telah sangat dipandang rendah ketika menilai permasalahan keberagaman. Kelas sosial seseorang mewakili peringkat yang dirasakan oleh seorang individu dalam satu masyarkat dan didasarkan pada sejumlah dimensi, termasuk jumlah uang yang dimiliki seseorang, jenis status yang dipegang seseorang (misalnya pekerjaan seseorang, posisi seseorang dalam komunitas), dan jumlah kekuatan yang dipegang seseorang (lihat “perbedaan kekuatan” dibawah ini) (Macionis, 2005). Kelas individu seseorang memotong etnis, identifikasi budaya, atau ras (Ihle, Sodowsky, & Kwan, 1996). Oleh karena itu, meskipun individu mungkin membagi sebuah budaya yang sama, etnis, atau ras, mereka mungkin memiliki sedikit kesamaan satu sama lain disamping perbedaan dalam kelas sosial. Misalnya, bukanlah hal yang biasa menemukan seorang Afrika Amerika yang miskin tidak berpendidikan yang mungkin memiliki sedikit persamaan dengan seorang Afrika Amerika yang berkecukupan dan berpendidikan.

Stereotype, Prasangka, dan Rasisme

Penyamarataan, kebohongan, ketakutan yang tidak rasional, dan kemarahan, adalah yang saya pikirkan ketika saya mempertimbangkan istilah ini. Stereotipe dengan teguh dipegang kepercayaan mengenai sekelompok orang yang menganggap bahwa sebagian besar atau semua anggota sekelompok membagi sifat atau kepercayaan tertentu yang berkaitan dengan kelompok, prasangka merupakan sebuah bias yang positif atau negatif mengenai satu kelompok sebagai satu keseluruhan (misalnya “saya tidak suka gay”). Mengingat prasangka dapat terjadi pada semua kelomppk, rasisme adalah sebuah keyakinan yang spesifik bahwa satu ras adalah lebih superior dari pada yang lainnya (misalnya, kulit putih lebih baik dari kulit hitam). Beberapa penulis telah menyimpulkan bahwa rasisme adalah sebuah penyakit, mencatat bahwa, seperti gangguan mental lainnya, rasisme didasarkan pada sebuah distorsi realitas (Skilling & Dobbins, 1991).

Kebenaran Politik, atau Ya Tuhan, Panggilan Apa yang Seharusnya Aku Berikan Padanya?

Hispanik, Latino, Latina, Chicano, Chicana, Kulit Hitam, Negro, Afrika Amerika, Afro Amerika, Oriental, Asia, Amerika, Cina Amerika, Jepang Amerika, Amerika Asli, Indian, Eskimo, Inuit, Aleut, Asli, Indian Amerika, Indian Asia, Yahudi, Hebrew, Yahudi Amerika, Protestan, Wasp, Muslim, Islam, Lahir Lagi, Kristen Fanatik, Kristen, Katolik, Kulit Putih, Kaukasia, Eropa Amerika, Amerika, gay, homoseksual, heteroseksual, heterosexist, lurus, heteroseksual, biseksual, lesbian, transgender, transeksual, memakai pakaian yang bukan untuk jenisnya,  banci, orang cacat, individu dengan cacat, orang yang cacat jasmani, tertantang secara fisik, dan lain lain. Apakah saya menyakiti seseorang? Saya harap tidak, namun akhir akhir ini kebenaran politik, menemukan istilah yang terbaik seringkali sulit. Dan, bahkan ketika anda menemukan istilah yang tepat, anda akan menyakiti seseorang.

Meskipun ada banyak macam tentang bagaimana orang lebih suka dipanggil, biasanya istilah-istilah berikut ini digunakan. Untuk orang Amerika dengan keturunan afrika, istilah Afrika Amerika biasanya digunakan, meskipun orang kulit hitam masih diterima dalam beberapa lingkup. Asia Amerika mengacu pada sejumlah individu dengan warisan dari asia dan kepulauan pasifik, termasuk kira kira 40 subkelompok yang berbeda yang berbeda dalam bahasa dan identitas budaya (sandhu, 1997). Hispanik mengacu pada Mexico Amerika, orang Puerto Rico, Kuba Amerika, individu dengan warisan Amerika selatan, dan individu dengan akar dari negara negara berbahasa spanyol di karibia. Namun, tidak semua individu dari negara negara tersebut nyaman dengan istilah hispanik, khususnya bagi banyak orang Kuba Amerika. Islam merupakan sebuah agama yang pengikutnya disebut muslim (kurang lazim disebut moslem). Homoseksual sekarang ini pada umumnya menggunakan istilah gay untuk pria dan lesbian untuk wanita. Istilah lurus menjadi kurang diterima untuk menggambarkan kaum heteroseksual karena implikasi bahwa mereka lebih baik daripada tipe orientasi lain (misalnya, “pada lurus dan sempit”), dan heterosexist sekarang ini lebih disukai daripada homophobic. Individu yang telah lahir di Negara ini dan mengidentifikasi dengan latar belakang budaya dan etnik mereka sering menenmpatkan kata Amerika mengikuti keturunan mereka. Oleh karena itu, bukan tidak biasa menemukan individu yang mengacu pada diri mereka sendiri sebagai warga Negara Irlandia Amerika, italia Amerika, Arab Amerika, dan lain lain. Individu yang merupakan warga negara naturalisasi pada umumnya tidak menggunakan istilah “Amerika” mengikuti asal negaranya. Misalnya, perkuliahan saya yang telah dinaikan di meksiko dan menjadi seornag warga negara Amerika serikat mengacu pada dirinya sendiri sebagai “orang meksiko”. Akhirnya, daripada mengatakan orang cacat, pada umumnya sekarang orang mengatakan “individu dengan sebuah ketidakmampuan” meskipun beberapa lebih menyukai istilah “tantangan fisik”. (catatlah pentingnya penempatan kata “individu” yang sebelum kata ketidakmampuan)

Meskipun saya tidak bisa menggambarkan istilah yang benar secara politis untuk individu dari setiap budaya, etnis, atau kelompok minoritas, saya telah mencoba menggunakan istilah yang diterima pada semua bab 14 dan 15. Tentunya, orang berbeda pada bagaimana mereka ingin dianggap. Namun, saya yakin bahwa membuat sebuah usaha untuk menggunaka istilah dengan benar menunjukan sensitivitas kita pada individu dari budaya yang berbeda.


