RASIONAL EMOTIF

5 04 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. PENGANTAR
Teori rasional emaotif (TRE) memisahkan diri dari beberapa sistem yang dipaparkan dalam buku ini yaitu pendekatan psikoanalik, terpusat pada pribadi, dan gestalt. Saya telah menyeleksi untuk dimasukkan didalamnya oleh karena ini merupakan perspektif yang menantang terhadap banyak dari isu dasar dari onseling dan psikoterapi. TRE banya kesamaannya dari terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku , dan perbuatan, dalam arti bahwa TRE menekankan pada berfikir, memperkirakan, mengambil keputusan, menganalisis dan berbuat.
TRE sangat didaktis, sangat direktif, dan memiliki kepedulian yang seimbng antara pikiran dan perasaan. TRE berdasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat yang timbal balik. Melalui perkembangannya TRE terus menerus menekankan kepada tiga modalitas itu serta interaksinya, dan oleh karenanya memberinya ciri sebagai yang menggunakan pendekatan elektik yang multi modal (Ellis, 1979a, 1979c, 1979e, 1987a, 1989).

B. NAMA PENDEKATAN DAN TOKOH PENGEMBANGNYA
Nama pendekatan dalam pembahasan ini adalah pendekata rasional-emotif.
Al Bert Ellis (Lah. 1913) lahir di Tittsburgh tetapi melarikan diri kebelantara newzork pada usia empat tahun dan selanjutnya tinggal disana (kecuali setahun ketika ia tinggal NewJersey) sejak itu. Pada masa kanak-kanak ia sebilan kali dirawat dirumah sakit, sebagian besar karena ganguan nethritis, dan kemudian berkembang menjadi Renal Glycosuria pada usia 19tahun, dan diabetes pada usia 40 tahun tetapi dengan ketangguhannya memelihara kesehatannya dan tidak mau meratapi akan keadaan kesehatannya yang buruk itu dia bisa menikmati kehidupannya yang penuh energi.
Dia tumbuhkembang dijalanan Dronx, dimana dia bermain bola tangan, hoke, dan sepakbola. Dalam banyak sebenarnya dia membesarkan dirinya sendiri (dan membantu membesarkan adik laki-laki dan perempuan) oleh karena ayah dan ibunya adalah orang yang cukup menyenangkan tetapi orang tua yang acuh-tacuh. Dia merencanakan sendiri karier pendidikannya setelah berketetapan untuk menjadi penulis dalam usia 17 tahun. Dia memasuki sekolah ekonomi atas dan masuk City College of Newyork dengan studi mayor administrasi niaga dengan harapan kelak bisa cukup memperoleh uang untuk membiayai pekerjaannnya untuk menulis apapun yang ia suakai.
Depresi yang melanda amerika serikat pada thun 1930-an memberi pengaruh pada Ellis tenteng impiannya menjadi pengusaha yang kaya tetapi ia tidak hentinya menulis, dan menyelesaikan menuskrip dengan sekedar buku senabanyak 20 buah, termasuk fiksi, puisi, darama, dan non fiksi pada saat ia berusia 28 tahun. Beberpa buah menuskripnya pernah hampir diterbitkan namun tidak satupun yang pernah berhasil diterbitkan. Tanpa ada rasa takut kecewa ia teruskan penelitian serta penulisannya dibidang seks cinta kasih dan perkawinan dan menjadi demikian menguasai bidang ini hingga banyak teman-teman serta anggota keluarganya yang minta nasehat tentng masalah pribadi masing-masing.
Karena menyadari akan ketrampilannya memberikan konsultasi pada orang banyak, dan juga merasakan betapa ia menikmatinya maka iapun bertekat menjadi psikolog. 8 tahun setelah kelulusannya dari Colege ia masuk matrikulasi program psikologi klinis di Teacer Colege, Columbia. Dia memulai prktiknya dalam bidang perkawinan, keluarga, dan terapi seks. Karena percaya bahwa psikoanalisis adalah betuk terapi yang paling dalam maka Ellis dianalisis dan di supervisi oleh aliran Karen Horni. Dari tahun1947-1953 dia mempraktikkan analisis klasik dan psikoterapi yang berorientasi pada analisis.
Setelah dia sampai pada sampai pada kesimpulan bahwa psikoanalisis itu secara relatif merupakan bentuk penangan yang semu dan tidak ilmiah maka dia pun bereksperiman dengan beberapa sistem yang lain. Pada awal tahun1955 dia menggabungkan terapi humanistik, filosofis, dan behavioral menjadi terapi emosiaonal emotif (TRE). Ellis berhak menyadang gelar ayahnya TRE dan kekeknya terapi kognitif Behavioral. Dalam sebuah wawancar dia ditanya sebagai apa kiranya, ia ingin dikenang setelah kemtian nanti :
Dalam bidang psikoterapi, saya igi dikatakan teori-tukus dan terapis perinti dari kognitif dan kognitif Behavioral, bahwa saya telah berjuang keras agar kognisi diterima dalam sebuah terapi, dan bahwa sebagian besar sebagai usaha saya, ahirya diterima juga biarpun agakterlambat (Dryden, 1989, Hlem. 545)
Sampai ketingkat tertentu Eliis mengembangkan pendekatannya sebagai suatu metode penanganan masalahnya sendiri selama masa mudanya. Dalam salah satu segi hidupnya misalnya ia merasa ketakutan yang berlebihan untuk berbicara didepan orang banyak. Pada masa Adolesen dia sangat pemalu dihadapan anak perempuan. Pada usia 18 tahun ia paksakan diriany untuk berbicara dengan 100 gadis di Bronx Botanical garden dalam jangka waktu satu bulan. Biarpun dia tidak pernah berhasil berkencan denga seseorang dalam pertemuannya yang singkat itu ia melaporkan bahwa ia telah mendesensitisasi dirinya sendiri terhadap rasa takutnya ditolak wanita. Dengan mengaplikasikan metode kognitif behavioaral dia telah berhasil mengalahkan beberapa dari rintangannya yang paling buruk (Eliis 1962, 1979c). Lagi pula, dia telah belajar betapa dia benar-benar menikmati berbicara didepan umum dan beberapa aktifitas yang lain yang dulunya pernah ia riasu kan .
Orang yang mendengar kuliah Eliis sering berkomentar tentang gayanya yang bisa membangkitkan pertengkaran, penuh humor dan flamboyan (Dryden, 1989). Dia memang melihat dirinya sendiri sebagi yang paling bisa menimbulkan pertengkaran dari orang lainnya dalam lokakaryany, dan ia juga menganggab dirinya sebagi orang yang penuh humor dan dalam beberapa hal mengejutkan. Dalam lokakaryanya nampaknya dia menikmati kebiasaannya untuk mengungkapkan keeksetrikannnya. Dia menikmati pekerjaannya sesuatu yang merupakan komitmennya yang utama dalam hidupnya. Ellis adalah orang yang sangat produktif dan penuh gairah dan tak ayal lagi ia menjadi penulis dalam bidang konseling dan psikoterapi yang paling lincah. Dia dalam kesibukannya sebagai seorang profesional dia masih menerima kilen sampai sejumlah 80 orang seminggu dn melakukan 5 sesi terapi kelompok semiggu, danberbicara 200 kali dalam lokakarya bagi masyarakt umum yang ia adakan setiap tahun. Dia telah menerbitkan buku lebih dari 50 judul dan menulis lebih dari 600 artikel, sebagaian besar tentang teori TRE dan mengaplikasikannya.