Model konseptual untuk bekerja bersama dengan klien yang bermacam macam

Setiap orang seperti semua orang, seperti beberapa orang, dan tidak seperti orang lain. (diparafrasekan dari Kluckhohn & Murray, 1953, dalam Speight, Myers, Cox, & Highlen, 1991, hal 32)

Para existentialist telah mencatat bahwa, dalam percobaan untuk memahami individu, kita perlu untuk menyadari keunikan mereka (Eigenwelt), pengalaman biasanya yang ada dalam kelompok dan budaya (Mitwelt), dan membagi pengalaman universal (Umwelt) (Binswanger, 1962, 1963). Menjaga pikiran ini, kita perlu menanyakan pada diri kita sendiri, “bagaimana bisa seorang konselor menjadi efektif dengan klien-klien yang mempunyai perbedaan pada budaya?” menggunakan ragangan eksistensial diatas, satu model yang bekerja dengan semua klien menganggap bahwa tiap kliem mempunyai permasalahan khusus sehubungan dengan budayanya, yang unik baginya, dan membagi permasalahan khusus yang wajar bagi semua orang (Speight, dkk, 1991, hal 32) (lihat gambar 14.1) tiap lingkungan ini menyarankan bahwa kita hanya bisa memahami totalitas situasi klien kita jika kita dapat memahami keunikan ketiga kompenen ini.

Model Identitas Minoritas

Satu cara konseptual dari pemahaman klien yang berbeda beda adalah untuk menentukan apakah identitas dengan budaya mereka sendiri atau budaya kamun mayoritas. Model seperti ini dapat membantu konselor memahami bagaimana klien minoritas dapat merespon untuk bekerja dengan kaum minoritas dan konselor mayoritas. Yang berikut ubu mewakili sebuah model oleh Bell dan Evans (1981) yang menyarankan ada empat gaya interpersonal dalam berhubungan. Hal ini diikuti oleh sebuah ulasan minoritas dan perkembangan model kulit putih yang melihat pada bagaimana individu dapat berubah dalam cara cara yang dapat diperkirakan setiap waktu.

>>> gambar 14.1

Model Interpersonal Bell

GAYA INTERPERSONAL YANG TERAKULTURASI. Individu yang terakulturasi menolak, baik pada tingkat sadar maupun tak sadar, etnisnya atau latar belakang budayanya dengan tujuan untuk mengasimilasi kedalam budaya yang dominan. Tidak nyaman dengan budayanya sendiri, individu-individu ini bertindak, bersuara, dan tinggal dalam sebuah kehidupan seperti jika dia berasal dari budaya mayoritas dengan tujuan untuk melarikan diri dari penindasan kelompok dominan. Orang ini membenci dirinya sendiri dan tidak nyaman dengan anggota ras/etniknya sendiri atau kelompok budayanya. Konseling seputar permasalahan lintas budaya pada khususnya sulit untuk orang orang seperti ini, dan dia mungkin lebih nyaman dengan seorang konselor dari budaya mayoritas.

GAYA INTERPERSONAL BIKULTURAL. Individu bikultural merasa nyaman adalah budaya kelompok ini seperti halnya budaya mayoritas dan dapat dengan mudah mengalir ke dalam dan keluar dari kedua budaya tersebut. Kebalikan dari individu yang terakulturasi, orang ini tidak menolak budayanya namun mungkin pada saat merasakan sebuah perasaan kepribadian yang terbagi, tersobek antara dua budaya. Mengetahui bahwa semua budaya memiliki ciri ciri positif, orang ini seringkali mencari pengalaman dari banyak budaya. Individu ini merasakan kesenangan dengan seorang konselor mayoritas maupun minoritas, dan meskipun konselor merasa nyaman dengan klien yang bikultural, pada saat dia mungkin tidak mengenali ketegangan yang dirasakan klien sehubungan dengan hidupnya yang ada di kedua budaya.

GAYA INTERPERSONAL YANG DIMASUKKAN KEDALAM BUDAYA. Ditolak oleh budaya mayoritas, individu ini yakin bahwa tujuan satu satunya kaum mayoritas adalah untuk menindas kaum minoritas. Orang ini seringkali disebut radikal, fundamentalis, atau militan. Seorang aktifis politk, orang ini sering kali pintar dan akan menyalahkan masyarakat karena permasalahan sosial. Individu ini khususnya mungkin dijaga selama sesi konseling, dan sisi tersebut akan seringkali memburuk kedalam permainan kekuatan, khususnya jika individu dihadapkan pada seorang konselor mayoritas, konselor yang bekerja dengan klien yang dimasukan secara budaya harus fokus pada mengapa klien datang untuk melakukan konseling sebagai kebalikan dari ketenggelaman kedalam diskusi seputar permasalahan penindasan masyarakat.

GAYA INTERPERSONAL TRADISIONAL. Menjadi terakar dalam gaya budayanya, individu ini masuk kedalam simbol simbol, kebiasaan, tradisi budayanya. Orang ini tidak menerima atau menolak identitas budayanya –orang ini hanya mengetahui identitas budayanya. Seringkali, individu ini mungkin lebih tua daripada individu dalam ketiga gaya lain. Orang ini sulit untuk dinasihati secara lintas budaya, karena bahasa atau dialeknya mungkin asing bagi konselor, dan individu tersebut biasanya mempunyai sedikit keakraban dalam proses konseling jika ada.