BAB II
KONSEP PENDEKATA RASIONAL EMOTIF

A. KONSEP DASAR
Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.

TRE adlah suatu bentu terapi behavioral yang berorientasi pada kognitif. TRE telah berkembang menjadi pendekatan yang komprehensif dan elektik yang memberikan tekanan pada pikiran, memberikan penilaian, memutuskan, dan berbuat. Pendekatan ini tetap mempertahankan kualitas yang didaktik dan direktif dari Ellis, dan pada dimensi kognitif dan perasaan TRE menaruh tingkan kepedulian yang sama. Dimulai dengan emosi dan perilaku klien yang terganggu, pendekatan ini mengungkapkan dan mempertimbangkan dan mempertanyakan pikiran yang menciptakan semuanya itu secara langsung.
TRE didasarkan pada suatu asumsi bahwa manusia memiliki potensi berfikir, baik yang rasional atau lurus maupun yang tidak rasional atau bengkok. Orang ada yang memiliki kecenderungan untuk menjaga kelangsungan keadaan dirinya, keberadaanya, kebahagiaannya, kesempatan memikirkan dan mengungkpkannya dengan kata-kata, mencintai, berkomunikasi dengan orang lain, sera terjadinya pertumbuhan dan aktualisasi diri. Mereka juga memiliki dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk merusak dirinya sendiri, menghindari dari memikirkan sesuatu, menunda-nunda, berulang-ulang melakukan kesalahan, percaya pada tahayul, tidak memiliki tenggang rasa, menjadi perfeksionis dan menyalahkan diri sendiri, dan menghindari adanya aktualisai potensi pertumbuhan yang dimilikinya.
Dengan anggapan bahwa manusia itu tidak sempurna, TRE berusaha untuk menolong mereka unutk mau menerima dirinya sebagai makhluk yang akan selalu membuat kesalahan namun pada saat yang bersamaan juga yang bisa belajar hidup damai dengan dirinya sendiri. Eliis (1979b) membuat dasar dari asumsi TRE.

B. ASUMSI PERILAKU BERMASALAH
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan; (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu; (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif
Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating, antara kenyatan dan imajinasi; (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain; (c) orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.
Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan; (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum; (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya; (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya; (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut; (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang; (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural; dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.

 Orang mengkondisikan diri sendiri merasakan adanya gangguan, dan bkan dikondisikan oleh sumber yang berasal dari luar dirinya.
 Orang ada kecenderungan biologis dan budaya untuk beroikir yang berbelit-belit dan menimbulkan gangguan pada dirinya sendiri, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
 Manusia itu unik dalam arti bahwa mereka menemukan keyakinan yang menggangu dan membiarkan dirinya terganggu oleh adanya gangguan itu.
 Orang ada kapasitas untuk mengubah proses kognitif, emotif dan behavioral mereka bisa memilih untuk memberikan reaksi mereka secara berbeda dengan pola yang biasanya mereka anut, bisa menolek untuk memberikan dirinya menjadi marah, dan bisa melatih diri mereka sendiri sehingga pada ahirnya nanti mereka bisa bertahan mengalami gangguan yang minim selama sisa hidupnya.

BAB III
TUJUAN, PERAN, DESKRIPSI, TEKNIK, KELEBIHAN DAN KETERBATASAN, SERTA CONTOH PENERAPAN RASIONAL EMOTIF

A. TUJUAN KONSELING
Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif.
Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif :
Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
Kedua, insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.
Ketiga, insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.
Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi terhadap pihak lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil risiko, dan (10) menerima kenyataan.