Model Perkembangan Atkinson

Berlawanan dengan model nonstage Bell dan Evan (1981), atkinson (2004c) menyarankan bahwa identitas dalam banyak kelompok minoritas adalah perkembangan. Modelnya dengan lima tahapan bergerak dari imersi yang lengkap dalam budaya yang dominan, melalui imersi yang lengkap dalam budaya minoritas, sampai tahap akhir dimana individu telah bangga dan menerima identitas budayanya dan mampu menolak atau menerima nilai nilai dari budaya lain.

Atkinson (2004c) mencatat bahwa model ini dapat melayani beberapa tujuan yaitu dapat “membuat peka para praktisi pada (a) peranan penindasan yang bermain dalam sebuah perkembangan identitas individu kaum minoritas, (b) perbedaan yang dapat eksis antara anggota kelompok minoritas yang sama dengan menghormati identitas budaya mereka, dan (c) potensi tiap orang dalam kaum minoritas untuk mengubah pengertian identitasnya” (hal.45).

Table 14.2 meneliti sikap klien yang secara budaya berbeda terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain pada kaum minoritas yang sama, terhadap individu dari kelompok minoritas lain, dan terhadap kelompok dominan karena dia memiliki lima tahapan perkembangan. Menggunakan model ini, pertimbangkan bagaimana proses konseling mungkin berbeda dari klien minoritas pada tahapan perkembangan. Sebagai tambahan, konselor minoritas mungkin ingin menilai dimana mereka jatuh pada kedua identitas model milik Bell dan Atkinson.

Tahapan Perkembangan Identitas Kulit Putih

Sejumlah model telah dikembangkan untuk menulai kesadaran ras dan perkembangan kedewasaan siswa konseling kulit putih pada kemampuan mereka untuk menghubungkan dan bekerja dengan individu dari latar belakang yang berbeda beda. Seperti halnya dalam Atkinson (2004) model indentitas minoritas, model ini menganggap ada sebuah tahapan kemajuan dalam perkembangan kesadaran ras yang dapat diidentifikasi untuk konseling siswa kuit putih. Guru dan pengawas dapat memfasilitasi pergerakan siswa melalui tahapan tahapan dengan mengembangkan aktifitas untuk mendukung dan menantang pemahaman diri siswa. Penelitian pada model identitas kulit putih menyarankan bahwa perkembangan identitas kulit putih mungkin secara positif berkorelasi dengan kemampuan seseorangn untuk bekerja dengan klien yang berbeda (Constantine, Warren, & Mivile, 2005; D’Andrea & Daniels, 1999; Helms, 1984, 1990, 1995; Sandhu & Looby, 2003; Sciarra, Chang, & McLean, 2005; Vinson & Neimeyer, 2003).

Dalam sebuah percobaaan untuk menemukan tema yang biasa yang berlaku melalui beberapa model yang umum dalam kesusasteraan, Sabnani dan kawan kawan (1991) meneliti tiga model identitas perkemabangan. Mereka setelah itu membentuk lima model yang menemani tema dasar kulit putih yang berlaku ke dalam model model ini. Ketiga model ini terdaftar dalam tabel 14.3 dan terpisah kedalam lima tahapan seperti yang diidentifikasi oleh Sabnani dan temantemannya. Sebagai tambahan pada ketiga model ini, saya memasukan kedalam tabel satu model tambahan yang dikembangkan oleh D’Andrea dan Daniel (1991, 1999), yang akhir-akhir ini mengambil beberapa keadaan yang menonjol. Sebuah gambaran dari lima tahapan yang diidentifikasi oleh Sabnani dan koleganya diikuti di sini oleh sebuah penelitian pada empat model dan bagaimana mereka masuk kedalam tahapan tersebut (lihat table 14.3). ingatlah bahwa siswa lulusan baru mungkin berada pada tahapan manapun.

Tahap 1: pre-exposure

Dalam tahapan ini, siswa kulit putih yang lulus menunjukan kenaifan dan ketak acuhan terhadap permasalahan multikultural. Terkadang siswa ini percaya bahwa rasisme tidak ada, atau jika ada, hanya untuk sebuah rentangan yang terbatas. Rasisme pada umumnya dikira sudah selesai, dan siswa pada tahap ini tidak mengerti lebih mendalam, rasisme yang sudah melekat.

Tahap 2: exposure

Siswa yang memasuki tahapan ini ketika pertama kali berkonfrontasi dengan permasalahan multikultural. Seringkali hal ini muncul ketika siswa mengambil sebuah kursus dalam konseling multikultural atau mengalami permasalahan multikultural sebagai sebuah komponen satu kelas. Peningkatan kesadaran berkaitan bagaimana rasisme dilekatkan pada masyarakat yang membawa siswa pada tahapan ini untuk memiliki perasaan bersalah karena berkulit putih, depresi dengan kesadaran yang baru ditemukan ini, dan/atau marah karena urusan Negara akhir akhir ini. Tahapan ini seringkali disoroti dengan sebuah pengertian konflik antara ingin mengatur pandangan mayoritas dan keinginan untuk menegakkan pandangan tanpa prasangkan dan non rasis yang lebih manusiawi.

Tahap 3: prominority/antirasisme

Dengan pergerakan pada tahapan ini, siswa seringkali mengambil sebuah pendirian prominority, yang mungkin menolak rasisme dan keyakikan praduga, dan terkadang akan menolak kekulit putihan mereka sendiri dalam sebuah cara untuk meredakan rasa bersalah dalam tahap 2. Siswa pada tahap ini cenderung memiliki sebuah minat yang intens dalam kelompok budaya yang berbeda dan mungkin memiliki jumlah kontrak yang meningkat dengan individu dari budaya lain.

Tahap 4: mundur ke budaya kulit putih

Pada tahap ini beberapa siswa kulit putih cenderung untuk kembali ke budaya mereka sendiri karena mereka menerima penolakan dari kaum minoritas karena mereka, tentunya, berhubungan dengan permasalahan identitas mereka sendiri (lihat table 14.3). ketika siswa memasuki tahap ini, kontak intercultural diakhiri karena mereka merasa bermusuhan dan takut akan kaum minoritas. Rumah yang nyaman pada budaya asli siswa merupakan perasaan cukup aman pada waktu tersebut.

Tahap 5: definisi ulang dan integrasi

Siswa yang memasuki tahap ini mengembangkan sebuah pandangan dunia multikultural dan mengintegrasihal ini kedalam identitas mereka. Siswa siswa seperti ini bisa merasakan nyaman dengan identitas mereka sendiri dan akar budaya mereka, dan secara simultan memiliki sebuah perubahan struktural yang sangat mengakar dalam masyarakat.

Sabnani dan kawan kawan (1991) mencatat bahwa ada sejumlah variasi dalam cara dimana siswa dapat bergerak melalui tahapan itu. Sedikit contoh ditunjukan dalam gambar 14.2. misalnya siswa A terhenti pada tahap 1. Karena siswa dihadapkan dengan permasalahan multikultural, dia akan kembali ke perilaku tahap 1, menginginkan sebuah penolakan akan rasisme dan prasangka dalam masyarakat. Proses perubahan terlalu menakutkan baginya. Siswa B bergerak melalui 3 tahapan, tidak merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengulang ke budayanya sendiri pada tahap 4, dan bergerak ke tahap 5, dimana dia merasa baik mengenai budayanya sendiri sambil memahami pengertian sebuah pemahaman dan mengapresiasi orang lain. Siswa C, di sisi lain, merasakan perlu untuk kembali karena dia ditolak oleh beberapa individu minoritas (tahap 4). Siswa ini menjadi marah, jengkel dan berkecil hati; bergerak menjauh dari kontak lintas budaya; dan perlu waktu untuk merefleksikan pengalamannya. Siswa ini tidak mengerti bahwa individu minoritas berhubungan dengan permasalahan identitasnya sendiri, yang membawa sebagian dari mereka untuk menolak kulit putih, bahkan dengan intensitas yang cukup tinggi. Beberapa siswa pada tahap 4 selanjutnya akan bergerak menjauh dari cangkangnya dan mengalami sebuah transisi yang mudah pada tahap 5. Namun yang lain, seperti siswa D, menonjolkan kepala mereka ketika mereka mempertimbangkan untuk bergerak ke tahap 5; namun, karena mereka melanjutkan berjuang dengan perasaan penolakan dan kemarahan, akan dengan mudah kembali ke tahap 4. Ingatlah bahwa karena ini merupakan sebuah model perkembangan, hal ini dianggap bahwa semua siswa, jika diberikan sebuah lingkungan yang kondusif, dapat bergerak ke tahap yang lebih tinggi.

Hubungan Yang Membantu Dan Perbedaan Budaya

Menggunakan akronim “RESPECTFUL, pada bab 1 disarankan bahwa konselor multikultural yang efektif harus memiliki pengetahuan akan faktor faktor berikut dalam diri mereka sendiri dan pada diri klien mereka: identitas religius/spiritual. Latar belakang kelas ekonomi, identitas seksual, perkembangan psikologi, identitas etnis/ras, disposisi kronologis, trauma, dan ancaman lain pada keadaan personal mereka, sejarah keluarga, sifat unik fisik, bahasa dan lokasi tempat tinggal, yang mungkin mempengaruhi proses yang membantu (D’Andrea & Daniels, 2005).

Yang lain telah menyarankan bahwa seorang konselor multikultural yang efektif sebagai tambahan perlu untuk (1) memiliki kesadaran anggapan, nilai nilai, dan biasnya, (2) memiliki pengetahuan untuk dapat memahami pandangan dunia mengenai klien yang berbeda beda, dan (3) memiliki keahlian yang diperlukan untuk diaplikasikan pada klien dengan latar belakang yang berbeda beda (Arredondo, 1999; Sue & Sue, 2003). Mari kita vahas tiap area ini.

Konselor Yang Memiliki Keahlian Budaya: Sikap Dan Keyakinan, Ilmu Pengetahuan Dan Keahlian

Sikap dan keyakinan

Konselor lintas budaya yang efektif mempunyai sebuah kesadaran latar belakang budayanya sendiri dan telah secara aktif mengejar untuk mendapatkan kesadaran biasnya sendiri, stereotipenya, dan nilai nilainya sendiri. Meskipun konselor lintas budaya yang efektif mungkin tidak menangani sistem keyakinan yang sama seperti kliennya, dia dapat menerima pendangan yang berbeda seperti yang disajikan oleh orang yang ditolongnya. “perbedaannya tidak nampas seperti orang yang menyimpang” (Sue & Sue, 2003, hal 19). Menjadi sensitif pada perbedaan dan memperbaiki bias budayanya sendiri memungkinkan konselor lintas budaya untuk mengacu pada seorang klien minoritas pada budaya klien itu sendiri ketika penyerahan akan menguntungkan pihak penolong. Sayangnya, contoh mengenai bagaimana para profesional kesehatan mental telah gagal menangani klien yang berbeda secara budaya sebagai sabuah hasil dari biasnya sendiri dan prasangka adalah hal yang wajar (Sue & Sue, 2003) (lihat kotak 14.3).

Pengetahuan

Konselor lintas budaya yang efektif mempunyai pengetahuan dari kelompok dari mana klien datang dan tidak melompat kepada kesimpulan mengenai cara-cara klien. Sebagai tambahan, dia menunjukan sebuah keinginan untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yang lebih mendalam mengenai kelompok budaya yang bermacam macam. Konselor ini juga menyadari bagaimana permasalahan sosiopolitik seperti rasisme, sexisme, dan heterosexisme dapat berdampak negatif pada klien minoritas. Sebagai tambahan, konselor ini tahu bagaiamana teori konseling yang berbeda membawa nilai-nilai yang mungkin mengganggu beberapa klien dalam hubungan konseling. Konselor ini tahu bagaimana hambatan instusional dapat mempengaruhi keinginan klien minoritas untuk menggunakan layanan kesehatan mental. Sayangnya, kurangnya pengetahuan mengenai sebuah kelompok budaya dapat menyebabkan konselor dan yang lainnya untuk melompat kepada kesimpulan yang tidak tepat (lihat kotak 14.4).