B. PERAN KONSELING
Untuk bisa mencapai sasaran yang telah ditentukan diatas, terapis memiliki tugas khusus. Langkah pertama adalah menunjukkan kepada klien bahwa mereka telah menunakan banyak hal ”yang seharusnya” ,”seyogyanya”, dan ”harus” yang irasional. Klien belajar untuk memisahkan pikiran mereka dari yang irasional dari yang rasional. Untuk memupuk kesadaran klien ini terapis bertindak sebagi ilmuwan yang menantang ide manaklukkan diri sendiri yang pada mulanya diterimanya dan ditemukannya sendiri tanpa mempertanyakannya apakah benar atau tidak. Terais mendorong, menghimbau, dan kadang-kadang sampai-sampai mengarahkan klien untuk melibatkan diri dalam kegiatan yang akan menagkis propaganda itu.
Langkah kedua dalam proses terapiutik membawa klien melampaui tahap kesadaran. Ditunjukkannya disi bahwa mereka memberikan gangguan emosional mereka tetap aktif dengan terus berfikir tidak logis dan dengan mengulang-ulang makna serta falsafah menggagalkan diri sendiri. Dengan kata lain, oleh karena itu klien tetap saja mengindoktrinasi diri, mereka banyak memikul tanggung jawab atas adanya masalah yang mereka alami. Bahwa terapis hanya sekedar menunjukkan kepada klien bahwa mereka mengalami proses tidak logis belumlah cukup. Karena mungkin sekali klien akan mengatakan ”sekarang saya mengerti bahwa saya merasa takut menemui kegagalan dan bahwa rasa takut itu debesar-besarkan dan tidak realistis”. Tetapi saya masih tetap gagal.
Untuk bisa melampaui kenyataan sekedar mengkui pikiran dan perasaan yang irasional dari si klien maka terapis mengalmi langlah ketiga; menolong mereka untuk memodifikasikan pemikiran mereka dan meninggalkan ide mereka yang irasional. Psikologi rasional emotif berasumsi bahwa keyakinan mereka yang tidak logis itu sudah sedemikian dalamnya tertanam hingga klien biasanya tidak mau mengubahnya sendiri. Oleh karena itu terapis membantu klien untuk bisa memahami lingkaran setan dari proses menyalahkan diri yang ada dalam diri klien.
Langkah ke empat dan terakhir dalam proses terapiutik adalah menantang klien untuk mengembangkan falsafah hidup yang rasional sehingga dimasa depan mereka bisa menghindari diri untuk tidak menjadi korban dari keyakinan irasional yang lain. Mengurusi hanya masalah atau gejalanya yang has tidak bisa memberi jaminan bahwa rasa takut yang tidak logis lalu tidak akan muncul. Oleh karena itu, apa yang didambakan menyerang inti dari pemikiran irasional dan mengjar klien cara menggantikan keyakinan dan sikap yang tidak rasional itu dengan yang rasional; makin ilmiah dan toleran siklien makin berkurang gangguan yang dideritanya.
Seorang terapis yang bekerja dalam kerangka TRE lain cara berfungsinya dengan sebagian besar dari praktisi yang lain. Oleh karena itu esensi TRE itu adalah proses behavioral yang kognitif dan direktif, maka TRE sering meminimalkan hubungan akrab antar terapis dan klien. Terapis hanya sekedar menggunakan metodologi persuasif yang memberi tekanan pada mendidik. Berikut ini adalah garis besar dari apa yang dilakukan oleh praktisi rasional emotif yang ditulis oleh Ellis (1989. hln. 215-216)
 Mendorong klien untuk menemukan beberapa ide irasional yang memotifasi banyak dari perilaku yang terganggu.
 Menantang klien untuk membuat idenya itu sahih, kalu bisa.
 Menunjukan kepada klien sifat tidak logisnya pemikiran mereka itu.
 Menggunakan humor dan kekonyolan-kekonyolan sebagi konfrontasi dengan ketidak rasionalan pemikiran klien.
 Membuat analisis yang logis untuk meminimalkan keyakinan irasionalnya klien.
 Menunjukkan betapa keyakinan ini tidak operatif dan betapa keyakinan itu akan membawa mereka kegangguan emosi dan perilaku di masa datang menerangkan betapa ide-ide ini bisa diganti dengan ide yang lebih rasional yang bertumpu pada data empiris.
 Mengajar klien cara mengaplikasikan pendekatan ilmiah pada jalan pikiran sehingga mereka bisa mengamati dan meminimalkan ide irasional di masa kini dan yang akan datang serta pengurangan tidak logis yang memupuk tumbuhnya cara berperilaku dan merasakan yang bersifat menghncurkan diri sendiri.
 Mengunakan beberapa metode emotif dan behavioral untuk menoong klien secara langsung menggarap perasaannya dan untuk berbuat melawan gangguan yang mereka derita.
Wassler dan Wessler (1980) melukiskan evolusi yang umumnya terjadi pada TRE. Selama sesi pertama yang kritis fokusnya adlah pada membangun suatu hubungan keakraban dan menciptakan macam hubungan klien/terapis yang bisa mendorong klien untuk berbicara bebas. Demikian aliansi kolaborasi Dan terpeutik itu terbentuk dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang ditarget untuk dieksplorasi, terapis mengajukan pertanyaan dengan jawaban terbuka (open-ended questions) seperti ; ”problema apa yang paling anda inginkan untuk mendapatkan pertolongan? Apa yang paling anda harapakan dari terapi? Penentuan sasaran merupakan tugas utama dalam fase awal terapi. Klien mengidentifikasikan perasaan, keyakinan, dan perbuatan yang ingin mereka kurangi atau hapuskan. Seorang terapis mungkin juga akan bertanya ;”dengan cara yang bagai mana anda ingin memikirkan, merasakan, dan perbuatan yang berbeda dengan apa yang anda lakukan, pikirkan, atau pun rasakan sekarang?’.
Klien kemudian diorientasikan pada prinsip dasar dari TRE. Terapis rasional emotif mengeluarkan misteri itu dari proses terapeuitil. Mereka ajarkan kepada klien tentang hipotesis kognitif dari gangguan, dengan menunjukkan betapa keyakinan irasional yang mereka milki itu membawa konsekuensi negatif. Mana kala klien memahami bahwa keyakinan irasional yang mereka miliki membawa mereka pada emosi serta perilaku yang tidak berfungsi, terapis pun menantang klien untuk meneliti mengapa mereka tetap bergelayut pada konsep keliru yang dulu dan bukan membiarkan dirinya terbatas dirinya.
Pekerjaan rumah didesein dengan cermat, diarahkan untuk membuat klien mau melakukan hal-hal positif dan mengstimulasikan perubahan emosi dan perilaku. Tugas-tugas ini dicek kembali pada sesi berikutnya, dan klien mempelajari cara efekti untuk menetang pemikiran yang menggagalkan diri sendiri. Menjelang berakhirnya terapi klien mengkaji ulang kemajuannya, menyiapkan, merencanakan, dan mengidentifikasikan strategi untuk menangani masalah yang selalu muncul atau yang potensial.
Sebagai rangkuman terapis TRE secara aktif mengjarkan kepada klien bahwa menyalahkan diri sendiri merupakan salah satu oenyebab utama dari terjadinya gangguan emosi bahwa ada kemungkinan mereka bisa menghentikan menilai diri mereka sendiri atas penampilan mereka; dan bahwa dengan kerja keras dan dengan mengerk=hakan pekerjaan rumah mereka tentang perilaku, mereka bisa membebaskan diri dari pemikiran irasional yang akan membawa mereka ke ganguan dalan hal merasakan dan perilaku.
TRE berbeda dengan bnyak pendekatan terapeutik lainnya dalam hal tidak diberikanya nilai tinggi pada asosiasi bebas, pengarapan mimpi, pemfokusan pada catatan sejarah klien di masa lalu, pengeksplorasian dan pengungkapan perasaan yang terus menerus dan bersifat obsesif dalam menangani gejala transferensi. Ellis (1989) percaya bahwa terlalu lama menekuni faktor-faktor itu mrupakan ”terapi manja” yang mungkin akan berakibat merasa lebih baik tetapi jarang bisa membantu mereka untuk menjadi lebih baik.