Kotak 14.3

Kurangnya Kesadaran Prasangka Diri
Roberteillo dan Schoenewolf (1992) mencatat sejumlah kesalahan yang dibuat oleh para penolong karena kurangnya kesadaran mereka mengenai prasangka mereka:

  1. Ahli terapi kulit putih yang liberal yang menolak berhubungan dengan seorang klien kulit putih yang penuh dengan mimpinya yang mencurigakan karena penolakan tegangan si penolong dalam hubungan.
  2. Penolong yang feminin yang dengan membabi buta mendorong kliennya untuk meninggalkan suaminya karena dia merupakan seorang pemukul. Klien meninggalkan suaminya namun berakhir dalam situasi pemukulan yang lain karena penolong tidak meneliti bagian dimana si wanita bermain dengan laki laki yang kejam.
  3. Penolong yang menenangkan kliennya bahwa perasaan klien homoseksual tidak berarti bahwa dia seorang lesbian. Penolong melakukan hal ini diluar ketakutan yang berhubungan dengan seksualitas klien dan malah mencoba untuk mengacuhkan permasalahan. Klien mungkin atau mungkin bukan homoseksual, namun menenangkannya bahwa dia tidak mengijinkan klien untuk mengeksplor seksualitas.
  4. Penolong yang menolak mendengarkan pandangan atheistis klien karena mereka berlawanan dengan keyakinan agamanya. Hal ini mempunyai pengaruh pemotongan percakapan yang bermakna dalam area lain karena klien kehilangan kepercayaan penolong.

Kotak 14.4

Kurangnya Pengetahuan: Burung Hitam Yang Duduk Di Pohon
Seorang guru SD wanita di Amerika Serikat mengajukan sebuah permasalahan ke kelasnya suatu hari. “Seandainya ada tiga burung hitam duduk di sebuah pohon. Ambil sebuah ketapel dan tembaklah salah satunya. Berapa yang tinggal?” seorang siswa kulit putih menjawab dengan cepat, “Mudah, empat dikurangi satu adalah tiga.” Seorang imigran Afrika kemudian menjawab dengan kepercayaan diri yang sama, “Nol”. Gurunya tertawa kecil pada jawaban yang terakhir dan menyatakan bahwa siswa pertama benar dan bahwa, mungkin, siswa kedua harus belajar matematika lebih banyak. Semenjak hari itu, siswa afrika tersebut terlihat menarik diri dari aktifitas kelas dan jarang berbicara kepada siswa lain atau gurunya …

Jika gurunya telah mengejar alasan siswa afrika itu sampai dia mendapatkan jawaban nol, dia mungkin mendengar hal ini. “Jika anda menembak satu burung, yang lainnya akan terbang.” Pendidik di Nigeria sering menggunakan cerita ini untuk menggambarkan perbedaan dalam pandangan antara budaya Amerika Serikat dan Afrika. Orang Nigeria berpendapat bahwa kelompok lebih penting dibandingkan individu, bahwa kelangsungan hidup bergantung pada interrelationship antara bagian bagiannya (dari Sue, 1992, hal 7-8)

Keahlian

Konselor lintas budaya yang efektif mampu mengaplikasikan, jika sesuai, wawancara umum dan keahlian konseling serta mempunyai pengetahuan dan mampu menggunakan keahlian spesial dan intervensi yang mungkin efektif dengan populasi minoritas tertentu. Konselor ini juga mempunyai pengetahuan dan memahami bahasa verbal dan non verbal klien dan dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien. Sebagai tambahan, penolong yang memiliki keahlian budaya memahami pentingnya memiliki sebuah pandangan yang sistemik, seperti sebuah pemahaman mengenai pengaruh keluarga dan masyarakat klien; bisa bekerja secara kolaboratif dengan pemimpin komunitas, penyembuh masyarakat, dan profesional lainnya; dan mengadvokasi klien jika diperlukan. Apa yang terjadi ketika seorang konselor tidak memiliki keahlian yang sesua ketika bekerja dengan seorang klien yang berbeda secara budaya? Yang paling memungkinkan, klien akan keluar dari konseling dini, merasa berkecil hati dan tidak puas dengan konseling, dan/atau memiliki sedikit keberhasilan dalam konseling (lihat kotak 14.5).

Kurangnya keahlian
Seorang klien (asia) komplain mengenai semua jenis permasalahan fisik seperti sakit kepala, hilang nafsu makan, dan ketidak mampuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan insomnia. Dia bertanya pada ahli terapi jika masalahnya dapat dikarenakan “kegelisahan”. Ahli terapi mengira depresi karena merupakan beberapa manifestasi gangguan dan menanyakan klien apakah dia merasa depresi dan sedih. Pada titik ini, klien berhenti sejenak dan terlihat bingung. Dia akhirnya menyatakan bahwa dia merasa sakit dan bahwa permasalahan fisik ini membuatnya sedih. Pandangannya adalah bahwa hal ini wajar baginya merasa sedih ketika sedang sakit. Ketika ahli terapi menindaklanjuti dengan mencoba untuk menentukan apakah ada sejarah keluarga yang mengalami depresi, klien tampak semakin tidaknyaman dan lebih membela diri. Meskipun klien tidak pernah secara langsung menentang sang ahli terapi, namun dia tidak kembali untuk melanjutkan sesi berikutnya. (Tsui & Schultz seperti yang disebutkan dalam Sue & Sue, 2003, hal 334).

Jika konselor ini mempunyai pengetahuan dan keahlian yang sesuai, dia akan mengetahui bahwa untuk klien asia pikiran dan tubuh tidak dapat dipisahkan, dan keluhan fisik merupakan sebuah alat yang biasa dan dapat diterima dalam mengungkapkan permasalahan emosional. Sebuah tanggapan yang sesuai pada klien ini sebaiknya berfokus pada keluhan somatic dan menyarankan perawatan fisik sebelum bekerja dengan permasalahan emosional. (Sue & Sue, 2003)

Seperti yang anda lihat pada contoh kotak 14.5, ada sebuah hubungan yang erat antara keyakinan kita mengenai klien yang berbeda secara budaya, dasar pengetahuan kita berkaitan dengan klien ini, dan penggunaan skill kita yang efektif. Konselor yang memiliki sebuah pemahaman yang jelas mengenai dirinya, khususnya identitas budaya mereka sendiri, bisa mengembangkan sikap dan keyakinan yang sehat dan mendapatkan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk bekerja dengan klien yang berbeda, dan dapat mengimplementasikan keahlian yang sesuai untuk klien yang berbeda secara budaya.

Permasalahan Multikultural: Konseling Multikultural Seperti “Tekanan Keempat”

Sebuah artikel yang ditulis oleh Essandoh (1996) memunculkan kemungkinan bahwa konseling multikultural mungkin mewakili sebuah paradigma baru dalam profesi konseling –sebuah “tekanan keempat”. Tiga tekanan pertama dalam profesi kita diidentifikasi sebagai perkembangan psikoanalisis, behaviorisme, dan psikologi humanistik, berturut turut. Namun, Essandoh memperingatkan bahwa proses aplikasi teori untuk praktek berjalan lambat, dan dia menyebut kita aktifis dalam menekan perkumpulan profesi kita dan kolega kita untuk menemukan teori baru dan mengadaptasi teori yang ada dan konsep dalam praktek klinik mereka:

Apa yang diperlukan adalah lebih banyak tindakan yaitu mengaplikasikan teori dan konsep dalam praktek klinik. Ketika hal ini terjadi pada skala yang besar, konseling multikultural dan terapia kan memiliki legitimasi yang dimiliki tiga tekanan pertama, dan hal ini akan membuka pintu untuk penelitian yang lebih memiliki informasi untuk menggerakan konseling multikultural dari sebuah posisi dimensi keempat ke salah sati tekanan keempat. (Essandoh, 1996, hal 136)

Konseling multikultural mengubah cara dimana kita memahami hubungan konseling. Hal ini mengubah banyak paradigma yang telah mengendalikan profesi selama 50 tahun terakhir (Pedersen, Draguns, Lonner, & Trimble, 2002). Hal ini sebenarnya mungkin tekanan keempat yang akan menjadi instrumen dalam mengubah profesi pada milenium mendatang (Locke & Faubert, 2003).


Etika, Profesional, dan Permasalahan Legal

Ekspansi Stándar Multikultural Dan Model Pelatihan

Dengan meningkat, estándar konseling multikulturalm kode etik, panduan, dan kompetensi telah menyaring ke dalam setiap aspek profesi konseling. Perubahan ini digambarkan sebagai berikut.

CACREP

Sekarang, CACREP mensyaratkan bahwa alamat program “Permasalahan Sosial dan Budaya” dalam kurikulum mereka. Untuk memenuhi persyaratan CACREP, konselor program pelatihan cenderung untuk baik melepaskan perspektif multikultural keseluruh program konseling mereka, menawarkan tugas yang terpisah dalam konseling multikultural, atau melakukan keduanya (Arthur & Achenbach, 2002), meskipun dengan meningkat, pentingnya “melakukan keduanya” telah disoroti.

Pada saat ini, CACREP sedang bekerja memperbaiki standarnya, dan telah sampai pada beberapa kritik yang belum terbuka untuk umpan balik sehubungan dengan permasalahan multikultural (D’Andrea, 2005). Ini menangkis, menyatakan bahwa hal ini memiliki sebuah proses umpan balik dan bahwa mereka ang telah mengeluh tidak mau mengikuti proses ini (Bobby, 2005). Apakah anda setuju atau tidak dengan kritik tersebut, jelas bahwa CACREP telah sampai sejauh ini dalam fokusnya pada permasalahan multikultural. Pertanyaannya adalah, apakah hel ini telah bergerak cukup jauh?

Kompetensi Konseling Multikultural

Untuk memandu konselor pendidik dalam pelatihan konselor, kita telah melihat perkembangan Kompetensi Konseling Multikultural seperti sebuah dokumen yang mengoperasikan kompetensi (ACA 2002d, Arredondo, 1999; Arredondo dkk, 1996; Hill 2003; Roysicar, Arredondo, Fuertes, Ponterotto, & Toporek, 2003, Roysircar, Sandhu, & Bibbins, 2003). Kompetensi ini, yang mewakili standar minimal yang diperlukan konselor jika mereka akan bekerja secara efektif dengan klien yang berbeda beda, menggambarkan sikap dan keyakinan, pengetahuan, dan keahlian dalam tiga area: (1) kesadaran diri konselor terhadap anggapan, nilai nilai, dan prasangka prasangka, (2) pengetahuan pandangan dunia mengenai klien yang berbeda budaya, dan (3) keterbiasaan dengan strategi intervensi dan tekniknya (lihat lampiran B untuk kompetensi).

Kode etik dan standar penilaian

Seperti tercatat pada bab 3, sekarang ini kita menemukan bahwa kode etik ACA secara meningkat ditujukan pada permasalahan multikultural (lihat table 3.4). juga pada area penilaian, sejumlah kode, panduan, dan hokum telah dilewati yang menunjang pentingnya kejujuran lintas budaya dalam tes dan penilaian (Neukrug & Fawcett, 2006; lihat bab 12)

Panduan dan Standar Lain

Perkumpulan professional dengan meningkat menunjuk permasalahan multikultural. Seringkali, website American Counseling Association dan the American Psychologicl Association menawarkan brosur dan panduan yang berhubungan dengan permasalahan keberagaman, termasuk daftar pustaka yang dicatat, beasiswa, permasalahan akreditasi, bank pekerjaan, dan lain lain (lihat APA, 2005c). anda terdorong untuk mengunjungi website ini untuk tetap memotong pinggiran permasalahan penting ini.