C. DISKRIPSI PROSES KONSELING
Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.
Tugas konselor menunjukkan bahwa
• masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional
• usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung; (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien; (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya; (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.

D. TEKNIK KONSELING
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
Teknik-teknik Kognitif
a. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan asertif adalah :
(a) Mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya;
(b) Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;
(c) Mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri.
(d) Meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri

E. KELEBIHAN DAN KETERBATASAN

(a). KELEBIHAN DAN SUMABANGAN PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF
Ada aspek-aspek TRE yang saya angap sebgi sesuatu yang amat berharga pada saat menangani klien, baik secara individual maupun dalam kelompok. Saya bahwa orang penting bagi kita di masa lalu telah men=mberikan sumbangannya pada pembentukan gaya hidup kita seta falsafah hidup kita di masa sekarang. Namun, saya sangat sependapat dengan Ellis, saya berpendapat bahwa kitalah yang bertanggung jawab akan tetapnya ide dan sikap merusak diri sendiri yang mempengaruhi transaksi sehari-hari kita. Kita mungkin telah tahu bahwa kita haruslah sempurna dan bahwa merupakan hal yang esensial untuk bisa dicintai dan disepakati oleh setiap orang; namun maslahnya adalah bahwa kita masih juga tanpa ampun mempraktekkan itu semua terhadap diri kita masing-masing. Saya bisa mengnggap pertanyaan berikut ini ada banyak artinya, misalnya, ” apakah asumsi anda, dan apakah keyakinan dasar anda? Apakah anda benar-bear telah meneliti dengan cermat beberapa dari ide inti dari makna kehidupan anda untuk memastikan apakah semua itu nilai anda sendiri atau hanya sekedar interojeksi?’.
Dan lagi dalam psikoterapi saya memberi nlai pada pikiran dan juga merasakan dan menghayati. Saya kritis terhadap banyak kelompok pendekatan, terutama pada kelompok pendekatan konfrontatif dan sentivits, yang melihat berpikir, menduga-duga, dan ,enilai dengan sikap meremehkan dan diman menghayati perasaan di-sini dan sekarang dan ”reaksi mendalam” dilihat sebagai yanhg sama dengan kesehatan psikologis. Setelah seorang menglami pengalaman katartik atau emosi yng sangat intensif yang ada kaitannya dengan trauma sbelumnya, maka usaha untuk konseptuaisasi dan pembenaran makna pada pengalaman itu mutlak harus dilakukan hanya kalau hal semcam itu akan bisa memberi efek yang tahan lama. TRE memang menawaarkan dimensi kognitif dan banyak keputusan yang telah mereka ambil serta nilai yam-ng mereka anut.
Sumbangan lain dari TRE adalah penekanannya utnuk mengaktifkan pemahaman yang baru didapatkan. Metode pemberian pekerjaan rumah sangatlah cocok untuk menjadikan klien mampu mempraktekkan periaku baru dan membantu mereka dalam proses rekondisi mereka. Terapi realitas, terapi Alder, terapi Behavioarl dan terapi transaksional sama-sama berorientasi pada perbuatan seperti pdahalnya dengan TRE. Klien bisa mendapatkan pemahaman yang berlipat ganda dan bisa menjadi amat sadar akan sifat maslah mereka, tetapi saya mempartanyakan nilai pemahaman diri sendiri kecuali jika rencana spesifik yang akan membawa keprubahan perilaku yang didambakan oleh klien di implementasikan. TRE terus menekankan pada fase perbuatan ini sebagai suatu bagian krusial dari proses terapi.
Sumbnagan TRE yang utama adalh penekanannya pada praktek terapeutik yang komprehensip dan elektik. Banyak teknik kognitif, emotif dan behavioral yang dapat digunakan untuk bisa mengubah emosi dan perilaku seseorang dengan jalan mengubah struktur kognisinya. Selanjutnya, TRE terbuak bagi pengguna prosedur terapeutik yang bersumber dari aliran lain, terutama dari terapi behavioral.