Model pelatihan

Model pelatihan dengan meningkat berkembang untuk meyakinkan siswa yang sedang bekerja secara efektif dengan klienyang berbeda budaya (“…tahunan pertama”, 2003). Misalnya, satu model berbicara mengenai pentingnya sebuah aktifitas imersi yang memungkinkan siswa mempunai cukup waktu untuk mengalami dan merefleksikan budaya lain (misalna, menghabiskan beberapa minggu menghadiri sebuah gereja yang hanya berisi orang orang kulit hitam) (DeRicco & Sciarra, 2005). Model percobaan, yang dikembangkan oleh Pedersen (2001), menyarankan bahwa klien, konselor, anti konselor, dan seorang yang pro konselor memberikan umpan balik yang berkesinambungan dan langsung pada konselor dalam usahanya untuk meningkatkan kemampuan konselor untuk memahami perspektif klien, mengenali hambatan klien, mengenali pembelaan konselor, dan mempelajari bagaimana memperbaiki kesalahan yang mungkin dibuat konselor selama wawancara. Model pelatihan seperti pada DeRicco dan Sciarra, dan Pedersen menawarkan cara yang inovatif dan menantang untuk merangsang pembelajaran siswa akan keahlian konseling lintas budaya.

Daftar Nama Pelatihan

Ponterotto, Alexander, Grieger (1995) menawarkan sebuah daftar nama untuk menilai apakah program tersebut memenuhi kompetensi dan standar minimal atau tidak selama pelatihan dalam konseling multikultural. Guru anda mungkin ingin mengulas daftar nama ini dan membahas apakah program anda berbicara mengenai kompetensi dan estándar multikultural.

Pemikiran terakhir pada standar dan model pelatihan

Nampakna bukti bahwa estándar dan model pelatihan tersedia. Namun, sebuah tugas penting ang ada pada kita –dapatkah kita mengimplementasikan model dan standar ini pada sebuah cara unguk membuat perubahan yang signifikan dalam cara dimana kita bekerja dengan klien yang berbeda budaya.

Asosiasi Untuk Konseling Dan Perkembangan Multikultural

Dalam sebuah usaha untuk menyuplai kepemimpinan untuk membantu para profesional dala marea konseling multikultural, Association of Multikultural Counseling and Development (AMCD), sebuah divisi ACA, menyediakan pelatihan, lulus program pelatuhan estándar dalam konseling multikultural, dan publikasi, seperti Journal of Multikultural Counseling and Development. Jika anda memiliki sebuah minat tertentu dalam konseling multikultural, pelatihan dan penelitian, anda mungkin mempertimbangkan untuk bergabung dengan AMCD (kunjungi www.amcd-aca.org/).

Pengetahuan Trend Legal

Dalam setiap bab dari teks ini anda akan menemukan beberapa inisiatif legislative yang berbicara mengenai perhatian multikultural, dan setiap tahun hokum baru dilewati dan yang lama diamandamen. Konselor perlu untuk mengintimasi pengetahuan hokum dan bagaimana hal ini mempengaruhi klien yang berbeda budaya jika mereka akan (1) membantu klien dalam mengadvokasi hak haknya; (2) menjadi seorang advokat bagi klien; (3) mengkampanyekan inisiatif legislative pada tingkat local, Negara bagian, dan nasional; dan (4) melindungi diri mereka sendiri dari gugatan malpraktek yang berpotensi.

Konselor Dalam Proses: Bekerja Dengan Klien Yang Berbeda Budaya

Sue dan Sue (1999) mencatat bahwa bekerja dengan klien yang berbeda harus dilihat sebagai sebuah proses perubahan yang konstan. Dalam konteks ini, mereka menyatakan bahwa hubungan yang membantu “merupakan sebuah proses aktif, yang berkesinambungan, dan bahwa ini merupakan sebuah proses yang tidak pernah sampai pada titik akhir. Selengkapnya adalah pengakuan kompleksitas dan keberagaman klien dan populasi klien, dan pengakuan batasan kita sendiri dan perlu untuk selalu berkembang”. (hal. 227).

Satu cara konselor dapat meyakinkan bahwa mereka secara terus menerus mengembangkan cara interaksi mereka dengan klien dari berbagai latar belakang adalah melalui pengawasan (Estrada, Frame, & Williams, 2004). Meskipun pengawasan merupakan hal yang sangat penting melalui kehidupan profesional konselor, dengan klien minoritas yang memiliki angka keluar lebih tinggi dari konseling dan menjadi kurang puas dengan konseling, pengawasan yang memadai dari hubungan konseling lintas budaya menjadi lebih kritis. Konselor harus yakin bahwa mereka mencapai semua kliennya. Mereka tidak bisa dengan malas menunggu dan menganggap bahwa pekerjaan mereka dengan klien minoritas seefektif pekerjaan dengan klien mayoritas.

Rangkuman

Bab ini mengulas permasalahan teoritis dan praktis sehubungan dengan konseling multikultural. Kita mulai bab ini dengan mencatat bahwa selama tahun ini konseling multikultural telah didefinisikan dengan cara yang berbeda, dengan beberapa pemaksaan dimana konseling multikultural harus berfokus hanya pada kelompok minoritas tersebut yang paling didiskriminasi, ketika yang lain memaksa bahwa semua hubungan konseling merupakan sebuah multikultural alami. Ambilah sebuah pendekatan ditengah tengah, kita mencatat bahwa semua hubungan konseling menantang konselor unguk bekerja melalui perbedaan nilai, namun bahwa konselor harus memperoleh keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan kelompok budaya tersebut yang telah dirusak dengan berat oleh masyarakat untuk mencegah kerusakan tambahan karena kurangnya kesadaran konselor akan permasalahan multikultural.