(b). KETERBATASAN DAN KRITIK PADA TERAPI RASIONAL EMOTIF

Kritekan utama saya yang saya tujukan pada TRE mencakup seluruh kehidupan klien yang diingkari dan diabaikan oleh pendekatan ini. Seperti yang anda ingat, rasional emotif tidak mendengarkan riwayat klien, dan jelas mereka tidak mendorong klien untuk secara mendetil hanya menceritakan ”cerita berkepanjangan tentang kepedihan”. Mereka hanya sdekit saja memenfaatkan dinamika yang tidak disadari, asosiasi bebas, dan hubungan mimpi, dan hubungna transferensi. Meskipuan demikian beberapa orang praktisi TRE menekankan pada pembentukan hubungan saling percaya dan hubungan kerja sama antara terapis dan kliennya, Ellis berpendapat bahwa dimensi kehangatan personal, suka sama klien, dan minat pribadi atau rasa peduli bukan merupakan unsur esensial dari terapi efektif.
Pandangn saya adalah bahwa praktek terapeutik ada nilainya kalau kita menaruh perhatian pada masa lalu klien, tanpa harus terpaku dimasa lalu ini dan tanpa harus mengasumsikan posisi yang bersifat fatal mengenai pengalaman traumatik pada waktu yang lalu. Susah bagi saya untuk percaya pada klien untuk dapat berubah secara signifikan dan tahan lama kalau mereka tidak mengenali dan tidak mau menerima sejarah mereka kemudian bisa berdamai dengan konflik yang tidak terselesaikan di masa lalu sehigga perasaan ini tidak mengganggu merekan dalam berfungsi di masa akan sekarang. Saya juga menghargai kekuatan terapeutik dari peralatan seperti asosiasi bebas, karya mimpi, dan kerja sama dengan transfernsi muncul, Ellis akan menyerangnya dengan dasar bahwa bahwa klien sedang menciptakan hubungan palsu antara terapis dengan orang lain yang signifikan di masa lalu. Saya bahwa perasaan seperti itu bisa mengajar klien tentang kawasan dalam hidup mereka yang masih mereka perlukan untuk dieksplorasi dan diselelsaikan. Menyerang parasaan seperti itu hampir tidak bisa menolong klien dalam kerja sama terapieutik mereka.
Banyak klien yang dengan mudahnya diintimidasi oleh konfrontasi yang cepat seperti itu, terutama terapis ketika belum mendapatkan respek dari kliennya, setelah terciptanya hubungan yang kokoh antara keduanya. Apabila kilien merasa tidak didengarkan atau tidak benar-benar depedulikan, maka akan ada kemungkinan besar klien akan meninggalkan terapis. Disinal terapi terpusat pada pribadi dan beberapa dari prosedur aktif dan direktif TRE bisa dijodohkan. Bagi saya adalah hal yang namoaknya penting kalau inti kondisi terapeutik dalam hal penciptaan hubungan seperti yang dijelaskan oleh Rogers dijadikan langkah awal yang amat bagus untuk memulai kegiatan terapis. Demikian klien dan terapis maenjalin hubungan saling percaya dan klien merasa bahwa mereka memang didengarkan, diterima, dan dipedulikan oleh terapis maka tantangan dan konfrontasipun sudah beres.
Akhirnya yang menjadi perhatian saya terhadap klien bisa dengan dipraktekkan dalam TRE adalah klien bisa dengan mudah terbius oleh kekuatan dan wewenang terapis dengan menerima pandangan terapis tanpa benar-benar menetangnya atau menginternalisasi ide-ide baru. Untuk mencegahnya, agaknya terapis haruslah benar-benar tahu akan dirinya sendiri serta menjaga agartidak sekedar memaksakan falsafah hidup mereka sendiri pada klien. Isu yang kemudian menjadi perilaku rasional merupakan isu senral disini. Kenyataan bahwa terapis rasional emotif berasumsi posisinya yang demikian konfrontatif dan direkatif bisa menyulut bahaya. Dalam TRE yang dianggap sangat pentiing adalah tingkat latihan, pengetahuan, ketrampilan, kemampuan persuasi dan pengarahan, bahaya psikologi lebih besar kemungkinannya bisa terjadi kalau dibandingkan dengan pendekatan yang terpusat pada pribadi yang kurang direktif. Terapis harus sadar kapan harus memberi motifasi klien dan kapan tidak. Bahaya bagi seorang terapis tidak terlihat Yang menggunakan TRE adalah bahwa mereka mungkin memandang terpi senagai ”menempa” klien dengan persuasi, indoktrinasi, logika, dan saran. Jadi, seorang terapis bisa salah mengunakan TRE karena mengecilkan arti penggunaannya, yaitu karena memanfaatkannya sebagai metode penyembuhan cepat yaitu, dengan mengatkan kepada klien bahwa ada sesuatu yang salah dengan mereka dan cara untuk membuat mereka bisa berubah.
Cara untuk membatasi kerugain.
Bila TRE dilakukan seperti cara yang dilukiskan oleh Ellia, bahaya-bahaya itu akan sangat berkurang. Ellis jarang mempertanyakan keinginan, pilihan, nilai, atau moralitas klien. Apa yang memang ditanyakan adalah apa yang harus atau seyogyanay dan tuntunan-tuntuanan mereka yang irasional. Jadi kalau seseorang berkata ”saya inginkan percintaan yang romantis” atau ”saya lebih suka menahan untuk melakukan sek” Ellis jarang menyatakan ketidak setujuannya. Namun sebaliknya ketika orang terseb ut yang berkata ”saya harus mendapatkan percintaan yang romantis” atau ”saya harus menahan diri dari sek” ia akan menantang pandangan yang mengharuskan hal tersebut dan mendorong klien untuk mengubah dengan mengungkapkan penentuan pilihan yang pasti. Yang merupakan keyakinan Ellis adalah bahwa cabang TRE ini, dengan sesuatu yang didambakan tetapi bukan merupakan hal yang rasional itu bisa mengurangi sampai batas minimal intoleransi, absolutisme, dan ganguan emosional.
Baik juga untuk digaris bawahi bahwa TRE dapat dilakukan oleh banyak orang dengan yang tidak seperti gaya Ellis. Oleh karena itu ada banyak yang bisa terlihat dari Ellis, ada menfaatnya untuk membedakab prinsip dan teknik TRE dengan cara Ellis yang demikian konfrontatif daam penggunaan TRE. Seorang terapis juga bisa berbicar dengan nad lembut dan ramah dan masih juga menggunakan TRE. Ada kalanya praktisi baru TRE mungkin berasumsi bahwa mereka harus mengkuti gerak cepat Ellis. Walen et al. (1980) berpendapat bahwa asumsi ini tidak benar, oleh karena terapis pemula itu mungkin tidak bisa menitu penampilan Ellis. Para praktisi TRE menggunakan banyak gaya efektif. Wassler dan Wassler (1980), yang setuju mengatakan tidak ada cara tunggal untuk memmrakekkan gaya yang berbeda, tergantung siapa kliennya dan apa yang terjadi selama berlangsungnnya sesi. Merelka menambahkan TRE tidak sinonim dengan suatu gaya tertentu. TRE juga tidak sinonim dengan teknik, jumlah aktifitas yang dipakai, dan derajat direktif, meskipun sudah sampai pada jenjang sama-sama aktif dan direktif.
Dalam kritiknya terdapat modifikasi kognitif behavioral Meichenbaum, Petterson (1986) mengajukan beberapa pertanyaan yang bagus yang bisa diaplikasikan pada sebagian terapi kognitif behavioral. Isu dasar adalah menemukan cara terbaik untuk mengubah dialog internal siklien. Apakahb mengajar siklien secara langsung itu itu merupakan pendekatan yang paling efektif? Apakah kegagalan klien unutk bisa berfikir secara rasional dan logis selalu disebabkan oleh tidak dimilikinya pengertian tentang penalaran atau penyelesaian masalah? Apakah belajar dengan menemukan sendiri itu lebih efektif untuk memodifikasi pernyataan klien tentang dirinya sendiri adalah embelajaran dedaktif? Apakah belajar dengan menemukan sendiri itu lebih efektif dan lebih awet dari pada diberi pelajaran oleh terapis?
Kritik tentang semua pendekatan kognitif termasuk TRE adalah bahwa pendekatan itu kurang peduli terhadap faktor ketidak sadaran dan pertahanan ego dibanding degan yang saya pedulikan. Saya mempertanyakan asumsi dari pendekatan ini yang menyatakan bahwa sebagiab masalah bisa diselesaikan tanpa harus mengeksplorasi materi ketidak sadaran. Saya juga mempertahankan pemahaman pandangan dari sebagian besar terapis bahwamengeksplorasi masa lalu adalah hal yang tidak efektif untuk menolong klien mengubah pemikiran kelirunya serta perilakunya. Dengan beberapa hal tidak cukup banyak penekanan yang diberikan pada pemberi dorongan kepada klien untuk mengungkapkan dan mengeksplorasi perasaan mereka. Saya kira terapi konitif bisa berjalan baik demikian klien telah menghayati perasaan mereka, yang seringkali terjadi pada saat mereka menghidupkankembali serta bekerja lewat isu emosional mereka di masa lalu.

F. CONTOH PENERAPAN
Contoh berikut ini mewakili suatu pendekatan yang mungkin diambil oleh klien dalam mengembangkan alternaitif interpretasi peristiwa dan oleh karenanya mengubah perasaan yang mengitari peristiwa itu (Beck, 1976) :
Situasonya adlah pada saat dosen anda tidak mengajak anad dalam situasi kelas khusus. Perasaan anda mungkin ada segi depresinya. Secara kognitif anda mengira dan mengtakan kepada diri anda sendiri ; dosen saya mengira bahwa saya ini bodoh dan tidak akan memiliki sesuatu yang pantas kepada perserta dikelas itu. Lebih lagi, ia memang benar, kerena yang diundang memang semuanya lebih pandai dan bisa berbicar a lebih baik Dari saya. Beberapa interpretasi alternatif adalah bhwa dosen ingin mengjak yang lain dalam diskusi itu, bhwa ridak punya waktu dan ingin segera memulai kegiatannya, atau bahwa ia sudah tahu pandangan anda.
Seperti yang sudah bisa dilihat dalam contoh itu, Beck berusaha agar klien menjadi sadar akan adanya distorsi dalam pola pemikirannya. Dia menyurhnya melihat kesimpulan yang dibuatnya, yang mungkin keliru. Mereka melihat betapa mereka sampai pada suatu kesim[ulan (ketetapan yang anda buat bahwa anda adalah bodoh; tidak memiliki hal yang pantas untuk ditawarkan) sedangkan tidak ada bukti bahwa kesimpulan itu benar. Klien juga belajar tentang proses membesar-besarkan pemikiran, yang termasuk didalamnya membesr-besarkan makana dari suatu peristiwa (jelas bahwa dosen itu mengira bahwa anda bodoh oleh karena ia tidak mengakui anda untuk ada dalam peristiwa yang satu itu). Beck juga menerapkan distorsi semacam itu sebagi tidak memperhitungkan aspk yang penting dari situasi itu, pemikiran yang terlalu disederhanakan dan kaku, dan mengeneralisasikan suatu peristiwa kegagalan yang terjadi sekali.