Kemudian kita membahas beberapa alasan mengapa konseling multikultural telah menjadi sangat penting. Pertama kita mencatat bahwa klien dari budaya yang berbeda telah salah didiagnosa, karena dikecewakan oleh konseling, dan angka keluar dari konseling cukup tinggi. Kemudian kita mencatat mengapa klien minoritas terkadang disajikan dengan buruk oleh konselor, termasuk kenyataan bahwa beberapa konselor (1) melihat negara ini sebagai sebuah titik leleh daripada sebuah mosaik budaya, (2) mempunyai harapan yang tidak kongruen mengenai konseling, (3) kurang pemahaman mengenai tekanan sosial, (7) telah menggunakan penilaian dan instrumen penelitian yang diprasangkakan dan tidak dapat diandalkan, (8) tidak sadar akan bagaimana rasisme institusional mempengaruhi proses konseling, dan (9) tidak diberikan informasi mengenai bagaimana cara proses konseling hanya bekerja dengan baik dengan jenis klien tertentu.

Dalam sebuah cara untuk memberikan kita lahan yang biasa untuk berkomunikasi, sejumlah istilah didefinisikan dalam babi ni. Kita mendefinisikan budaya, diskriminasi, etnis, minoritas, perbedaan kekuatan, sexisme, heterosexisme, dan prasangka seksual, kelas sosial, stereotipe, prasangka, dan rasisme. Kita juga membahas istilah yang benar secara politis yang pada umumnya digunakan untuk menggambarkan berbagai kelompok budaya di Amerika Serikat.

Pada bab ini sejumlah model konseptual ditawarkan untuk membantu kita memahami pekerjaan kita dengan klien dari latar belakang yang berbeda. Speight dan kawan kawan (1991) menawarkan sebuah model yang membantu kita memahami bagaimana tiap individu adalah pribadi yang unik (Eigenwelt), berbagi pengalaman dengan sebuah budaya (Mitwelt), dan berbagi pengalaman universal (Umwelt). Menggambarkan sebuah model perkembangan minoritas, Bell dan Evans (1981) menjelaskan perbedaan antara empat gaya yang berhubungan dengan dunia, yang termasuk gaya akulturasi, bikulturasi, gaya yang terbenam secara budaya, dan gaya tradisional interpersonal. Menawarkan sebuah perspektif perkembangan, Atkinson (2004c) mengusulkan model lima tahap perkembangan identitas minoritas, yang termasuk kenyamanan, ketidaknyamanan, hambatan, dan percepatan, instropeksi, dan kesadaran sinergi dan integrasi.

Mengingat model identitas minoritas membantu konselor memahami klien yang berbeda budaya dan membantu konselor minoritas dalam memahami diri mereka sendiri, model perkembangan identitas kulit putih membantu sisiwa kulit putih yang lulus dalam konseling memahami bagaimana dia mungkin bereaksi terhadap klien minoritas. Menemukan tema yang sama yang berlaku melalui tiga model identitas kulit putih, Sabnani dan kawan kawan (1991 mengembangkan sebuah model tahapan yang mungkin dilalui siswa ketika mereka lulus sekolan. Tahapan tahapan tersebut termasuk pre-exposure, exposure, prominoritas/antirasisme, kembali ke budaya kulit putih, dan mendefinisikan ulang serta integrasi. Kita melihat pada bagaimana empat model identitas kulit putih dapat dijelaskan menggunakan tahapan tahapan ini.

Ketika bab ini dilanjutkan, kita selanjutnya memeriksa secara spesifik untuk bekerja dengan klien yang berbeda dalam hubungan yang membantu. Kita pertama kali mengingatkan anda akronim “RESPECTFUL” yang diperkenalkan pada bab 1. Kita juga mencatat bahwa dengan tujuan untuk bekerja dengan klien dari latar belakang yang bermacam macam, sejumlah penulis telah menyarankan bahwa penting adanya bagi konselor memahami sikap dan keyakinan mereka, memiliki pengetahuan dasar dari banyak budaya asal klien kita, dan mengetahui keahlian yang diperlukan untuk bekerja sama dengan klien dari budaya yang berbeda beda.

Kita mencatat bahwa banyak orang yang menyebut konseling multikultural sebagai “tekanan keempat” dalam konseling dan bahwa hal ini mewakili sebuah paradigma baru dalam profesi konseling. Namun, kita mencatat bahwa proses aplikasi teori menjadi praktek berjalan lambat, dan kita mencatat bahwa pentingnya menantang diri kita sendiri dan kolega kita untuk mengembangkan teori baru dan mengadaptasi teori teori yang ada pada pengaturan konseling multikultural. Kita menyatakan bahwa program konseling harus mengitegrasi standar pelatihan multikultural jika konseling multikultural akan menjadi sebuah tekanan keempat.

Ketika bab ini kita lanjutkan, kita menyoroti peningkatan penekanan pada standar multikultural dan panduan panduannya, seperti pencantuman CACREP pada “permasalahan sosial dan budaya” pada standarnya, pencantuman yang ditingkatkan pada permasalahan multikultural dalam kode etik ACA, sejumlah panduan tes dan penilaian dan dokumen dokumen, seperti yang ditawarkan oleh the American Psychological Association. Kita juga mencatat bahwa model supervisi, seperti model Triad milik Pedersen dan teknik imersi milik DeRicco dan Sciarra, semakin meningkat menjadi merata dan penting. Kita menemukan bahwa sebuah daftar nama tersedia untuk dilihat jika program anda ditujukan pada kompetensi multikultural.

Mendekati akhir bab kita menyoroti beberapa aktifitas penting dari Association of Multikultural Counseling and Development (AMCD), sebuah divisi dari ACA. Kita juga menekankan bahwa banyak hukum yang sekarang mempengaruhi klien minoritas, dan konselor perlu memiliki pengetahuan yang lebih mendalam mengenai permasalahan legal jika mereka akan melayani klien mereka dengan sangat baik dan mengadvokasi permasalahan multikultural.

Akhirnya, kita menyimpulkan bab ini dengan mempersembahkan keyakinan Sue dan Sue (1999) bahwa konseling multikultural merupakan sebuah proses perubahan konstan yang aktif, berkesinambungan, dan tidak pernah berakhir. Kita membahas pentingnya mendapatkan supervisi ketika bekerja sama dengan klien yang bermacam macam dan mencatat pentingna bekerja dengan aktid agar efektif denga semua klien kita








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.