PENANGAN TERHADAP DEPRESI.
terapi kognitif asalmualanya dibentuk sebagi sarana penanganan depresi. Beck menolak anggapan bahwa depresi itu adalah menahan amarah yang diarahkan kedalam. Melainkan , dia memfokuskan pada isi dari pemikiran negatif yang bersifat menekan. Diantara klien depresi dia temukan pemantulan negatif dan kesalahan kognitif (Derubis & Beck, 1988). Oleh karena Beck dianggap sebagi salah satu dari orang yang paling berhak untuk disebut sebagai yang bisa menangani depresi akan saya paparkan disini bagai mana taktik terapeutiknya bisa diaplikasikan pada penanganan depresi itu.
Beck (1987) menulis tentang tiga serangkai kognitif yang memicu depresi. Menurut model ini, ada tiga komponen yang memberikan sumbangannya sehingga terjadi sindrom depresi. Dalam komponen pertama daro tiga serangkaki itu klien mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya sndiri. Mereka menyalahkan kekurangan mereka akan kekurang sempurnaan personalnya tanpa mempertimbangkan penjelasan akan situasi yang menyertainya. Mereka yakin bahwa mereka tidak memiliki kualitas yang harus ada untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Komponen kedua dari ketiga serangkai itu terdiri dari kecenderungan untuk menginterpretsi pengalaman secara negatif. Nampaknya hampir-hampir seperti orang yang mengalami depresi itu menyeleksi fakta-fakta tertentu yang bisa cocok dengan kesimpulan negatif mereka. Komponen ketiga dari tiga serangkai itu dikaitkan dengan pandangan dan proyeksi muram dari klien depresi tentang masa depan. Mereka harapkan kesulitan-kesulitan yang mereeka derita itu akan berlanjut, dan yang bisa mereka antisipasi hanyalah kegagalan.
Orang yang mudah dihinggapi seringkali menciptakan sasaran yang kaku dan serba sempurna untuk diri mereka sendiri, yang tidak mungkin dagapai. Harapan negatif dari orang seperti itu demikian kuatnya sehingga kalau mereka bisa sukses dalam tugas-tugas tertentu mereka tetap saja mengantisipasi akan datangnya kegagalan setelah itu. Mereka menyisihkan pengalaman keberhasilan mereka yang tidak konsisten dengan konsep buatan sendiri mereka yang negatif itu. Isi pikiran dari indifidu-individu yang menglami depresi berpusat pada rasa kehilangan yang signifikan. Rasa kehilangan yang tidak bisa dibalikkan serta ramalan negatif ini menyebabkan keadaan emosional berupa rasa susah, kecewa, dan apatis.
Inventaris Depresi Beck (IDB) didesain sebagai bentuk yang distandarisasi untuk memberi penilaian beberapa parahnya depresi yang dialami. Butir-butirnya didasarkan pada pengamatan pada gejala dan keyakinan dasar dari orang-orang deprsi. Inventaris itu berisi 21 kawasan gejala dan sikap berikut ini (1) kesedihan, (2) pesimisme, (3) rasa kegagalan, (4) ketidak puasan, (5) merasa bersalah, (6) rasa layak mendapatkan hukuman, (7) rasa membenci diri sendiri, (8) menuduh diri sendiri, (9) memiliki unutk bunuh diri, (10) dihantui keinginan menangis, (11) mudah murah, (12) menarik diri dari kehidupan sosial, (13) tidak mampu membuat keputusan, (14) bayangan tubuh yang terdistorsi, (15) menarik diri dari tugas, (16) ganguan tidur, (17) gejala untuk merasa kehabisan tenaga, (18) kehilangan nafsu makan, (19) kehilangan berat badan, (20) keasikan pada tubuhnya, dan (21) kehilangan libido. (Beck, 1975).
Dalam pengaplikasiannya pada klien depresi, pendekatan terapeutik Beck memfokuskan pada kawasan masalah spesifik (gejala) dan alasan yang diberikan klien mengapa nada gejala seperti itu. Beberapa dari gejala behavioral dari depresi adalah ketidak aktifan, penarikan diri, dan penghindaran diri. Klien melaporkan bahwa nereka terlalu lelah untuk berbuat sesuatu, bahwa mereka akan merasa lebih parah apabila mereka aktif dan apa yang mereka coba lakukan akan berakhir dengan kegagalan. Terapis cenderung unutk mengajukan pertanyaan gaya Sockrates seperti ”apakah anda akan kehilangan sesuatu apabila anda mencoba? Apakah keadaan anda akan lebih buruk apabila anda pasif? Bagaiomana anda bisa tahu kalau mencoba itu tidak ada gunanya?” yang termasuk dalam prosedur terapeutik diantaranya adlah membuat jadwal aktifitas, dengan tahap-tahap tugas yang harus diselesaikan. Pada mulanya klien diminta utnuk melakukan tugas yang mudah dulu, sehingga mereka akan muali aktif, merasakan kenikmatan sukses, dan menjadi sedikit poptimis. Maksudnya adalah memastikan adanya klien dengan terapis, berdasarkan suatu asumsi bahwa mengerjakan sesuatu akan membawa keperasaan yang lebih baik dari pada tidak mengerjakan apa-apa.
Ada kalanya klien depreasi akan bermuara pada keinginan untuk bunuh diri. De belakang gejala-gejala seperti itu sikap seperti ini akan sering dikemukakan ” saya merupakan beban bagi orang lain. Saya tidak bisa menangani masalah yang hadapi sendiri. Tidak ada gunanya melanjutkan lagi. Oleh karena itu saya dirundung malang, maka saya perlu unutk melepaskan diri”. Strategi kognitif bisa mengungkapkan ambivalensi klien, dengan memnyediakan alternatif, dan menguranginkadar masalah menjadi hal yang bisa diatur. Misalnya, terapis bisa meminta klien unutk menuliskan alasan-alasan unutk apa mereka hidup atau mati. Selanjutnya, apabila klien mengembangkan alternatif, bisa dipikirkan langkah-langkah alternatif yang bisa diambil. Proses ini bisa menjadikan klien akan merasa lebih baik tetapi juga perilaku dengan cara yang lebih efektif.
Ciri-ciri sentral dari kebanyakan orang depresi adalah mengkritik diri sendiri. Jauh dibawah rasa membenci diri sendiri adalah sikap lemah, tidak edukuat, dan tidak ada rasa tanggung jawab. Sejumlah terapeutik bisa digunakan disini. Klien bisa diminta untuk mengidentifikasi dan memberikan alasannya mengapa mereka berperileku mengkritik diri-sendiri yang berlebihan. Terapis bisa menanyakan kepada klien “kalau saya misalnya berbuat kesalahan seperti yang anda lakukan, apakah anda akan merendahkan saya seperti yang anda lakukan pada diri anda sendiri?” seorang terapis yang trampil juga bisa memainkan peran sebagi klien yang sedang mengalami depresi, dengan menggambarkan dirinya sendirisebagai tidak edukuat, tidak pantas, dan lemah. Teknik ini bisa efektif bila digunakan unutk menunjukkan distorsi kognitif si klien dan konsekuensi logis yang bersifat arbitrer. Terapis pun kemudian bisa membahas bersama klien betapa “tirani seharusnya” bisa membawanya pada depresi dan membenci diri sendiri.
Biasanya klien yang mengalami depresi mengalami emosi yang menyakitkan. Mereka bisa saja mengtakan kepedihan yang mereka alami tidak terperihkan lagi dan tidak ada lgi yang bisa membuat dia merasa lebih baik. Salah satu prosedur dari terapeutik unutk melawan pengaruh dari kepedihan tersebut adalah humor. Seorang terapis bisa mendemostrasikan aspek ironis dari suatu situasi. Apabila klien bisa mengalami suasana hati yang santai dalam situasi hidupnya, biarpun hanya sejenak, maka ini bisa menjadi obat penangkal kesedihannya. Pergesran perangkat kognitif semacam itu sebenarnya tidak bisa hidup berdmpingan dengan sikap mengkritik diri mereka sendiri
Satu ciri spesifik lagi dari orang yang depresi adalah tindakan membesar-besarkan tuntutan, masalah dan tekanan eksternal. Orang semacam itu sering kali berseru bahwa mereka sering kalah pengaruh dan bahwa demikian itu banyak yang harus dilaksanakannya sehingga mereka tidak pernah bisa melakukannya. Seorang terapis ognitif bisa memfokuskan pada penyelesaian masalah dengan meminta klien unutk mendaftar hal-hal yang perlu dilakukan, menentukan prioritas, menyisihkan tugas yang sudah dilakukan, dan membagi-bagi eksternal menjadi unit-unit yang bisa diurusi. Mana kala masalah didiskusikan, maka klien pun akan sadar dimana mereka selalu membesr-besrkan kesulitan ini. Melalui eksplorasi rasional klien akan bisa mendapatkan kembali prespektif akan mendefinisikan seta menyelesaikan tugas.
Biasanya terapis memegang pimpinan pada waktu ia menolong klien membuat daftar dari tanggung jawa mereka, menentukan prioritas, dan mengembangkan recana perbuatan yang realistis. Dikarenakan merencanakan seperti itu seringkali dihambat oleh pikiran-pikiran menaklukkan diri sendiri, ada juga baiknya kalau terapis menggunakan teknik penggladian kognitif baik pada saat belajar memerangi karagu-raguan terhadap kemampuan dirinya itu dalam sesi terapi, mereka mungkin mampu unutk mengaplikasikan ketrampilan kognitif dan behavioralyang baru didapatkan dalam kehidupan nyata.

BAB IV
RINGKASAN DAN PENUTUP
A. RINGKASAN
TRE adalah suatu bentuk terapi behavioral yang berorientasi pada kognitif. TRE telah berkembang menjadi pendekatan yang komprehensif dan elektik yang memberi tekanan pada bergikir, memberi penilaian, memutuskan, dan berbuat. Pendekatan ini tetap mempertahankan kualitas yang sangat dedaktif dari Ellis, dan pada dimensi kognitif serta perasaan TRE menaruh tingkat kepedualian yang sama. Dimulai dari tingkat emosi dan perilaku klien yang terganggu dengan pendekatan ini mengungkapkan dan mempertanyakan oikiran yang menciptakan semuanya itu secara langsung.
Meskipun TRE berasumsi bahwa kita ada behavioral yang berorientasi untuk berpikir lurus, kecenderungan untuk berpikir tidak lurus, dan faktor lingkungan membuat sulit mereka untuk menghindar dari kepercayaan ketrhadap keyakinan irasional yang menjadi akar dari masalh dalam berpikir, merasakan, dan berperilaku. Agar dapat memblokir pikiran yang sifatnya mengalahkan diri sendiri, tereapi TRE menggunakan teknik aktif dan direktif seperti mengajar, menyaramkan menghimbau, dan memberi pekerjaan rumah, dan klien ditantang untuk menggantikan sistem keyakinan yang irasional dengan yang rasional. Mereka kerjakan ini semua dengan jalanterus menerus, mendorong klien untuk menjadikan ide dan pengamatan mereka sahih dan dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana cara melakukan tipe keyakinan irasional itu akan menimbulkan akibat terjadinya perilaku serta emosi yang negatif. Kepada klien diajarkan cara untuk berfikir secara ilmiah dan cara menghapuskan ide serta perilaku mengalahkan diri-sendiri yang mungkin akan terjadi dimasa datang.
Adalah merupakan hal yang krusial bagi terapis untuk mendemonstrasikan penerimaan sepenuhnya serta toleransinya. Mereka lakukan semua itu dengan jalan menolak untuk menilai sesorang dan dalam waktu yang bersamaan berkonfrontasi dengan perilakunya yang merusak dirinya sendiri. Yang juga amat penting adalah terapis harus memiliki keterampilan dan kemauan unutk menantang, berkonfrontasi, meneliti secaa cermat, dan meyakinkan klien untuk mau melakukan aktifitas (baik pada saat maupun setelah terapis) yang akan membawa pada perubahan yang konstruktif dalam pemikiran serta perilaku. TRE memberikan tekanan pada perbuatan melakukan sesuatu tentang pemahaman yang diperoleh pada saat terapi. Perubahan bisa terjadi terutama dari omitmen dalam memraktekkan secara konsisten perilaku baru dan menggantikan perilaku yang lama yang tidak efektif.
Terapis rasional emotif biasanya elektik dalam penyaringan setrategi terapeutiknya. Yang digaris bawahi adalah teknik kognitif dan behavioral yang digerakkan untuk mencabut sampai keakr-akarnya kenyakinan irasional yang membawa keperasaan serta perilaku yang mengalahkan diri sendiri dan untuk mengajarkan klien cara menggantikan proses negatif ini dengan sarana falsafah hidup yang rasional. Terapis memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan gaya pribadinya sendiri dan melakukan kreativitas mereka tiadak terbelengggu dengan teknik yang sudah di tetapkan sebelumnya untuk membawa dirinya kekerja terapeutik melalui cara yang inventif.
Seperti y ang telah kita lihat, TRE merupakan pendahuluan dari terapi kognitif behavioral yang lain. Dua jenis terapi yang dianggap sebagai modifikasi dan dalam beberapa hal merupakan perluasan dari TRE adalah terapi kognitif, dari Beck serta modifikasi kognitif behavioral dari kognitif sebagai penetu perilaku. Keduanya berpendapat bahwa banyak dipengaruhi oleh penilaian subyektif terhadap situasi. Oleh karena penilaian situasi kehidupan ini dipengaruhi oleh keyakinan, sikap, asumsi, dan dialog internal, mak kognitif semacam itu menjadi fokus utama dalam terapi.

B. PENUTUP
Segala puji bagi Allah SWT dengan penuh rasa semangat kami panjatkan puji syukur kehadirat -Nya, yang telah melimpahkan segalan kenikmatan dan hidayah-Nya, sehingga upaya untuk menyelesaikan tugas makalh ini dapa dirampungkan.
Makalah pendekatan rasional emotif ini merupakan hasil dari rangkuman berbagai sumber yang kami kumpulkan untuk mendapatkan pemahan yang mendekati kepada teori yang sebenarnya dari Ellis, kelompok harus benar-benar dapat memahami pendekata rasional emotif ini agar dapat menerapkan sesuai dengan konsep, tujuan, teknik, dan hal yang melingkupi dari teori rasional emotif ini dengan sesuai dalam pelayanan konseling.
Semoga bisa bermanfaat bagi semuapihak dan membawa kebaikan bagi semua, Amiin…

DAFTAR PUSTAKA

Corey Gerald, Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, IKIP Semarang Prees. Semarang.
Sumber : Dr. DYP Sugiharto, M.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. (Makalah)

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/23/pendekatan-konseling-rasional-emotif/

http://apadefinisinya.blogspot.com/2009/02/teori-konseling-rational-emotive.html

http://luthfis.wordpress.com/2008/04/03/rational-emotive-theraphy/


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: